Sunflower

Sunflower
Kucing oren


__ADS_3

“Astaga Tha!!! Sejak kapan lo goblok kek gini?!”


Lia menjambak rambutnya frustasi, aku tertawa melihatnya dia sudah seperti orang gila.


“Lo kayak orang gila.”


“GILA KARNA LO.” Sewot Lia dengan wajah merahnya.


“Kek tomat.” Ledek ku pada Lia.


Wajah yang awalnya seperti tomat sekarang sudah mirip tomat busuk. Lia menatap membunuh padaku.


“Oke oke kalem kalem.”


Lia mendengus sebal, “Ini anak TK juga bisa Tha!”


“Tapi kan gue bukan anak TK.” Bela ku.


“Siapa yang bilang lo anak TK.”


“Lo.”


“Setan!!” Umpat Lia, “Dengerin baik-baik, 8+8 itu 16. Dari sini paham.”


Aku mengangguk.


“9+9 itu 18.”


Aku kembali mengangguk.


“Jadi 8+8 berapa?”


“18.”


“GUA MAKAN AJA LAH LO SINI.” Lia berdiri dari duduknya melipat lengan seragamnya hendak menghajar ku.


Sata yang sejak tadi melihat tertawa terbahak. Cowok itu bahkan sampai mengeluarkan air mata di sudut matanya.


“Lo dulu TK dimana sih?” Lia kembali duduk mengatur nafasnya.


“Gak jadi ngajak berantem?” Ujarku polos.


“OH LO BENERAN NGAJAK BERANTEM?!” Gadis itu kembali berdiri dan mengikat rambutnya ke belakang.


Aku tertawa sumbang. “Engga kok engga duduk atuh duduk.”


“Ayo berantem ayo, aku suka keributan.” Ujar Sata yang berhasil mendapat hadiah dari Lia.


“Lia bangsat!” Cowok itu mengusap kepalanya belakangnya pelan.


Hadiah dari Lia.


“Cewek jelmaan siluman ya kau.” Gerutu Sata.


“Banyak bacot sih lo.”


Sata hanya mencibir dan kembali fokus pada buku matematika di atas meja. Kita sedang kerja mengerjakan tugas matematika dari pak Sabar. Guru itu berhalangan hadir dan hanya memberi tugas.


Tentu saja hanya beberapa yang mengerjakan dan yang lain menyontek. Matematika semenyeramkan itu bagi mereka.


Untungnya kelas mereka kompak.


Sekarang tempat ku yang menjadi salah satu kubu. Tentu saja karena Lia sangat jago matematika.


Karena aku tidak ingin menyontek saja makanya aku menanyakan darimana jawaban itu berasal, dan berakhir aku debat hanya karena masalah pertambahan.


Dari dulu memang aku sering keliru mengenai 8+8 dan 9+9. Lucu bukan bahkan anak TK pun bisa menjawabnya.

__ADS_1


Ayolah tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.


“Lo tulis aja udah tuh jawaban entah dapet darimana.” Celetuk Sata tangannya masih sibuk menulis di kertas putih itu.


“Gue gak kayak lo ya.” Cetus ku tapi meski begitu aku tetap mengikuti saran Sata. Tidak ada salahnya hanya menyalin masalah paham engganya itu urusan belakang.


“Oh ya Agatha gimana sekolah disini?”


Aku menoleh ke sumber suara. Itu Karin sang ketua kelas. Dia duduk di sebelah Sata.


Sudut bibirku tertarik, “Seru banget.”


“Syukur deh kalo lo betah disini.” Jawab Karin tersenyum manis padaku.


Dia sangat cantik dengan wajah kecil dengan bola mata lebar dan hidung seperti prosotan itu. Di liat-liat dia cocok juga dengan Sata.


“Gak usah aneh-aneh gue tau isi otak lo.” Sata melempar ku gumpalan kertas. Di beneran tau isi otakku?


Karin terkekeh pelan, “Sata emang gitu dia udah dapet predikat siswa paling petakilan di sekolah ini.”


“Sekate kate lo bilang. Gue masuk list cowok tampan ya di sekolah ini.”


“Tampan darimananya?”


“Wah menghina secara terang-terangan ini namanya.” Sata menutup mulutnya tidak percaya.


“Lo cuma ke bantu Mark dana Jeno makanya keliatan cakep.” Sahut Lia.


Sata membenarkan rambutnya ala-ala iklan sampo. “Berarti secara ga langsung lo bilang gue cakep kan.”


“Tha keresek Tha gue mau mutah.”


“Sialan anda.”


“Gue penasaran apa yang bikin lo betah sekolah disini Tha?” Tanya gadis dengan rambut pendek di sebelah Lia. Winda sang bendahara kelas. Dia sering bertempur dengan Sata. Cowok itu sangat sulit buat bayar kas.


