Sunflower

Sunflower
I'am Pregnant


__ADS_3

"Aaaaaaaaaahhh"


Reflek Varest terbangun karena teriakan Rea, dia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan istrinya dan saat menyadari Rea ada di kamar mandi dia langsung membelalakkan matanya.


"Rea"


Segera dia berdiri dan melompat dari ranjang berlari ke arah kamar mandi, "Sayang, kamu di dalam?" diketuknya pintu kamar mandi berkali-kali


"Apa yang kamu lakukan di dalam?, keluarlah!"


"Sebentar, Rest" Jawab Rea parau dari balik pintu, wanita itu menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes.


"Sayang, kamu menangis?, buka pintunya!, jangan membuatku takut." Varest tak sabar masih menggedor pintunya


"Buka pintunya Rea sebelum aku mendobraknya!" Ancam Varest yang mulai khawatir, baru dia mengambil ancang-ancang namun pintu sudah terbuka dan memperlihatkan Rea yang keluar dengan mata sembab dan hidung yang masih merah.


"Sayang." Ditariknya Rea kedalam dekapannya erat, "Jangan takut aku disini" katanya tanpa melepaskan pelukannya yang membuat Rea kembali meneteskan air matanya terharu bahagia.


"Sayang, I'm pregnant" Bisik Rea tepat ditelinga Varest, wanita itu berjinjit mengalungkan tangannya dileher suaminya, "I'm Pregnant" Ulangnya.


"Iya kamu hamil, tapi kenapa kamu ter-" Agaknya Varest belum sepenuhnya sadar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Rea sampai wanita yang tengah mendekapnya itu memotong kalimatnya.


"Kamu akan jadi papa untuk kedua kalinya"


"Hah?" Varest tercengang beberapa detik dia terpaku antara sadar dan tidak.

__ADS_1


Matanya tiba-tiba berkaca-kaca serta telinga yang berdengung panjang, bisikan sang istri seakan menari ditelinganya yang memberikan sengatan pada seluruh tubuhnya, kakinya mundur satu langkah memberi ruang yang luas dan melepaskan dekapannya pada Rea namun tangan dinginnya masih memegang pundak istrinya.


Ditatapnya Rea dalam dengan perasaan yang begitu campur aduk, "Ka-kamu ha-ha-mil?" Lirihnya tergagap yang dijawab anggukan mantap dari wanita di depannya, Varest semakin tak bisa menahan harunya ketika Rea mengeluarkan lima tespek yang memperlihatkan tiga alat bergaris dua dengan warna merah dan dua alat lagi bertuliskan pregnant yang artinya hamil


Varest mendongak sekilas sambil matanya dipejamkan rapat setelahnya menarik Rea kembali kedalam pelukannya dan menghujani wanita itu dengan ciuman beberapa kali diwajah basahnya karena air mata yang juga terus menetes di pipi mulusnya.


"Terima kasih, terima kasih, sayang" Katanya berkali-kali sambil mencium pucuk kepala Rea lembut.


Sedangkan Rea hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang seakan memaksa untuk meledak, dia sangat terharu melihat reaksi Varest saat ini yang sangat melebihi ekspektasinya, selama ini Varest tak pernah membahas apapun padanya mengenai keinginan lelaki itu, sang suami hanya selalu meminta untuk dapat dicintai seperti dia memberikan cintanya pada Rea. Tapi, sekarang realita ini menyadarkannya jika seseorang yang pendiam lebih banyak memiliki emosi ketika hatinya tak dapat lagi menahan tekanan entah itu sedih ataupun bahagia.


"Aku mencintai mu, Re" Ucap Varest setelah melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Rea.


Rea mengangguk lirih dengan mata yang semakin menyipit karena tangis yang membuatnya sembab, "Aku lebih mencintai mu, terima kasih, sayang" Kata Rea mencium telapak tangan Varest.


Tak ada kata yang bisa menggambarkan kebahagian Varest sekarang hanya kata cinta dan terima kasih yang bisa dia ucapkan berkali-kali, sungguh ini lebih dari apa yang dia harapkan tapi Tuhan memberikan lebih tanda cinta kepadanya. Setelah memberikannya kesempatan untuk bisa dicintai oleh sang istri dia pun juga mendapat kesempatan untuk bisa mejadi ayah untuk kedua kalinya.


