Sunflower

Sunflower
Bertahanlah


__ADS_3

Dengan langkah besar Varest menapakkan kakinya melewati koridor rumah sakit menuju tempat sesuai arahan dari Andi tadi, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Varest terus saja berusaha menyelami fikirannya dengan jawaban atas pertanyaannya sendiri.


Bukannya Rani sedang berada di Sidney?, kenapa Rea bisa bertemu dengan Rani?, kenapa mereka berdua ada di rumah sakit?. Pertanyaan-pertanyaan itu yang terus memenuhi fikirannya sampai dia tiba di Rumah sakit.


"Dimana Rea?"


Andi dan Rani yang tengah duduk itu tersentak kaget mendengar suara Varest.


"Rest" Andi berdiri hendak mendekati Varest namun papa Zee itu malah melewatinya.


"Apa yang kamu lakukan pada Rea?" Pertanyaan itu menjurus pada wanita yang berdiri di samping Andi. "Jawab Rani!" Bentaknya.


Reflek Rani menutup matanya seraya mundur satu langkah, suara yang keluar dari mulut Varest cukup mengganggunya terlebih tatapan lelaki itu yang sangat tak bersahabat.


Andi yang melihat itu langsung melerai tatapan Varest, dia berdiri tepat di tengah antara Varest dan Rani tak ingin jika sahabatnya itu melakukan hal yang tidak-tidak tanpa mau mendengar alasan terlebih dahulu.


"Tenanglah, Rest! Rea ada di dalam, lebih baik kamu masuk dulu dia membutuhkan mu sekarang." Andi memberi isyarat dengan matanya menunjuk pintu yang berada di belakang Varest.


Varest berbalik kemudian kembali beralih pada Andi, sebelah alisnya terangkat pertanda bingung dengan apa yang dia baca pada tulisan yang tertera di pintu ruangan.


"Ruangan bersalin?" Entah Varest memang bingung dengan apa yang dia lihat atau memang kepintarannya yang tertinggal di kantor karena kekacauan fikirannya tadi.


Andi mengangguk, seakan semua kesadarannya kembali mata Varest sontak membulat bersamaan dengan mulutnya yang ikut terbuka, dengan cepat Varest memasuki ruangan itu tanpa berbalik lagi ke arah Andi dan Rani yang sudah dia tuduh yang tidak-tidak tadi.


Andi menghadap pada Rani yang diam di belakangnya sedikit meremas kedua pundak wanita yang sepertinya shock karena bentakan Varest tadi.


"Duduk dulu" Andi menuntun Rani untuk duduk. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya


Rani menarik nafasnya panjang setelahnya menampilkan senyum di bibirnya. "Tidak apa-apa, memang apa yang akan terjadi padaku?"


"Aku tahu Varest terlalu berlebihan, seharusnya dia tidak membentak mu tadi, tapi aku harap kamu bisa memaklumi dia hanya khawatir pada istrinya"


Rani hanya tersenyum miring tanpa menjawab, menunggu kelanjutan kalimat Andi.


"Beberapa hari ini Varest memang sangat khawatir karena kontraksi palsu yang Rea rasakan, dia takut meninggalkan Rea sendiri di rumah tapi juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya."


"Memang menghubungi mu adalah keputusan paling tepat yang aku pilih," ucap Rani tiba-tiba


"Hah?"

__ADS_1


Rani menelengkan kepalanya menghadap pada Andi. "Melihat ekspresi Varest tadi, aku rasa menghubungi mu untuk kesini adalah pilihan yang paling baik," ujarnya


Andi terkekeh mengerti maksud dari Rani. "Jadi itu alasan mu memilih menghubungi selain Varest yang jelas-jelas adalah suami Rea?"


"Tentu, apa kamu fikir Varest akan mengangkat ponselnya saat tahu nama yang yang tertera di layarnya? Ah, aku rasa tidak dan aku tidak akan mengambil resiko meladeni amarahnya sementara aku harus merelakan tangan


ku dicakar oleh istrinya.


-


-


-


Di ruangan bersalin tepat setelah pintu terbuka menampilkan wajah Varest yang terlihat khawatir, lelaki itu langsung berlari menuju brankar dimana sang istri berbaring dengan ringisan menahan sakit.