Sata melotot. “Santai darimananya, gue aja hampir frustasi.”


“Berarti lo yang goblok.”


“Lo sebenarnya punya masalah apa sih sama gue.” Ujar Sata, “Ayok kita selesai sekarang.”


Lia berdiri tidak mau kalah, “Ayok siapa yang takut.”


“Di lapangan keknya seru tuh.” Sindir Winda melirik Sata dan Lia sinis. “Heran tiap hari ribut mulu lo berdua.”


“Jomblo diem.”


“Emang ngajak berantem nih anak. Ayok Ya kita musnahkan manusia ini.” Ucap Winda berdiri disamping Lia.


“Loh ngajak kubu ternyata.” Sata sudah siap dengan silatnya.


Aku tertawa sungguh ini sangat menghibur. Sata yang suka memancing emosi dan Lia yang gampang terpancing emosi dengan Winda yang kesabaran setipis tisu.


Sungguh seperti kucing ketemu tikus.


Karin memutar bola matanya malas, sepertinya gadis itu sudah lelah dengan anggota kelasnya.


“Tha lo jangan ikut ketularan mereka ya.” Karin menatapku harap.


“Apa maksud lo hah?!” Sembur Sata tidak terima, “Gue sama Agatha sudah menjadi bestie.”


“Heh heh heh enak bener tuh mulut berucap.” Lia menabok bibir Sata pelan.


“Omaygat mama bibirku sudah tidak suci lagiiii.” Sata mulai dengan dramatisnya.


“Astagaaa gue nyerah jadi ketua kelas.” Frustasi Karin yang membuat kami tertawa.

__ADS_1


Aku pikir aku yang paling aneh di dunia ini tapi setelah bertemu Sata ternyata ada yang lebih parah dariku.


Winda membenarkan posisi duduknya, “Kenapa lo bilang sekolah disini santai?”


Aku menatap Winda dan tertawa setelahnya, hal itu membuat mereka menatapku bingung.


“Di Korea lebih parah dari ini. Kalian pernah liat di drama drama Korea kan yang tema sekolah.”


Mereka mengangguk.


“Menurut kalian itu gimana.”


Karin yang diketahui suka drakor mencetuk, “Pagi sampe sore sekolah trus masih lanjut les kurang lebih sampe jam sepuluh, sampai rumah aja lanjut belajar.”


Mulut Sata jatuh ke bawah, “The real anak ambis.”


“Soalnya masuk universitas disana itu susah.” Ujarku dan itu memang benar sepamahaman ku. “Kadang juga ada yang stres kan.”


Mereka mengangguk setuju.


“Mendadak gue bersyukur banget lahir di Indonesia.” Winda menggeleng tidak percaya mendengar cerita ku. “Jadi itu salah satu alasan lo pindah ke Indonesia?”


Aku mengangguk, “Betol sekali gue gak mau mati muda.”


Sata bergidik ngeri, “Disini sekolah sampe jam dua aja gue bingung mau cepet pulang.”


“Lo emang pemalas.” Cetuk Winda. “Oh iya bayar kas Tan.”


Sata pura-pura tidak mendengar dia kembali fokus pada buku didepannya. “Lia ini jawabannya darimana ya.”


...****************...


“Sendirian?”


Aku mendongak menatap cowok didepanku. Mark. Kenapa cowok itu selalu muncul ketika aku sedang sendirian seperti ini.


Kemaren waktu di halte juga gitu, sekarang di taman pun juga begitu.


“Duduk kak."


Mark ikut duduk di sampingku. "Kenapa gak langsung pulang?"


Aku menanggapinya dengan senyuman. "Gapapa pengen ke taman aja."


"Gak nunggu kucing makan lagi?"


"Kucing?" Aku seperti mengingat sesuatu. Aku ingat sekarang kucing oren waktu itu.


Mark langsung menatapku ketika aku berdiri tiba-tiba. "Tunggu sini bentar kak."


Mark sepertinya menurut dia tetap duduk disana, sedangkan aku berlari pada penjual roti di pinggir jalan. Tidak butuh waktu lama aku langsung kembali ke tempat Mark dengan sekantong roti ditangganku.


Mark menyengit heran menatap sekantong roti yang ku bawa. "Banyak banget."


"Aku udah janji sama kucing kemaren mau kasih roti lagi."


Kening Mark berkerut. "Emang kucing mau roti?"


"Buktinya kemaren di makan kan?"


Mark mengangguk, "Apa ini gak kebanyakan?"


"Kemaren aku suruh dia bawa temen."


Mark menggeleng tidak percaya padaku. Aku tau dari ekspresinya. "Kakak mau ikut?"


"Ayok."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2