
Jika aku ditanya hal apa yang paling berharga dalam hidupku mungkin aku akan menjawab tinggal bersama Kakek dan Nenek.
Tapi aku juga ingin tinggal bersama orang tua ku, sepertinya itu bukan hal yang bagus.
Orang tua ku hanya mengedepankan Kak Hana. Lihatlah hanya Kak Hana yang menjadi prioritas mereka.
“Agatha jangan lari-larian Nak.” Papa menatap khawatir aku yang berlari dengan balon warna pink di tanganku.
“Lihat Pa aku dapet balon warna pink.” Girang ku memperlihatkan balon di tanganku.
Papa tersenyum menatapku dan menggedongku, “Kamu dapat balon darimana?”
Aku menunjuk seorang anak laki-laki seumuran ku di seberang sana, “Dari dia Pa.”
“Tadi udah bilang makasih belum?”
“Udah dong Pa.”
“Anak Mama dapet apa ini?” Mama datang dengan wajah cerahnya, “Balonnya bagus.”
“Iya dong.” Ujarku sombong.
“Sekarang makan dulu yuk.” Ajak Mama menggiring aku dan Papa ditempat kita piknik.
Aku tersenyum getir ketika mengingat masa dimana Mama dan Papa masih menyayangiku.
Apa sekarang mereka masih menyayangiku?
Entahlah aku tidak ingin berharap lebih, tinggal satu atap pun aku sudah senang.
Sepertinya hujan akan turun lagi, aku lupa tidak bawa payung. Hujan-hujanan sepertinya tidak buruk. Lagi pula besok juga libur.
Entah apa yang sedang aku lakukan di halte ini. Sudah banyak bis yang lewat dan tidak ada satupun yang aku masuki. Aku hanya ingin melihat bis itu lewat saja.
Mungkin sudah setengah jam aku duduk disini.
“Meong.”
Suara hewan berbulu!!
“Meong.”
“Halo pus pus.” Ujarku sambil menarik perhatian kucing oren itu. “Kamu udah makan?”
“Meong.”
“Aku anggap itu sebagai jawaban.” Kataku sambil merombak isi tas merah ku, sepertinya aku tadi punya roti. “Aku cuma punya roti, tapi ini isinya suiran ayam kok.”
Aku memotong roti itu menjadi beberapa bagian dan memberikan pada kucing oren itu. Tanpa diduga kucing itu memakan dengan lahap.
Aku mengelus kepalanya. “Kalo kamu punya temen atau anak besok bawa ke sini ya nanti aku kasih roti.”
“Meong.”
Aku tertawa kecil tanganku masih asik mengelus kepala kucing itu. Kucingnya juga tidak terusik malah menikmati setiap sentuhan ku.
Jujur saja aku sangat suka hewan berbulu itu. Aku sangat ingin me pelihara kucing dari dulu, tapi karena Hana alergi bulu kucing jadi aku memendam keinginanku dalam-dalam.
Perlahan air dari kangen itu turun, tidak deras hanya gerimis. Dan sekarang aku bingung bagaimana caranya untuk pulang. Ku tarik kembali kata-kata jika aku ingin hujan-hujanan.
Udara hari ini cukup dingin dan aku tidak berniat untuk menyentuh air. Bisa dikatakan aku sedang bermusuhan dengan air.
“Woi ngapain lo?”
Aku terlonjak kaget dengan suara serak dan berat itu. Didepan sana Sata sudah menatapku di balik helm.
“Duduk.” Jawab ku singkat.
“Iya gue tau bahlul! Maksudnya lo ga balik?” Aku bisa mendengar nada sebal di kalimat Sata.
Aku tersenyum tipis. “Pulang kok nunggu hujan reda.”
“Mumpung masih gerimis kek gini mending pulang daripada nunggu nanti malah tambah deres.”
Aku menggeleng lalu menunjuk kucing didepan ku dengan dagu. “Kucingnya belum selesai makan.”
