
..."Aku akan menunggu. Sampai lupa rasanya menunggu."...
...***...
Sesuai dugaan Lia akan terus mengintrogasi diriku dari A sampai Z. Walau lama tidak pernah bertemmu dan terakhir bermain bersama saat usia lima tahun ternyata Lia cukup mengenal banyak tentang diriku dari hal kecil sampai hal yang besar. Aku bolos pelajaran dari jam pertama sampai istirahat kurang lebih sekitar tiga jam dan itu sukses membuat Lia kalang kabut. Pasalnya dia tau aku telat dan di hukum berlari keliling lapangan dari Sata yang tidak sengaja melihatku ketika dia hendak ke toilet.
"Emang keliling lapangan memerlukan waktu tiga jam ya?" sindir Lia menatapku sinis. Kami sekarang tengah berada dikantin. Aku menghiraukan sindiran Lia tadi dan fokus makan. Jujur aku sangat lapar.
Lia memutar bola matanya malas ketika aku dengan sengaja meliriknya. Situasi ini seperti seorang gadis yang pulang terlambat lalu dihadang oleh mamanya. "Jawab kek kalo ditanya itu." Aku seperti kepergo tidak pulang semalaman.
"Nanti aja deh wawancaranya gue laper nih dari tadi pagi belum makan."
"Lagian lo kenapa sih sampek telat kayak gini." Lia dengan sadis memakan nasi gorengnya dengan tenaga seakan memperlihatnya jika dia tengah kesal.
"Bangun kesiangan."
"Bohong."
"Bener."
"Bener bohong."
"Enggak bohong."
"Tuh kan bener bohong." kata Lia kesal. "Gue tau ya mana bohong mana enggak. Lo mah mana mungkin bangun kesiangan dirumah hantu itu. Gak usah ngarang deh."
Aku cemberut memang susah jika harus berbohong pada Lia. Cewek ini pintar. Aku sengaja tidak ingin memberitahu yang sebenarnya pasalnya aku tengah malas untuk bercerita.
"Mama nyuruh cuci piring dulu baru boleh berangkat." Akhirnya aku cerita juga ke Lia. "Karena keasikan bercerita dengan Bibi gue jadi lupa waktu."
Lia memincingkan mata menatapku lalu dia menganguk percaya. Memang gadis pintar dia tau mana bohong mana tidak. "Nenek lampir itu masih jahat aja sama lo. Trus anak lampir juga."
Aku hanya tersenyum menanggapi Lia sudah biasa Lia memanggil Mama dengan sebutan Nenek lampir. Aku pernah memarahinya tapi tidak mempan.
"Eh tapi Tha kok gue gak pernah liat Hana ngeliat lo ya." Lia memelankan suaranya.
"Ngapain juga di ngeliat gue."
"Iya juga sih lo kan hanya upik abu dirumah itu." Lia mengangguk-ngangguk. "Tapi gue masih penasaran kemana lo tiga jam gak masuk kelas."
Aku menghembuskan nafas pelan kukira Lia sudah lupa ternyata tidak. "Aku di UKS."
"Ngapain?"
"Tidur."
Lia menatapku tanpa ekspresi.
Aku menyengir tanpa dosa. "Tadi pingsan dikoridor."
"TUHKAN APA GUE BILANG!" Teriak Lia mengundang tatapan warga kantin. Aku memukul kepalanya dengan sendok. "Gak usah teriak juga anoa!!"
"Kaget gue." raut wajah Lia berubah. "Lo gak apa-apa kan? Mana yang sakit?" Lia berpindah duduk disampingku yang awalnya ada didepanku kini cewek itu tengah membolak-balikan badanku ke kanan ke kiri mengecek apakan anggota tubuhku masih utuh.
Aku terkekeh pelan. "Masih lengkap ini."
"Lo tuh jangan ceroboh deh." Lia mendorong jidatku pelan. "Bikin orang khawatir aja. Mana ponse lo."
"Buat apa?"
