
"Oeekk.. Oeekk.. Oeekk!"
Suara tangisan itu menggema dalam ruangan dengan cat berwarna putih biru, suara yang berasal dari buntalan bayi yang masih berlumuran darah serta tali pusar yang masih panjang itu seketika memberikan ketenangan bagi perasaan Rea. Suara itu lah yang menjadi ladang pahala bagi seorang ibu.
Rasa sakit yang menggila tadi akhirnya tebayar dengan rasa haru bahagia serta ribuan pahala dan doa Malaikat padanya, alasan jeritan dan ringisan itu menghilang seketika kala keluarnya bayi yang sudah mengisi rahimnya selama sembilan bulan lamanya, air mata Rea luruh tak terbendung membasahi wajah yang terhias dengan senyuman miliknya.
"Selamat yah Bu, Pak. Alhamdulillah anaknya lahir dengan selamat dan sehat," ucap Dokter seraya mengangkat bayi itu agar terlihat oleh kedua orang tuanya.
Rea tersenyum penuh haru melihat putranya dibawa oleh perawat untuk dibersihkan sedangkan Varest hanya terpaku di tempatnya berdiri dengan tangan yang masih setia menggengam tangan sang istri.
Matanya berkaca-kaca, rasa takjub dan bahagianya begitu tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Rea yang menyadari kediaman sang suami langsung menyadarkan lelaki itu.
"Sayang?" Panggil Rea sembari menyentuh lengan Varest
Lelaki itu tersadar, dia menoleh pada istrinya dengan senyum yang mengembang setelahnya langsung mencium kedua pipi Rea dan berakhir di puncak kepala wanita itu.
"Anak kita, Sayang. Anak kita, dia sudah lahir." Racau Varest sembari mencium punggung tangan Rea bergantian dengan puncak kepala wanita yang telah memperjuangkan hidup dan matinya itu.
Rea mengangguk lirih. "Iya, Sayang. Dia sehat, apa kamu melihatnya tadi? begitu tampan." Imbuh Rea
Kali ini yang mengangguk adalah Varest, lelaki itu akhirnya tak bisa menahan isaknya. tangisnya mengudara dengan tangannya yang memeluk kepala Rea menghujani wanita itu dengan ciuman. Rasa takut dan khawatir saat melihat Rea berjuang tadi akhirnya terlepas dari fikirannya.
"Terima kasih, terima kasih, terima kasih Re kamu sudah berjuang sampai sekarang. Terima kasih," ujar Varest dengan isaknya
Rea tak menjawab, hatinya begitu menghangat dengan respon yang diperlihatkan oleh Varest, lelaki itu terlihat sangat rapuh apalagi dengan suara tangisnya yang mengalun di telinganya.
Varest menyeka air matanya kemudian mendongak menatap sang istri yang menyambut tatapannya dengan senyum lembut di bibir pucatnya.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah berjuang dan bertahan, kamu sud-"
Rea menempelkan jari telunjuknya dibibir Varest mengahalau lelaki itu untuk melanjutkan kalimatnya. "Sama-sama, terima kasih juga untuk kamu suami hebat ku yang menemaniku berjuang." Ujar Rea, "Dan ikut mengejan tadi." lanjutnya seraya tertawa kecil.
__ADS_1
Varest yang mendengar kalimat terakhir Rea mau tidak mau ikut tertawa kecil sedikit malu karena digoda oleh sang istri dalam keadaan haru seperti ini terlebih masih ada Dokter dan perawat disana yang juga tersenyum mendengarnya.
"Bu, ini anaknya sudah di bersihkan, diberikan Inisiasi menyusui dini dulu yah?" Salah satu perawat datang membawa bayi Rea yang sudah sedikit dibersihkan.
Suster itu meletakkan bayi tersebut di atas perut Rea dengan posisi tengkurap untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), setelahnya menutupnya dengan selimut yang digunakan oleh Rea.
Rea tersenyum melihat bayinya yang mulai menggeliat di atas perutnya mencari sumber makanannya.
"Kami tinggal dulu yah, Bu, Pak. Setengah jam lagi kami kembali untuk membersihkan si kecil." Pamit Dokter dan dua perawat.
