
Aku menengok kanan kiri menunggu angkot untuk pulang. Hari mulai gelap padahal masih pukul setengah lima apa karena sekarang mendung. Sudah hampir sepuluh menit aku menunggu angkot tapi tidak ada satu pun yang lewat atau jam segini sudah tidak ada angkot.
Melihat jam ditangan kiriku kurasa benar angkot sudah tidak akan datang. Lia sudah pulang dijemput supirnya tadi aku menolak untuk pulang bersamanya. Aku juga melarang James untuk menjemputku. Aku mencoba ke halte bus siapa tau ada bus dengan arah yang sama denganku. Semoga saja.
Hujan tiba-tiba mengguyur saja tanpa permisi. Datang seenaknya tanpa memberi tahu hanya untuk sekedar mencari tempat berteduh. Alih-alih berlari mencari tempat untuk berteduh aku malah diam mendongakan kepala keatas langit membiarkan rintihan air hujan mengenai wajahku.
Aku suka hujan. Bau hujan yang bercampur dengan tanah itu sangat menengkan. Sudah lama aku rasanya tidak main hujan-hujanan. Bermain sebentar tak apa kan. Aku melewati halte begitu saja aku memutuskan untuk jalan kali. Jarak rumah kesekolah lumayan sih tapi aku mau menghabiskan waktu dengan hujan. Hujan tidak bergitu deras hanya gerimis biasa tidak akan membasahi seragamku. Semoga saja.
Jalanan sekarang lumayan sepi aku tidak tau kenapa padahal setiap aku pulang sekolah jalanan ini ramai apa karena sekarang hujan. Aku menari-nari kecil disepanjang jalanan seakan aku tengah bermain dengan hujan.
Terkadang aku salut dengan hujan. Dia tetap kembali walau tau rasanya jatuh berkali-kali. Aku akan meniru hujan tidak peduli betapa sakitnya aku akan tetap bangkit.
Aku terkejut badanku kaku. Didepanku sekitar duapuluh meter aku melihat seseorang yang dikeroyok lima orang. Dan yang paling membuatku terkejut orang yang dikeroyok itu kakakku, Hana. Kenapa dia ada disana.
Aku berlari kearah kerumunan itu dengan tangan terkepal. Aku marah berani-beraninya mereka melukai kakakku.
Buagkh!!!
Bukkk!!
Aku benar-benar marah melihat kelima orang yang mengeroyok Hana. Mereka semua cewek. Disana, satu meter disampingku Hana tergeletak tak berdaya dengan banyak darah yang memenuhi tubuhnya.
Jangan remehkan aku walai badanku kecil aku jago berkelahi. Walaupun beberapa kali terkena pukulan tapi aku masih mampu menghajar orang orang ini. Aku tidak segan meninju wajah mereka, perut mereka, bahkan ada yang hampir pingsan. Aku tidak peduli,
Hana terbatuk dia samar-samar melihat perkelahian itu.
Aku terus memukul mereka tanpa henti. Kini wajahku sendiri juga banyak luka. Tapi tak apa setidaknya bukan Hana yang terluka.
"Pergi! Ayo pergi." kata seorang gadis berambut pink kepada teman-temannya. "Hana, urusan kita belum selesai." gadis itu menatap tajam Hana.
Kelima gadis itu pergi dengan tergesah. Teman yang lainnya ikut membantu temannya yang tergeletak dijalanan. Aku hanya menatapnya dengan nafas tersenggal. Aku merasakan cairan kental mengalir dipelipisku. Aku tidak peduli. Sekarang yang lebih penting Hana.
"Lo gak apa-apa?" pertanyaan bodoh jelas Hana kenapa-napa. "Ayo gue bantu duduk."
Hana meringis memegang lenganku kuat. Beberapa kali juga aku mendengar lirih yang keluar dari Hana. Kondisinya sangat mengenaskan, aku tau Hana tidak pandai dalam hal bela diri.
Aku menengok kanan kiri berharap ada taxi atau kendaraan yang lewat. Jalanan sangat sepi bahkan untuk segelintir orang lewat pun tak ada. Aku panik Hana harus segera dibawa kerumah sakit.
Aku meraih ponsel disaku seragamku semoga tidak mati pasalnya aku tidak mechargenya sejak kemarin. Aku melotot melihat angka dipojok sebelah kanan 4%. Astaga segitu tidak perdulinya aku dengan ponsel. Tidak ingin menyiakan waktu aku langsung mencari nomer James.
Tap.
Sial. Ponselku mati.
Aku menatap Hana yang memegang perutnya. "Mana HP lo?" tanyaku.
Hana tidak menjawab dia hanya menunjuk tasnya yang tergeletak jauh disana. Tanpa pikir panjang aku langsung meraihnya dan merobak isi tasnya. Syukurlah ponsel Hana baik-baik saja.
