
Acara yang sakral sudah terlewat dan kini dilanjutkan dengan acara resepsi, Andi dan Andin selaku pemilik acara pun memilih acara yang mengundang banyak tamu itu diadakan di luar ruangan berkonsep garden party dengan tema shabby chic.
Andin sendiri adalah salah satu orang yang menyukai bunga. Maka dari itu, Andi yang kini resmi menjadi suaminya telah mempersiapkan pernikahan impian bagi wanitanya dan memilih dekorasi vintage untuk hari bahagia mereka. Puluhan meja dan kusri telah tertata rapi di tengah taman, sebuah panggung kecil sebagai pelaminan dihias sedemikian rupa dengan bunga mawar berwarna putih dan merah muda sebagai latar.
Acara yang berlansung tepat pukul 7.30 malam itu dihadiri oleh para sahabat dan kerabat dari kedua mempelai dengan memakai dress code casual yang sudah ditetapkan oleh pemilik acara, sama halnya dengan para tamu lain Varest pun juga memakai hal serupa dengan jas dan bawahan berwarna coklat muda dipasangkan dengan sepatu sneakers berwarna putih serta Rea yang nampak mempesona dengan lace dress berwarna senada dengan sang suami yang membalut tubuh rampingnya.
“Sayang.”
“Hm?” Rea menoleh pada seseorang yang memanggilnya.
“Lihatlah anak mu disana!” Varest yang tengah memperhatikan para tamu itu tiba-tiba terfokus pada putra sulungnya yang berada di kerumunan para tamu.
Rea menggelengkan kepalanya seraya terkekeh melihat kelakuan sang putra yang seperti seorang anak remaja yang tengah menggoda seorang gadis kecil. Bocah yang memakai outfit kemeja putih dan suspender dilengkapi dasi kupu-kupu itu nampak mendekati bocah perempuan seumurannya dengan membawa satu buah lollypop berbentuk bunga dan dengan percaya dirinya menyugar rambutnya kebelakang.
“Astaga, sayang. Siapa yang mengajari anak kita seperti itu?” Varest menutup mulutnya seraya membulatkan matanya tatkala melihat sang putra meraih tangan gadis kecil itu dan mengayunkannya kekiri dan kanan persis
seperti seorang remaja bucin.
“Siapa lagi kalau bukan Papanya?” Rea dengan santainya berucap sambil menuangkan minuman di gelasnya.
“Sayang, apa kamu meyindir ku?”
“Emang siapa lagi? Sayang, apa kamu tidak sadar kalau kamu sama persis dengan Zee sekarang?” Wanita bernama lengkap Edrea Letesia itu menunduk mengarahkan pandangannya pada lengannya yang tengah di rangkul oleh Varest dari satu jam yang lalu.
Seakan tak perduli, Varest malah memindahkan tangannya untuk memeluk pinggang sang istri. “Jangan salah paham sayang, aku hanya menjaga mu saja, disini banyak orang dan aku tidak mau kalau kamu tidak nyaman,” elaknya
“Benarkah?” Rea mencebikkan bibirnya sambil melepaskan tubuhnya dari dekapan Varest.
“Sayang, kok dilepas?”
“Malam ini adalah malam penuh kesan, semua keluarga besar dan kerabat berkumpul, dan untuk malam ini aku merasa nyaman dan menikmatinya,” kata Rea sembari berjalan ke tengah kerumunan para tamu
Varest gelagapan, meski orang-orang yang hadir pada acara ini bukanlah orang lain namun, Varest tetaplah enggan membiarkan saat sang istri untuk berkumpul dengan para keluarga dan sahabat yang kebanyakan adalah lelaki seusianya. Oh, Varest tak akan sudi membiarkan mereka untuk memandangi istri cantiknya begitu lama.
"Sayang, jangan aneh-aneh!"
"Ayolah, sayang. Sudah satu jam loh kita berdiri disitu tanpa berkumpul dengan yang lain, apa kamu tidak merasa risih kalau mereka menganggap kita tak mau berbaur? sedangkan Zee yang hanya anak kecil saja terlihat senang bermain dengan yang lain." ucap Rea saat tangannya ditarik oleh Varest. Ah, sungguh posesif.
Varest menyapu pandangannya pada keramaian acara dan memang hanya mereka berdua yang sejauh ini belum berkumpul dengan tamu lain, sungguh Varest bukan bermaksud untuk tak ingin berbaur hanya saja dia merasa tak nyaman dan tak aman berada dikumpulan para saudara yang notabenenya adalah lelaki yang masih single.
__ADS_1
Mengerti keraguan sang suami, perlahan Rea mendekat kemudian meraih tangan Varest dan menautkan jarinya, wanita yang telah melahirkan dua putra itu menyunggingkan senyum manisnya. "Kamu percaya padaku?"
Varest terpaku menatap lurus iris coklat istri tercintanya.
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Hm?"
"Siapa aku?" Tanya Rea sambil membelai pipi kanan Varest
Varest mengerutkan keningnya tanda tak mengerti
"Siapa aku?" Kembali Rea mengulang pertanyaanya dengan mata yang fokus membalas tatapan suaminya
Meski masih bingung dengan pertanyaan sang istri, dengan mantap Varest berucap. "Kamu adalah Edrea Letesia istri dari Varest, ibu dari anak-anak ku dan seorang wanita yang sangat aku cintai."
