Sunflower

Sunflower
kedua jagoan mendukung


__ADS_3

Rea sudah menata rapi masakannya diatas meja, tersenyum manis sembari tangannya mengusap perutnya lembut. Adalah rasa syukur tiada tara untuk kehamilan keduanya ini sama sekali tak ada yang membuatnya kesusahan sang calon bayi yang tumbuh di dalam rahimnya begitu pengertian sama halnya dengan sang suami.


Kembali Rea memutar piring di meja memastikan posisinya sudah pas padahal jatuhnya pun tetap sama, memang terkadang manusia lebih suka melakukan pekerjaan dua kali padahal hasilnya pun tak ada yang berubah hanya sekedar memastikan dan merasakan kepuasan sendiri setelah merasa semuanya sudah sesuai.


"Sudah pulang?"


Varest baru saja kembali dari mengantar Zee, dia meletakkan sebuah paper bag berwarna coklat di atas meja kemudian menari kursi untuk dia duduki.


"Apa ini?" Tanya Rea setelah mendekat ke arah Varest dan mengeluarkan isi dari paper bag yang Varest bawa.


"Makanan, katanya oma sengaja masak banyak buat bawain kamu, kebetulan aku kesana jadi oma kasihkan ke aku." Terang Varest tanpa melihat ke wajah sang istri, fokusnya malah mengarah pada perut Rea yang kalau tak salah tadi dia sempat lihat bergerak.


"Sayang?"


"Hmm"


"Aku yang salah lihat atau gimana yah?"


"Apanya?"


"Perut kamu kok tadi kayak gerak?"


"Benar kah?" Rea pura-pura terkejut, oh iya dia lupa memberi tahukan pada Varest mengenai pergerakan sang calon bayi yang mulai semakin aktif di dalam sana.


Selama usia kandungan Rea yang sudah menginjak 4 sampai 5 bulan janinnya sudah mulai melakukan pergerakan tapi Varest sama sekali belum pernah melihat secara langsung perut Rea yang bergerak.


"Iya sayang, perut kamu bergerak tadi. Aku tidak bohong" Heboh Varest menghadapkan tubuh Rea kepadanya.


"Lihat, lihat, nah kan bergerak lagi" Varest berseru senang seperti Zee yang mendapat mainan baru.


Rea tersenyum geli memperhatikan Varest dari atas. Lelaki yang sudah menjadi suaminya setahun itu terlihat sangat bahagia tergambar jelas dengan senyuman yang kian melebar terukir di bibirnya. Tangannya terangkat membelai puncak kepala Varest.


"Coba tanyakan padanya apa yang dia lakukan sekarang di dalam sana?"


Varest mendongak, "Emang apa yang dia lakukan disana?"

__ADS_1


"Tanyakan langsung padanya."


Varest patuh menyentuh perut Rea lagi dan mendekatkan telinganya disana, "Assalamualaikum jagoan papa?" Salamnya lembut.


Yah, calon adik Zee adalah seorang laki-laki, dan itu menjadi kesenangan tersendiri bagi bocah yang ingin di panggil abang itu, Zee antusias dan sudah merapikan beberapa baju yamg sudah tak muat dibadannya, katanya nanti biar bisa dipake buat adik jadi uangnya beli bajunya bisa dipakai buat beli susu pisang. Dasar.


"Jagoan papa lagi ngapain di dalam? jagoan papa sehat kan?" Varest mengedipkan matanya tiga kali dengan takjup.


Sekali lagi tangan Varest merasakan pergerakan di perut Rea, "Sayang, dia bergerak lagi." Varest semakin heboh, kembali dia mendongak dan melihat sang istri yang juga menunduk disertai senyuman.


"Sayang, pintar-pintar di dalam yah!, kamu harus sehat karena bentar lagi kita akan ketemu. Yang sabar yah tinggal sekitar 3 bulan lagi kamu akan ketemu papa, mama, dan juga abang Zee." Gencar Varest berbicara.


"Iya papa, adik akan selalu sehat." Rea menjawab dengan suara yang dikecilkan menirukan suara anak kecil.


Varest terkekeh, "Sayang, kamu merindukan papa?, nanti papa tengokin mau?"