"Mau khususin nomer gue biar lo gampang nelpon gue."
Aku menyerahkan ponselku kepada Lia lalu cewek itu asik dengan ponselku. "HP lo emang retak gini ya kacanya?" heran Lia membolak-balikan ponselku.
"Iya kemarin jatuh." Bukan kemarin sih tepatnya tapi waktu dibandara tidak sengaja ada yang menyenggolku dan ponselku jatuh berakhir layarnya retak tidak parah sih.
"Kenapa gak lo benerin atau gak beli yang baru lo kan banyak duit."
"Maih bisa dipakek itu nanti aja dibenerin."
"Masih sama ya lo." Lia menyerahkan ponseku kembali aku langsung memasukan kesaku seragam. "Tadi waktu pelajaran ada yang nyari gue gak. Guru misalnya secarakan gue baru disini tapi udah bolos pelajaran."
Lia tampak berfikir sebentar. "Ada bu Yasmin tapi Sata udah bilang kalo lo dihukum."
Aku menyengit heran. "Sata? Kok bisa Sata bukan lo."
"Gue gak tau lo dihukum ya dari situ gue tanya ke Sata katanya liat lo lari dilapangan."
"Tap--"
"Nih minum."
Aku mendongak menatap cowok yang meletakkan jus Alpukat didepanku. Sata.
"Ngapain dah lu?" tanya Lia menatap curiga Sata. "Lu gak kasih racun kan keminuman ini?"
__ADS_1
"Kalo sampek gue kasih racun lima menit kemudian kepala gue udah gak nyatu sama leher."
"Kok ngasih gue jus?" tanyaku melihat jus kesukaanku ini. "Buat gue kan?" tanpa pikir panjang langsung ku minum jus itu membuat Lia melotot.
"Goblok kalo dijampi-jampi sama Sata gimana onta!!" Lia kembali mendorong jidatku. "Kena angin apa lo beliin Agatha jus?" Lia kembali menatap Sata.
"Bukan gue yang beliin gue cuma nganterin."
"Trus siapa?"
"Rahasia."
Bukk.
"Yang bener lo kalo ngomong!!" Lia menendang kaki Sata keras. Lalu menatapku yang masih menikmati jus yang dibawa Sata. "Nih anak malah ngenakin minum."
"Kenapa sih kan tadi Sata udah bilang kalo ada racunnya kepala dia bakal pisah sama tubuh. Kita liat aja lima menit kedepan kepalanya masih nyatu gak."
"Kalo gak berarti diminuman itu ada racunnya pinter." gemas Lia. "Trus lo keracunan dan nyusul Sata."
Aku diam. "Iya juga ya." polosku.
Sata terbahak ditempatnya. "Tuh dengerin temen lo." Sata menoyor kepala Lia pelan lalu berlalu pergi.
"Tadi kata Sata siapa yang ngasih jus ini."
"Mana gue tau kenapa gak lo tanya sendiri aja tadi." kesal Lia meminum jus jeruknya.
"Gue gak bisa berpaling kalo sama jus Alpukat." Lia hanya menatapku datar.
"Terserah."
Aku mengangkat bahu tidak peduli. "Eh Lia gue mau cerita deh."
Lia menoleh padaku, "Apa?"
"Cowok disebelah sana itu siapa sih? Tapi lo nolehnya jangan langsung kesana pura-pura nyari apa gitu."
"Disana itu dimana kampret."
"Dipojokan kantin itu loh duduk satu meja sama Sata."
Lia pura-pura merenggangkan lehernya lalu melirik meja yang kusebutkan. "Yang mana?"
Ku lihat Lia melotot lebar menatapku. "Apaan sih ngeri gue."
"Lo punya masalah apa sama Mark hah?"
"Mark siapa?"
"Yang liat kesini itu Mark bego! Salah satu cowok yang gue ceritain kemarin." bisik Lia sambil minum jusnya. "Gue tadi juga ngerasa kayak ada yang memperhatiin meja ini. Tapi yakin gue diliatin lo dari tadi tapi sesekali dia ikut bercanda dengan temen-temennya biar gak ketahuan."
