Sunflower

Sunflower
Berhasil nanam ceri


__ADS_3

"Ah, pasien yang ku nantikan akhirnya masuk juga" Kata Fani memeluk Rea.


Gadis manis itu menuntun Rea untuk duduk di kursi didepan mejanya, agak berlebihan memang melihat kondisi Rea yang baik-baik saja bahkan bukan seperti wanita yang tengah hamil, tapi itulah yang dilakukan Fani setiap kali bertemu dengan kakak iparnya tersebut terlalu disayang mungkin karena dari keluarga besarnya hanya dialah seorang perempuan dari semua sepupunya. Jadi, jika dia memiliki ipar dia akan menganggap semuanya sebagai kakak kandungnya juga.


"Antrinya lama yah?" Tanya Fani setelah Dokter cantik itu duduk sambil membuka form pemeriksaan Rea.


"Iya, kamu sudah membuat kakak mu menunggu lama." Ini bukan Rea yang menjawab melainkan Varest yang menggerutu seraya menggosok hidungnya mencium bau ruangan Fani.


Fani mendengus, "Kak, ini bukan Rumah sakit ku jadi aku tidak bisa mengutamakan kakak ipar walaupun aku mau" Sarkasnya.


"Tidak perlu diperdulikan, Fan. Dari tadi memang dia agak aneh" Ucap Rea melerai.


Fani terkekeh sedangkan Varest hanya bisa mencebikkan bibirnya.


"Sus, tolong bantu ibunya untuk naik ke atas ranjang, yah!" Titah Fani pada seorang perawat yang menemaninya.


Rea berjalan mengikuti perawat menuju brankar, Varest yang melihat pun ikut menyusul. wanita itu naik secara perlahan dituntun oleh Varest.


Nampak sebuah layar monitor menggantung dia atas dinding, layar berukuran sekitar 40x30cm itu adalah layar monitor yang akan memperlihat janin dalam perut sang ibu.


"Bu, maaf, saya buka bajunya yah?" Rea mengangguk seraya menarik bajunya ke atas hingga bawah dada, perut Rea masih sangat rata.


"Itu apa?" Tanya Varest yang melihat perawat itu melumuri perut istrinya dengan gel.


"Ini gel USG, kita gunakan ini untuk mendengar lebih jelas suara pada objek yang kita periksa" Fani memberi jawaban pada kakak iparnya tersebut.


"Lihat ke monitor!" Kata Fani sambil tangannya mengarahkan transduser diatas perut Rea, "Kalian lihat?, adiknya Zee masih begitu kecil hanya sebesar buah cerry, tapi jantungnya sudah bisa didengar dengan jelas"


Tak ada sahutan dari pasiennya, Fani menoleh dan tiba-tiba tersenyum kala melihat wajah haru yang nampak jelas terlihat dari kedua orang tua itu. Mata Varest berkaca-kaca dengan tangan yang setia menggenggam tangan istrinya, sedangkan Rea sudah meneteskan air matanya haru bahagia.

__ADS_1


"Ada keluhan, tidak?" Tanya Fani setelah mereka kembali duduk di kursi.


"Beberapa hari ini memang agak sering pusing."Jawab Rea apa adanya.


"Itu wajar, biasanya pada awal trimester gejala lain juga sering terasa, seperti mual dan yang lain. Seperti yang dilihat tadi saya bisa bilang jika usia kandungan kamu sudah menginjak 7 minggu, dan diusia ini mulai pembentukan organ tubuh, serta perkembangan otak" Jelas Fani.


"Kandungan ku sudah usia 7 minggu?" Rea nampak tak percaya pasalnya dia merasa tak memiliki ngidam sama seperti saat mengandung Zee.


"Iya, itu yang aku lihat dari hasil USG"


"Tapi, bulan lalu aku masih mengalami haid"


"Iya, benar. Bahkan dia masih belum telat untuk haid bulan ini." Varest menimpali, " Seharusnya seminggu lagi dia haid" Lanjutnya yang membuat Rea membelalakkan matanya.


"Kamu menghitungnya?" Tanya Rea tak habis fikir.


"Tentu, aku menghitungnya, Mama mengajariku untuk menhitung periode bulanan mu. Katanya itu adalah persiapan jangan sampai saat aku mau itu malah kecewa karena terhalang lampu merah" Ujar Varest tak tahu malu.