Rea tersenyum. "Kamu tahu jelas siapa aku, Rest. Aku punya kamu dan akan selalu seperti itu, dan bukan hanya kamu yang merasakan itu karena aku pun juga."
“Kamu tahu, Rest?” Mama dari Zee itu berbalik menyapu pandangannya pada kumpulan tamu. “Di mata ku tak ada yang lebih menarik dari pada suami ku, entah seperti apa penilaian yang lain terhadap mereka tapi menurutku suamiku adalah yang terbaik dan aku merasa sangat beruntung menjadi istrimu.”
Terdengar penuh gombalan, tapi percayalah setiap kata yang terucap dari bibir mungil Rea itu mampu membuat lelaki yang memiliki tinggi sekitar 180 cm itu seakan meleleh, dan ekspresi yang dinampakkan oleh Varest itu
membuat Rea gemas sendiri.
“Sayang, jangan menggoda ku kalau tidak jangan salahkan aku kalau kamu ku bawa kabur dari acara kakak mu ini.”
Rea meledakkan tawanya kala mendengar ancaman dari Varest. “Makanya jangan diam disini terus".
“Jujur yah aku ini bingung, sebenarnya yang mana sih pengantin barunya, kalian atau kami?” Varest menggaruk tengkuknya ketika Andi dan Andin datang dan menyindirnya.
“Rest, kamu ditanyain sama yang lain, kalian malah berdiri disini, Zee saja sudah aktif tuh disana.” Pengantin baru yang bernama Andi itu menunjuk pada Zee yang masih setia menemani gadis kecil seumurannya
“Iya, nanti kami kesana.” Jawab Varest pelan
“Jangan lama, sebentar lagi acara penutupan.”
Varest mengangguk paham, kakinya melAngkah mendekatkan tubuhnya pada sang istri kemudian menelusupkan tangannya pada pinggang ramping Rea yang tengah asik memperbaiki riasan sahabatnya hingga membuat wanita yang telah dia nikahi beberapa tahun lalu itu terkesiap.
“Kita kesana?” tunjuknya menggunakan dagunya
__ADS_1
Rea mengikuti arah pandang sang suami kemudian mengangguk. “Ayo!” balasnya, “Kami kesana dulu yah.” Pamitnya pada Andi dan Andin yang masih berdiri di depannya dan dibalas anggukan oleh keduanya.
Berjalan sambil bergandengan, Rea dan Varest mendekati Zee yang sedang memakan dessert yang tersedia di mejanya, Varest mengelus kepala sang putra kemudian mengangkat bocah lucu itu hingga Zee memekik tak terima.
“Papa turunin Zee!” Zee meronta minta diturunkan
“Loh kenapa? Biasanya juga minta di gendong terus?” goda Varest tak mengindahkan keinginan sang putra
Zee merengut membuang muka tak ingin melihat wajah papanya. Zee memang suka bermanja kepada Varest tapi menurutnya hari ini adalah waktu yang tidak tepat dimana moment ini ada seorang gadis kecil yang tengah
melihatnya, Zee ingin terlihat sebagai anak lelaki yang pintar dan tampan, tapi kalau sudah seperti ini apa yang akan difikirkan oleh gadis kecil cantik di depannya?.
Mengerti dengan fikiran sang putra akhirnya Varest menurunkan Zee seraya terkekeh. “Baiklah, Zee kan anak pintar dan hebat, mana mungkin minta di gendong.”
Bukannya senang dengan ucapan sang papa, Zee malah mempoutkan bibirnya sudah terlanjur jelek dimata orang, fikirnya.
“Zee marah sama Papa, yah?” Varest berjongkok di depan Zee kemudian memegang pundak anaknya tersebut.
“Zee tidak marah, tapi Zee malu” bisik bocah itu di telinga Varest
“Kenapa?” Varest ikut berbisik
“Nanti Cia tidak mau berteman sama Zee.”
“Kenapa tidak?”
"Karena Zee manja"
Varest reflek tertawa namun dengan cepat terdiam tatkala mulutnya ditutup oleh Zee yang nampak semakin kesal. “Papa ihh”
Rea dan orang-orang yang berada di dekat mereka hanya bisa tersenyum geli melihat wajah merah Zee yang terus digoda oleh papanya. Orang-orang terdekat mereka sangat tahu bagaimana kedekatan kedua orang itu.
“Zee, manja itu tidak salah dan tidak mengurangi tampannya anak Papa, manja itu normal kok, Papa juga manja sama Mama.” Varest mendongak mengedipkan satu matanya ke arah Rea hingga membuat orang-orang yang berada disekitarnya memekik.
Rea memukul pelan bahu suaminya yang ternyata bukan hanya menggoda sang putra melainkan juga membalas godaanya tadi.
Berhasil membuat sang istri tersipu, Varest melanjutkan kalimatnya pada Zee. “Manja itu tidak salah kok, itu tandanya kita tidak bisa kehilangan orang yang dekat sama kita. Kita akan selalu mengingat orang yang kita sayangi.”
“Lagi pula Zee tetap tampan kok, tetap gagah dan pintar. Iya kan, Cia?” Varest meminta persetujuan pada gadis kecil di sampingnya, hingga jawaban yang dilontarkan gadis kecil tersebut membuat pipi penuh Zee semakin memerah.
__ADS_1
“Iya Zee tetap tampan kok, Cia suka”
Secara impulsif orang-orang dewasa yang berasa di sekitar mereka gemas sendiri dengan interaksi kedua bocah itu.