Varest berdiri dan menuntun Rea untuk kembali duduk di ranjang, lelaki itu tak hentinya berucap syukur dan sesekali menggesekkan hidung di pelipis sang istri, rasa sayangnya seakan bertambah berkali lipat terlebih ada darah dagingnya yang tengah hadir di dalam rahim Rea.


"Dulu hanya ada Zee yang menjadi alasan ku untuk bertahan ditengah rasa bersalah ku, dan setelah bertemu kamu alasan ku pun bertambah bukan hanya bertahan tapi juga melanjutkan, dan sekarang kehadiran dia di dalam sini semakin menambah daftar alasan ku yaitu menjadikan alasan pertama dan kedua untuk tetap berjalan dengan kebahagiaan." Lirih Varest menatap lekat pada iris coklat Rea.


"Terima kasih untuk semuanya, Rest, kamu memberikan lebih dari apa yang aku harapkan. Kamu menunggu tanpa menuntut" Jawab Rea tersenyum


"Apa kamu tahu, ada satu orang yang mungkin lebih bahagia dari aku" Kata Varest yang membuat Rea menautkan alisnya.


"Siapa?" Tanya Rea penasaran.

__ADS_1


Diraihnya tangan Rea untuk berdiri dan menggandeng wanita itu keluar kamar menuju kamar Zee, Varest dengan pelan membuka pintu dan masuk ke dalam kamar sang putra diikuti oleh Rea yang berjalan di sampingnya. Mereka berdiri di samping ranjang dan memperhatikan bagaimana Zee tidur dengan lelapnya.


"Naiklah disini!" Titah Varest menunjuk sisi ranjang Zee yang kosong.


Rea patuh, dengan pelan dia naik ke atas ranjang Zee dan baring di samping bocah berpipi penuh itu sedangkan Varest juga ke sisi satunya. Zee yang merasa terhimpit hanya bisa menggeliat karena dipeluk oleh Varest sedangkan Rea malah terkekeh melihat kejahilan sang suami yang meniup niup telinga putranya.


"Zee, bangun dong" Bisik Varest ditelinga Zee yang membuat bocah itu menggaruk telinganya karena geli.


"Hmmm"


"Sayang bangun dong, ditunggu adik tuh" Ucap Varest lagi mengambil tangan kecil Zee dan meletakkan di atas perut Rea.


Zee hanya bergumam mendekatkan wajahnya di dada Rea. Bocah itu masih terbuai mimpi entah apa yang terputar di dalam tidurnya itu hingga dia sesekali menyengir dan tersenyum. Varest hanya bisa menggeleng melihat sang putra yang malah semakin menyembunyikan wajahnya di dada mamanya.


"Sayang, jangan diganggu lagi" Cegah Rea yang tahu jika Varest ingin mengganggu Zee kembali, "Kasihan,nanti malah nangis dia nya" Lanjutnya yang malah membuat Varest terkekeh mengingat kejadian saat Zee menangis jingkrak gara-gara terganggu akibat pergerakan yang mereka buat ketika Zee tidur di kamarnya.


Varest menghela nafasnya merubah posisi yang awalnya menyamping menjadi telentang dengan tangannya yang dia jadikan bantal, dia menatap pada langit-langit kamar Zee yang di penuhi dengan hiasan bintang-bintang.


"Aku tidak tahu seperti apa pribadi Keenan, tapi hari ini aku juga berterima kasih padanya karena telah membuat mu melahirkan Zee, walaupun umur Zee masih begitu kecil tapi dia adalah anak yang sangat pengertian dia sangat mirip dengan mu dari segala hal." Ujar Varest


Rea sempat diam saat mendengar awal kalimat Varest. Namun selanjutnya tersenyum membelai pipi Varest hingga membuat lelaki itu menoleh membalas senyum nya.


"Kak Keenan juga pasti juga sangat berterima kasih padamu, karena telah menjaga dan menyayangi kami" Balasnya


"Thanks papa Zee, we love you so much"

__ADS_1


__ADS_2