
Seorang lelaki yang masih menggunakan piyama tidur berwarna abu-abu tua masih terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan mata yang masih tertutup rapat enggan terbuka. Pusing yang tak bisa dia tahan membuatnya pingsan tepat di depan kamar mandi dan malangnya malah di tinggal pergi oleh anaknya.
Beruntung bagi Rea karena Andi datang dengan cepat saat dikabari oleh Zee, wanita itu tidak mungkin mengangkat suaminya sendiri dengan tubuh kecilnya terlebih tengah berbadan dua.
Tak ada nama yang muncul diotaknya selain nama sahabat suaminya itu, selain karena tak ingin membuat keluarganya khawatir jika menelpon mereka rumah Andi juga terbilang lebih dekat dengan huniannya.
"Apa yang terjadi, Re?" Andi nampak khawatir dengan sahabat rasa saudaranya itu.
Lelaki yang juga masih memakai piyama tidur itu berdiri di samping ranjang memperhatikan Varest yang nampak pucat.
Rea yang duduk di samping Varest pun mendongak, dia menggeleng samar, "Aku tidak tahu, Ndi. Aku tadi di dapur buat bikin sarapan dan Zee tiba-tiba datangin aku terus bilang papanya berubah jadi zombie, pas aku datang dia sudah pingsan." Jelasnya seraya mendekatkan minyak kayu putih di hidung suaminya.
"Sejak kapan dia begini?"
Lagi Rea menggeleng, "Aku tidak yakin, hanya saja saat kemarin di Rumah sakit dia sudah terlihat tidak sehat, tapi setelah itu sudah baikan lagi"
Andi nampak menautkan alisnya, "Siapa yang sakit? kenapa kalian kesana?" Tanyanya
"Ji mau jadi abang, Om. kemalin mama sama papa pelgi lihat adiknya Ji" Zee yang merasa terabaikan langsung menimpali sambil berlari ke arah nakas dan menarik laci paling atas mengeluarkan selembar foto yang tadi malam dia lihat.
Bocah lucu itu berjinjit ketika berada di depan Andi dan memberikan foto USG kepada kakak angkat papanya itu.
"Ini gambal adiknya Ji, masih itam" katanya bangga.
Andi tersenyum simpul tanda bahagia mendapat kabar demikian, namun setelahnya dia mengalihkan wajahnya dari foto. Lidahnya mendorong pipi bagian dalamnya seraya mendengus. "Kamu tahu apa yang sudah membuat Varest sakit begini, Re?"
Rea tak menjawab, anak tunggal mama Jenny itu hanya menatap bingung ke arah Andi yang nampak kesal entah karena apa.
__ADS_1
"Varest sakit karena kualat." Tukas lelaki bergingsul itu sembari duduk di samping varest. "Bagaimana bisa kalian tidak mengabariku mengenai ini, kalian anggap aku apa? pajangan?. sungguh terlalu, berita bahagia begini kalian sama sekali tidak mengingat ku." Lanjutnya mendramatisir.
"Pas susahnya baru aku dipanggil, emangnya aku ini nomor darurat 911?" Lelaki itu masih saja mengomel seperti seorang ayah yang memarahi anaknya yang ketahuan menumpahkan shampo di bak mandi yang sudah terisi penuh.
Andi memang sedikit kecewa, ini sudah lewat dari 24 jam setelah kabar hamilnya istri sahabatnya itu menyebar dikeluarga besar Varest tapi hanya dia yang baru saja mengetahuinya bahkan dengan jalur yang harus membuat dia mengangkat beban 68 kg dari tubuh Varest. Yah, Varest memang sedikit lebih berat dari Andi yang memiliki berat 66 kg, tapi meski demikian Andi tetap sangat kesusahan saat mengangkat Varest tadi.
Rea menunduk sedikit tak enak dengan ucapan Andi. Mama Zee itu bukan bermaksud untuk membuat Andi kesusahan atau merepotkan hanya saja dia tidak tahu harus minta bantuan siapa, sedangkan laki-laki dirumah itu hanya 3 orang, Varest, Zee, dan supirnya yang bisa dibilang ukuran badannya lebih kecil dari Rea sendiri bahkan juga terbilang tak muda lagi, dia takut jika mengaharapkan supirnya untuk membantu dia malah tambah dibuat pusing dan khawatir jika supirnya itu encok tiba-tiba.
"Maaf, Nd-"
"Jangan menyalahkan istri ku, Ndi!" Ucapan Rea menggantung kala Varest tiba-tiba membuka matanya dan bersuara.
"Ck, bangun juga kamu akhirnya. Sahabat egois" Sarkas Andi.
