Sunflower

Sunflower
Masa lalu (2)


__ADS_3

“Ayo kita lakukan!,”


Andi menghembuskan nafasnya kasar, dia sudah bisa menebak jika sahabatnya itu akan menerima cara yang kata Rio adalah pembuktian. Tetapi, dia juga mengetahui seorang Varest sangat tidak suka dengan tindakan yang bisa merugikan orang lain, dan sekarang dia akan melakukannya yang bukan hanya merugikan tapi juga bahaya untuknya.


Ditariknya tangan Varest untuk menjauh dari teman-temannya setelahnya berhenti di tempat yang menurutnya suaranya tak akan terdengar oleh orang lain.


"Apa maksud mu menyetujui keinginan Rio?" Tanya Andi


"Tenanglah, Ndi." Ucap Varest santai, "Aku hanya perlu membuktikan, bukan kemenangan"


"Jadi?"


"Aku cukup mengikuti keinginan Rio untuk balapan, berarti menang atau kalah bukan masalah, aku hanya akan mengendarai motor ku dengan santai"


"Wah, jenius" Andi merangkul pundak Varest seraya menggoyangnya. "Aku mendukung mu, brother."


Mereka kembali ketempat dimana Rio dan Rani berdiri. Saat merasa sudah sama-sama sepakat akhirnya Varest dan Rio mulai bersiap-siap dengan mengendarai motor mereka masing-masing, beruntung waktu itu jalanan tidak terlalu ramai karena menjelang senja, mereka bersiap di tengah jalan dan saat hitungan ke tiga mereka mulai melajukan motor dengan kecepatan tinggi.


Rio dengan segala ambisinya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan Varest, nampak Varest tersenyum dari balik felm fullfacenya sambil menggelengkan kepalanya melihat Rio yang bertingkah demikian.


Selama beberapa menit Varest dan Rio masih saling mengejar hingga saat jalanan sudah hampir sampai pada finish Varest  mulai mengurangi kecepatan dan membiarkan Rio untuk melajukan motornya hingga rasa puas atas kemenangan dia dapatkan.


Tapi, rencana hanyalah sebuah rencana. Varest membelalakkan matanya saat Rio tiba-tiba melaju pada jalur yang tak seharusnya dan membuat sebuah truk pengangkut sayuran dari arah berlawanan menjadi oleng karena harus menghindari motor Rio.

__ADS_1


Truk itu kehilangan keseimbangan dan akhirnya terbarik mengakibatkan muatannya berjatuhan menimpa salah satu mobil yang melaju dibelakang truk, mobil itu memutar kemudi. Namun, mungkin karena yang mengemudi terlalu kaget akhirnya dia menabrak pembatas jalan. Rio yang diluar kendali pun ikut tersungkur dan terseret hingga masuk ke dalam kolong truk.


Varest stuck di atas motornya beberapa detik menyaksikan secara langsung kecelakaan yang terjadi di depannya, hingga suara panggilan dari Andi yang mengikuti mereka dari belakang menyadarkannya, dia turun dari motornya dan berlari menuju tempat kecelakaan, sementara Andi dan Rani menghubungi Ambulance dan Kantor Polisi.


Ditariknya Rio yang tertindis motor dan menempatkan kepala Rio dipahanya. Air matanya luruh membasahi pipinya bagaimana pun Rio adalaha salah satu sahabatnya. Tapi, karena kesalah pahaman akhirnya hubungan mereka jadi berjarak.


"Yo, tolong bertahanlah!, Aku mohon." pintanya sambil menepuk pipi kanan Rio agar tetap tersadar


Mata Rio terbuka pelan, ditatapnya Varest lirih seraya menggenggam tangan lelaki itu.


"A-a..ak-u pper..caya pa-pada mmu.." Ucapnya terbata diselingi senyum tipis,


Varest menggeleng, tanggannya menggenggam lebih erat tangan Rio sembari menghapus air matanya, "Jangan bicara dulu, kamu harus bertahan" tukasnya.


Varest menoleh kebelakang nampak tiga mobil Ambulance datang dan disusul dua mobil kepolisian di belakangnya, segera dia memanggil Andi yang tengah menelpon seseorang sambil menenangkan Rani yang terlihat shock.