“Astaga nih bocah bener-bener ya.” Setelah mengatakan itu Sata mengambil ponselnya di mengetik sesuatu. Tidak sampai dua menit cowok itu kembali mengantongi ponselnya. “Gue balik dulu ya, hati-hati lo disini.”
Aku mengangguk dan melihat punggung Sata yang kian menjauh dengan motornya.
“Meong.”
Kucing itu menatap ku dengan harap, “Kamu mau roti lagi?” Ujarku sambil memberikan sisa roti ku padanya, “Makan yang banyak, kehidupan kejam jadi harus punya banyak tenaga.”
Biarlah orang mengira aku gila, ngomong sama kucing memang semenyenangkan itu.
“Sehat lo ngomong sama kucing?”
Sepasang sepatu tampak berhenti didepan ku, aku mendongak menatap siapa pemilik sepatu itu.
“Kak Mark ngapain disini?”
Sepatu itu milik Mark, bahkan cowok itu sudah tidak mengenakan seragam. Mungkin sudah pulang ke rumah.
“Kalo ditanya itu dijawab bukan balik tanya.”
Aku mendengus, “Sehat kok sehat banget malah.”
Mark mengangguk dan duduk di samping ku. Tidak ada obrolan yang menarik diantara kita, malahan kita saling diam.
Sejak kejadian Mark yang menyusup ke kamarku tiba-tiba kami jarang bertemu di sekolah.
Lebih tepatnya aku yang menghindar sih.
“Ngapain disini?”
“Duduk Kak.”
Mark mendengus kesal. “Kenapa gak langsung pulang ini udah sore.”
“Lagi nunggu kucing makan Kak.” Jawab ku asal.
Mark diam sambil menatap kucing di depan ku, “Suka kucing?”
“Suka banget.” Jawabku antusias, tidak ada dusta aku memang penggemar berat kucing.
Mark hanya mengangguk, ternyata benar julukan kulkas 7 pintu buat cowok itu.
Aku baru sadar ternyata hujan tambah deras di sertai petir, aku menatap hujan itu dengan senyuman tipis.
“Menurut Kak Mark apa itu hujan?” Aku beralih menatap Mark.
“Air yang turun dari langit.” Jawab Mark asal.
“Hujan tetap datang meskipun jatuh berkali-kali.” Ujarku menatap hujan, “Hebat kan kak, udah tau sakitnya tetep jatuh.”
__ADS_1
Mark menatapku penuh arti, apa aku salah bicara ya?
“Kayak lo.” Kata Mark.
Aku menyengit bingung, “Maksudnya?”
Mark menggeleng lalu membuka resleting jaketnya, “Sini masuk ke jaket gue.” Ucapnya sambil membuka jaket itu lebar-lebar.
“Hah?”
Mark berdecak lalu menarik ku dalam pelukannya, “Lemot ya lo, udah anget kan.”
Aku masih belum mencernah apa yang terjadi tapi benar hangat, aku sejak tadi kedinginan. Aku hanya mengenakan seragam tanpa pelindung apapun dan hujan semakin deras dengan angin yang semakin kencang, bahkan cipratan air mampu mendekati aku dan Mark.
“Kalo dingin bilang gausah gosok-gosok tangan terus.” Cetus Mark, “Gue gak bisa minjemin jaket ke lo karena gue juga kedinginan.”
Aku terkekeh pelan, itu hanya alimbi sebenarnya. “Iya deh iya, tapi gapapa kok Kak aku gak kedinginan banget.”
“Udah gak udah protes.”
Aku diam tidak berani protes, takut kalo Mark tiba-tiba ngamuk. Namun, pelukan Mark sangat hangat.
Ini kenapa hujannya awet ya?
Tidak ada niatan untuk berhenti?
Sudah menunjukkan pukul 6 sore. Aku harus pulang.
“Kak kayaknya aku harus pulang deh.” Ucapku sambil menjauh dari pelukan Mark,
Tapi Mark menahan punggungku, “Nanti aja hujannya belum reda.”
“Ini keknya awet deh kak.”
Mark tampak diam sebentar, “Gue anterin.”
