Sunflower

Sunflower
Sekolah baru


__ADS_3

...“Awali apapun dengan senyuman. Setidaknya itu membuatmu lebih baik."...


...***...


Aku memandang sekolah baruku dengan gugup. Banyak sekali tatapan yang ditujukan padaku. Itu karena seragam yang aku kenakan. Ini hari senin menurut jadwal seragam disekolah baruku diharuskan memakai putih abu-abu.


Tapi aku tidak. Karena kecerobohan Hana yang disengaja. Dia menumpahkan susu diseragam putih abu-abuku nyaris kemeja dan rok dipenuhi cairan berwarna putih itu. Dan akhirnya aku memakai seragam disekolah lamaku. Masih untung aku membawanya kalau tidak entah bagaimana.


Disetiap koridor semua mata memandangku takjub. Ayolah siapa yang tidak mengetahui almamater seragam yang aku kenakan. School of Performing Arts Seoul sekolah seni bergengsi di Seoul, Korea Selatan. Masih untung aku dulu diajari agar tetap pede dimana pun. Tapi kenapa ditatap dengan sedemikian membuatku tetap gugup.


"Eh? Ternyata bener kabar kalo ada murid baru pindahan dari Korea?!"


"Gila cantik banget cuyy!!"


"Emang dia bisa bahasa Indonesia?"


"Lo taukan seragam yang dia pakek? SOPA! Sekolah para artis di Korea."


"Sekolahnya Sehun EXO itukan?!"


"Siapa tuh cantik bener?"


"Orang kaya tuh pasti."


"Semoga aja masuk kelas gue. Cewek dikelas jelek semua."


"Mulus banget kulitnya."


"Oh jadi ini katanya ada murid pindahan dari Korean. Cewek ternyata."


"Ngapain dia pindah kesini. Udah bener di SOPA malah pindah."


"Gak kuat sama biayanya kali SOPA kan mahal."


Aku mendengus sebal. Dasar generasi nyinyir. Heh apa tadi bilang gak kuat bayar di SOPA? Minta digampar memang tuh mulut. Se-enak jidat nyimpulin sesuatu.


Aku mengetuk pintu di depanku dengan tulisan ruang kepala sekolah. Tidak selang beberapa lama aku mendengar sahutan dari dalam.


"Agatha ya?" Tanya seorang pria paruh baya mungkin umurnya tidak jauh dengan Papa. "Sebentar ya kamu akan diantar Walikelasmu."


Aku hanya mengangguk dan tersenyum.


"Selamat datang disekolah kami." Kata bu Kinan-walikelasku. Kami berjalan disepanjang koridor. Sekarang koridor sudah sepi karena bel sudah berbunyi lima menit yang lalu. Ternyata jarang ruang guru dan kelasku lumayan jauh.


"Bu saya minta maaf karena gak makai seragam disekolah ini." Ucapku bersalah aku siap jika dihukum dihari pertamaku.


"Kamu tenang saja untuk murid baru itu tidak apa-apa karena seragam diberikan dari sekolah."


Eh? Aku gak dimarahin? Jadi murid baru enak juga.


"Saya sudah mendengar banyak tentang kamu. Semoga kamu betah ya sekolah disini." Lanjutnya tersenyum ramah padaku dan ku balas senyuman kikuk.


Bu Kinan mengetuk pintu lalu membukanya. Kelas yang awalnya ramai mendadak sepi. Aku disuruh menunggu diluar terlebih dahulu.


"Anak-anak kita kedatangan murid baru. Ayo silakan masuk."


Aku masuk berdiri di samping bu Kinan. Semua penghuni kelas mendadak heboh. Ada yang menatap tak percaya. Ada yang melongo. Ada yang berteriak histeri bahkan dibagian belakang tempat cowok tengah bersiul ramai.

__ADS_1


"DIAM!!"


Aku terlonjak kaget mendengar bu Kinan berteriak. Ternyata orang ramah kalo marah nyeremin ya.


"Ayo perkenalkan diri kamu." Bu Kinan menatapku tersenyum.


Aku membungkuk. "Selamat pagi perkenalkan nama saya Agatha. Semoga kita bisa berteman baik."


"Ada yang ingin ditanyakan?"


Aku tertegun banyak sekali yang mengangkat tangan.


"Bu dia bisa bahasa Indonesia?" Kata cewek berkuncir kuda.


"Diapernah tinggal di Indonesia sebelum pindah ke Korea."


"Kok belum pakek seragam sekolah ini?"


"Dia belum dapat seragam."


"Kok bisa masuk IPA bu kan dia dari sekolah seni?"


"Sebelum masuk sini dia dites terlebih dahulu dan hasil tesnya mengantarkan dia ke kelas ini."


Aku mantap bu Kinan takjub. Benar dia tau semuanya tentang aku. Semua pertanyaan dijawab dengan tenang oleh bu Kinan.


"Kenapa pindah?"


"Udah punya pacar belum?"


"Minya id linenya dong."


Merasa namanya disebut Liana mengankat tangan. Namanya kayak gak asing. Aku menuju tempat cewek itu. Dia cantik rambutnya diatas bahu berwarna hitam pekat.