Tawa Rea pecah, bisa-bisanya sang suami meminta izin pada calon bayinya. Namun, dia mendengar dan seakan mengerti si calon bayi malah tambah gencar bergerak di dalam sana dan Varest merasakan itu menyentuh tangannya.


"hahahaha, anak papa pintar paling pengertian." Varest mengalihkan tatapannya dari perut ke wajah Rea, alisnya naik turun menggoda.


"Habis itu kita buatkan tambahan amal baik untuk mamanya." Setelah mengatakan itu Varest tersenyum merasa geli sendiri dengan alasannya, bagaimana bisa dia meminta itu dengan membawa nama Zee dan calon anak keduanya.


Tanpa banyak kata Rea mengangguk, memang tak bisa dia pungkiri sudah lumayan lama Varest tak meminta katanya dia sedikit khawatir jika melakukan itu dalam keadaan perut Rea yang mulai membesar. Mungkin sekarang dia sudah bertanya lebih jauh pada Fani sepupunya.


-


-


-


Rea melipat sajadahnya setelah keduanya melakukan shalat isya, ternyata Varest masih mengingat waktu tak ingin tergesa sebelum melakukan kewajibannya. Varest berjongkok di depan Rea dan membiarkan pundaknya untuk dijadikan tumpuan bagi sang istri untuk berdiri.


"Terima kasih, sayang." Rea berucap setelah dia berdiri sempurna.


Varest hanya memejamkan matanya sekilas sambil mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Mukenanya kenapa tidak dibuka?" Varest bertanya akhirnya penasaran pada Rea yang malah duduk di depan meja rias dengan mukena yang belum dia lepas.


"Iya nanti."


"Sayang jangan nanti, aku sudah menunggu dari tadi." Rengek Varest mendekat pada Rea.


"Emang kamu sudah tidak khawatir kalau perut ku ketindis?"


"Aku sudah tanya Fani, katanya tidak masalah yang penting aku bisa menjaga posisi, dia juga bilang masuk trimester akhir harus sering melakukannya agar membuka jalan lahir." Terangnya tanpa di tambah-tambah.


"Kalau yang sering itu biasanya kalau usia kandungan sudah melewati 8 bulan." Rea sedikit memberi tahu sesuatu yang menurutnya Varest salah penangkapan maksudnya.


"Ya sudah lah, tapi malam ini aku mau itu."


"Iya, ganti baju dulu sana!, emang mau pakai baju kokoh gitu?"


Varest langsung berdiri dan berlari memasuki walk in closet berniat untuk mengganti baju sholatnya dengan piyama tidur. Sedangkan Rea juga melepas mukenanya dan melipatnya membawa ke lemari untuk dia gantung di dalam sana.


Rea kembali ke ranjang dan mendudukkan diri dengan posisi kaki yang selonjoran sembari bersandar pada kepala ranjang menunggu Varest untuk keluar.


"Sayang, aku si-"


Varest berkedip beberapa kali melihat pemandangan di depannya, Rea nampak cantik menggunakan baju kekurangan bahan dengan perut Rea yang terkespose jelas, Varest mendekat dan langsung naik di atas ranjang tepat disebelah Rea.


"Kamu suka?" Varest mengangguk antusias.


Dia tidak berbohong, nyatanya Rea memang bertambah cantik meski berat badannya semakin bertambah, malah terlihat semakin menggoda iman Varest.


Dengan pelan Varest membaringkan tubuh Rea menjadikan satu tangannya sebagai bantal dan tangan satunya membelai wajah sang istri, seperti tersihir Varest sama sekali tak mengalihkan tatapannya yang terus mengarah pada manik coklat Rea.


Dia mendekatkan wajahnya mencium puncak kepala Rea setelahnya turun kebagian wajah juga mencium disana, itu adalah rutinitas Varest sebelum memulai puncak acara dan Rea menyukai itu dia merasa sangat di sayang jika Varest melakukan demikian.


Pelan namun pasti tangan lelaki itu sudah membuka satu persatu kain yang menganggu pada tubuh Rea begitupun dengannya, Rea hanya pasrah menerima setiap belaian sang suami tanpa berniat menginterupsi. Malam ini adalah kuasa bagi Varest atas tubuhnya.


"Aku mencintai mu istriku, Rea" Parau Varest

__ADS_1


"Aku juga mencintai mu, Varest"


__ADS_2