
Seperti sebuah gelas kaca yang berisi air dan terjatuh bukan hanya airnya yang akan tumpah dan membasahi permukaan namun gelasnya pun sama pecah dan tak berbentuk.
Sama halnya dengan saat ini wadah yang menyimpan rahasia telah terjatuh dan membuat isi dalamnya tercecer keluar memberi rasa sakit pada pemiliknya.
Konsepnya akan selalu sama, selalu ada yang terluka untuk semua yang telah disimpan dan akhirnya terkuak. Percayalah rahasia tak akan pernah bisa disembunyikan sejauh dunia runtuh dan rata oleh tanah.
"Apa aku salah, hah?" Tanya Rea penuh amarah
"Kenapa kamu diam? Katakan!"
Varest terpekur, segala bayangan buruk melintas pada benaknya, ini hanya lah mimpi hanya ilusi.
"Katakan pada ku, Rest!" desak Rea emosi
Dibaliknya tubuhnya untuk kembali mengambil koper yang sempat tertunda tadi, tapi sekali lagi tangannya terhenti kala sepasang lengan kekar melingkar pada perutnya, Varest memeluknya dari belakang dan menumpukan dagunya pada bahu Rea.
"Maafkan aku Re, maaf, maafkan aku" Kata Varest lirih, mulutnya seakan terkunci untuk mengatakan sesuatu yang lebih dari kata maaf.
"Lepaskan aku Rest!" ucap Rea, pertahanannya runtuh, air matanya luruh membasahapi pipi putihnya.
"Aku mohon Re, maafkan aku" seakan tak mendengar ucapaan Rea, varest semakin mengeratkan pelukannya pada perut sang istri.
Rea menggeleng sambil berusaha melepaskan tangan Varest yang melingkar pada perutnya.
"Lepaskan aku Rest!, aku butuh waktu" tangisnya pecah,
Tak bisa lagi dia menahan sesak pada dadanya, kenyataan ini begitu menyakiti dan menghancurkannya. Dia hanya berharap jika apa yang dia dengar adalah kesalahan tapi kata maaf yang diucap berkali-kali oleh sang suami sangat menusuk pada hatinya.
Satu kata namun menjadi jawaban untuk harapannya, bahwa suaminya sekarang adalah penyebab kematian suaminya dulu.
"Kenapa kamu tidak mengelak, Rest? Kamu menyakitiku dan juga Zee" Rea memberontak tangannya masih sibuk melepaskan pelukan Varest.
Varest membalik tubuh Rea menghadapnya dan kembali memeluknya erat, dia terisak menciumi pucuk kepala Rea.
"Maafkan aku telah menyakiti mu, Re. sekalipun aku tidak pernah berniat menyakiti mu dan juga Zee"
__ADS_1
"Apa kamu fikir aku akan memaafkan mu?"
Reflek Varest melerai pelukannya, dipandanginya wajah sendu Rea lekat, "Re.."
"Aku tidak bisa Rest, ini terlalu sakit buat ku, tolong lepaskan aku, biarkan aku pergi dan juga Zee"
Varest menggeleng panik, tangannya bergerak mencari tangan Rea untuk dia genggam, tak pernah dia membayangkan jika Zee juga akan pergi meski memang seharusnya itu adalah kemungkinan besar yang bisa terjadi saat rahasia terungkap.
"Tidak Re, tidak, kamu tidak boleh pergi terlebih Zee" katanya
"Kenapa tidak?, Zee anak ku" ujar Rea sambil menghempaskan tangan Varest, "Zee adalah anak kandungku dan aku punya hak penuh atas dia"
"Tapi kalian adalah keluarga ku, kamu istri ku dan Zee juga adalah anak ku, aku tidak bisa membiarkan kalian pergi" bentak Varest, dia tak bisa lagi menahan amarah, rasa marah pada dirinya sendiri dan situasi yang sangat menghimpitnya.
Dirangkumnya kedua pipi Rea dan mencium bibir sang istri kasar, "Kamu istri ku Re, dan Zee adalah anak ku, kamu istri ku, istri ku" racaunya ditengah ciumannya pada bibir Rea.
