Sunflower

Sunflower
Topokki


__ADS_3

"Kak kapan aku pulang?"


Mark hanya melirik ku sekilas dan kembali fokus pada ponselnya. Aku mendengus sejak tadi cowok itu asik dengan dunianya sendiri.


"Aku mau pulang." Rengek ku. Entah kenapa dari kemaren aku suka merengek pada Mark.


Mark menghembuskan nafas pelan. "Belum boleh balik."


Aku memiringkan kepala ku. "Kenapa? Aku kan udah sehat."


"Sehat pala mu." Cetus Mark. "Makan masih sering mutah aja sehat."


Aku mencibir memang tidak salah sih. Aku memang masih sering mutah kalau makan. Salahkan saja lambungku tidak mau di beri makan enak.


"Tapi aku pengen pulang."


"Pulang kemana?" Mark menatap sepenuhnya padaku.


Aku diam. "Ke rumah?"


"Rumah kayak neraka itu?"


Apa maksud manusia ini????


"Maksud kakak?" Tanya ku.


"Gak udah balik ke rumah itu lagi." Kata Mark.


Aku tambah tidak mengerti. "Trus aku harus balik kemana?"


"Rumah gue."


"Ngawur." Aku melempar kulit pisang pada Mark. "Aku mau pisang lagi."


Mark melotot padaku meski begitu cowok itu berdiri dan mengambilkan aku pisang.


"Sebenernya apa yang lo harapin dari kata rumah yang lo maksud." Tanya Mark sambil mengupaskan aku pisang.


Apa cowok ini tau bagaimana aku di rumah?


"Keluarga?" Kata ku ragu.


Mark terkekeh. "Keluarga apanya. Selama lo disini ada gak keluarga yang jenguk lo?"


Benar apa yang dikatakan Mark tidak ada keluarga yang menjenguk ku. Aku tersenyum getir menatap pisang ditanganku.


"Mungkin mereka gak tau aku disini." Aku berusaha berfikir positif.


"Apa mereka nyari lo? Lo udah empat hari gak pulang."


Lagi-lagi Mark berkata benar. Aku tidak bisa mengelak. Karena itu kenyataannya.


"Aku menyedihkan ya kak." Mata ku berkaca-kaca. "Iya kan?"


Mark menggeleng. "Mau balas mereka?"


"Enggak." Kataku. "Aku aja yang terlalu berharap." Aku mengusap air mataku kasar lalu memakan pisang dalam diam.


Mark menatapku tidak mengatakan apapun.


"Btw. Kenapa kak Mark selalu disini? Gak sekolah?" Tanyaku galak. "Sekolah sana."


"Tanpa sekolah gue udah pinter."


"Sombong nya." Kata ku. "Kenapa kak Mark peduli sama aku?"


"Emang kenapa lo gak suka?" Mark mengangkat sebelas alisnya.


"Udah sih jawab aja." Dengus ku.

__ADS_1


"Karna gue suka lo."


Aku terdiam. "Afach iyach?"


Mark menatap ku datar. "Bocah banyak tingkah tidur sana."


"Gak mauuu." Tolak ku. "Perut ku mual kak."


"Tuhkan." Celetuk Mark. "Gini mau minta pulang."


"Tidur aja biar mualnya ilang." Cetus Mark.


Sebenernya ini hanya pengalihan topik. Aku tidak ingin membahas ini lebih dalam.


"Siapa sebenarnya kak Mark?" Tanya ku menatap Mark polos. "Kenapa kakak selalu datang di saat aku kesusahan."


"Superman." Balas asal Mark. "Makanya lo harus selalu ada disamping gue."


"Kenapa gitu?"


"Lo jauh dari gue hampir mati di tangan Melani, pingsan dikamar mandi, pingsan di taman belakang berakhir gak bangun dua hari." Kata Mark. "Lo bikin gue panik bodoh." Mark menyentil dahiku pelan.


Aku cemberut tapi kata Mark ada benarnya. aku mengingat sesuatu. "Itukan gara-gara kak Mark." Tunjukku pada cowok itu.


Mark melotot kaget. "Kenapa gue? yang ada gue yang nolongin lo."


"Kalo kak Mark gak deketin aku gak mungkin kak Melani ngebuli aku." Protes ku. "Apa? Mau ngelak apa lagi."


Sepertinya aku baru saja membangunkan singa tidur.


"Terus gue harus jauh in lo gitu?" Sengit Mark.


