
Warna bisa diartikan sebagai lambang suasana hati atau perasaan, saat pemilihan warna yang terkesan gelap seseorang akan mengatakan bahwa mereka yang memilih itu sedang dalam suasana hati yang sedang tak bahagia, warna gelap yang terkesan tak memiliki banyak emosi dan warna terang yang menandakan keceriaan.
Entah benar atau tidak pendapat itu, akan tetapi Varest saat ini merasakan hal demikian ketika dia baru membuka matanya setelah tidur selama 9 jam. Penampakan seorang wanita dengan rambut coklat tua yang dibiarkan tergerai indah di depan dada, mata bulat yang terhias warna natural, pipi yang diberi perona, serta bibir yang terpoles liptint berwarna *nude*pink.
Varest tersenyum dengan posisi menyamping dengan tangan yang membentuk segitiga menopang kepala, lekat dia menatap Rea yang terlihat sangat cantik hari ini matanya beralih melihat jam pada dinding yang baru menunjukkan pukul 7 lewat beberapa menit.
"Kamu sudah bangun?" Rea menoleh saat mendengar pergerakan yang dibuat oleh Varest.
"Apa hari ini ada yang spesial?, tak biasanya kamu sudah rapi sepagi ini" Varest menyibakkan selimutnya untuk turun dari ranjang dan berdiri di belakang Rea yang duduk di depan meja rias, dagunya dia tumpukan pada kepala sang istri.
"Oh iya, tadi malam aku lupa memberi tahu mu, hari ini ada pertemuan orang tua di playgroup Zee." Kata Rea sambil melihat Varest dari cermin.
"Benarkah?, apa aku boleh ikut?
Rea berbalik kearah Varest, "Kamu mau ikut?" Tanyanya dengan mata berbinar yang membuat Varest terkekeh gemas.
"Tentu aku ikut jika dibolehkan." Tukasnya
Rea berdiri dan merampikan rambutnya yang kembali berantakan karena ulah sang suami setelahnya mendorong Varest menuju kamar mandi, "Kalau begitu, cepatlah mandi." Titahnya sambil tangannya meraih handuk yang tergantung di sebelah kamar mandi. "Aku akan siapkan pakaian mu." lanjutnya
Dengan cepat Varest masuk ke dalam kamar mandi untuk segera menyelesaikan mandinya, tak ingin memakan waktu yang lama hanya sekitar 10 menit Varest sudah keluar dengan rambut basah serta tubuh yang terlihat segar. Rea yang masih menyiapkan perlengkapan Zee menoleh kala mendengar pintu terbuka.
Matanya membelalak setelahnya memalingkan wajahnya salah tingkah, dari awal menikah sampai sekarang entah mengapa Rea masih saja belum terbiasa melihat Varest bertelanjang dada di depannya seperti ini terlebih dengan rambut dan tubuh yang masih basah.
"Ce-cepatlah pakai baju mu" Titah Rea tanpa melihat pada Varest
Varest yang mengetahui jika sang istri sedang malu itu tersenyum jahil, di dekatinya Rea tanpa suara dan setelah dia berada di belakang Rea tangannya dengan sigap memeluk perut ramping istrinya itu.
"Restt" Rea terlonjak kaget tiba-tiba dia merasa remang di tengkuknya yang tersentuh oleh dagu Varest
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Varest tanpa bersalah, "Rambut ku masih basah, aku harus mengeringkannya dulu sebelum memakai baju." Ujarnya seraya tangannya membalik tubuh Rea untuk menghadap kepadanya.
"Rambutmu tidak akan kering sendiri dengan cepat kalau kamu cuma memelukku, Rest" Sarkas Rea, tangannya berusaha untuk keluar dari dekapan Varest
Lelaki itu malah terkekeh, "Aku cuma ingin istriku ini membantu ku mengeringkan rambut ku" godanya sembari menowel hidung Rea
Rea merotasikan bola matanya, semenjak hari dimana Rea kembali Varest sudah tak segan memperlihatkan rasa cinta dan sayangnya kepada sang istri, meski lelaki itu paham bagaimana perasaan Rea belum sepenuhnya menjadi miliknya. Tapi, dengan Rea yang tidak masalah dan menolak segala tingkah manja nan jahilnya lelaki itu tetap melakukan apapun yang dia yakini bisa membuat Rea akan mencintainya cepat atau lambat.
