
Suara rintik air hujan dari atap terdengar menenangkan menguapkan semangat untuk bangkit dari tidur panjang semalaman, udara dingin yang berhembus dari sela jendela yang sedikit terbuka semakin membuat penghuni kamar mengeratkan selimut menutupi tubuh sampai wajahnya.
Suhu pagi ini mencapai 22 derajat karena hujan yang terjadi semalam hingga menjelang subuh, dan itulah yang menjadi salah satu alasan kebanyakan orang dilanda rasa malas tiba-tiba untuk beraktifitas seakan tubuh ditempeli lem yang membuat punggungnya sulit untuk terlepas dari kasur dan selimut.
Sama halnya dengan sepasang ayah dan anak yang masih setia dengan posisi meringkuk di dalam selimut yang kadang saling memeluk satu sama lain. Varest sesekali menarik kakinya agar tertutup selimut jika merasakan udara berhempus mengenai ujung jarinya yang kadang tak tertutup oleh selimut.
Lelaki itu merentangkan tangannya ke atas dan berbalik arah, tangannya meraba pada sisi ranjang yang terasa kosong ditangannya, mata Varest perlahan terbuka menoleh kiri dan kanan mencari seseorang dan yang terlihat hanya Zee dengan wajah bantalnya yang terlihat lucu.
Varest bangun dan mengibaskan selimut untuk turun dari ranjang, pandangannya menyapu pada setiap sisi kamar dan berhenti pada kamar mandi yang tertutup dia menajamkan pendengaran mencoba untuk mengetahui apakah orang yang dicarinya sedang berada di dalam sana.
"Ah, mungkin dia di bawah." Gumamnya
Varest menoleh pada Zee dan memperbaiki selimutnya sebelum dia berdiri dan keluar kamar berniat untuk turun menuju dapur, dengan cepat Varest melangkah saat aroma harum menusuk pada rongga hidungnya dia tersenyum mendapati seorang wanita dengan rambut dicepol asal tengah membelakanginya.
"Astaga.." Rea terlonjak saat sepasang lengan melilit perutnya dari belakang
"Masak apa?" Tanya Varest mengintip dari pundak Rea
"Kamu mengagetkan ku, Rest." Ucap Rea memukul tangan Varest yang berada di depan perutnya."Seperti biasa kesukaan kalian setiap pagi, nasi goreng." jawabnya seraya mengangkat dua porsi nasi goreng menuju meja.
Varest melepaskan pelukannya dan mengikuti sang istri yang mulai menata meja dan membuat susu setelahnya duduk disalah satu kursi menunggu Rea selesai menyiapkan semuanya.
"Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Varest menggeser gelas susu
"Tidak ada." Jawab Rea, "Oh iya, ada satu yang bisa kamu lakukan" Lanjutnya
"Apa?"
"Kamu naik dan bangun kan anak mu, ini sudah waktunya kita sarapan." Titahnya
Varest tersenyum mendengar kalimat wanita di depannya itu, belum sempat dia beranjak dari tempat duduknya suara lucu khas bangun tidur Zee sudah terdengar.
Bocah yang memakai piyama tidur motif BT21 itu datang dengan wajah yang ditekuk lucu, dia menghentakkan kakinya seraya mendumel, "Kenapa Ji ditinggal kamal sendili, nanti kalau Ji ilang bagaimana?, kalau Ji diambil hantu bagaimana?, Ji bangun-bangun tidak ada Mama sama Papa, Ji cali-cali bawa kasul tidak ada, di lemali juga tidak ada" ucapnya panjang lebar
__ADS_1
Varest dan Rea hanya bisa melongo mendengar ucapan sang anak, bagaimana bisa Zee mencari mereka di tempat yang tak seharusnya?, apa dia fikir orang tuanya itu adalah sebuah benda yang bisa terselip di lemari atau terlempar di bawah ranjang?. Drama sekali bocah ini, fikir mereka
Varest mendekati Zee dan membawa sang anak untuk kembali duduk, "Kok Zee cari Mama sama Papa di lemari sama bawah ranjang?" tanyanya berjongkok di depan Zee
"Siapa tau Mama sama Papa lagi main sembunyi-sembunyi tidak ajak Ji" Ujarnya
Rea terkekeh mendekati Zee dan menangkup kedua pipi penuh bocah tumpis tersebut, "Sekarang kan Zee sudah ketemu sama Mama dan Papa, jadi udahan yah marah-marahnya" tukasnya, "Waktunya kita sarapan" lanjut Rea mengarahkan satu piring di depan Zee.
