
"Kamu sungguh keterlaluan, Rest"
Andi emosi melihat pandangan di depan matanya saat ini, lelaki itu merasa tak dianggap oleh Varest setelah kebahagian kembali dirasakan oleh lelaki yang dia anggap sebagai saudara kandung itu.
"Apa?" Varest bertanya santai, "Ini bahkan belum genap 1x24 jam setelah itu terjadi, tapi kenapa kamu seperti ibu-ibu yang emosi karena ketinggalan diskon?"
"Jelas aku marah, selama hampir sebulan ini aku yang paling kamu susahkan, tapi sekarang saat Zee dan Rea kembali kamu bahkan tidak mengabariku." Andi tetap saja mengomel tak terima
Varest tertawa, bukan maksudnya untuk melupakan sahabatnya itu, bagaimana pun Andi adalah orang yang paling berperan dalam mengembalikan kebahagiaanya, selama ini Andi yang menjadi garda terdepan berdampingan dengan kedua orang tuanya saat dia dalam keadaan terpuruk.
Tapi, menurut Varest waktunya masih begitu cepat untuk mendeklarasikan jika dia sudah mendapatkan istri dan anaknya kembali, masih banyak waktu setelahnya, lagi pula Varest juga mengerti kesibukan sahabatnya itu, Andi hanya bisa keluar kantor jika waktu makan siang.
"Aku sengaja belum mengabari mu, aku hanya takut jika terlalu dini untuk menceritakannya." Jelas Varest merangkul bahu andi dan mengajaknya untuk duduk.
"Rencananya aku ingin mengajak mu makan malam bersama Papa dan Mama"
"Mama dan Papa sudah tahu?"
"Tentu, tadi pagi mereka kesini untuk bertemu dengan Zee dan Rea"
"Syukur lah, aku ikut bahagia"
"Ceritakan, apa yang terjadi semalam sampai akhirnya Rea bersedia kembali?" Tanya Andi semangat, sebenarnya dari awal dia sudah tahu jika usahanya akan berhasil. Tetapi mendengar langsung cerita dari Varest menurutnya itu lebih menarik.
Varest diam menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, kepalanya mendongak seperti sedang merangkai kata per kata yang sesuai untuk memulai cerita indahnya.
Flashback On
Satu kalimat yang diucapkan oleh Rea sontak membuat mata Varest membulat serta rahang yang menegang. Sungguh dia tidak menyukai situasi dimana kebahagiaan yang baru dia rasakan tiba-tiba terhapus oleh kata "Kita akhiri saja ini" yang keluar dari mulut Rea.
Matanya memerah menahan kecamuk pada rongga dadanya, sekuat tenaga dia untuk tidak meluapkan emosi di depan orang yang sudah dia tunggu kepulangannya beberapa minggu ini.
"Jangan bercanda, Re" Ucap Varest akhirnya, meski dengan suara lirih. Namun dibawah sana tangannya terkepal kuat.
"Aku tidak bercanda, Rest. Ini juga untuk kebahagiaan Zee anak kita" jawab Rea, matanya fokus melihat pada fitur wajah varest yang nampak bulu-bulu halus tumbuh di dagu dan bawa hidungnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu maksud dengan kebahagiaan Zee?, apa kamu fikir Zee akan menerima orang baru?"
"Tidak, tidak semudah itu Re" jari telunjuk Varest bergerak ke kiri dan ke kanan di depan wajahnya.
"Aku sangat mengenal Zee, meski dia bukan anak kandung ku tapi aku sangat mengenalnya, aku memahaminya" Lirih Varest nampak putus asa.
"Rest"
"Tak perduli selama apa waktu yang bisa aku manfaatkan untuk kamu bisa memaafkan ku, tapi aku mohon jangan menggantikan aku dari sisi Zee." tangannya menggenggam kedua pundak Rea
"Apa maksud mu, Rest" Rea mengerutkan dahinya bingung.
"Aku tahu, kamu sudah menemukan laki-laki yang bisa kamu terima sebagai pengganti ku, tapi jangan paksa Zee untuk memilihnya juga"
Rea tersenyum simpul ditengah wajah Varest yang menunduk pasrah, Ah, dia ingat video yang dikirim oleh Andi, Varest salah mengira jika waktu itu dia bertemu dengan seorang lelaki yang akan menggantikan posisinya padahal itu adalah Andi sahabat lelaki itu sendiri yang hanya berniat untuk membantu.
Tangan kanannya bergerak meraih tangan Varest yang masih bertengger di bahunya, dan tangan kirinya mengangkat wajah Varest untuk menatapnya.
