Sunflower

Sunflower
Semangat


__ADS_3

Rea berbaring di atas sofa di ruang tv, untuk kesekian kalinya dia melirik pada jam yang terletak di sebelah nakas televisi. Menghela nafas pelan tatkala menyadari jika perputaran jarum jam pada unit waktu berbentuk aquarium itu masih setia bertengger diangka 2 hanya jarum menit yang berpindah dari angka 6 ke angka 7.


Hanya berselang beberapa menit saat terakhir kali dia melihat jam tersebut tapi wanita yang tengah hamil besar itu merasa seakan jarum jam begitu lama untuk berpindah, bahkan dia merasa jika jam dengan warna-warni cantik dalam aquarium itu sudah rusak dan perlu untuk diganti.


Hampir setengah hari Rea menghabiskan waktunya dengan menonton dan membaca artikel mengenai kehamilan dan persalinan dan itu membuatnya bosan terlebih dia hanya sendiri di rumah, Zee yang biasa menemaninya juga tak berada di rumah karena diajak oleh neneknya untuk berkunjung ke sebuah panti asuhan yang memang rutin mertuanya itu datangi setiap bulannya.


Varest sendiri sudah pernah menyarankan untuk membawa pekerja baru untuk menggantikan pekerja lama yang izin pulang kampung karena anaknya yang mengalami kecelakaan, tapi Rea menolak. Dan disinilah dia sekarang


melangkahkan kakinya gontai di depan jendela menunggu kepulangan Varest dari kantor.


“Sayang, apa kamu juga merasa bosan?” tanyanya sembari mengelus perut besarnya.


“Mama akan menelpon papa, siapa tahu dia mau memberi kita izin untuk jalan-jalan keluar,” monolognya.


Kembali dia berjalan ke ruang tv untuk mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas meja, senyumnya kian melengkung berharap jika apa yang dia inginkan akan dituruti oleh sang suami. Semenjak memasuki usia kandungan 8 bulan Varest tak pernah membiarkan Rea untuk keluar dari rumah tanpa pengawasan dan kali ini Rea akan berusaha untuk membujuk suaminya itu.


Panjang umur, Rea baru saja ingin menekan tombol hijau pada ponselnya, namun orang yang ingin di telpon terlebih dahulu membuat ponselnya berdering.


"Assalamualaikum," sahut Rea setelah ponselnya menempel di telinganya.


"Waalaikum salam, sayang. Kamu sudah makan?" tanya Varest dari seberang sana.


"Sudah, aku juga sudah minum vitaminnya," jawab Rea


"Baguslah." Varest menjeda kalimatnya, lelaki itu terdengar menghela nafasnya berat sebelum dia lanjut berbicara. "Apa hari ini perut mu masih sering sakit?"


"Kadang, tapi kamu tidak perlu khawatir ini sudah menjadi hal biasa menjelang HPL, ini hanya kontraksi palsu," jelas Rea. "Apa terjadi sesuatu?" Rea bertanya saat kembali mendengar Varest menghembuskan nafasnya kasar


"Tidak ada, hanya saja sepertinya aku tidak bisa pulang lebih awal, ada yang harus aku selesaikan di kantor. Aku minta maaf."

__ADS_1


Rea mendudukkan dirinya di sofa sambil melirik sekilas jam yang menjadi temannya sedari tadi, masih ada sekitar dua jam dari waktu yang biasanya Varest pulang tapi sekarang harus bertambah entah untuk berapa jam kedepan.


"Tidak apa-apa, tapi-" Sedikit ragu Rea untuk melanjutkan ucapannya.


"Ada apa, hm?"


"Apa aku bisa menyusul ke kantor? Aku bosan di rumah sendiri, Zee belum pulang dan aku juga sudah bosan membaca buku seharian."


"Kamu mau ke kantor?"


"Hmm." Rea mengangguk meski orang yang dia ajak bicara tak bisa melihatnya.


"Baiklah, aku akan menyuruh supir kantor untuk menjemput mu. Tapi, apa kamu bisa menunggu setengah jam lagi? Dia sedang menjemput karyawan yang sedang memantau pabrik di luar."


"Tidak perlu, aku bisa menggunakan taxi online."


"Tapi, sayang-"


"Baiklah, tapi kamu harus selalu menghubungi ku, jangan melepaskan ponsel dari tangan mu, dan jangan lama di cafe." Titah Varest dengan kekhawatiran yang terdengar jelas.