"Iyalah biar hidup aku tenang."


"Gak bisa." Tolak Mark. "Gue udah nungguin lo lama."


Aku menyengit. "Nungguin gimana?"


"Bilang gak nungguin apa?" Desak ku. "Kalo gak bilang aku gak mau minum obat."


"Udah berani ngancem ya."


Aku terkekeh. "Enggak kok bercanda."


Katakanlah aku penakut. tapi memang kenyataannya begitu. Wajah Mark seram.


"Kayaknya kakak tau banyak tentang aku. Iyakan?" Aku menatap Mark dengan berbinar.


Cowok itu berdehem sejenak. "Iya."


"Kalo boleh jujur alasan aku pindah ke sini karena pengen tinggal bareng Papa mama." Kata ku.


Aku sudah bisa menebak jika Mark tau segalanya tentang aku. Dimulai dari kebiasaan ku dan dimana alamatku Mark tau semuanya.


Sampai dia membolos sekolah hanya untuk menunggu ku di rumah sakit. Dan beberapa pria berbadan besar didepan ruang inap ku.


Sepertinya Mark punya hubungan dengan kakek. Berbicara mengenai kakek apa pria berusia itu sudah tau kondisiku sekarang?


Apa aku harus berakhir kembali ke Korea?


Tapi dimana James? Dimana pria itu?!!!


Kenapa sejak aku bangun tidak ada dia disisiku? Bukankah dia selalu ada di situasi macam ini?


Apa kakek memecatnya? Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.


"Nyari James?" Kata Mark membuatku tersadar.


Tunggu?

__ADS_1


Mark tau James?


"Kakak tau James?" tanyaku pada Mark.


"James ada di Korea dipanggil Kakek." Balas Mark.


"Kakek?" Aku menyengit bingung.


Mark mengangguk santai. "Iya kakek Sitas."


"Hah? Kakak tau kakek ku?" Aku melotot tidak percaya. Genre hidup apa sebenarnya yang aku alami.


Mark mengangguk.


Hanya mengangguk. Kau berhasil membuatku penasaran Mark.


"Kok bisa?"


"Apanya?"


"Kok bisa kenal kakek ku?"


Mark mendekat. "Bisalah."


Aku mendengus kesal. Apa cuma aku yang tidak tau apa-apa?


"Terus kenapa James dipanggil kakek?"


"Karena lalai jaga lo." Kata Mark. "Lo juga udah lama gak minum obatkan?"


Mata ku kembali melotot lebar. "Kakak tau menyakitku?"


Mark memijit pangkal hidungnya. "Gue udah jagain lo disini dari awal ya kali gak tau penyakit lo. Sebelum lo ketemu gue, gue udah tau semuanya."


Aku menutup mulut tidak percaya. "Sungguh di luar dugaan." Kataku. "Tapi James gak dipecat kan?"


"Kan lo sendiri yang buat dia dipecat. Kalo lo rajin minum obat James gak bakal dipecat." Ujar Mark.


Aku ingin menangis rasanya. mataku sudah berkaca-kaca. "Jadi James beneran dipecat?"


Mark panik melihatku menangis. "Siapa yang nyuruh lo nangis?"


"Saya tidak dipecat Nona."


James datang dengan setelan hitam seperti biasa. Tersenyum padaku. Tangisku tambah pecah.


Mark memelukku. "Udah gak udah nangis James gak dipecat."


"Tadi kak Mark bilang James dipecat." Ujarku sesenggukan.


"Gue bercanda." Kekehnya.


"Saya membawakan sesuatu buat Nona." James mengeluarkan sesuatu dari kantong yang ia bawa.


"Topokki." Pekik ku.


"Iya ini topokki buatan paman Sam." Kata James. "Tapi Nona tidak bisa memakannya sekarang."


"Kenapa?" Wajahku sudah kecewa.


"Nona harus sehat dulu baru saya akan memaksakan topokki ini."


Aku menatap Mark meminta pertolongan. Namun cowok itu nyatanya memihak pada James.


"Makanya cepet sehat biar bisa makan topokki. Kalo perlu gue jemput paman Sam kesini buat masakin langsung." Kata Mark.


Aku mengangguk lesu. Aku mengingat sesuatu. "Kakek sama Nenek gimana di Korea? Sehat?"


James tersenyum menangguk.

__ADS_1


Tapi kenapa perasaanku tidak enak.


...****************...


__ADS_2