Aku langsung menggeleng, “Aku bisa pulang sendiri kok.”
“Itu pernyataan bukan pertanyaan.” Ujar Mark datar.
“Tapi aku mau balik sendiri.”
“Naik apa? Mau nerobos hujan?”
Aku diam sebentar, benar kata Mark aku pulang naik apa? Apa aku harus menelpon James?
“Ojol kak.”
“Coba pesen kalo ada.”
Aku meraih ponselku dan memesan ojol, cukup lama aku menunggu pesanan ku di respon tapi ajaibnya semua menolak orderan ku.
Sebenarnya ini hari apa? Apa hari libur ojol sedunia?
“Ditolak semua kan?” Ejek Mark, “Kalo hujan gini semua ojol maupun taxi jarang ada yang mau.”
“Mereka kan kerja gaboleh pilih-pilih.” Gumam ku.
“Suka-suka mereka dong.” Jawab Mark, “Udah ayok gue anterin.”
Aku diam sejenak, “Emang Kak Mark ke sini bawa apa?”
“Mobil.” Ujar Mark lalu menarikku ke dalam pelukannya dan berlari menerobos hujan ke arah mobil Mark terpakir.
“Kak Mark basah.” Ujarku sedikit panik, meski begitu Mark basah karena aku.
Mark melepas jaketnya dan dilempar ke jok belakang, “Basah dikit gak ngaruh.”
“Dingin gak?” Tanya Mark mengarahkan lubang AC ke arah lain, “Ada selimut di belakang bentar.”
Mark meraih selimut di jok belakang, aku heran ini mobil apa kantong Doraemon.
“Nih pake,” cowok itu melempar selimut tepat di muka ku. Sopan sekali kan.
“Kak Mark gamau selimut?”
“Pake aja.” Jawab Mark.
“Nanti turunin aku didepan gerbang komplek ya Kak.” Reques ku.
Dahi Mark mengkerut, “Kenapa?”
“Pengen aja turun disitu.” Ujarku asal, sebenarnya aku tidak ingin dihujani pertanyaan oleh Hana.
“Gue bukan cowok yang nganterin cewek didepan gang.”
“Bukan depan gang tapi depan gerbang komplek.” Koreksi ku.
“Didepan rumah kenapa sih.”
“Didepan gerbang komplek aja.”
“Depan rumah.”
“Depan komplek.”
“Batu banget sih.”
“Kak Mark ngenyel sih.”
Mark menarik nafasnya pelan, “Oke didepan komplek.” Putusnya.
“Asseekkk.”
“Tapi boong.”
“Kampret!!”
...***...
Aku sampai di rumah dengan selamat, melewati pintu belakang karena tidak mungkin aku lewat pintu depan dengan baju yang basah.
Mark menepati janji nya menurunkan ku di depan gerbang komplek, meskipun dengan sedikit berdebat.
Aku baru tau ternyata Mark bisa secerewet itu.
“Darimana jam segini baru pulang?” Ujar Hana sambil menuangkan sirup di gelasnya.
“Sekolah.”
“Gue juga sekolah tapi udah pulang daritadi.” Sindir Hana.
Aku mengangkat bahu acuh, meraih keranjang pakaian kotor dan masuk ke ruang cuci.
Ocehan Hana tidak akan aku dengarkan. Lebih baik aku segera melaksanakan tugas ku dan segera tidur.
__ADS_1
Entah aku disini sebagai pembantu atau anak. Karena sebagian besar pekerjaan rumah aku yang membereskan.
Tapi hebatnya aku masih betah tinggal disini.
“Lo makin lama makin ngelunjak ya.” Hana datang dan bersandar di pintu, “Lo gak inget tugas lo disini apa?”
Aku mengangguk, “Ini aku lagi ngerjain tugas.”
“Lo cuma benalu disini.” Setelah mengatakan itu Hana pergi meninggalkan aku yang terdiam.
Aku tidak akan mengambil hati ucapan Hana. Selagi menunggu cucian selesai lebih baik aku menyetrika, mempersingkat waktu.
