Sunflower

Sunflower
Line


__ADS_3

..."Aku bukan mereka."...


...***...


"Terimakasih."


Hanya itu yang terucap dari bibirku. Aku tidak tau harus bilang apa lagi.


Mark dengan telaten mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk kecil. Kami sekarang ada di UKS. Setelah Mark menendang dan menampar Melani dia langsung menyuruhku mandi di kamar mandi UKS.


Mark diam tidak merespon aku hanya memaikan ujung kuku dengan gugup.


Lia, dimana anak itu.


"Ada yang sakit?"


Aku menggeleng hanya nyeri dileherku yang mari kerasa tapi aku tidak ingin merepotkan dia lagi. Lagian kita juga belum saling kenal kami hanya tau sebatas nama.


"Kalo ada bilang. Lehernya sakit?"


Aku diam beberapa saat. "Sedikit."


Hening. Mark masih fokus dengan rambutku sekarang dia menyisir rambutku dengan lembut. Pertama kalinya rambutku disentu oleh seorang laki-laki selain kakek.


Brakk


"AGATHA DIMANA LO?!"


Aku terlonjak kaget begitu juga Mark dibelakangku. Aku bisa merasakan Mark mengelus pundakku menenangkan lalu menatap tajam Lia diambang pintu.


"Disini Lia."


"Lo gapapa kan? Bentar gue mau nyeken tubuh lo. Diam." Lia mundur dua langkah langsung menatapku nyalang meneliti tubuhku bahkan dia sampai memutari tubuhku. "Lehernya sakit?" katanya lirih melihat jejak tangan Melani yang memerah dileherku.


Aku mengangguk.


"Dasar tuh genderuwo bakal gue pangga kalo luka lo gak sembuh. Terus gue anyutin diselokan." kata Lia menggebu-gebu. "Mana Mie ayam gue belum abis lagi kan kata lo gak boleh buang-buang makanan."


Dasar Lia tidak pernah berubah.


"Mark makasih lo udah nolongin temen gue." kata Lia menatap Mark yang duduk tidak jauh disampingku. Disampingnya sudah aja Jeno dan Sata.


Mark mengangguk.


"Lo gak makasih juga sama gue?"


"Gak." dengan cepat Lia membalas pertanyaan Sata.


Sata hanya mengelus dadanya sabar.


"Padahal gue udah nyuruh Agatha biar jauhin kalian bertiga." suhut Lia menghentakkan kakinya.


Mark melotot tajam pada Lia. Jeno dan Sata menganga lebar.


"Heh! ulat bulu ngapain lo nyuruh Agatha jauhin kita bertiga!!" Sata berdiri gagah didepan Lia dengan mata berkobar.


"Ya biar Agatha hidup tenang lah selama sekolah disini." sewot Lia menatap nyalang Sata sambil berkacak pinggang. "Liat Agatha gak deket-deket kalian aja sekarang dianiaya sama Melani genderuwo itu."


"Melani aja yang agresif."


"Makanya gue nyuruh Agatha biar gak berurusan sama kalian!"


"Terus lo maunya Agatha berurusan sama siapa hah!"


"Ya sama gue lah."

__ADS_1


"Dasar prosesif."


"Buodoamat yang penting Agatha aman."


Aku hanya bergantian menatap Sata dan Lia yang tengah berdebat. Lia ngomong aku menatapnya. Sata ngomong aku berganti menatapnya. Seperti itu sampai aku kesal sendiri.


Jeno menarik Sata mundur sebelum mereka saling melempar barang. "Udan Tan, ngalah sama cewek."


"Gak terima gue!!"


"Heh! Mark lo punya masalah apa sih sama Melani? Dan kenapa juga Melani nyerang Agatha sambil bawa-bawa nama lo." Lia menatap tajam Mark. Aku spontan juga menatapnya penasaran juga sih.


Tidak ada hujan tidak ada badai tiba-tiba Melani menyerangku dengan embel-embel lelaki disampingku ini.


Mark diam dengan wajah datar. Jeno yang mengerti situasi langsung menyela.


"Melani suka sama Mark dari dulu." kata Jeno singkat.


"Kalo itu mah gue juga tau!" sewot Lia.


Entah kenapa sejak tadi Lia sewot terus. Dia tambah mengerikan dimataku. "Udah dong jangan ribut." leraiku.


"Heh spiker sekolahan denger gak lo jangan ribut." tegas Sata diakhir kalimatnya.


"Diem lo gajah gue masih mengintrogasi temen kalian."


Belum sempat Sata berucap Mark sudah menghentikannya. "Dia tanggungjawab gue mulai sekarang."


Aku menyengit heran Mark mengatakan itu sambil menatap mataku. Aku juga manatap manik coklatnya. Sangat indah.


"Kayaknya kita keluar aja deh." Jeno membuka suara.


