
"Apa yang kamu lihat, Re?"
Suara Mama Jenny membuyarkan lamunan Rea hingga wanita yang tengah duduk di bingkai jendela kayu itu terkejut. Rea berdiri dan mendekati sang Mama yang nampak tak mengalihkan pandangannya mengamati ekspresi sedih yang sangat jelas terlihat dari wajah Rea.
"Mana Zee?" tanya Rea mendapati sang Anak tak berada di dekat Mamanya
"Kamu tahu Zee sudah datang?" Mama Jenny menjeda ucapannya, tangannya terulur mengelus bahu Rea, "Apa kamu juga tahu kalau Varest juga ada disini tadi"
Rea tak menjawab, mengalihkan wajahnya ke samping sambil berucap, "Zee tidak bisa datang sendiri Ma, tentu orang itu akan mengantar anak ku kesini"
Mama Jenny tak langsung menjawab, diperhatikannya kembali fitur wajah dengan kantung mata yang nampak jelas itu lamat, "Yah, orang itu pasti akan mengantarkan anak mu, karena dia tidak memiliki hak untuk Zee, orang itu bukanlah Papa Zee atau mungkin kita bisa memanggil anak mu sekarang dengan nama Alen?" Ujarnya menekankan setiap kata.
Rea terpaku, matanya memanas tak bisa dia pungkiri jika kalimat yang diucapkan oleh Mamanya terdengar cukup kasar, saat ini memang Rea sangat menghindari untuk berurusan dengan lelaki yang sudah menjadi ayah sambung anaknya itu tetapi nalurinya pun sebagai seorang istri tetap bekerja dengan baik.
Perasaannya sakit jika membayangkan bahwa ucapan yang dia dengar tadi juga di dengar langsung oleh Varest, dia menyadari bahkan sangat menyadari bahwa kasih sayang Varest terhadap Zee lebih besar dari seseorang yang hanya sekedar merawat dan membesarkan.
Air matanya menetes namun segera dia hapus dengan kasar, dan kembali menatap Mama Jenny lirih, "Tolong Ma, saat ini Rea tidak ingin membahas itu, Rea ingin menemui Zee"
Mama Jenny menghembuskan nafasnya pelan, setelahnya berkata, "Dia sedang bersama Papa mu di kamar"
Setelah mendapat jawaban akan pertanyaannya, Rea mulai berjalan meninggalkan sang Mama yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Senyumnya seketika mengembang tatkala melihat Zee sedang menaiki tangga dengan digandeng oleh Papa Abhi-Opanya.
"Mamaaaa" Teriak bocah berpipi tembem itu semangat saat mendongak dan mendapati Rea sudah menunggunya dengan merentangkan kedua tangannya.
Zee melepaskan genggamannya pada Opanya dan berlari kepada Mamanya tak menghiraukan panggilan yang menyuruhnya untuk berhati-hati hingga dia terjatuh karena tersandung oleh kakinya sendiri, Rea panik melihat Zee yang terduduk dilantai, dengan cepat Rea mengangkat Zee dan mendudukkan bocah itu dipahanya.
__ADS_1
"Zee tidak apa-apa kan?" diusapnya lutut Zee yang yang sedikit merah karena terjatuh tadi
Bocah lucu itu menggeleng beberapa kali, "Ji tidak apa-apa Ma" katanya tapi dengan bibir yang mulai melengkung.
Rea tersenyum tipis melihat ekspersi Zee yang terlalu menahan diri, "Lututnya sakit yah?" tanya Rea, tangannya merengkuh tubuh Zee ke dalam pelukannya, "Kalau Zee mau nangis tidak apa-apa kok, itu tidak akan buat gantengnya Zee hilang"
Zee kembali menggeleng kuat tak sepenuhnya setuju dengan ucapan Mamanya, bagaimanapun dia memang merasakan sakit pada lututnya tapi mengingat pesan sang Papa cukup membuat dia bertahan untuk tidak menangis.
