Sunflower

Sunflower
Kepulangan Rea dan Zee


__ADS_3

"Pagi.." Sapa Varest ketika baru memasuki kafe


Hari ini dia datang terlambat tidak seperti biasanya, semua karyawan yang dilewatinya pun tak sedikit yang mengerutkan keningnya melihat adanya perbedaan pada wajah bosnya itu.


Nampak garis hitam yang tercetak pada bawah matanya jelas itu adalah tanda bahwa lelaki tampan itu tak memiliki kualitas tidur yang baik.


Seakan menyadari jika penampilannya sedang menjadi bahan perhatian Varest pun segera meninggalkan para karyawaannya menuju kantornya yang berada di lantai 2.


Varest meletakkan tas di atas meja setelahnya mendudukkan diri di kursi, kepalanya mendongak seraya memijat pangkal hidungnya.


Tadi malam saat Mama Nimas berada di kamarnya dia sempat mendengar jika sang Mama menerima telpon dari Rea dan menanyakan apakah dia ada disana atau tidak, fikiran buruk tiba-tiba menghantuinya sampai tidurpun tak menjadi kebutuhannya malam itu sampai menjelang subuh.


"Akkhhh." Teriaknya seraya menjambak rambut hitam legamnya.


"Aku harus bagaimana Re?, Aku memang ingin kalian bahagia. Tapi, bukan dengan orang lain." ucap Varest lirih sambil memegang foto yang menjadi pajangan pada meja kerjanya.


"Aku mungkin egois, serakah, dan tak tahu diri tapi itu lah yang memang aku rasakan pada kalian, aku hanya ingin kalian memaafkan ku dan tetap bersama ku"


Lelaki yang tengah dilanda kesedihan itu nampak sangat tak berdaya, segala yang menjadi daya tariknya sebagai seorang lelaki seketika menghilang saat air matanya kembali menetes. Sungguh sejauh yang dia ingat bulan ini adalah menjadi bulan yang membuatnya menumpahkan air matanya sebegitu banyak.


"Maaf Mas, Ada orang yang mencari mu di bawah." ucap seorang karyawan yang berdiri di pintu yang ternyata tak tertutup.


Varest terkesiap setelah memperhatikan wajahnya pada cermin berukuran 4ox60 yang menempel di dinding. Sungguh sial baginya dia melupakan jika hari ini ada janji dengan salah satu arsitek yang menangani proyek pembangunan kafe baru miliknya.


"Antar dia ke ruangan ku, hari ini aku akan ke lokasi jadi aku menyuruhnya datang kesini" Titah Varest


Karyawan yang bernama Nuna itu mengangguk setelah itu pergi untuk menemui tamu sang bos.


Berselang beberapa menit Nuna kembali datang dengan seorang lelaki muda yang mungkin baru berusia 20an.


"Silahkan masuk Tuan, Mas Varest sudah menunggu" Ujarnya seraya membuka pintu


Varest yang melihat pintu terbuka pun langsung berdiri dari mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Silahkan duduk Evan!" Katanya


"Oh, namanya Evan toh" Reflek Nuna bergumam yang ternyata masih bisa didengar oleh kedua orang di depannya.


"Ada apa, Na?" Tanya Varest saat mendengar Nuna bergumam.


"Ahh tidak apa apa, Mas" Elaknya melambaikan tangan di depan wajah

__ADS_1


"Jadi, apa lagi yang kamu tunggu?, kamu bisa kebawah sekarang dan membuatkan kopi untuk kami" tukas Varest.


"Ah iya, aku lupa sebenarnya ada yang ingin aku berikan sama mas Varest" Tangan Nuna merogoh pada kantung celananya setelahnya mengeluarkan sesuatu yang berbentuk tube berwarna merah merah dan memberikan kepada Varest.


"Apa ini?" Varest membolak balikkan benda itu ditangannya.


"Itu namanya kosmetik Mas, it-"


"Iya aku tahu ini kosmetik, tapi buat apa kamu memberikan ku?"


Nunjuk pada matanya, "Itu bagus buat menghilangkan mata panda akibat kurang tidur" katanya diselingi cengiran jahil.


Varest terlihat memicingkan mata dan menggeretakkan giginya. Nuna yang melihatnyapun langsung berjalan mundur menuju pintu setelahnya berlari keluar.


