
"Sayaa--"
Brukk
Ponsel Rani jatuh dari genggaman Varest saat pintu terbuka dan terdengar suara Rea dari sana, reflek Varest menarik tangannya yang terulur tadi dan langsung berdiri dari duduknya sambil tersenyum kaku seakan baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang salah, sedangkan Andi yang masih duduk hanya bisa menegakkan tubuhnya ikut merasakan ketegangan di dalam ruangan itu sampai dia melihat gadis yang ikut dibelakang Rea dan merasa lemas seketika.
"A-andin?"
Andi mengalihkan pandangannya kesamping tak ingin terlalu menampakkan rasa senangnya melihat gadis yang dia kejar berdiri disatu ruang yang sama. Yah, dia sudah bertekad untuk menjalani rencananya dengan Varest tadi.
Varest merentangkan kedua tangannya sembari berjalan keluar dari celah sofa dan meja berniat mendekati sang istri yang masih berdiri dengan diam di depan pintu. "Sayang, kamu datang?"
Ah, pertanyaan macam apa itu? sudah lihat istrinya disana masih saja bertanya seperti itu. Rea menggigit kecil bibir bawahnya mendengar pertanyaan Varest, apa lelaki ini lupa rencana mereka hari ini?. Fikir Rea.
"Apa kamu sibuk?" Rea bertanya kepada sang suami namun matanya menatap kearah gadis yang duduk di sofa bersama Andi.
Rea tersenyum tipis sambil mengangguk saat Rani melambaikan tangan padanya disertai senyuman lebarnya, itu benar-benar mengganggu bagi Rea seakan ada sesuatu yang tiba-tiba memaksa keluar dari kepalanya, tanduk mungkin?.
"Tidak sibuk, kok. Kami hanya membahas masalah pekerjaan. Tidak lebih." Terang Varest menekan dua kata terakhir kalimatnya.
Dia menuntun Rea untuk duduk di sofa dan diikuti oleh Andin mengekor dibelakang Rea, sedikit canggung bagi Andin harus berkumpul di dalam satu ruangan dengan orang-orang yang memiliki aura bos yang kental, dia hanya menggunakan kemeja santai berwarna pink dengan celana jeans berwarna putih sangat berbanding terbalik dengan empat orang yang berada disana dengan setelan kantor yang dominan.
"Duduk, Ndin!" Rea menarik tangan Andin untuk duduk di sampingnya.
Andin patuh, dengan pelan dia mendudukkan tubuhnya di sofa, matanya sesekali melirik pada lelaki yang memakai kaca mata di samping Varest, tanpa dia ketahui bahwa lelaki itu juga meliriknya dari balik kaca mata hitamnya. Ah, beruntung bagi Andi hari ini.
"Rea..!" Dua pasangan yang duduk di sofa panjang itu menoleh pada asal suara.
__ADS_1
"Aku tidak salah nama kan?" Tanya Rani memastikan, bukan sengaja tapi memang dia tidak terlalu ingat nama istri dari Varest tersebut karena saat bertemu pertama kali dia masih dipenuhi sesak karena kaget dengan pengakuan Varest.
"Iya." Jawab Rea singkat.
"Ah, baguslah. Aku rasa kamu juga sudah menanyakan tentang aku pada Varest." Tepat sasaran, dan itu membuat Rea menjadi tak enak sendiri.
"Aku temannya Varest saat kuliah, dan mungkin bisa menjadi teman mu juga. Aku harap." Ucap Rani serius.
Rea hanya bisa tersenyum canggung seraya mengangguk. "Iya, aku menanyakan sedikit tentang mu pada suami ku. Tidak masalah, bukan?"
Gadis yang memakai jas merah itu terkekeh, "Tentu, tidak ada yang perlu disembunyikan, kami hanya berteman tidak ada yang spesial bahkan tidak akan pernah ada"
Rea tercenung mendengar jawaban Rani yang seakan mengerti fikirannya. Apakah Rea terlalu berlebihan menyikapi keberadaan gadis yang hampir seumuran dengan suaminya itu?. Suasana tiba-tiba membisu tanpa ada yang berniat untuk bersuara sampai kediaman itu dipecahkan oleh Andi yang berdiri sambil berdehem.
