Sunflower

Sunflower
Sebuah Rahasia


__ADS_3

Keiingin tahuan memang sifat yang sudah mendarah daging pada manusia, rasa ingin tahu yang tinggi bisa menjadi pembuka jalan bagi manusia untuk dapat mengetahui dan mengerti setiap pertanyaan yang muncul di benak.


Memberi gambaran kelak jalan apa yang harus kita ambil hasil dari keinginan tahuan kita, entah rasa ingin tahu membawa kita pada masa depan yang lebih baik atau kah membuka jalan mengulik masa lalu yang menyesakkan namun itulah yang harus kita terima.


Tangan keriput dari wanita paruh baya itu menggenggam erat kertas pada tangannya, matanya mengembun serta bibir yang bergetar menahan gejolak tertahan pada hatinya. Dipandanginya bocah berumur tiga tahun lebih yang sedang duduk dengan berbagai lembaran kertas disekelilingnya.


Hatinya sakit sungguh, permainan takdir apa ini?, Kakinya melangkah mendekati bocah dengan rambut hitam legam itu dan memeluknya erat, kepalanya mendongak berusaha menghalangi cairan bening untuk menetes pada pipinya.


"Nek, Ji tidak bisa nafas" Rengek Zee menggeliat merasa sesak dipeluk terlalu erat


Dilerainya pelukannya seraya menghapus air mata yang ternyata tak tahan untuk tidak menetes, "Maafkan Nenek sayang, Nenek cuma senang lihat Zee semangat gambarnya" elaknya


"Kata Mama kan, Ji halus jadi anak pintal-pintal, Nek" kata Zee sambil mengangkat pensil dan menggoyangkannya


Mama Nimas tersenyum sendu mencium kening yang tertutup rambut milik Zee, tangannya terangkat untuk melihat jam pada pergelangan tangan kirinya, dia harus bersabar untuk menanyakan langsung pada yang bersangkutan mengenai maksud dari apa yang dilihatnya barusan.


Menemani sang cucu belajar adalah pilihan yang tepat tetapi waktu semakin lama berputar, semakin dia menunggu maka semakin mangganggu pula pada benaknya, rasa tak sabar semakin menggerogoti hatinya hingga untuk kesekian kalinya dia melihat jam pada tangannya waktu sudah menunjukkan pukul 5 lewat sang cucu juga masih tertidur setelah kelelahan belajar dan bermain.


Tangannya terulur mengambil ponsel yang dia letakkan diatas kasur di samping Zee tertidur, dengan cepat dia mencari nomor kontak seseorang yang begitu mengganggu fikirannya sedari tadi.


"Cepatlah pulang ke rumah mu Rest, Mama ingin menanyakan sesuatu padamu , penting"


-


-


-


Derap langkah terdengar cepat menyentuh pada ubin lantai putih rumah milik Varest, lelaki itu berjalan diselingi lari kecil setiap mengingat nada perintah dari Mama Nimas yang menyuruhnya untuk segera pulang tanpa ada bantahan untuk bisa ditolak.


Prasangka buruk berterbangan dikepala mengenai keadaan anak dan istrinya yang dia tinggal di rumah apalagi tadi siang sang istri sempat memberi kabar jika Papa mertuanya dilarikan ke Rumah Sakit karena tiba-tiba jatuh pingsan.


ditariknya nafas kasar setelah itu dihembuskan perlahan saat sesampainya di depan pintu kamarnya. Tangannya terulur untuk membuka pintu tetapi terhenti tatkala sang Mama sudah terlebih dahulu membukanya dari dalam.


"Kita bicara di ruang kerja mu" ucap Mama Nimas dengan tatapan tak ingin dibantah.

__ADS_1


Meski merasa penasaran setengah mati dengan sikap sang Mama yang tiba-tiba bersikap dingin namun tak ayal dia tetap mengikuti langkah wanita tersayangnya itu menuju ruang kerjanya, menghindari tarikan pada telinga jika bertanya lebih dulu.


"Ada apa Ma?" tanyanya sesampainya mereka di dalam ruang kerjanya


Mama Nimas tak menjawab tapi tangannya bergerak cepat merogoh ke dalam tasnya mengambil sebuah amplop yang Varest tahu pasti itu apa, Mata Varest membulat tangannya terulur mengambil amplop ditangan sang Mama.


"Mama dapat ini dari mana?"


"Katakan pada Mama, apa maksudnya ini, Rest?" Mama Nimas terlihat menahan diri untuk tidak mengeraskan suaranya.