Varest terkekeh lirih, bukan maksudnya untuk tak mengabarai sahabat sejak kecilnnya itu, hanya saja dia melihat kesibukan Andi belakangan ini dan Varest berniat akan mendatanginya langsung saat makan siang nanti untuk berbagi kebahagiannya.
Varest tersenyum tipis dengan mata yang masih sendu. "Tidak apa-apa, aku hanya merasa pusing dan mual, sebentar lagi juga enakan" Katanya seraya mengenggam tangan Rea.
"Aku ambilkan sarapan, yah? ini mungkin pengaruh kamu makan permen kapas terlalu banyak" Rea hendak berdiri setelah mendapat jawaban dengan anggukan oleh Varest.
Sekarang tinggal 3 orang lelaki di dalam ruangan dominan abu-abu putih itu. Andi mendekatkan posisi duduknya kepada Varest yang sudah mencapai posisi setengah duduk, matanya memicing curiga dengan diagnosa sakit apa yang dialami oleh sahabatnya tersebut.
Tangannya dia dekatkan ke hidung Varest yang tengah mencium minyak kayu putih, sontak lelaki yang masih sakit itu memalingkan wajahnya sambil mengerutkan hidungnya. "Kamu habis pegang apa, hah?!" Tukas Varest tak suka dengan bau tangan Andi.
"Aku tidak pegang apa-apa, tadi aku hanya mengangkatmu ke ranjang, mungkin bau badan mu menempel di tanganku" Elak Andi, padahal dia tadi mengetes penciuman Varest. Andi curiga jika papa Zee itu mengalami ngidam seperti yang pernah dia lihat pada karyawan di kantornya.
Zee yang berada dipangkuan Andi meraih tangan kekar om nya itu untuk dia cium, rasa penasarannya tiba-tiba muncul saat melihat sang papa menepis tangan lelaki yang tengah dia duduki pahanya. "Tangannya om halum kok, Pa? halum sepelti biasa" Ujarnya seakan mengerti bau parfum yang biasa dipakai oleh om nya itu.
__ADS_1
Andi tersenyum mengejek sedangkan Varest mencebikkan bibirnya. Varest sedikit berfikir mengenai kemungkinan sakit yang dideritanya sekarang, asam lambung atau hanya pengaruh salah makan? dan dia rasa keduanya bukanlah menjadi alasan keadaan lemasnya sekarang karena bagaimanapun Varest adalah tipe lelaki yang sangat menjaga kesehatan dan pola makan.
Suara pintu berdecit lirih terdengar, nampak Rea masuk dengan mendorong sebuah trolley makanan 3 susun yang sudah di penuhi oleh 4 porsi sarapan dan 4 gelas susu berwarna putih serta gelas kosong dan 1 ceret air mineral, Rea menggunakan trolley yang sudah lama tersimpan yang pernah mama Nimas gunakan saat Varest sakit beberapa tahun lalu. Dia tidak mungkin hanya menggunakan nampan untuk membawa sarapan mengingat ada Andi yang dipastikan belum sarapan.
"Zee, ayo sarapan dulu sayang!" Varest mengulurkan tangannya untuk meraih Zee di pangkuan Andi.
"Aku, juga membawakan sarapan buat mu, Ndi. Aku tahu kamu pasti belum sarapan, kan?" Ucapnya seraya meletakkan 3 porsi nasi goreng di atas meja yang tersedia diujung ruangan"
Andi patuh tak bisa menolak karena memang dia merasa lapar, kakinya melangkah mendekati Zee yang sudah menyuapkan makanan kesukaannya itu kedalam mulutnya, sedangkan Rea beralih kepada Varest dengan satu porsi nasi goreng ditangan kanannya dan segelas air mineral.
"Sayang, aku tidak suka telur mata sapi," Tolak Varest ketika Rea mengarahkan 1 sendok nasi dan potongan telur diatasnya ke mulutnya.
"Tapi ini yang biasanya kamu mau, telur mata sapi. Kan?" Rea terlihat bingung dengan penolakan Varest.
"Sayang, please, ganti dengan punya mu saja!" Mohon Varest, dia menutup mulutnya seraya berusaha turun dari ranjang setelahnya berlari ke kamar mandi.
"Hoeeekkk.. hoeeekkkk" Yah, Varest kembali memuntahkan isi perutnya bahkan sudah dengan warna kekuningan.
Rea bergegas menyusul sang suami, namun sebelumnya berhenti saat Andi memanggilnya.
"Re, lebih baik kamu panggil Fani untuk memeriksanya!" Saran lelaki yang sudah menghabiskan setengah porsi sarapannya itu.
__ADS_1