Aku langsung memanggil ambulan.
***
"APA YANG KAMU LAKUKAN PADA ANAKKU, HAH?!"
Kepalaku menghadap keatas. Mama menarik rambutku dengan kuat seakan akan kulitku ikut lepas. Aku mati-matian menahan air mataku agar tidak turun aku tidak mau menangis di depan Mama. Tapi kepalaku masih pusing akibat perkelahian tadi dan sekarang ditambah oleh Mama. Darah masih membekas dipelipis sampai pipi aku menolak pihak medis untuk mengobatiku tadi, tapi kayaknya Mama tidak peduli dengan keadaanku.
"Bukan aku Ma." kataku pelan. "Kak Hana dikeroyok dijalan." aku mencoba melepaskan tangan Mama dari rambutku tapi gagal tarikan Mama sangat erat.
"BOHONG!!"
Aku memejamkan mata menahan sakit menarik tanganku kembali membiarkan Mama menjambakku. Membela diri pun percuma di pikiran Mama hanya ada Hana.
"Hana gak mungkin dikeroyok dia gak punya musuh." Mama membanting kepalaku ke dinding. "Pasti karena kamu Hana dikeroyok!!"
Wajah Mama merah menandakan jika dia marah. Aku tidak pernah melihat Mama semarah ini.
"Pergi kamu dari sini!!" tuding Mama didepan mukaku. "Jangan sampai saya melihat kamu dua hari kedepan dirumah."
__ADS_1
Aku kaget. Maksudnya Mama mengusirku selama dua hari. "Agatha harus kemana Ma?"
"Bukan urusan saya. Pergi kamu!"
Aku memadang Papa yang hanya diam sejak tadi. Papa tidak peduli denganku padahal kami sekarang sudah ditonton pengunjung rumah sakit. Aku menundukkan kepala malu lalu pergi dari hadapan Mama dan Papa.
Jika kalian berfikir aku akan langsung pergi. Tidak. Aku masih dirumah sakit menunggu kabar keadaan Hana. Tapi sebelum itu aku ke kamar mandi untuk mencuci muka. Wajahku sekarang sangat kacau aku tidak mau dianggap hantu rumah sakit.
Disepanjang jalan menuju toilet banyak perawat yang ingin mengobatiku tak jarang juga ada dokter yang membujukku agar diobati. Tapi aku menolak.
Aku duduk duapuluh lima meter dari tempat dudukĀ Mama dan Papa. Tidak terlalu ketara karena Mama tidak peduli sekitar. Aku tersenyum miris kenapa Mama begitu benci padaku padahal ini belum seminggu aku ada disini. Aku mendongakkan kepala agar air mataku tidak jatuh.
Dokter keluar aku langsung memasang telinga sebaik mungkin. Jarang ragukan pendengaranku dari jarak seperti ini aku masih bisa mendengar dokter itu bicara karena koridor yang sepi. Aku bernafas lega akhirnya Hana tidak apa-apa. Syukurlah.
Aku bisa pulang dengan tenang. Aku beranjak dari tempatku keluar dari rumah sakit. Aku memantung keluar dari rumah sakit diluar sudah gelap. Ini pukul berapa. Aku melebarkan mata pukul delapan malam.
AKU HARUS PULANG DENGAN APA?!!!
Aku duduk ditaman depan rumah sakit memandangi kendaraan yang lewat.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Aku terkekeh geli. Bagaimana bisa aku menghitung mobil merah yang lewat didepanku. Sungguh tidak ada kerjaan. Bulan bersinar terang malam ini. Aku suka.
Satu jam berlalu sekarang sudah pukul sembilan malam. Aku mengeluarkan ponselku yang mati mencoba menghidupkanya siapa tau berhasil. Iya memang berhasil tapi satu menit kemudian kembali mati.
Tukk.
Sebuah bola mendarat didepan kakiku. Bukan bola yang berat tapi bola mainan berbentuk melon. Aku terkekeh lucu sekali bola itu. Aku mengambilnya sampai seorang anak kecil menghampiriku dengan senyuman lebar.
Aku tersenyum. "Tidak apa-apa. Sama siapa disini? Ini udah malam loh."
Anak itu menggaruk belakang kepalanya cangguh. "Aku kabur kak dari Mama. Soalnya Mama gak ngijinin aku main."
Aku melotot baru sadar jika anak ini menggunakan pakaian pasien. Berani sekali dia keluar malam-malam begini hanya karena tidak boleh bermain.
"Kamu kan sakit bener dong Mama gak ngijinin kamu main. Nanti kalau udah sembuh boleh deh main sepuasnya." kataku mengelus surai hitamnya.
Anak kecil itu nampak panik dia menggigit kuku jarinya cemas. Aku tersenyum geli. Menggemaskan andai aku punya adik.