Aku kaget jadi dia yang diceritakan Lia kemarin. Jujur aku baru melihat wajahnya sekarang karena dari kemarin Lia tidak memberi tahuku yang mana namanya Mark. "Lo yakin dia liatin gue? Lo kali kan gue baru disini masa dia tau gue gak mungkin lah."
"Kok lo jadi bego sih." Lia kembali mendorong jidatku. Heran deh salah apa jidatku ini.
"Lo demen ya sama jidat gue dari tadi didorong mulu." protesku.
Lia menggertakan giginya gemas. "Kapan sih lo pinternya emang cerita gue kemarin kurang jelas ya."
"Cerita lo yang mana deh lo cerita banyak soalnya."
Lia mengacak rambutnya frustasi.
"Jangan gitu nanti orang kiranya lo udah gila." Aku terbahak sangat senang rasanya melihat Lia sefrustasi ini.
"Gue gila karena lo kampret." Lia membenarkan rambutnya yang berantakan. "Mark tuh bukan tipe cowok yang bakal terang-terangnya ngeliatin orang. Apalagi cewek. Selama hampir satu setengah tahun gue sekolah disini gak pernah dengan yang namanya Mark itu deket sama cewek apalagi ngelihatin sampek kayak gitu."
Aku menatap Lia tidak mengerti.
"Ada dua kemungkinan. Pertama Mark jadiin lo target dan yang kedua Mark tertarik sama lo."
"Gak usah ngaco deh. Mana mungkin." kataku tidak membenarkan ucapan Lia. "Tapi tadi waktu gue dihukum dia ngawasin gue mulu kan barengan sama kelas dia olahraga. Pas dada gue sakit dia juga ngeliatin gue aneh gitu." kataku kembali meminum jus Alpukat diatas meja.
Brakk.
"APA LO BILANG?"
Kedua kalinya Lia membuat kami menjadi pusat perhatian. Saking terkejutnya aku hampir tersedak karena Lia dengan spontan menggebrak meja. Dasar cewek ini tidak tau situasi.
"Lo kenapa sih malu tau diliatin." kataku berdiri. "Bukan temen gue." aku berlalu dari kantin menyisakan tanda tanya para siswa yang melihatnya.
"HEH GUE BELUM SELESAI! BALIK GAK?!"
***
__ADS_1
"Liatnya biasa aja dong. Gak bakal ilang dia."
Mark menoleh ke sumber suara. Jeno menatapnya sambil tersenyum membuat matanya hilang. Sata yang baru datang bergidik ngeri melihat senyum Jeno yang tampak menyeramkan.
"Lo kenapa deh senyum kek gitu. Serem njir." Sata mengusap tengkuk lehernya.
"Geli gue liat Mark." Jeno terkekeh pelan. "Baru kali ini gue liat Mark kayak gini."
Sata ikut terkekeh. "Iya juga sih. Mana gue harus lapor setiap satu jam sekali lagi. Sadis gak sih."
Jeno melotot. "Seriusan lo harus lapor satu jam sekali?"
"Iyalah kalo satu jam gue gak lapor bakal dispam gue sama dia. Kan ngeri dia gak pernah ngechat sekalinya ngechat nyepam."
"Lo udah gede ya Mark." Jeno menepuk bahu Mark sementara yang ditepuk hanya memutar bola mata malas. Sata dan Jeno tambah terbahak.
"Ehh mau kemana lo?" Jeno menahan Mark yang hampir berdiri. "Gak usah aneh-aneh."
Mark kembali duduk. "Dia hampir tersedak tau." kata Mark khawatir.
Jeno dan Sata saling pandang lalu terkikik geli.
"Hampir tersedak Mark belum tersedak gak usah sekhawatir itu." kata Sata menahan tawanya. "Dia gak bakal kenapa-napa."