Fani terkekeh mendengar jawaban polos sepupunya, dia tahu jika tantenya pasti memang sudah mengajari kakaknya itu bagaimana cara menghitung masa subur seorang istri dan masa periodenya, tapi tidak begini juga kali, ada orang lain di dalam ruangan. Yah, Perawat yang menemani Fani nampak menahan tawa mendengar jawaban jujur dari lelaki tampan itu.


"Aku rasa itu adalah pendarahan implantasi, itu kadang terjadi pada ibu hamil diusia trimester awal, biasanya pendarahan itu terjadi dekat dangan tanggal haid sebenarnya. Maka, tak jarang orang tidak akan sadar jika sedang mengandung." Terang Fani memberi penjelasan.


"Apa itu berbahaya?"


Fani menggeleng, "Tidak, hanya saja tetap menjaga kondisi. Jangan melakukan aktifitas berat, saat melakukan hubungan, ehm-" Fani berdehem sekilas melirik kakak sepupunya.


"Jangan melakukan terlalu kasar, itu akan membahayakan janinnya, sejauh ini aku lihat ibu dan janinnya sehat. Tapi, tetap harus berhati-hati dalam beraktifitas, konsumsi susu khusus ibu hamil dan jangan lupa makanan yang sehat itu akan sangat membantu proses perkembangan si bayi."


Varest dan Rea mengangguk paham, setelah diberikan resep obat dan vitamin Rea dan Varest mulai berdiri hendak meninggalkan ruangan Fani.

__ADS_1


"Kak, kamu benar-benar berhasil nanam ceri yah?" Bisik Fani sebelum kakak sepupunta itu membuka pintu.


"Aku akan membangunkan mu klinik sendiri buat mengutamakan kakak ipar mu" Balas Varest, itu bukanlah omong kosong, karena apa yang dikatakan oleh Varest memang selalu dia tepati.


Fani tersenyum bahagia, bahagia karena kebahagiaan kakaknya dan juga bahagia karena sebentar lagi dia juga akan memiliki klinik sendiri dari sang kakak sepupu. Enak yah jadi kesayangan sepupu-sepupu cowok?. Batinya.


"Sayang, kita singgah ke supermarket sebentar yah?"


Saat ini Rea dan Varest masih berada di parkiran Rumah sakit, sepanjang perjalanan menuju mobil tangan Varest tak hentinya memegang perut Rea seakan ada sesuatu di dalam sana yang akan terjatuh jika tak di pegang.


"Untuk membelikan mu susu dan juga buah" Kata varest mulai memutar mobil untuk keluar dari area parkir.


"Aku bisa membelinya nanti, kita pulang dulu saja, aku lihat kamu tidak enak badan" Ujar Rea yamg memang memperhatikan wajah Varest, meski nampak rasa bahagia di wajah lelaki itu tapi dia juga terlihat pucat.


"Kalau bisa sekarang kenapa harus nanti, jangan menunda sesuatu yang baik ini juga demi kamu dan anak kita, lagi pula aku juga ingin membelikan cemilan untuk Zee." Tukas Varest tak ingin lagi dibantah.


Rea pasrah, memang tak ada salahnya jika mereka singgah sebentar untuk membeli keperluannya. Tapi, dia juga khawatir kalau suaminya itu memang sakit.


Dan kekhawatirannya tadi lenyap begitu saja ketika mobil Varest tiba-tiba berhenti di pinggir jalan tepat di depan penjual jajanan permen kapas berwarna pink.


"Sayang, tunggu bentar yah!" Titah Varest, wajahnya nampak bahagia saat berlari menuju penjual jajanan itu.


Rea tak bisa mendengar apa yang suaminya katakan dan memesan berapa, tapi matanya seketika membulat melihat Varest berlari ke mobil dengan 5 tusuk permen kapas.


"Rest, Zee tidak bisa makan sebanyak itu."Rea menggeleng berkali-kali


"Ini memang bukan buat Zee, Sayang" Kata Varest membuka satu permennya. "Ini semua buatku"


Rea mengedipkan matanya berkali-kali tanda sangat heran dengan tingkah Varest.

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan suami ku?


__ADS_2