"Sayang" lirih Rea mendapati Varest telah berdiri di sampingnya


"Iya, Sayang. Aku disini" Varest meraih tangan kanan Rea dan mendekatkan ke pipinya.


"Sakit."


Rea mengangguk pelan, berusaha menahan sakit yang kian bertambah, ingin rasanya dia mengejan saat dorongan itu dia rasakan.


"Dok, apa ini masih lama?" tanya Varest pada Dokter yang berada dalam ruangan.


"Sebentar lagi, Pak. Tadi kami cek masih pembukaan 5." jelas Dokter itu


"Bu, jangan mengejan dulu yah, ini belum waktunya buat mengejan, kalau ibunya merasa sakit ibu coba tarik nafas terus buang, lakukan berkali-kali itu akan membuat ibu merasa rileks." ucap Dokter ketika mendengar Rea yang mengejan


Ok, ini bukan keinginan Rea tapi dia secara impulsif mengejan atas dorongan dari dalam perutnya memaksanya untuk melakukan demikian.


Ini memang sudah menjadi pengalaman kedua bagi Rea dalam melahirkan. Dulu yang menemani dia selama proses melahirkan anak pertama hanya ada mama Jenny karena Keenan yang saat itu tengah berada di luar kota, berbeda dengan sekarang hanya ada Varest dengan segala kalimat motifasi untuk memberi semangat kepadanya.


"Ibu baring menyamping yah, itu akan mempercepat pembukaan," saran salah satu perawat


Rea hanya bisa mengangguk sembari menggigit bibirnya mengahalau rasa sakit dan dorongan dari dalam perutnya.


Varest yang memperhatikan wajah sang istri yang pucat itu hanya bisa merapalkan doa dalam hati untuk kesehatan dan keselamatan kedua orang yang dia kasihi.

__ADS_1


Tangan kanannya kembali mengelus perut Rea dan tangan kirinya membelai kepala sang istri.


"Kamu dengar papa, Sayang? Kamu mau ketemu papa, mama, dan kakak Zee, bukan? Tolong bertahanlah dan cari jalan mu dengan cepat, kami menunggu mu, Nak." Varest berbicara tepat di depan perut Rea, matanya mengkristal turut merasakan kesakitan istrinya


"Ahhh, Rest. Sakiitt," jerit Rea, seakan sang jabang bayi mendengar kalimat penyemangat papanya, perut Rea semakin sakit dan dorongan itu semakin menjadi.


"Sayang, kamu kuat. kamu bisa menggigit lengan ku kalau kamu merasakan sakit"


Rea menggeleng namun tangannya sudah meremas kuat pergelangan tangan Varest.


Sebuah suara terdengar dari jalan lahir yang sontak membuat Dokter dan Perawat mendekati brankar Rea.


"Dok, ketubannya pecah," kata salah satu perawat.


"Bu, sudah waktunya yah bu, nanti saya arahkan kapan ibunya mengejan."


Sigap Varest menggenggam tangan Rea dan mencium puncak kepalanya berusaha memberi semangat dari sentuhan. "Ayo sayang, kamu pasti bisa."


"Siap yah, ayo bu waktunya mengejan." titah Dokter.


"Hmmmmmmmm"


Secara impulsif Varest juga mengikuti apa yang diperintahkan Dokter.


"Pinggulnya jangan diangkat yah bu!" Dokter memperingati Rea yang sempat mengangkat pinggulnya ketika mengejan.


"Tarik nafas dulu yuk, bu. setelah itu kita dorong lagi bayinya keluar, yah!"


Rea mengangguk lirih, keringatnya semakin banyak membasahi sampai ke tangan yang sedari tadi berada dalam genggaman Varest.


Varest meneteskan air matanya melihat Rea yang merintih kesakitan dengan wajah memerah dan butirah air mata yang sudah menetes ke pelipisnya.


"Lagi bu, ini rambutnya sudah kelihatan."


"Sayang, kamu pasti bisa melakukannya, ingat Zee, dia menunggu kalian di luar."


Rea meraup oksigen sekilas kemudian kembali mengejan sesuai arahan sang Dokter.


"Hmmmmmmmm"

__ADS_1


__ADS_2