"Iya, Dok. Terima kasih"
Tinggallah kedua orang tua itu di dalam sana, nampak Varest tak mengalihkan pandangannya pada bayi laki-laki mungil di dalam dekapan Rea, tangannya terulur menyentuh kepala bayi itu.
"Sayang, apa yang dia lakukan?" Tanyanya penasaran pasalnya dia hanya melihat putra bungsunya itu hanya menggeliat dan selalu mempoutkan bibirnya kecilnya.
"Dia sedang mencari sumber makanannya," jawab Rea
"Asi? Kenapa tidak langsung dikasihkan saja?"
"Anak pintar, minum susunya yang banyak sayang." Ucap Varest sumringah mengelus punggung kecil itu
Beruntung ASI Rea langsung berproduksi sehingga bayi itu sekarang dengan kuatnya mengisi perut kecilnya. Rea menengadahkan wajahnya ketika Varest bersuara.
"Apa Zee dulu juga seperti ini?"
"Selalu ada perbedaan, dulu adalah pengalaman pertama ku dan semua serba hati-hati dan khawatir, menggendong dan menyusui pengalaman paling awal setelah Zee dibersihkan dan itu membuat mama harus mengajariku bolak-balik," cerita Rea mengingat pertama kali dia memberi Asi kepada Zee.
"Tapi satu hal yang sama, kedua putra kita sama-sama kuat." Rea terkekeh mengintip wajah putranya yang tengah semangat mengisi perutnya.
Varest paham maksud sang istri, tangannya mengelus pipi Rea. "Kamu adalah ibu yang kuat, Sayang,"katanya
__ADS_1
"Semua ibu kuat, Sayang." Rea meralat ucapan suaminya dan disetujui oleh lelaki tersebut.
Suara cecapan yang berasal dari mulut bayi yang baru saja lahir itu begitu kentara bahwa dia sedang menikmati asupan gizinya dengan semangat seakan tak ingin diganggu dan takut jika ada yang meminta.
Varest hanya bisa bergantian menatap wajah istri dan putranya, masih tak sepenuhnya percaya jika saat ini dia melihat putra keduanya sedang berada di depannya. Hingga suara dari perawat yang baru datang membuyarkan lamunannya.
"Gimana Bu, ASInya lancar yah."
Rea mengangguk.
"Kayaknya si kecil sudah kenyang nih, saya mandikan dulu yah, Bu. Setelah itu Ibu dan bayinya di pindah kan ke ruang perawatan." Perawat itu mengambil alih bayi Rea dan membawanya untuk dimandikan.
"Bu, saya bantu Ibu bersihkan diri juga yah?" tawar salah satu perawat lagi.
Rea menyetujui, sedangkan Varest langsung mundur setelah Rea memberinya isyarat untuk memintanya keluar dari ruangan bersalin, Rea sedikit tak enak jika Varest melihat bekas-bekas darah dari hasil persalinan tadi.
Varest mulai melangkah keluar ruangan, disana sudah ada mama dan juga papanya yang menunggu dengan raut wajah khawatir.
"Bagaimana istri mu, Nak?" Tanya mama Nimas
"Baik, Ma" Jawab varest
"Anak mu?" tanya papa Bayu
"Cucu Papa sehat, alhamdulillah"
Kedua paruh baya itu mengucap syukur bersamaan, papa Bayu memeluk putra semata wayangnya haru.
"Kamu membuat Papa khawatir, Nak. Bagaimana bisa kamu tidak mengabari kami kalau istrimu sudah kamu bawa ke Rumah sakit"
"Kalau bukan kakak mu Andi yang menelpon kami pasti tidak tahu." Mama Nimas menimpali
__ADS_1
"Varest minta maaf maaf Ma, Pa. Semuanya sangat mendadak." Varest melerai pelukan papanya. "Dimana Zee?" tanyanya kemudian saat tak melihat putra pertamanya itu tak ada bersama dengan kedua orang tuanya
"Dia sedang bersama Andi dan juga Rani, dia dari tadi menangis ketakutan karena tahu mamanya masuk Rumah sakit, jadi Andi membawanya ke cafe di seberang jalan untuk menghiburnya."