"Waktu istirahat makan siang ku sepertinya sudah habis." Sahutnya sembari melihat jam di tangannya. "Aku akan kembali ke kantor, Rest." Lanjutnya keluar dari celah sofa dan meja.
"Ndi, apa aku bisa ikut dengan mu?" Tanpa diduga Rani berdiri dan menahan tangan Andi yang sontak membuat lelaki jangkung itu membulatkan matanya dari balik kaca mata hitamnya.
"Ayo, Ran!, aku akan mengantar mu" Ujar Andi sebelum benar-benar pergi meninggalkan kecanggungan gadis yang tengah duduk menunduk disamping Rea.
Kepergian Andi masih menyisakan fikiran negatif bagi tiga orang di dalam ruangan itu, bukan hanya berfokus pada Andi atau Rani melainkan fikiran berbeda pada setiap kepala. Varest yang memikirkan ketakutan jika sang istri tidak mempercayainya, Rea dengan fikiran apakah salah dia menilai Rani, dan Andin yang merasa sikap Andi padanya berubah.
Tak ada yang berfikir sama. Namun, cukup mengganggu mereka. Maka, dengan sama-sama mengerjapkan matanya berkali-kali mereka kembali pada kesadaran masing-masing.
"Mbak Rea, mungkin lebih baik kembali ke cafe" Andin bersuara seraya berdiri dari duduknya.
"Kamu tidak apa-apa, Ndin?" Bukan menjawab, tapi pertanyaanlah yang diutarakan oleh Rea kala melihat wajah Andin yang lesu mendadak.
__ADS_1
"Tidak apa-apa" Andin menggeleng, ingin rasanya dia berkata jujur bahwa dia tak terbiasa dengan sikap lelaki yang biasanya perhatian malah mengacuhkannya tadi dan bertanya pada Varest penyebab dari sikapnya itu.
"Baiklah, hati-hati!" Kata Rea akhirnya.
Kini tinggal Rea dan Varest setelah kepergian Andin, nampak Rea masih terdiam di tempatnya dengan fikiran yang masih mengarah pada Rani, dia khawatir jika dia terlalu waspada dan membuat seseorang sakit hati karena sikapnya.
Varest yang melihat kediaman sang istri mendekat dan mengelus perut Rea di bawah sana, didekatkannya wajahnya tepat di depan perut sang istri dan berbisik. "Anak papa, apa kamu sehat di dalam sana?, tolong kasih tahu mama mu untuk tidak berfikiran aneh-aneh. Sepertinya mama mu sedang cemburu, katakan padanya papa sangat mencintainya."
Rea tersenyum sambil mengelus surai tebal Varest, "Sayang?"
"Hmm?" Varest mendongak dengan posisi kepala yang masih di depan perut Rea.
"Apa aku terlalu berlebihan menyikapi keberadaan Rani?" Tanya Rea
Varest menegakkan tubuhnya menatap lurus pada mata Rea kemudian menangkup kedua pipi sang istri dan megecup singkat bibir yang menggoda iman itu. "Tidak berlebihan, kamu adalah wanita pintar dalam menempatkan sikap, aku suka cara mu menunjukkan cemburu tanpa kebutaan dan tuli untuk mendengar penjelasan."
"Aku rasa Rani orang yang baik, mungkin aku bisa mengajaknya untuk berteman."
"Tapi, kamu tetap harus waspada. Bagaimana pun suami mu ini pernah mencadi incarannya."
"Sayaaaangggg"
Varest meledakkan tawanya mendengar rengekan Rea yang malah terlihat lucu. Dalam hatinya begitu sangat bersyukur bisa mendapatkan seorang istri seperti Rea, wanita penuh pesona dengan kedewasaan serta kepintaran dalam bersikap, elegan dan tentu kelembutannya yang membuat seorang Varest selalu terbuai saat bersamanya.
__ADS_1