Rea mengangguk antusias, setelah menyetujui titah suaminya dia langsung melangkahkan kakinya ke lantai dua menuju kamarnya berniat untuk bersiap-siap, adalah yang pertama baginya untuk keluar rumah tanpa ada yang menemaninya, oleh karena itu dia sangat bersemangat.


Memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, Rea mengamati penampilannya yang berbalut dress panjang sebetis berbahan sifon dengan motif brokat dibagian bahu berwarna green mint terlihat segar dengan model rambut half updo yang dia pilih sebagai pemanis tampilannya.


Wanita yang sebentar lagi melahirkan anak keduanya itu tersenyum pada pantulan dirinya di cermin setelah menyapukan menyempurna tampilannya yaitu lipstik berwarna orange peach pada bibirnya. Perfect


Setelah merasa cukup, Rea mulai melangkahkan kaki jenjangnya untuk keluar dari kamar setelah sebelumnya sempat memesan taxi via online. Tak membutuhkan waktu lama taxi yang dia tunggu akhirnya datang, dia sedikit tersenyum mendapati supirnya adalah seorang laki-laki tua yang mungkin seumuran dengan papanya.


"Sesuai aplikasi yah, Neng?" tanya supir itu melirik dari kaca spion

__ADS_1


"Iya, pak," sahut Rea


Perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 menit itu dilalui dengan perbincangan ringan yang didominasi oleh supir itu, menceritakan keluarga dan juga anaknya yang ternyata juga memiliki umur yang hampir sama dengan Rea, Rea sendiri cukup terhibur dengan cerita sederhana yang dilakukan oleh orang tua tunggal di depannya. Yah, supir itu mengasuh kedua anaknya seorang diri setelah istrinya meninggal satu tahun yang lalu. Anak pertamanya seorang gadis berusia 23 tahun dan anak kedua adalah laki-laki berumur 12 tahun.


"Terima kasih yah, Neng." Supir itu mencium uang ditangannya saat Rea menolak untuk mengambil angsurannya.


"Iya, Pak. Itu rejekinya Bapak sudah patutnya diterima," ucap Rea, setelahnya meninggalkan tempat tersebut menuju cafe yang sudah menjadi tempat yang begitu dia rindukan.


Rea menyapu pandangannya pada suasana cafe yang nampak ramai, semua karyawan masih belum menyadari kedatangan bosnya, langkah kakinya berhenti tepat di depan meja kasir yang mana disitu ada Andin yang agaknya sedang menegur karyawati yang menjadi kasir.


"Ehemm." Rea berdehem tepat di samping Andin dan sontak membuat wanita yang menjadi kepercayaan Rea itu menoleh.


"Mbak Rea?!" pekik Andin reflek memeluk Rea.


Karena suara Andin yang cukup keras alhasil karyawan yang lain pun ikut mengalihkan pandangan mereka ke arah Rea tak terkecuali pelanggan cafe.


"Maaf,, maaf." Andin membungkuk berkali-kali pada pelanggan cafe yang terganggu karena ulahnya, sedangkan Rea hanya bisa terkekeh.


"Lanjutkan pekerjaan kalian saja!" Titah Andin yang sontak membuat para karyawan yang sempat ingin menemui bos mereka merosotkan bahunya kecewa.


"Ayo, Mbak. Kita ke atas," ajak Andin pada Rea.


Rea menggeleng sembari meremas pelan kedua bahu Andin, "Aku kesini bukan mau bekerja, tapi jadi pelanggan. Aku hanya ingin membeli croissant buat Varest setelah itu aku akan ke kantornya," ucapnya


"Kok gitu Mbak?"


"Varest sedang menunggu ku di kantor, jadi aku tidak bisa lama-lama." jeda Rea kembali mengarahkan pandangannya pada seisi ruangan.


"Tolong siapkan yah. Aku akan menunggu di kasir sekalian transaksi." Pinta Rea.

__ADS_1


Meski kecewa karena bosnya tak bisa lama di cafe, tapi tetap Andin merasa senang bisa melihat sang bos dalam keadaan sehat terlebih tinggal menunggu hari lagi calon bos kecil akan lahir. Andin menuruti keinginan Rea mengambilkan pesanan dan tak lama kembali dengan satu box croissant di tangannya.


"Aku yang traktir. Jadi, Mbak Rea tidak perlu membayar." Ucap Andin yang mengundang tawa Rea.


__ADS_2