"Terus aku harus gimana kak? Nanti Mama khawatir nyari aku terus aku dimarahin."
"Yaudah ayok kakak antar kamu." Aku berdiri menggandeng tangan mungil anak itu memasuki rumah sakit. "Kamar kamu dimana?"
"Disana kak." tunjuknya pada ruangan tidak jauh dari kami berdiri. Aku dapat melihat disana ada seorang laki-laki dan wanita tengah berbicara serius dengan seorang perawat. Pasti mereka orang tua anak ini.
"Selamat malam Om, Tante."
Kedua orang itu menengok padaku bersamaan lalu tersenyum cangguh lalu matanya mengarah pada seorang anak yang tengah besembunyi dibelakangku.
Anak ini benar-benar takut.
"Ya ampun Kaila kamu kemana aja." kata wanita itu khawatir mencoba meraih anak kecil itu dari balik tubuhku.
Anak kecil itu menggenggam tanganku erat. Seakan-akan aku akan meninggalkannya. Mencoba menghindar dari jangkauan Mamanya.
"Kamu siapa?"
Aku menoleh pada lelaki paruh baya itu. Lalu menunduk sopan. "Saya Agatha Om tadi gak sengaja liat Kaila main diluar jadi saya antar kesini."
__ADS_1
Percayalah aku sebenarnya tidak mengetahui nama anak ini tapi karena tadi wanita disampingku memanggilnya dengan nama Kaila jadi aku beranggapan bahwa itu nama anak ini.
"Makasih ya udah nganterin Kaila. Dia memang agak bandel anaknya." kata Lelaki itu ramah lalu menatap anaknya yang masih berlindung dibelakangku.
"Kaila," kata Wanita itu sambil berkacak pinggang. Kok kelihatannya galak ya.
"Mama jangan marahi Kaila ya." mohon anak itu gemas.
Aku terkekeh geli. "Minta maaf dong sama Mama." kataku.
Anak itu menatapku lalu kembali menatap Mamanya. "Maafin Kaila ya Ma. Gak diulangi lagi. Janji."
Wanita itu tersenyum lalu tersenyum hangat. "Iya Mama maafin. Sini kasihan kakaknya kamu tempelin gitu kan kamu bau."
Anak itu cemberut lalu berjalan memeluk mamanya. "Mama mah gitu kan Kaila malu."
"Nama kamu siapa Nak?" tanya wanita itu ramah.
"Saya Agatha tante."
"Panggil aja Tante Sofia dan Om Herman." katanya memperkenalkan diri dan suaminya. "Ngomong-ngomong kamu belum pulang kok masih pakai seragam ini sudah malam loh."
Aku menatap tubuhku sendiri baru sadar jika masih pakai seragam mana kotor lagi. Aku jadi seperti gembel.
Aku tersenyum cangguh. "Tadi habis jenguk temen Tante." kataku. "Kalau begitu saya permisi ya Tante Om takutnya dicariin."
"Mau Om antar?"
Aku menggeleng. "Gak perlu Om udah dijemput kok."
"Beneran?" kata Tante Sofia curiga. Aku harus gimana ini.
"Nona?"
Aku menoleh kebelakang. Tepat sekali James datang.
"Itu saya udah dijemput Tante."
James mendekat lalu tersenyum tipis pada Tante Sofia dan Om Herman. Entah aku salah lihat atau gimana Om Herman terlihat kaget tapi secepat mungkin dia kembali menormalkan wajahnya.
"Kalau begini kan Tante jadi tenang." kata Tante Sofia memelukku hangat. Aku membeku. Aku merindukan pelukan seperti ini. "Hati-hati ya."
Aku mengangguk. "Kaila jangan nakal lagi ya." anak itu mengangguk semangat. "Kak nanti kita main lagi ya."
Aku mengangguk semangat. "Iya pasti. Dadah."
Aku berbalik setelah berpamitan diikuti James dibelakangku. Sampai didepan rumah sakit aku mendadak berbalik membuat James kaget dan berhenti seketika.
"Nona ada apa?" kata James.
"Kamu kok bisa tahu aku disini?" Jujur aku penasaran sejak tadi.
"Tadi ada staf yang menelfon bahwa Nona ada disini."
Aku menyengit heran. Maksudnya apa.
"Nona tidak tau ini rumah sakit apa?"
Aku mendongak mencari tulisan nama rumah sakit ini. Aku membuka mulut lebar.
Rumah Sakit Kimberly.
Pantas saja.
"Mari Nona saya antar pulang luka Nona harus segera diobati. Saya yakin Nona akan menolak jika diobati dirumah sakit ini."
Kau memang terbaik James. Aku menyentuh luka dipelipisku. Tapi kok aku gak ngerasa kesakitan ya.
__ADS_1
Entahlah aku pulang dan segera tidur.
***