Meskipun aku sudah menyetrika setiap hari kenapa setrikaan tetap menggunung. Sebenarnya berapa kali orang rumah berganti pakaian setiap hari.
Padahal ini hanya baju Papa, Mama dan Hana.
Ting!
Bunyi ponselku membuyarkan fokus ku menyetrika. Siapa yang mengiriminya pesan.
Kak Mark
Udah mandi?
Ada rangka apa ini cowok mengirimiku pesan, sudah lebih seminggu Mark tidak memberiku pesan.
Jariku menari-nari diatas layar ponsel.
Belum Kak.
Setelah itu aku kembali meletakkan ponsel ku dan kembali melanjutkan kegiatanku.
Ting!
Cepat sekali cowok itu membalas.
Kenapa belum mandi? Cepet mandi!
Aku menyengit heran, kenapa dari sekian banyak perintah harus mandi.
Aku sedang tidak ingin bersentuhan dengan air.
Nanti kak aku lagi nyetrika.
Setelah itu tidak ada balasan lagi dari Mark. Cowok itu hanya membaca pesanku.
Aku tidak ambil pusing, mendekat pada mesin cuci yang sudah selesai. Tinggal menjemur nya dan segera tidur.
Aku bersenandung riang, bernyanyi kecil lagu yang aku ketahui. Ternyata asik juga bekerja sambil bersenandung.
Yes! Semuanya udah selesai. Aku akan segera ke kamar dan tidur.
Menatap keharmonisan di ruang tengah. Papa dan Mama sedang bercanda ria dengan Hana.
Rasa sakit apa ini di dada ku.
Apa mereka melupakan kehadiranku disini?
Menggeleng pelan aku lebih memilih menaiki tangga dan menuju kamar ku.
“Astaga!” Aku terlonjak kaget ketika melihat Mark sudah duduk diranjang tempat tidur ku.
Lagi-lagi cowok itu menyusup. Aku langsung mengunci pintu ku dan berjalan menghampiri Mark.
“Kakak lewat jendela lagi?”
Mark mengangguk.
“Kakak kek maling.”
Mark hanya mengangkat bahunya acuh. Melihatku yang tengah membersihkan wajah dengan kapas yang sebelumnya sudah ku beri micellar water.
Aku sepertinya mulai sekarang harus terbiasa melihat Mark yang tiba-tiba ada di kamar ku.
“Kakak ada perlu apa?” Tanya ku membalikkan tubuh menatap Mark.
“Cuma mau mestiin kalo lo ga demam.”
Aku melongo, “Aku bukan anak kecil yang kenal hujan dikit langsung sakit kak.”
“Kan udah dibilang cuma memastikan. Belum mandi kan lu.”
Aku mengangguk, aku memang belum mandi.
“Mandi cepet.” Wajah Mark langsung datar.
“Gamau ada kakak disini.”
“Kenapa kalo ada gue.”
“Nanti kak Mark ngintip.”
“Tepis gitu apanya yang mau di intipin.”
“Kak Mark mulutnya.”
Mark terkekeh dan meraih handuk lalu mendorong ku ke dalam kamar mandi.
“Mandi sendiri apa gue mandiin?”
Aku langsung memukul lengan Mark, “Dasar mesum keluar sana!”
Mark tertawa dan keluar dari dalam kamar mandi.
Selagi menunggu Agatha mandi, Mark keliling kamar dan membuka laci yang sempat menjadi pikirannya selama ini.
“Obatnya masih utuh apa gak diminum?”
Meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
“Hallo.”
Sapa Mark pada orang di seberang sana, “Apa Agatha punya obat cadangan?”
Mark mengangguk mendengar menjelaskan orang disana, “Di laci meja obatnya masih utuh.”
Cowok itu berjalan menuju tas Agatha, “Ada berapa di tasnya?”
Tangan Mark meraih sebuah kantong berwarna hitam dan mengeluarkan isinya, “Jumlahnya tetap sama, apa ada lagi?”
Mark menggeram lalu mematikan ponselnya.
“Gadis nakal.”
...***...
__ADS_1