"Kata Papa Ji tidak boleh nangis, nanti Mama sedih"
Rea menarik ujung bibirnya tipis menoleh pada kedua orang tuanya yang tengah melihat interkasi mereka.
"Mama tidak sedih kok, kan ada Zee disini, jadi Mama pasti senang"
"Tapi Papa kasian, Papa malam-malam sedih kalna Mama tidul lumah Oma sama Opa, malam-malam Ji tidak bisa guling-guling kalna Papa peluk Ji telus" keluh Zee panjang, mengutarakan apa yang dia lihat dan rasakan semalam sebelum dia tidur dalam pelukan Varest.
Zee menuntun sang Mama untuk kembali berjongkok setelahnya memeluk leher dan mendekatkan bibirnya ketelinga Mamanya untuk berbisik, sebuah bisikan yang masih bisa didengar oleh Oma dan Opanya. Kalimat yang seketika membuat hati Rea bergetar dibuatnya.
"### Ini pelukan dali Papa, tadi Papa pesan sama Ji buat gantikan Papa peluk Mama, telus bilang Papa sayang sama Mama sami Ji juga"
-
"Tidak bisa kah kamu minum susu rasa vanila saja, Rest?"
Andi membopong tubuh tinggi Varest memasuki kamar tidur, sepanjang perjalanan pulang lelaki bergingsul itu terus saja mengoceh kepada Varest yang meski diteriaki tetap tidak akan menimpali atau bahkan sekedar mendengar apa yang dibicarakan olehnya.
__ADS_1
Setelah kepulangan Varest dari rumah Rea tadi pagi, lelaki itu langsung ke kafe untuk mengerjakan laporan yang sempat tertunda karena insiden Mama Nimas yang menelponnya. Meski dengan fikiran yang bercabang Varest tetap mengusahakan untuk tetap fokus dengan apa yang dia kerjakan, hingga saat menjelang sore dia memberi perintah untuk menutup kafe lebih awal dari biasanya.
Varest menyusuri jalanan tanpa arah, hampir dua jam berkeling dari tempat satu ke tempat lain sampai dia memutuskan melakukan sesuatu yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.
Suara bising dari dalam ruangan terdengar hingga keluar, cahaya lampu yang redup dan lampu bulat dengan berbagai warna cukup membuat kepala Varest berputar. kakinya melangkah ragu menuju meja bar yang nampak berjejer botol minuman dari yang non alkohol hingga yang memiliki kadar alkohol tinggi.
Varest duduk di salah satu kursi seraya memperhatikan suasana bar yang begitu ramai, dengan asal lelaki itu memesan segelas minuman.
"Apa disini ada Vodka?" tanya Varest ragu
Salah satu bartender yang melihat keraguan Varest terlihat tersenyum maklum, pakaian dan wajah Varest sangat memperlihatkan jika dia bukan lelaki penyuka minuman beralkohol.
"Anda ingin saya buatkan Mocktail, tuan?" tanyanya menawarkan
"Tidak, aku ingin Vodka atau Brandy, kalian punya, kan?"
Bartender itu mengangguk, tangannya lincah meracik pesanan Varest hinga berselang beberapa menit minuman itupun sudah tersedia di depan Varest.
Dan disinilah lelaki itu sekarang terlihat tak berdaya alih-alih mendengar ocehan Andi sahabatnya dia malah hanya bisa bergumam lirih.
"Astaga, kamu terlalu bergaya bocah tengil. bisa-bisanya kamu minum begituan tanpa pengawasan orang tua" Andi masih saja mengoceh sambil melepas sepatu Varest.
"Seandainya aku tidak menemukan mu, akan jadi apa kamu di tengah-tengah orang itu?"
"Berisik" Varest bergumam sambil melempar bantal.
__ADS_1
"Awas saja kalau kamu masih berani pergi ketempat seperti itu, setidaknya kamu bisa menguhubungi ku, kenapa harus memendam sakit sendiri kalau bisa berbagi?" Andi duduk di pinggir ranjang memperhatikan Varest yang terlihat begitu menyedihkan.
"Aku merindukan anak dan istri ku, Ndi"