Evan nampak terkekeh, setelahnya berdehem tak enak saat ditatap oleh Varest.


"Maaf Mas." katanya


"Tidak apa-apa, duduklah!" Titah Varest, dia berjalan menuju meja untuk mengambil laptop


"Ada yang ingin aku tanyakan mengenai proses pembangunan kafe."


"Ah iya Mas, proses sudah sampai sekitar 70%, tapi ada beberapa perubahan mengenai bahan yang kemarin kita bahas, untuk bagian rooftopnya mungkin kita bisa mengganti bahan dibagian ini." Jelas Evan menunjuk pada layar laptop yang menampilkan desain pada kafe


Hanya berjalan sekitar setengah jam Varest dan evan keluar dari kafe untuk pergi ke lokasi. Varest sengaja pergi melihat langsung perkembangan kafe barunya sekedar untuk mencari kesibukan setidaknya bisa melupakan sejenak permasalahannya.


-


-


-


"Ma, Mainannya Ji mana?" Teriak Zee, tangannya sibuk mencari mainan di dalam container box


"Mainan yang mana, Zee?"


"Yang itu loh Ma, lobot baju melah ailon men" Jelas bocah itu, "Ji cali cali tidak ketemu"


"Yang dibelakangnya Zee itu apa?" tunjuk Rea pada mainan yang tergeletak dibelakang sang anak.


Zee berbalik dan seketika tersenyum malu saat ingat bahwa dia tadi sudah mengeluarkannya dari box mainan.

__ADS_1


"Hehe, Ji lupa."Katanya


Saat ini Rea berada di dapur untuk mempersiapkan makan malam ditemani Zee yang asik bermain dengan mainan kesayangannya.


Bocah itu dengan senangnya memainkan Robot dan dinosaurus dikedua tangannya menggerakkan seperti sebuah pertarungan sengit antara keduanya.


"ciat, ciat, ciat, tendangan selibu bayangaaann, ciaaat" serunya memukulkan robot pada dinosaurus


"Hahahaha, kamu tidak akan bisa kalahkan Ji, ehs salah, maksudnya kalahkan monstel hebat sepelti ku" ucapnya menirukan suara monster, kembali tangannya memukulkan dinosaurus pada Robot.


Zee nampak serius bermain, sedangkan Rea hanya bisa terkekeh setiap kali Zee salah membedakan antara dirinya dengan kedua wayang ditangannya.


"Rea." Suara bariton itu mengagetkan Rea, segera dia berbalik dan melihat orang yang dia tahu pasti itu siapa


"Papaaaaa" Zee berteriak kesenangan sambil berlari pada Varest yang baru pulang dan masih terbengong di tempat.


Tubuh Varest terhuyung kebelakang saat Zee dengan tiba-tiba langsung memeluk pahanya.


"Papa kenapa lama sekali pulangnya?" Zee mendongak untuk melihat wajah sang Papa


"Kapan kalian pulang?" Varest balik bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari Rea yang terlihatpun sama tercenungnya.


"Malam-malam Ji sama Mama bobo sini, tapi Papa bobo di lumah nenek" Terang Zee yang sontak membuat Varest menunduk melihat putranya itu.


"Tadi malam?" Zee mengangguk sebagai jawaban pertanya sang Papa


Varest berjongkok sambil memegang kedua pundak Zee, "Kenapa Zee tidak telpon Papa?"


"Sudah telpon tapi Papa tidak angkat"


Ah iya, Varest melupakan jika tadi pagi dia memang melihat panggilan tak terjawab dari Zee sebanyak 4 kali, dia tak mendengar deringan ponselnya karena suara musik pada bar.


"Maafkan Papa" katanya sembari memeluk anak kesayangannya itu.


"Tidak apa-apa, Papa. Mama bilang pasti Papa sibuk, makanya tidak angkat telponnya Ji" Varest menoleh pada Rea yang masih berdiri melihat interaksinya dengan Zee.


"Terima kasih, Re" Ucapnya pelan yang dibalas dengan senyuman oleh Rea.


"Aku sudah menyiapkan air hangat untuk kamu mandi, lebih baik kamu membersihkan diri dulu setelah itu turun untuk makan malam" Ujar Rea


"Ah i-iya" Entah mengapa Varest nampak gugup saat menerima perhatian Rea seperti itu.

__ADS_1


Varest menyukainya.


__ADS_2