
Setelah berpamitan dengan Andin dan para karyawan, Rea kembali menaiki taxi yang dia pesan sebelum keluar dari cafe. Tujuan selanjutnya bukan langsung menuju kantor tapi ke salah satu Apotek untuk membeli vitamin untuk Zee yang sudah menipis.
"Pak, bisa tunggu sebentar tidak?" tanya Rea sedikit menunduk di samping mobil ketika menyerahkan ongkosnya.
"Kenapa, Bu?"
"Saya malas nunggu taxi lagi, jadi mending naik taxi Bapak saja, nanti biar saya tambahkan ongkosnya," jelas Rea
"Yah sudah bu, saya tunggu disini. Tapi, nanti tetap harus lewat aplikasi yah," putus supirnya menerima
"Baik, Pak. Saya hanya sebentar ke Apotek itu saja." Rea menunjuk salah satu Apotek yang berada di samping jalan berderet dengan beberapa toko lainnya.
Setelahnya Rea mulai mengayunkan kakinya ke arah tujuannya. Dia memilih apa yang dia butuhkan, sesekali wanita itu berhenti kala merasakan sakit tiba-tiba di perutnya.
"Kontraksi palsu." batinnya sembari mengelus perutnya.
Rea memutari rak untuk mencari apa yang belum dia dapat. Namun, baru beberapa langkah dia kembali berhenti saat sakit itu kembali dia rasakan.
Rea meringis dengan satu tangan berpegangan pada rak siku tempat aneka obat terpajang, sedangkan satu tangannya lagi dia gunakan untuk mengelus perutnya.
Menggigit bibir bawahnya seraya menarik dan membuang nafasnya pelan, sudah bisa Rea pastikan ini bukanlah kontraksi palsu seperti yang biasa dia rasakan sebelumnya. Saat merasa sakitnya sudah mereda dia kembali melanjutkan langkahnya melupakan apa yang dia cari.
Dia memutuskan untuk keluar dari Apotek dan tak jadi membeli vitamin seperti niatan awalnya. Keringat sebesar biji jagung pun sudah menetes membasahi dahi hingga ke lehernya, tergesa-gesa dia membuka tasnya berniat untuk mengambil ponsel dan menghubungi Varest.
"Maaf Mbak." Tak sengaja seseorang menabrak lengan Rea hingga membuat tangannya yang lemas menjatuhkan ponselnya cukup keras.
Rea kembali menggigit bibirnya, sakit itu kembali lagi dia rasakan.
"Mbak tidak apa-apa?" Orang itu bertanya saat melihat wajah Rea yang mulai pucat.
Rea menggeleng tapi tangannya menandakan kebalikannya, dia menggenggam tangan wanita yang tadi menabraknya dengan kencang hingga membuat wanita itu ikut meringis.
"M-mbak, to-tolong hubungi su-suami saya!" pinta Rea lirih
Wanita yang digenggam tangannya itu gelagapan antara menolong wanita yang ingin melahirkan di di depannya atau meninggalkannya, pasalnya diapun juga ditunggu oleh suaminya untuk ke rumah orang tuanya yang sakit dan tak membawa ponsel untuk menghubungi suaminya.
__ADS_1
"Awwhh, sa-sakit! To-tolong Mbak."
"Se-sebentar Mbak, ayo duduk dulu." Wanita itu mengarahkan Rea untuk ke pinggir karena mereka yang masih berada di depan pintu dan menghalangi orang-orang yang ingin masuk ke dalam Apotek. "Mbak, tolong kursinya dong satu!" teriaknya pada karyawan Apotek.
"Ini Mbak." Dengan cepat kursi itu telah di bawakan oleh salah satu karyawan Apotek yang turut memperhatikan Rea sedari tadi.
"Mbak, cepat suami saya mana?! Awww" Gemas Rea memukul tangan wanita itu dan kembali ponselnya terjatuh.
"Aduh Mbak ponselnya tidak bisa nyala." Wanita itu mengambil ponsel Rea yang terjatuh dan semakin gelagapan saat mengetahui ponsel itu tak bisa menyala, dia menengadah pada kumpulan orang-orang yang sudah berkumpul menyaksikan mereka untuk meminta bantuan.
Tapi, seakan mereka tengah menyaksikan sebuah pertunjukan yang cukup diapresiasi dengan hanya sebuah rekaman pada ponsel, beberapa dari mereka hanya saling melempar pandangan saling menunjuk, namun sebagian lagi sibuk menelpon mungkin menelpon Ambulans. Entahlah.
"AWw, SAKIT"
"Rea?"
-
-
-
Tapi, sampai sekarang wanita yang menjadi belahan jiwanya itu masih belum sampai bahkan ponselnya pun sudah tak bisa dihubungi dua puluh menit yang lalu.