"Tolong bawa Rio ke Rumah sakit." Titahnya dengan tangan gemetar


"Rest." Panggil Rani


"Cepaat,,!" bentaknya, "Apa lagi yang kalian tunggu"


Melihat Varest yang mulai hilang kendali akhirnya Andi menarik Rani untuk mengikuti perawat yang telah membawa Rio menggunakan brankar.

__ADS_1


"Polisi akan meminta kesaksian ku, setelah itu akan menyusul kalian ke Rumah sakit." ucapnya sebelum Andi dan Rani menaiki mobil.


Varest berbalik matanya menyapu tempat kecelakaan, kakinya gontai mendekati korban yang adalah supir truk yang dilihatnya memiliki cidera di bagian kepala dan tangan, serta pengemudi mobil yang berada di belakang truk. Seorang wanita yang tak dia lihat wajahnya karena sudah terlebih dahulu dinaikkan ke Ambulance dan seorang lelaki yang bisa dia yakini memiliki cidera dalam terlihat dari darah segar yang keluar dari mulutnya.


Dia berdiri dengan tatapan kosong sampai tepukan pada pundaknya berasal dari salah satu petugas kepolisian menyadarkannya. Sekitar dua jam proses pemeriksaan kecelakaan dari kepolisian sampai mereka memutuskan untuk kembali setelah mendapatkan beberapa bukti dan saksi kejadian.


Varest masih stay disana, lelaki itu mengitari truk masih shock dengan apa yang sudah terjadi kepada Rio temannya serta berakibat pula dengan orang lain. Kembali air matanya menetes seraya berjalan menuju mobil Avanza berwarna putih yang sudah hancur karena tabrakan tadi.


Tangannya meraba pada pintu mobil dan membukanya, di dalam sana terlihat satu tas yang berisi peralatan bayi dari botol susu hingga popok. Dia membulatkan matanya mengingat bahwa selama proses evakuasi korban tak ada sedikitpun dia mendengar seseorang menyebutkan bayi bahkan hanya sekedar mendengar suara tangisan.


Dengan cepat dia mengelilingi tempat itu mencari keberadaan bayi yang dimaksud, dan langkahnya seketika berhenti kala mendengar tangisan yang terdengar lemah di bawah semak pinggir jalan. Segera dia menuju asal suara dan betapa terkejutnya dia mendapati seorang bayi merangkak dengan mantel tebal yang melilit tubuhnya.


Bayi itu menangis seraya memasukkan jari telunjuk ke mulutnya. Varest menggendong bayi malang itu dan kembali ke mobil untuk mengambil tas dan membuatkan susu untuknya. Beruntung bayi itu tidak memiliki luka yang begitu serius karena mantel tebal yang menyelimutinya.


Varest membawa bayi itu pulang ke rumahnya menggunakan taxi dan setelahnya berniat untuk kembali ke Rumah sakit. Sesampainya di rumah orang tuanya Varest langsung mencari keberadaan sang Mama, Mama Nimas nampak khawatir menunggu Varest setelah mendengar kabar dari Andi tadi.


"Rest.." Mama Nimas mendekati Varest yang baru saja membuka pintu kamarnya, "Apa yang terjadi, Nak?"


"Ma, tolong jaga anak ini." ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Mama Nimas, diserahkannya bayi itu ke dalam gendongan sang Mama setelahnya mengelus singkat pipi bayi tersebut.


"Dia mendapat luka ringan di tangan dan lututnya Ma, Varest minta tolong untuk Mama obati, dia tadi dia juga hanya minum susu" terangnya


Mama Nimas nampak termenung, segala pertanyaan muncul di kepalanya berasal dari mana bayi yang dibawa oleh anak semata wayangnya itu.

__ADS_1


Seakan mengerti dengan kediaman sang Mama akhirnya Varest mulai bersuara kembali, "Anak ini adalah korban kecelakaan tadi, Ma. Aku akan mencari keberadaan orang tuanya jadi aku harus segera ke Rumah sakit." jelasnya. setelah itu dia kembali keluar rumah berniat untuk menemui Andi sekaligus mencari tahu mengenai keluarga bayi tersebut.


__ADS_2