"Hai." Sapanya.


Aku tersenyum.


***


Bel istirahat berbunyi 5 menit yang lalu. Aku tidak tau harus apa. Jadi aku memilih tetap di kelas. Tapi 2 menit kemudian kepala Lia muncul di cendela yang dibuka.


"Tha!"


Aku terlonjak kaget. Hampir ponselku jatuh ke lantai. Aku menatap Lia kesal.


"Sori Tha, ke kantin yuk laper nih." Katanya sambil menyengir lebar.


Aku mendengus kesal tapi tetap saja beranjak dari kursi dan menghampiri Lia.


Setelah aku sampai disampingnya dia langsung menggandeng tanganku tanpa malu. Aku terkekeh tingkah dia mengingatkanku pada seseorang.


"Lo gak inget gue Tha?" Lia menengok padaku. Aku menyengit bingung. "Pangling lo sama gue? Secarakan gue makin cantik ya gak Kim?" Lia menaik-naikkan alisnya jail.


Aku masih berfikir. Astaga!


"Lee?"

__ADS_1


Lia mengangguk. "Lama tak jumpa Kim Hyun So." Bisik Lia pelan tidak ingin ada yang mendengar.


Aku berhenti lalu memeluk Lia erat. Pantas sejak tadi aku merasa gak asing dengan wajah Lia. Ternyata dia sahabat kecilku dulu.


"Lee A-Yeong? Akhirnya gue ketemu lo." Kataku girang. "Makanya wajah lo kayak gak asing."


"Jahat tau gak lo. Pergi ke Korea gak bilang-bilang!" Kata Lia memukul lenganku pelan.


"Kan Kakek udah ngirim surat waktu itu."


"Surat aja gak cukup bangsul!"


"Sori sori."


Kami duduk disalah satu bangku kosong di kantin. Tempatnya sangat membuatku tidak nyaman. Ditengah kantin membuatku menjadi pusat perhatian belum lagi rokku yang sangat pendek.


"Nih pakek! Lagian lo ngapain sih pakek seragam SOPA? Gak mampu lo beli seragam sekolah sini." Kata Lia melempar jaket tepat dimukaku. Sialan memang.


Aku nyengir lalu menutup pahaku dengan jaket yang diberikan Lia. Dia tau kalo aku gak nyaman dengan seragam ini di Indonesia. Beda jika di Korea.


"Sembarangan lo ngomong. Gue tadi udah makek seragam trus sama kak Hana disiram susu." Kataku sambil memakan nasi goreng yang sempat dipesan Lia.


"Masih jahat aja tuh Nenek lampir." Ucap Lia acuh.


Aku terkekeh aku dulu pernah cerita ke Lia jika Hana kakakku jahat. Sebelum aku didepak ke Korea.


"Eh tahun lalu gue ke Korea rencananya mau ngunjungin lo tapi lo-nya malah sibuk syuting."


Aku terkekeh benar satu tahun lalu ada seseorang yang mencariku dilokasi syuting. Tapi karena jadwalku yang padat jadi aku tidak bisa menemuinya. Jadi itu Lia.


"Sori, waktu itu jadwal gue padat."


"Dasar sok sibuk!"


Aku hanya tersenyum dan kembali memakan nasi gorengku. Lia kembali berceloteh karena aku tidak menemuinya waktu itu.


"Trus lo masih jadi artis sekarang?" Tanya Lia setelah meminum jus mangganya.


"Kalo dibilang masih iya masih artis sih. Kalo enggak ya enggak juga. Gue udah nyelesain drama plus film layar lebar di Korea jadi gue bisa tenang disini. Kalo seandainya gue dipanggil untuk promosi ya gue balik ke Korea." Kataku sambil menyendokkan nasi goreng yang belim habis.


"Comeback lo gimana?"


"Gue udah comeback 2 bulan yang lalu. Dan sekarang gue vakum sementara didunia musik."


Iya memang aku seorang aktris dan penyanyi di Korea. Wajahku juga sudah terpampang dimana-mana bukan karena buronan kejahatan tapi karena iklan dan yang lainnya. Aku termasuk terkenal di Korea. Aku seorang penyanyi solo yang naik daun. Aku memilih vakum dan kembali ke Indonesia setelah berembuk dengan agensi dan mereka menyetujuinya. Aku juga bakal balik ke Korea jika ada panggilan promosi film atau manggung di acara bergengsi.


"Gak nyangka ternyata sahabat gue artis terkenal."


"Seharusnya lo bersyukur." Kataku. "Tapi gue risih tau diliatin kayak gini."


Lia terkekeh. "Gimana lo gak diliatin orang lo pakek seragam sekolah bergengsi kayak gini. Pasti mereka ngiranya lo Kim Hyun So yang terkenal itu."


"Kan emang bener." Aku menghempaskan rambutku ke belakang. Sombong. "Tapi masih untung sih mereka gak tau gue siapa."


"Karena disini lebih boming sama BTS dan EXO kalo penyanyi solo kayak lo gak begitu terpandang."


Aku meringis.

__ADS_1


"Kayaknya lo sama kayak gue deh Lia." Aku menyeringai.


***


__ADS_2