Wanita yang memakai dress berwarna soft pinkĀ itu baru saja akan mengambil handuk yang ada di ranjang tetapi terhenti ketika dagunya diangkat oleh Varest, matanya mengedip berkali-kali melihat wajah Varest yang mendekat dengan posisi meneleng miring, dan.
Cup
Sebuah kecupan dari bibir dingin Varest menyentuh bibir Rea yang sontak membuat wanita itu terpaku diam dengan mata melebar.
"Mama sama Papa lagi apa?"
Varest terlonjak kaget sampai terduduk ke atas ranjang, Zee yang datang tiba-tiba dan mungkin melihat aksinya tadi sama sekali tak menjadi bayangan yang terlintas diotaknya.
"Kenapa lama sekali siap-siapnya, nanti Ji tellambat" ujar Zee, setelahnya keluar kamar dengan bersedekap dada.
-
-
-
Keramaian terlihat jelas diseluruh bangunan yang di dominasi warna pelangi itu, suara panggilan orang tua yang memanggil anak mereka yang nampak berlarian dengan tawa yang terus saja mengudara. Sungguh pemandangan yang menghangatkan hati saat tawa dari anak-anak yang tak hentinya terdengar di telinga.
Mereka yang belum mengerti mengenai permasalahan yang terjadi di dunia serta masalah orang dewasa, bagaimana mereka yang hanya bermain dengan rasa bahagia berbaur dengan teman sebaya. itu adalah masa yang tak akan pernah bisa kembali dirasakan saat umur semakin bertambah. Maka, kita sebagai orang tua harus memastikan anak kita untuk tumbuh dengan selayaknya ditemani kebahagiaan yang berasal dari keluargra.
__ADS_1
Karena waktu akan terasa cepat berlalu dan saat itu terjadi, masa mereka yang selalu bergantung hidup dengan kita akan hilang dengan sendirinya saat mereka telah tumbuh dewasa dan memiliki permasalahan sendiri.
"Layna" Teriak Zee kepada temannya sesaat dia baru saja memasuki gerbang. Bocah itu melepaskan gandengan kedua orang tuanya dan berlari menemui bocah yang seumuran dengannya itu.
"Layna, ini Mama sama Papanya Ji" Zee memperkenalkan kedua orang tuanya
Bocah yang dipanggil Layna itu mencibir, "Zee, nama ku bukan Layna tapi Rayna." Katanya, "Pake ER bukan EL" lanjutnya menekan pada kata ER dan EL.
"Tapi Ji udah ngomong benal kok." Elaknya, "LA-I-NA" Ejanya mengulang nama gadis kecil di depannya itu
Rayna yang tak menerima namanya salah penyebutan langsung mendongak melihat pada Varest dengan senyum yang mengembang memperlihatkan gigi kecilnya. "Om ganteng, panggil aku Rayna yah bukan Laina" Katanya mengulurkan tangannya pada Varest sambil melirik sinis pada Zee yang nampak cemberut lucu.
Varest dan Rea reflek tertawa bersamaan melihat tingkah lucu kedua bocah yang mempermasalahkan perihal nama yang salah penyebutan.
"Mbak Rea baru datang yah?" sebuah suara terdengar dari belakang Rea.
Rea menoleh dan mendapati seorang wanita dengan rambut blonde sebahu, Rea nampak tersenyum paksa pada wanita itu dan semakin memperlihatkan tanda tak suka saat wanita itu mengulurkan tangannya pada Varest.
"Hai, aku Vivi Maminya Naufal temannya Zee" Ujar wanita itu memperkenalkan diri
Varet membalas uluran tangan Vivi, "Varest." Katanya singkat seraya tersenyum, yang tanpa dia sadari ada seorang wanita yang menarik ujung bibir atasnya jengkel.
"Saudaranya Mbak Rea yah mas?"
Rea menggigit bibir dalamnya.
"Saudaraku dia bilang?, apa dia tidak bisa melihat tangannya merangkul pinggangku begini?" Batin Rea
Sedangkan yang ditanya hanya tertawa, "Aku buk--"
__ADS_1
"Dia suamiku" Potong Rea pada ucapan Varest yang belum selesai terucap, tangannya berbalik merangkul pinggang Varest seraya menatap sang suami.
"Papanya Zee" Lanjutnya sembari memasang senyum yang paling manis.