
Hal pertama yang aku lihat setelah membuka mata adalah ruangan yang serba putih. Aku juga bisa merasakan banyak alat-alat di tubuhku dan masker oksigen di hidung ku.
Aku tau tempat ini rumah sakit, dari baunya saja aku bisa langsung menebak. Terakhir yang ku ingat aku masih berada di taman belakang sekolah.
Aku menatap sekelilingku, disana di sofa aku bisa melihat Mark yang tengah tertidur sambil duduk. Apakah tubuhnya tidak sakit setelah bangun?
Selain itu aku tidak mendapatin siapapun disini. Sudah berapa lama aku tidur? Semoga saja tidak lama, tapi melihat dari banyaknya alat di tubuhku aku jadi ragu.
Bagaimana kabar Papa sama Mama ya tau aku tidak pulang?
Lima menit ke depan aku hanya menatap langit-langit ruangan ini dengan diam. Hanya mengedipkan mata. Aku juga tidak berniat menggerakkan tubuhku.
Apa aku tidur saja ya? Sepertinya itu ide yang bagus. Aku perlahan memejamkan mataku.
Aku merasakan kursi di sebelah ranjangku bergerak, aku yakin ada seseorang yang duduk disana. Aku belum sepenuhnya tertidur.
Aku juga merasakan tanganku di sentuh. Rasanya dingin.
"Lo gak cape tidur mulu?"
Aku memilih untuk pura-pura tidur, membiarkan orang itu terus berbicara.
Tapi tunggu?
Dari suaranya terasa familiar di telinga ku.
"Cepet bangun."
Benda kenyal apa yang menempel di dahi ku tadi? Aku tidak ingin memikirkan lebih lagi. Aku benar-benar mengantuk sekarang.
...****************...
"Lepasin!! Lepasin gue!!" Teriak itu bagai alunan musik di telinga para pria berbaju hitam itu. Tidak ada yang menanggapi.
Sementara sang korban tengah meronta berusaha melepas ikatannya di tangannya. Tenggorokannya sudah kering karena terlalu sering berteriak.
"Ini dimana, sialan!!" Teriaknya lagi. "Kalian bakal mati."
Tidak ada yang merespon gadis itu. Usahanya sia-sia. Gadis itu terdiam mulai sadar percuma dia berteriak tidak akan ada yang akan menolongnya.
Ia mengedarkan pandangannya pada ruangan ini. Ruangan yang kumuh hanya ada satu penerangan di atas kepalanya.
Gadis itu dapat menebak dimana dirinya berada dari suara-suara binatang malam. Hutan.
Bulu kudunya merinding. Apa dia akan mati disini?
Tidak lama pintu didepan sana terbuka menampilkan seorang cowok dengan balutan serba hitam, tidak lupa dengan masker dan topi hitamnya.
Melangkah perlahan mendekati gadis itu.
"Udah cape teriaknya?" Katanya. "Melani?"
Melani menengang dia tau suara ini. "Mark?"
Cowok yang disangkanya Mark itu membuka masker dan menatap tajam Melati.
Jantung Melani berdetak dua kali lipat. "Beneran Mark?" Suaranya bergetar.
"Iya ini gue."
"Kenapa lo lakuin ini semua?" Katanya dengan suara bergetar.
__ADS_1
Mark berdecih. "Karena lo udah usik cewek gue."
"Agatha?" Tanyanya. "Cewek murahan itu?"
"Katakan sekali lagi atau kepala lo berlubang?" Kata Mark yang sudah menodongkan pistolnya pada kepala Melani.
Melani menelan air liurnya susah payah. "Mark lo gak bakal tembak gue kan?"
"Tergantung." Balas Mark.
"Maafin gue. Gue janji gak bakal ganggu Agatha lagi." Tangis Melani pecah. Dia benar-benar takut sekarang.
"Bukannya gue udah peringatin lo waktu itu. Jangan ganggu cewek gue." Dingin Mark. "Gue paling ga suka punya gue di usik."
"Maaf." Getar Melani. "Biarin gue hidup gua gak bakal ganggu Agatha gue janji."
Mark menurunkan pistolnya. "Ini peringatan kalo lo berani ganggu cewek gue lagi lo abis sama gue."
Melani mengangguk dengan cepat.
Setelah mengatakan itu Mark keluar dari ruangan itu meninggalkan Melani.
"Satu hama udah beres."
...****************...
Mark menjalankan mobilnya sambil bersenandung ria, akhirnya hama penganggu sudah ia hilangkan. Setelah ini tidak akan ada yang berani mengangguk gadisnya.
Gadisnya?
Mark terkekeh pelan. Agatha adalah gadisnya.