Mark menghiraukan ucapan Sata dan kembali memperhatikan cewek yang tengah berjalan keluar kantin dengan wajah menahan malu. Mark tersenyum.
"Lucu."
Mark menyadari jika sejak tadi kedua sahabatnya tengah menatapnya aneh. "Kenapa sih lo berdua udah makan aja sana." kata Mark salah tingkah.
"Akhirnya lo puber juga Mark."
Mark kembali diam dan meminum jus semangkanya dengan tenang.
"Hai sayang." sapa seorang cewek cantik dengan baju yang super ketat dengan make up yang lumayan tebal.
Ketika cowok itu memandang cewek itu tidak minat. Bukan bertiga karena Mark tidak menoleh sama sekali jus semangkanya lebih menarik.
"Sayang kok kamu ngacangin aku sih?" cewek itu bergelayu manja dilengan Mark yang langsung ditepis oleh cowok itu.
"Yah ada ondel-ondel" kata Sata malas. "Ya ampun Melani lo gak punya malu ya udah berapa kali Mark nolak lo." kesal Sata.
"Kenapa sih lo bawaannya sewot mulu ketemu gue."
"Gak tau liat wajah lo aja bikin gue sebel."
"Sirik lo karena gue lebih deket sama Mark daripada lo."
Sata dan Jeno saling pandang tidak mengerti. "Emang lo deket sama Mark?"
"Jangan ngimpi." kompak Jeno dan Sata.
"Gue kasih tau ya mbak Melani." kata Sata serius. "Mark itu udah ada yang punya jadi lo gak usah deket-deket sama dia lagi."
"Maksud lo apa?" sewot Melani pada Sata. "Siapa yang udah miliki Mark?"
"Kita." kata Jeno dan Sata bersama. "Lo mah gak ada apa-apanya."
"Sebenarnya lo tuh mau sekolah atau apa sih? Tebel banget tuh bedak emang kalo lo makek gituan Mark bakal seneng? ENGGAK." Kata Jeno melirik Melani sinis.
"Pokoknya gue gak setuju ya Mark lo sama ondel-ondel ini." kata Sata.
"Gue juga." sambung Jeno. "Gak ridho gue. Gak gue restuin."
"Sayang temen kamu itu kenapa sih?" manjanya pada Mark.
Mark menoleh pada Melani dengan wajah datar. "Siapa yang lo panggil sayang? Gue bukan pacar lo jadi jauh-jauh dari gue."
Melani memasang wajah yang sengaja dimelaskan yang terlihat menjijikan dimata Sata. Jeno bergidik ngeri. "Ada ya manusia kayak gini." Jeno berdiri mengikuti Mark.
"Yuk sayang kita pergi dari sini." kata Sata sengaja bergelayu manja dilengan Mark sementara Mark menatapnya tanpa ekspresi. "Sayang disini ada cabe lampu merah nanti tuan putri cemburu yuk pergi." kata Sata menarik lengan Mark menjauh sementara Jeno mati-matian menahan tawa.
"Gue ingetin dari sekarang lo gak bakal bisa merebut hati seorang Mark." kata Jeno didepan wajah Melani. "Mark gak suka cewek yang banyak tingkah kayak lo."
"Emang lo siapanya Mark sampai tau kayak gitu?" sewot Melani menyilangkan tanganya didada.
"Lo lupa gue sahabat dari kecilnya Mark. Luar dalam Mark gue udah tau. Lo bukan tipe Mark." kata Jeno remeh.
"Kita liat aja gue bakal buat Mark bertekuk lutut dihadapan gue." kata Melani percaya diri.
"Percaya diri banget lo. Oke gue tunggu." kata Jeno ingin pergi tapi baru dua langkah Jeno membalikan badanya. "Saran gue mending lo gak pergi terlalu jauh."
Melani mengepalkan tangan marah. "Kita lihat aja siapa yang bakal menang." Melani meraih ponsel disaku seragamnya menguhubungi seseorang. "Cari siapa cewek yang tengah dekat dengan Mark."
***
__ADS_1