Mata Zee berbinar melihat satu porsi nasi goreng berwarna coklat muda dengan topping yang menggugah selera dengan cekatan tangannya meraih sendok dan menyuapkan pada mulutnya, untungnya dia sudah berkumur sebelum turun tadi, sama halnya dengan Zee, Varest pun juga menyuapkan makanan itu namun sebelumnya sempat ke washtafel untuk sekedar mencuci mulutnya dia lupa jika tadi langsung turun mencari sang istri.
-
-
-
Seorang lelaki dengan setelan jas berwarna abu-abu tua dan celana yang berwarna senada nampak memasuki kafe dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung bangirnya, dia hendak beranjak naik ke atas lantai dua namun berhenti saat suara seorang gadis memanggilnya.
"Andi..!" teriak gadis yang mengenakan dress mini yang menampakkan kaki jenjangnya.
"Aku mengenal mu?" tanya Andi menautkan kedua alisnya
Gadis itu tersenyum masam, dia tahu jika sikap lupa ingatan yang di lakukan oleh Andi hanyalah pura-pura.
"Jangan bercanda, Ndi. aku tahu kamu pasti masih ingat padaku" tukasnya
"Ahh, Maaf belakangan aku banyak melupakan orang-orang baru, aku terlalu sibuk dengan istri ku" Ujarnya seraya matanya menyapu pada ruangan karyawan.
"Istri?" Gadis itu terkejut, dia tidak yakin jika Andi sudah menikah
"Iya istri ku, aku kesini untuk menjemputnya" Andi tersenyum saat dia melihat Andin baru saja keluar dari arah toilet.
Moment yang pas dimana saat ini Andin sedang memakai dress berwarna peach serta flat shoes yang begitu cantik.
__ADS_1
"Ini istriku" katanya sembari menarik Andin hingga masuk kedalam pelukannya.
"Pa-" Andin baru saja ingin mengeluarkan jurus seribu mulut tapi Andi segera memotongnya.
"Iya sayang, Papa sengaja jemput kamu"
Andin melongo, apa maksud laki-laki gila disampingnya ini dengan berkata demikian?, siapa yang dia panggil Papa dan sayang?, dan untuk siapa?.
Gadis yang menyapa Andi tadi nampak tak suka melihat panampakan di depannya, dia meraih tasnya dan berbalik.
"Istri mu cukup cantik, senang melihat mu disini, Ndi. kalau begitu aku balik duluan" Pamitnya
Setelah gadi itu pergi Andin langsung menghempaskan tangan Andi yang masih merangkul bahunya sembari mendelik ke arah lelaki itu.
"Sudahi sandiwara mu itu, Pak. Dia sudah pergi" tukasnya
Andi terkekeh melihat ekspresi marah gadis manis di depannya itu. "Ayolah, jangan marah seperti itu, itu tadi hanya tindakan reflek untuk meloloskan diri dari tante-tante girang"
Andin menarik ujung bibirnya sinis, "Sadarlah Pak, kamu mengatai gadis cantik tadi sebagai tante girang?, terus apa kabar dengan anda?, om om hidung belang?." cecarnya jengkel.
Melihat Andin yang marah bukannya membuat laki-laki bergingsul itu merasa bersalah, malah dia semakin gencar untuk menggoda.
"Kamu tahu Ndin?, sebenarnya kita itu berjodoh, kita memiliki banyak persamaan, dari yang dikejar banyak lawan jenis sampai nama pun sama. Andi dan Andin jelas itu bukanlah sebuah kebetulan tapi sebuah takdir dari Maha pemilik hati." Ujar Andu yang membuat Andin malah bergidik geli
"Anda gila, Pak. di tempat tinggal ku banyak yang bernama Andi, ada tukang becak, tukang bakso, sampai penjual sate juga namanya Andi. itu memang bukan sebuah kebetulan tapi nama itu memang pasaran." sarkas Andin
Andi melongo beberapa detik sampai Andin kembali bersuara.
"Lebih baik Pak Andi pulang, hari ini Mas Varest tidak ke kafe, aku tahu anda kesini bukan untuk pamer ke orang-orang bahwa anda adalah suami dadakan ku, bukan?"
"Jadi Varest tidak ada disini?" tanya Andi, "Baiklah aku akan pergi" lanjutnya seraya berbalik untuk pergi dari sana. Tetapi sebelum dia benar-benar beranjak Andi kembali menoleh.
"Oh iya, mengenai ucapan mu tadi, aku rasa itu ide yang sangat bagus" ucapnya tersenyum jahil, "Papa pergi dulu istri ku" lanjutnya seraya mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Gila" batin Andin