"Seperti yang Mama baca di kertas ini, itu yang sebenarnya" diusapnya wajahnya kasar seraya berjalan menuju kursi


"Rea adalah ibu kandung Zee, Ma" katanya lirih, "itu yang sebenarnya"


"Sejak kapan?, sejak kapan kamu mengetahuinya, Rest?" Wanita itu duduk di kursi yang berada disamping Varest


"Jawab Mama Rest!" katanya tak sabar saat tak ada jawaban dari Varest, sang Anak hanya diam menyembukan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Dua bulan yang lalu" jawab Varest lirih, "Sebelum ulang tahun Zee" lanjutnya


Bayangan masa lalu tiba-tiba melintas pada pandangannya. dipeluknya lutut sang Mama berusaha mencari kekuatan akan perasaan kacaunya saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan, Ma?" katanya lirih sambil terisak, "Aku yang sudah membuat hidup Rea dan Zee kehilangan kebahagiaan"


Sama halnya dengan Varest, Mama Nimas pun merasakan demikian sebuah permainan takdir yang begitu menyesakkan, tangan dinginnya mengelus kepala Varest pelan dan mendekapnya di dada tak ada yang bisa dia katakan saat ini selain menenangkan anaknya.


"Aku yang udah jadi penyebab meninggalnya ayah Zee, Ma" tangis Varest pecah dalam pelukan Mama Nimas, sebuah rahasia yang dia simpan akhirnya tak bisa lagi dia sembunyikan.


Sejauh mana dia berusaha menyembunyikan kenyataan pahit tentang rahasia yang yang telah membawanya pada sebuah ikatan pernikahan sepertinya sudah lelah untuk menjadi rahasia selamanya. Cepat atau lambat cerita itu akan timbul kembali pada kisah sang pemilik lembaran cerita.


"Papa sudah pulang yah?" suara Zee menginterupsi, bocah itu datang dengan segelas air ditangannya terlihat matanya masih sembab sepertinya baru saja bangun dari tidurnya.


Segera dia melerai pelukannya sambil menghapus air matanya, dia masih membelakangi sang anak tak ingin dilihat dalam keadaan kacau, Mama Nimas mendekati Zee dan merapikan rambut bocah itu lembut.


"Kok Zee sudah bangun?"

__ADS_1


"Mama bangunin Ji, telus suluh Ji siap-siap, tapi Ji haus jadi ijin Mama ambil ail dulu, telus dengal suala olang nangis, telus Ji kesini deh, eh telnyata ada Papa lagi sayang Nenek" Jelas bocah itu panjang, tangannya mengangkat gelas untuk memperlihatkan kepada neneknya.


Kalimat dari sang anak sontak membuat Varest berbalik, Rea sudah pulang.


Varest berlari kecil ke arah Zee dan menggendongnya cepat keluar menuju kamarnya, Mama Nimas yang melihatnya pun mengikuti Varest dengan panik. Pintu kamar terbuka memperlihatkan Rea yang membelakanginya, tangan wanita itu sedang membereskan sesuatu.


"Kamu sudah pulang, Re?" tanya Varest sembari menurunkan Zee dari gendongannya.


Tak ada jawaban, Rea diam seakan tak mendengar pertanyaan Varest tangannya masih lincah membereskan sesuatu yang ternyata adalah pakaian Zee, sampai dia melangkah ke arah lemari dan mengambil pakaiannya.


Varest panik dan mendekati Rea, digenggamnya tangan Rea yang ingin meraih koper yang berada di samping lemari, "Buat apa kamu menyiapkan pakaian Zee sebanyak itu, Re?"


"Lepaskan aku" ucap Rea datar, matanya merah menahan tangis


"Kalau masalah Opa, kita bisa pergi sama-sama, untuk pakaian kita tidak perlu membawa sebanyak ini" ujar Varest sambil menunjuk pakaian yang sudah terlipat rapi diatas ranjang.


"Tidak perlu, aku akan pergi dengan Zee berdua saja" Rea berucap tanpa melihat Varest


Varest mendesah pelan kembali meraih tangan Rea dan menggenggamnya, "Ada apa dengan mu? Kamu tidak mungkin membawa Zee dalam keadaan tidak tenang seperti ini" ucapnya pelan, Varest masih berusaha berfikiran positif


Lelaki itu menoleh kepada sang Mama yang berdiri di belakangnya dengan Zee yang menggenggam tangannya.


"Ma, tolong bawa Zee keluar sebentar" pintanya


Rea menghempas kasar tangan Varest setelah anak dan mertuanya keluar dan menutup pintu sembari mengeluarkan kalimat yang seketika membuat lelaki di depannya diam dengan wajah kagetnya.


"Tak ada yang tak mungkin sama halnya dengan kamu yang menyembunyikan jika Zee adalah anak ku, dan kamu adalah penyebab kepergian suami ku.."


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2