"Lepaskan aku" Rea mendorong tubuh Varest hingga mau tidak mau ciuman itu terlepas, matanya nyalang memandang ke arah Varest
"Yah, aku istri yang kamu nikahi karena rasa bersalah mu"
Sampai suara pada roda koper menyadarkannya dan melihat Rea sudah berdiri di depan pintu untuk membukanya, segera Varest menarik tangan Rea dan membuat wanita itu terjerembab dalam pelukan Varest.
"Tenangkanlah dirimu, aku tidak akan lagi menahan mu, ini semua kesalahan dan dosa ku, kamu pantas jika membenciku" katanya lirih mengelus punggung Rea
"Tapi aku mohon biarkan aku bersama Zee untuk malam ini saja, aku mohon, setelah itu aku sendiri yang akan membawa Zee kepada mu"
Varest mengeratkan pelukannya dan mencium pucuk kepala Rea dalam, tanpa lelaki itu sadari jika wanita yang saat ini berada dalam pelukannya itu sedang menahan tangis setengah mati, bibir bawahnya dia gigit agar suara isak itu tak terdengar olehnya.
-
-
-
"Mama mau kemana, Pa" tanya Zee ketika melihat Mamanya memasuki mobil yang biasa mengantar jemputnya.
__ADS_1
"Mama sementara tinggal di rumah Oma dan Opa"
"Kenapa?"
"Oma lagi butuh Mama, Oma sama Opa lagi kangen Mama"
Nampak Varest kembali menahan air matanya, diraihnya Zee kedalam pelukannya. Mama Nimas yang berada di sampingnya pun tak kuasa menahan tangisnya. Wanita paruh baya itu mengelus pundak sang anak merasa prihatin dan kasihan atas takdir yang telah diberikan Tuhan pada anak semata wayangnya itu.
"Kenapa Papa nangis?" agaknya Zee menyadari jika sang Papa tengah menangis.
Anak itu memegang wajah Varest dan menghapus air mata sang Papa dengan kedua tangan kecilnya, "Papa kangen Mama juga yah?"
Varest mengangguk.
"Tidak usah sedih, kan ada Ji disini" bocah itu menepuk dadanya tiga kali memberi keyakinan jika dia bisa diandalkan, "Besok kita ke lumah Oma sama Opa, bial bisa sama-sama Mama lagi"
Kembali Varest mengangguk setelahnya menggendong Zee untuk dibawa ke dalam rumah.
Malam semakin larut tak terasa pertengkaran Varet dan Rea tadi berlangsung cukup lama, Mama Nimas memutuskan untuk pulang setelah dipaksa oleh Varest dengan mengatakan jika dia tidak ingin membuat Papa Bayu khawatir jika sang Mama menginap.
Dibawah selimut yang menutupi hingga ke dada Varest tak hentinya memeluk Zee sayang, di ciumnya pucuk kepala anaknya itu berkali-kali.
"Papa kenapa?" seperti seorang anak yang mengerti jika suasana hati sang Papa dalam keadaan kacau, Zee mendongak memperhatikan wajah Varest.
"Papa kangen Mama lagi, yah?"
Varest tak menjawab hanya memandangi wajah malaikat kecilnya. Tiba-tiba Zee menggeliat dari pelukan Varest dan berdiri, dipeluknya kepala sang Papa sayang seraya berkata,
"Zee tidak mau Papa nangis, Zee tidak akan tinggalin Papa"
Tangis Varest pecah, mungkin kalimat itu akan selalu menjadi penenang untuknya kelak, karena pada kenyataannya dia tak bisa menahan Zee atau pun Rea untuk tinggal disisinya, dia mengerti bahwa kesalahan di masa lalu telah menjadi dinding kokoh yang terbangun sejak lama sebagai sekat pemisah antaranya dan juga Rea, dinding yang awalnya hanya bayangan sekarang telah menjadi nyata.
"Apa Zee mencintai Papa?" tanyanya
Meski tak paham mengenai kata cinta yang ditanyakan oleh sang Papa tetapi Zee tetap mengangguk. "Zee cinta Papa banyak-banyak" jedanya "Mama juga banyak-banyak" lanjutnya seraya mencium pipi Varest.
__ADS_1