
Aku menatap pemandangan didepan sana dengan diam. Sebenarnya aku berbohong, aku menatapnya dengan iri. Sangat iri. Sungguh.
Hal itu sangat menyakiti hatiku. Seperti ditusuk ribuan pedang dari jarak dua meter. Apa ada yang salah denganku? apa aku baru saja melakukan kesalahan? Tolong beri aku jawaban.
Dimana aku harus mencari jawaban? Semua tidak ingin berbicara padaku.
Lihatlah didepan sana Hana dan Papa tengah tertawa ria. Bermain boneka. Wajah Hana sangat ceria begitu juga dengan Papa. Namun, kenapa aku tidak diajak?
Sebenarnya aku sudah tau jawabannya. Satu bulan yang lalu ada insiden yang membuat hidupku berubah. Papa dan mama yang selalu menatap sinis padaku. Dan Hana yang selalu ketus padaku. Padahal dulu mereka tidak begitu.
Aku menghela nafas pelan menatap jemari tanganku diatas paha. Aku tengah menunggu mama yang masih ada di kamar. Mengemasi barang-barangku.
Beberapa jam yang lalu Papa bilang jika aku akan pindah ke Korea. Hanya aku saja, aku pikir kita satu keluarga akan pindah ke Korea. Ternyata tidak.
Itu sebuah perintah bukan pertanyaan mau tidaknya pindah ke Korea. Mereka sudah memesankanku tiket dan barang-barangku langsung ke kemasi. Sekarang aku tau kenapa waktu itu mama mengajakku membuat paspor.
Aku berfikir Papa dan mama membuang ku. Aku bertanya kenapa Hana tidak ikut denganku juga. Bukankah Hana juga ingin sekolah di Korea. Sekolah impian gadis itu. Tapi dengan enteng Papa menjawab bahwa mereka tidak bisa jauh dari Hana. Mereka khawatir Hana akan kenapa-napa.
Lantas bagaimana dengan aku? Apa mereka tidak mengkhawatirkan aku?
"Papa, lihat pakai baju ini bagus ga?" Hana memamerkan boneka Barbie dengan gaun berwarna merah. Papa didepannya tersenyum lebar.
"Bagus sekali." Seru Papa dengan wajah berseri. Dulu senyuman itu juga pernah diperuntukkan untukku.
Sudahlah aku tidak ingin memusingkan hal itu. Tapi hati ku sakit.
"Semua sudah selesai. Ada yang ingin kamu bawa lagi?"
Aku mendongak menatap mama yang berujar ketus padaku. Tatapan mama seperti malas menatapku. Aku menggeleng. Toh, semua sudah mama kemasi aku hanya perlu membawa boneka beruang kesayanganku. Sebenarnya itu boneka anjing tapi karena warna nya coklat aku mengklaim nya menjadi beruang.
"Sana berangkat." Tukas mama sambil menyeret koper besar milikku.
Papa dan Hana hanya menatap sekilas lalu kembali bermain mengabaikan aku dan mama. Mama berjalan kedepan dengan dua koper di tangannya. Satu koper besar dan satu kecil.
Di luar sudah ada Pak Man- supir pribadi keluarga. Beliau memasukan koper ke dalam bagasi.
"Sana berangkat."
Aku menatap mama bingung. Maksudnya apa?
Eh?
Aku disuruh berangkat sendiri?
Aku menatap ke dalam Papa dan Hana masih asik bermain. Beralih menatap mama meminta jawaban.
"Kamu berharap kami mengantar sampai bandara?" Kata mama. "Berangkat sendiri masih untung barang-barang kamu saya yang kemasin."
"Tapi Ma kan aku gak ngerti nanti dibandara gimana." Cicitku memeluk erat boneka beruangku.
__ADS_1
"Itu bukan urusan saya." Setelah mengatakan itu mama masuk dan membanting pintu. Aku terlonjak kaget begitu juga dengan pak Man.
Aku mengetuk pintu dan berusaha membukanya. Di kunci. Mereka benar-benar mengusirku. Bahkan tidak memberikan salam perpisahan. Pelukan misalnya.
Pak Man datang memegang bahuku. "Yang sabar ya Non, mari Pak Man antar sampai bandara. Nanti bapak yang antar Non sampai pesawat berangkat."
Aku mengangguk lemah. Di setiap perjalanan aku hanya diam. terkadang pak Man mengajak bicara. Aku tau beliau ingin menghiburku.
Dan anehnya aku tidak menangis sedikit pun.