Tidak ada yang boleh menyakitin gadisnya siapapun itu. Akan Mark basmi.
"Hallo." Sapa Mark pada orang di seberang telepon.
"Tenang saja Agatha akan dengan saya."
"...."
"Percayakan semua sama saya."
Tut!
Sambungan itu terputus. Memang sejak dulu kakek kolot itu tidak pernah berubah.
"Awas aja kalo ketemu gue jitak palanya."
Mark menyusuri koridor rumah sakit dengan diam. Koridor tampak sepi hanya ada beberapa suster yang berpapasan dengan dirinya.
"Apa ada orang yang datang?" Tanya Mark pada pria berbaju hitam di depan ruang rawat Agatha. ada sekitar dua orang yang berjaga disana.
"Tidak ada, Tuan." Balas salah satu pria itu.
Mark menganggu lalu masuk. Pemandangan yang ia dapat tetap sama seperti pertama kali ia meninggalkan tempat ini.
Agatha yang masih tertidur dengan banyak alat di tubuhnya. Padahal Mark berharap ketika ia membuka pintu Agatha sudah bangun dan menyambutnya.
Merebahkan tubuhnya di sofa Mark sangat lelah. menatap Agatha yang masih menutup matanya membuat Mark menggeram kesal.
Seharusnya Mark datang ke taman belakang lebih cepat. Seharusnya Mark tidak memperdulikan Agatha dan membawanya ke uks. Seharusnya Mark ada di setiap Agatha meminum obatnya.
__ADS_1
Kata dokter Agatha sudah lama tidak meminum obat. Ada apa dengan gadis itu? Hal itulah yang membuat tubuh Agatha lemah tak berdaya.
Mark gagal menjaga Agatha. Setelah ini ia akan menjaga Agatha super ketat.
Tanpa disangka mata Mark terpejam dengan posisi duduk. Hanya bertahan dua puluh menit setelah itu ia kembali terbangun dan mendekat pada Agatha.
"Lo gak cape tidur mulu?" Tangannya meraih tangan Agatha menggenggamnya seperti sedang menyalurkan kekuatan.
"Cepet bangun." Mark mendaratkan bibirnya diatas dahi Agatha. Dia sangat berharap Agatha segera membuka matanya.
Mark meletakkan kepalanya disamping tangan Agatha. Lalu memejamkan mata sejenak.
...****************...
Aku kembali membuka mataku. Masih ditempat yang sama tapi bedanya aku merasakan berat di tangan kiriku yang bebas selang infus.
Aku hampir terlonjak kaget ternyata Mark tidur disana. Aku tidak tau berapa lama cowok itu tidur disana. Bukankah tubuhnya akan sakit nantinya?
Tidak ada pilihan selain membangunkan Mark. Aku haus, ternggorokan ku sangat kering. Aku butuh air.
Tangan kananku terangkat mengelus kepala Mark pelan. "Kak."
Cepatlah bangun Mark aku haus sekali!!!
"Kak Mark." Lirik ku menjatuhkan tanganku pada kepalanya.
Dan berhasil Mark langsung bangun dengan terkejut.
Dasar kebo!
"Kak." Panggil ku kesekian kalinya. Mark menatapku terkejut dengan muka bantalnya.
"Agatha!"
Sepertinya dia baru sadar dari tidurnya.
"Mana yang sakit?" Tanyanya panik.
Aku baru membuka mata ku plisss.
"Haus." Lirih ku pelan.
Mark langsung membuka masker oksigen di hidungku dan memberikan aku gelas berisi air. Sebelum itu ia memberikan sedotan pada gelas itu.
Akhirnya tenggorokanku terkena air. Lega rasanya. Aku hanya diam sementara Mark sudah menelpon seseorang.
"Panggil dokter sekarang!" Perintah Mark.
"Ada yang sakit?" Tanya Mark menatap ku senduh. "Kalo ada yang sakit bilang ya."
Aku mengangguk. terlalu lemah untuk menjawab itu semua. Biarkan dokter nanti yang menjelaskan semuanya.
Tidak lama dokter datang dan memeriksa ku. Suster melepas semua alat di tubuhku. Sepertinya tubuhku sudah tidak membutuhkan alat itu.
Aku dapat melihat Mark dan dokter itu tengah berbincang serius. Aku tidak mengerti mereka sedang membicarakan apa.
Aku mengantuk. Apa suster tadi memberikan obat tidur. Setelah ada yang disuntikkan pada infus ku, aku merasa mengantuk,
"Nona kalau mengantuk tidur saja tidak apa." Kata suster itu tersenyum.
Aku mengangguk dan kembali memejamkan mata. Aku sangat mengantuk.
__ADS_1
...****************...