Varest juga sudah menghubungi Andin untuk menanyakan keberadaan Rea, tapi jawaban yang diterima pun semakin membuatnya tidak tenang, Andin mengatakan jika Rea sudah pergi dari tadi.
"Sayang, kamu itu dimana sih?" Varest bergumam sambil mondar-mandir di depan lobi kantor menunggu kedatangan Rea.
"Ini juga nomornya kenapa tidak aktif sih" Monolognya.
Rasa khawatir semakin menjadi tatkala tadi mertuanya menelpon menanyakan Rea, seakan ikatan batin yang berperan, Mama Jenny menelpon Varest karena tiba-tiba mengingat Rea dan perasaannya pun tidak enak, tapi nomor Rea juga tak bisa dihubungi.
Varest kembali menelpon nomor Rea berharap jika sekarang akan ada jawaban tapi nihil hasilnya tetap sama dengan suara operator yang menyambut membuat Varest menggeram kesal.
Papa sambung Zee itu menopang tubuhnya dengan kedua tangannya yang dia letakkan di salah satu sofa yang tersedia di lobi. perasaannya kacau berbagai pemikiran buruk pun tak ayal berputar di kepalanya mengingat jika beberapa hari ini sang istri mulai sering mengalami kontraksi palsu.
__ADS_1
walaupun perkiraan lahiran Rea masih sekitar 10 hari lagi tapi tak menutup kemungkinan perkiraan itu meleset, banyak kejadian HPL ibu hamil maju dari perkiraan bahkan ada yang sampai sebulan lebih awal dari tanggal yang tertera di foto usg.
Menghela nafas panjang, Varest mengacak rambutnya frustrasi tak ada yang bisa dia hubungi sekarang. Ingin keluar mencari pun bingung harus mulai dari mana tak ada kabar terakhir kemana Rea berada.
"Sayang, tolong jangan membuat ku khawatir," monolognya sambil mengusap wajahnya kasar.
"Panggilkan Pak Kadir!" Titah Varest berteriak pada resepsionis.
Mereka yang mendengar teriakan mendadak dari bosnya itu langsung tersentak kaget, pasalnya Varest sama sekali tak pernah meninggikan suaranya pada karyawan terlebih di ruangan terbuka seperti ini.
berbagai fikiran negatif pun bercokol di fikiran mereka, apakah supir kantor yang bernama Kadir itu telah berbuat kesalahan yang fatal? sampai membuat bos yang terkenal hangat dan kalem itu berteriak seperti orang kesetanan.
"Apa tidak ada yang mendengar ku? Panggilkan Pak Kadir. CEPAT!!" Varest semakin gencar berteriak. Dia melangkah besar-besar ke pintu lobi menunggu orang yang dia sebutkan tadi.
Dia memutuskan untuk mencari Rea walaupun tak tau harus memulai dari mana, tapi setidaknya dia berusaha, dia tidak akan bisa tenang sebelum wanita yang tengah mengandung anak keduanya itu terdengar kabarnya.
"Nggih, Pak?" Lelaki berumur sekitar 45 tahun datang dengan tergesa-gesa, dia adalah Pak Kadir.
"Pak, tolong antarkan saya mencari istri saya." Cepat Varest berucap kemudian langsung berjalan ke arah mobil terparkir.
Tak ada sanggahan atau pertanyaan, pak Kadir langsung mengikuti Varest yang nampak tak ingin dibantah.
Varest memilih duduk di samping pak Kadir agar lebih leluasa melihat jalanan saat mencari keberadaan Rea.
"Ini kita carinya kemana dulu, Pak?" Tanya Pak kadir terlihat bingung karena Varest yang malah sibuk dengan ponselnya.
"Kelilingi saja jalanan kota ini, sampai istri saya ketemu." Tegas Varest.
Pak Kadir yang mendengarnya sedikit bergidik ngeri apa lagi Varest menampilkan ekspresi yang sangat tidak ramah.
"Baik, Pak." Segera Pak kadir melajukan mobilnya, dalam hati dia berdoa agar istri sang bos segera ditemukan supaya dia tak perlu berlama-lama satu mobil dengan bosnya ini. Meski Varest adalah sosok bos yang ramah tapi tak bisa dipungkiri jika Varest dalam mode singa seperti ini cukup membuat para karyawan keringat dingin karena ketakutan begitupun dengan pak Kadir sekarang ini.
Baru beberapa bangunan yang dilewati oleh mobil yang dikemudikan oleh pak Kadir, tiba-tiba suara ponsel milik Varest berdering memecah keheningan. Sedikit malas Varest mengangkat panggilan yang tak lain dari Andi itu tapi tak sedikit juga harapan jika itu adalah kabar baik tentang Rea meski dia sendiri belum memberi tahu Andi tentang kekhawatirannya mengenai Rea.
"Rest, kamu ke Rumah Sakit Restu Bunda sekarang! Rea ada disana bersama Rani."
__ADS_1