Tidak lama kemudian mobil memasuki kawasan bandara. Pak Man benar-benar membantuku mengurus semuanya.
Kalian bayangkan anak berusia enam tahun di suruh berangkat sendiri naik pesawat tanpa pendamping. Berangkat sendiri dengan dua koper. Menyeret koper kecil aja kesusahan bagaimana menyeret koper besar satunya.
"Makasih pak Man sudah bantu Agatha." Aku memeluk pak Man.
Pak Man membalas pelukanku. "Non, hati-hati ya kalau ada yang mencurigakan langsung lari ke tempat banyak orang. Kalo ada yang mau pinjam apa-apa jangan dikasih."
Aku mengangguk tersenyum. "Terimakasih pak."
"Semoga ketika bisa bertemu lagi, Non."
Aku tersenyum melambaikan tangan menuju ruang tunggu. Pak Man juga tersenyum sambil menyeka mata nya. Bahkan orang lain yang mengantarku, mencemaskan ku, memberi aku pelukan.
Bukan orang tua ku atau kakak ku.
Pesawat masih take off empat puluh lima menit lagi. Aku memilih diam menunggu di ruang tunggu sambil memeluk boneka beruang.
Aku menoleh. "Hei." Balasku pada anak yang baru duduk di sebelahku.
"Sendirian?" Tanyanya.
Aku menggeleng mengangkat boneka beruangku. "Aku sama di coklat."
Anak laki-laki itu terkekeh. "Halo coklat."
"Kamu sendiri?" Tanyaku.
"Aku sama kakek ku. Dia lagi makan siang disana." Tunjuknya pada salah satu tempat makan siang disana. Memang ruang tunggu kelas Business lebih premium.
Aku mengangguk tidak bertanya lagi. Lagian apa yang harus ku tanyakan.
"Kamu beneran sendiri?" Tanyanya lagi. Sepertinya anak dengan hodie hitam itu penasaran kenapa aku duduk sendirian disini.
"Sudah dibilang aku bersama coklat." Dengusku.
"Selain itu?"
"Aku sendiri."
__ADS_1
"Orangtua mu?"
Aku mengangkat bahu. "Entahlah aku pun juga gak tau."
"Ken-"
"Udah jangan banyak tanya tetap diam saja disitu dengan tenang." Dengusku memotong kalimatnya. Anak ini sangat cerewet.
"Oke oke aku akan diam." Kata anak itu tertawa. Memasukan tangannya ke dalam saku hodie. Dia beneran diam.
Aku pun juga diam menatap lalu-lalang orang-orang. Kebanyakan mereka berdua atau lebih. Ada temannya sedangkan aku tidak.
"Boleh aku bertanya?" Ujar anak itu.
Aku mengangguk.
"Nanti ada pramugari namanya Kana nanti apapun kamu minta bantuan sama dia saja."
Aku menatap anak itu datar. "Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan."
Tawa anak itu pecah. "Itu baru pembukaan sekarang tiba di sesi pertanyaan."
"Aku tidak mau menjawab." Dengusku kesal. Kenapa anak ini tidak pergi saja sih.
"Ayolah."
"Tidak. Kamu pergi sana." Dorong ku pada lengannya. "Aku ingin menyendiri."
"Kamu sudah makan?"
"Aku bawa roti tadi dibeliin Pak Man." Cetus ku ketus.
"Nasi?"
"Aku sudah lama tidak makan nasi." Ujarku. Ini memang sedikit menyedihkan. Aku kesal jika mengingatnya. Setiap kali melakukan kesalahan mama tidak akan memberiku makan. Hanya Bibi yang kadang menyelinap membawa kan aku roti. Jadi bisa disimpulkan jika makanan pokok ku adalah roti.
"Ayo makan." Anak itu berdiri. "Makanan disini gratis semua kita bisa makan sepuasnya."
Aku menggeleng. Aku tau itu. Tapi aku tidak berselera makan. "Kamu saja sana."
"Keras kepala sekali anak ini." Dengusnya. "Kamu kan belum makan nasi nanti bisa mabok di pesawat."
"Yaudah tinggal minta tolong pramugari Kana untuk mengurusku." Ujarku asal mengingat pramugari yang disebut anak ini.
"Itu merepotkan namanya."
"Bodoamat." Keukeuh ku. Tapi sepertinya anak itu tidak mau dibantah. Dia makan menarik tanganku dengan paksa. Menyeretku ke tempat makan siang masih ada tiga puluh menit. Anak ini dengan seenaknya menarikku bahkan namanya saja aku tidak tau.
Dasar tidak sopan.
__ADS_1
...****************...