Lia dan Sata sama-sama menganga lebar.


"Enak banget ya tuh mulut ngo--"


***


Aku membuka pintu belakang rumah pelan sambil menenteng sepatuku yang basah. Diluar hujan dan aku tidak membawa jas hujan ataupun payung. Hujan datang tanpa permisi.


Ini sudah dua hari aku tidak pulang dan hari ini juga Hana pulang dari rumah sakit.


Ruang keluarga terdengar ramai aku yakin Hana sudah pulang dan tengah bersantai dengan Mama Papa. Aku melewati mereka menuju kamarku diatas tidak perlu berucap sekedar menyapa atau apa percuma aku akan diabaikan.


"Enak ya anak gadis gak pulang selama dua hari."


Aku berhenti dianak tangga pertama setelah mendengar sindiran Mama.


"Bukannya Mama yang nyuruh aku pergi sementara dari rumah?"


Plakk.


"Berani kamu menjawab Mama?!"


"Kemana kamu dua hari ini?"


Aku mendongak melihat Papa mengeluarkan suara. Itu beneran Papa yang bertanya padaku. Hatiku sedikit mengahangat.


Aku tersenyum sangat jarang Papa mau bertanya padaku. "Dirumah Lia."


"Oh jadi kamu nginep dirumah anak yang gak punya tata krama itu. Bagus ya."


"Lia gak seperti yang Mama pikirkan."


"Berani menjawab kamu?!!" Bentak Mama. "Masuk kamar bersihkan diri kamu dan siapkan makan malam."

__ADS_1


Aku mengangguk walau sebenarnya hatiku dongkol Mama mengatai Lia. Aku berbohong sebenarnya aku tidak menginap dirumah Lia tapi dirumah yang sudah disiapkan kakek waktu itu.


Kakek juga murka saat mengetahui kepalaku terluka. Aku juga hampir dibawa kembali ke Korea sama Kakek. Tapi karena seribu satu alasanku akhirnya aku diijinkan tetap disini dengan banyak syarat.


Lalu masalah di UKS waktu itu juga sudah berlalu. Awalnya Lia sangat jengkel terhadap Mark tapi aku meyakinkan jika Mark hanya bercanda dan untungnya Lia percaya.


Aku dan Mark juga seperti biasa. Tidap pernah saling sapa ataupun bertemu di sekolahan entah kenapa. Sata juga lebih berbaur denganku dan Lia. Sekali-kali cowok itu akan menjaili Lia.


Aku mencuci kangkung rencananya akanku buat tumis kangkung makanan favorit Hana. Dengan di bantu bibi jadi cepat selesai.


Aku makan dibelakang bersama bibi tidak berani duduk bersama dimeja makan aku yakin mereka juga tidak menginginkan itu. Aku sadar diri.


Pukul sembilan malam akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku dikasur. Setelah makan aku langsung mencuci piring lalu mencuci pakaian yang sudah mengunung. Mama sengaja melarang Bibi untuk mencucinya alasannya karena itu hukumanku yang tidak pulang kerumah. Okelah hanya mencuci baju lagipula juga menggunakan mesin cuci jadi tidak terlalu lelah.


Ting!


Aku meraih ponselku yang tidak ku sentuh dari sejak pagi. Aku termasuk orang yang tidak bergantung pada ponsel pintar itu.


Ada pesan masuk tumben sekali biasanya tidak pernah ada yang mengirimku pesan kecuali Lia, James dan Kakek. Itupun hanya mengingatkan. Sementara Lia menanyakan tugas.


Add id line gue!!


Aku menyengit heran siapa sih ini. Karena aku penasaran aku langsung membuka aplikasi kotak bewarna hijan dengan lambang L itu.


Mark menambahkan anda sebagai teman dengan ID Line.


Mark?


Aku menganga apa ini Mark yang diceritakan Lia itu yang menolongku dadi Melani.


Aku add tidak ya?


Ting!


Satu pesan kembali masuk.


Cepet!!


Berarti pesan itu dari Mark dong.


Yaudah hanya meng-add doangkan. Mungkin ada yang ingin disampaikan.


Ting!


Bukan pesan masuk kok tapi line.


Lama banget sih add doang.


^^^Ada apa ya kak?^^^


Besok sekolah gue jemput.


^^^Eh gak usah kak udah biasa naik bis kok.^^^


Gue gak suka dibantah. Besok gue dateng harus udah siap.


^^^Kakak kok ngeyel sih.^^^


Sharelok.


Anggap aja rasa terimakasih lo karena udah gue selametin waktu itu.


^^^Iya iya.^^^


"Lah nih orang maunya apa sih?" Kataku meletakkan ponsel dimeja samping tempat tidur. "Kepetok kali ya palanya."

__ADS_1


***


__ADS_2