"Apa yang kamu fikirkan, hah?" Tanya Rea dengan senyum manis yang tercetak di bibir mungilnya.
"Apa kamu berfikir aku secepat itu mencari Papa baru untuk Zee?, Rest, meski pada akhirnya aku benar-benar mengikuti rasa amarahku untuk membenci dan meninggalkan mu, tapi pantang buat aku menjatuhkan pilihan dengan gampang pada lelaki saat kata perpisahan hanya sebatas angan yang tak akan pernah terucap dari mulut ku bahkan dari mulut suami ku sendiri"
"A-apa maksud Mu?"
Rea terkekeh melihat wajah bingung bercampur haru pada profil sang suami.
"Tidak ada yang bisa menggantikan kamu untuk menjadi Papa Zee, kamu adalah yang kedua namun pertama bagi Zee, dan itu mutlak tidak terganggu" dirangkumnya kedua pipi Varest
Varest terharu, matanya berkaca-kaca dengan tanpa segan lagi Varest meraih Rea ke dalam pelukannya.
"Benar tidak ada yang lain, kan?" tanyanya memastikan, pelukannya semakin erat saat dia merasakan kepala Rea bergerak naik turun.
Varest melerai pelukannya ketika mengingat kalimat pertama yang Rea katakan hingga membuat dia sempat dipenuhi emosi nan putus asa.
"Jadi, yang kamu bilang akhiri itu apa?"
__ADS_1
"Kamu tidak sedang mengerjaiku kan?" Varest curiga melihat senyum tak biasa dari Rea
"Astaga, kamu curiga pada istri mu?" Wanita itu pura-pura marah
"Bukan begitu, hanya saja,," Jeda Varest beberapa detik, "Aku terlalu takut" lanjutnya membuang muka salah tingkah
"Takut apa?, aku hanya ingin mengakhiri peran batin kita sendiri, mengakhiri rasa egois kita. Selama hampir sebulan ini kamu menjadi orang lain dengan menyusahkan Mama, Papa, dan juga Andi. Begitupun dengan aku yang karena emosi dan sakit hati sampai harus melibatkan masalah kepada orang disekitar ku, aku sudah menyakiti Zee" lirih Rea diakhir kalimat, air matanya menggenang di ekor matanya.
"Maafkan aku, Re." Kembali Varest memeluk Rea
"Ini semua salah ku, seharusnya aku tidak pernah menyembunyikan faktanya dari mu, seharusnya aku bisa menerima konsekuensi Zee akan meninggalkan ku saat kamu tahu yang sebenarnya dari awal, tapi aku terlalu takut Re, aku takut orang yang sudah aku cintai benar-benar meninggalkan ku, aku mencintai kalian" Ujar Varest panjang lebar semakin mempererat pelukannya.
"Aku mencintai mu Re, bahkan mungkin sebelum aku tahu kebenaran tentang mu dan Zee, aku sangat mencintai mu"
Rea terpaku dengan mata yang berkedip beberapa kali, dia sudah pernah mendengar pengakuan lelaki ini meski dalam keadaan mabuk, tapi kenapa mendengar langsung seperti ini malah membuat hatinya seperti tak memiliki kesiapan.
"Aku mohon, tetaplah disisi ku" Kata Varest yang dijawab anggukan serta pelukan balasan dari tangan Rea
Flashback Off
"Wahh, mengharukan sekali" Seru Andi setelah mendengar cerita panjang dikali lebar dari Varest.
"Seharusnya kamu berterima kasih pada ku karena sudah mengirim video mu kepada Rea, kalau tidak tadi malam kamu belum bisa memeluk keluarga mu itu" ujarnya pongah menunjuk Rea dan Zee yang berada di taman belakang rumah
"Kamu memang saudara ku yang terbaik, terima ka-, Eh tunggu, Video apa yang kamu kirim ke Rea?" Varest memicing curiga
Andi dengan santainya merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya, lelaku itu membuka folder berisi video dan mencari video sang sahabat.
"Lebih baik kamu pulang, Ndi. Ini sudah lewat jam makan siang di kantor mu" Varest berdiri dan menarik andi untuk keluar dari rumahnya, mood nya tiba-tiba buruk saat melihat video yang dimaksud.
Video saat dia mabuk dan bertingkah konyol. Meski jengkel dengan Andi tapi jauh di dalam hatinya dia begitu berterimakasih kepada sahabat yang begitu disayangnya itu.
Karena telah diusir oleh tuan rumah, akhkrnya Andi benar-benar pergi dengan tersenyum puas.
"Thanks, Andi"
__ADS_1