Sunflower

Sunflower
Tiga anak cukup


__ADS_3

"Bagaimana, Fan?"


Fani menghela nafasnya mendengar pertanyaan yang sudah ketiga kalinya ditanyakan oleh suami pasiennya, Convex probe yang dia pegang bahkan belum menyentuh permukaan perut yang sudah dilumuri gel. Tapi, lelaki yang dia panggil kakak itu sudah memasang wajah keponya untuk mengetahui jenis kelamin sang anak.


Rea yang melihatnya malah terkekeh gemas dengan ekspresi sang suami, mulutnya menganga dengan tatapan lurus menatap pada layar monitor, tak sabar. Kehamilan Rea baru berjalan 13 minggu dan selama itu ngidam yang biasa dialami oleh Varest sudah tidak separah awal kehamilan Rea.


Sebenarnya Rea sudah pernah menjelaskan kepada Varest jika jenis kelamin dalam kandungan baru akan terlihat setelah usia kehamilan sudah menginjak 4 bulan ke atas. Tapi, seakan ditulikan oleh rasa antusias Varest tak juga menghiraukan dan kekeuh untuk menanyakan langsung kepada Dokter Fani sepupunya.


"Kak, jenis kelaminnya belum terlihat." Kata Fani singkat, tangannya dia arahkan ke kiri dan ke kanan di atas perut Rea yang belum terlalu besar.


Varest mendesah pelan, "Jadi belum ketahuan boy or girl?" Tanya Varest memastikan.


Fani menggeleng yang dijawab anggukan pelan oleh Varest. "Usia kandungan kak Rea baru 13 minggu, janinnya masih sepanjang kelingkingnya kak Varest sekitar 7cm dari kepala sampai kaki, beratnya juga baru 31 gram." Jelas Fani sembari menutup kembali perut Rea dengan kain.


Dokter cantik itu berjalan menuju mejanya dan diikuti oleh Varest yang merangkul Rea di sampingnya. "Ini sudah masuk awal trimester kedua tetap harus menjaga kesehatan dan vitamin harus rutin di konsumsi, pola makan dijaga serta tidurnya harus teratur."


"Kak Rea, masih sering mual?"


"Bukan Rea yang mual, Fan." Varest menjawab cepat meralat ucapa Fani. "Tapi aku, mungkin kamu bisa memberikan aku vitamin juga"


Rea dan Fani terkekeh juga tak lupa dengan perawat yang berada disana. "Vitamin apa yang harus aku kasikan padamu, kak? Vitamin untuk ibu hamil?" Fani menggelengkan kepalanya.


"Siapa tahu ada saran yang bagus buatku selain membawa parfum dan aromaterapi yang harus menempel di hidung." Sarkas Varest mengedikkan bahunya.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu tidak ikhlas menggantikan peran ku mengidam?" Rea bersuara pura-pura mengambek.


"Bu-bukan begitu sayang, kalau aku bisa memilih untuk sepuluh anak kita berikutnya yang akan kamu kandung, aku akan memilih untuk mengandungnya untuk mu, agar kamu tidak merasakan kesusahan."


"Sayang, ini bukan kesusahan. Bagi seorang wanita dan istri, mengandung adalah suatu nikmat dan anugrah dari Tuhan, kamu tidak boleh mengatakan seperti itu." Rea memperingati, sedikit tidak suka dengan pilihan kata sang suami.


Varest melipat bibirnya melihat ekspresi tak suka dari sang istri, dengan cepat dia melingkarkan tangannya pada lengan Rea dan tangan satunya dia pakai untuk mengelus perut istrinya. Pelan dia menunduk sampai pada perut sang istri seperti biasa untuk berbicara pada calon anak kedua di dalam sana.


"Sayang, maafin papa yah. Kamu mengerti maksud papa sebenarnya, kan?, Papa menyayangi mu dan menantikan mu, jadi mana mungkin papa bilang kesusahan, papa hanya salah memilih kata. Tolong maafin papa, yah?"


"Sayang, maafin aku. yah?" Varest beralih pada Rea, sempat-sempatnya dia mengecup pipi sang istri.


"Ekhemm..!"


"Sus, apa AC nya rusak?"


"Hah?"


"Aku merasa ruangannya tiba-tiba panas" Sarkas Fani yang membuat Rea terkekeh sedangkan Varest langsung menggaruk tengkuknya tanda salah tingkah.


Fani sebenarnya paham kebucinan kakak sepupunya itu, dia mengenal baik sifat Varest yang menurutnya adalah lelaki yang sangat sempurna untuk dijadikan sebagai kriteria suami idaman, dia pun sebenarnya berharap tipe untuk suaminya kelak akan memiliki sifat yang tidak berbeda jauh dengan kakaknya tersebut. Seperti itulah baiknya Varest.


"Kak, aku sudah begitu perhatian pada mu. Aku sudah menyemprotkan parfum yang kamu suka saat kamu mengabariku akan datang. Jadi, kamu harus berterima kasih pada ku." Ucap Fani bangga.

__ADS_1


"Tenanglah, bukannya aku sudah menjanjikan klinik untuk mu?, sebelum ipar mu melahirkan klinik itu akan selesai, jadi kamu bisa menjadi dokter pribadinya apalagi masih ada 10 calon keponakan lagi yang belum rilis."


Rea mencebikkan bibirnya mendengar kalimat yang Varest ucapkan, 10 anak lagi? seperti tak memiliki tulang saja di tenggorokan lelaki itu sampai dengan lancarnya dia berkata demikian, emang dia fikir Rea kucing?.


"Rest, aku ingin mengikuti program pemerintah, 3 anak cukup." Sarkasnya seraya mencubit pinggang Varest hingga membuat lelaki itu meringis.


"Aduuhh, I-iya sayang, 3 anak cukup." Kata Varest mengelus kasar bekas cubitan sang istri.


Pemeriksaan yang seharusnya memakan waktu hanya sekitar 10 menit itu malah berjalan lebih lama dikarenakan Varest yang selalu menggoda dan menanyakan sesuatu yang kurang penting, beruntung mereka datang mendekati jam makan siang jadi mereka adalah orang terakhir yang melakukan pemeriksaan siang itu.


"Fan, terima kasih yah waktunya. Maaf juga sudah membuat waktu makan siang kalian jadi terlambat." Ucap Rea tak enak pada Fani dan perawat yang berada di dalam ruangan itu.


Mereka mengangguk paham, sebuah senyuman tulus kedua lengkungkan di bibir, sebenarnya hal biasa saat melihat pasutri yang menanyakan banyak pertanyaan seputar apa yang bisa dan tak bisa dilakukan. Itu adalah hal yang wajar dan patut untuk diketahui agar bisa menjaga ibu dan kandungan.


Varest dan Rea sudah berada di dalam mobil, mereka tidak akan kembali ke rumah ataupun ke kantor dan cafe melainkan ke sekolah Zee untuk menjemputnya makan siang, sekalian untuk mengajak sang putra mendatangi makam papa kandungnya yaitu Keenan.


Baik Rea maupun Varest sudah sepakat akan memperkenalkan nama Keenan kepada Zee, meski tak langsung memperkenalkan mengenai status Keenan bagi Zee tapi mereka paham Zee juga memiliki hak untuk mengetahuinya. Cepat atau lambat anak itu akan tahu siapa papa kandungnya, dan agar kelak Zee terbiasa dengan nama Keenan maka, Varest dan Rea mulai dari sekarang membuat agenda setiap sebulan sekali akan mengunjungi pusara lelaki yang pernah menjadi belahan jiwa Rea tersebut serta mengajak Zee ikut serta.


"Sayang, kamu benar-benar tidak keberatan kan memperkenalkan kak Keenan pada Zee?" Tanya Rea memastikan sesampainya mereka di depan gerbang sekolah sang putra.


Varest menggeleng seraya tersenyum kemudian meremas tangan kanan Rea pelan. "Kenapa aku harus keberatan?, Zee berhak mengetahuinya cepat atau lambat. Bagaimanapun reaksinya kelak dia tetap akan jadi anak ku, anak sulung ku"


Jika boleh jujur, Varest belum siap untuk kemungkinan yang akan terjadi nanti, entah Zee akan menerima saat dia siap untuk mengerti sebuah masalah atau pun menyalahkan jika dia mengetahui bahwa papa sambungnya adalah salah satu orang yang menjadi penyebab meninggalnya sang papa kandung.

__ADS_1


__ADS_2