Sunflower

Sunflower
Terlalu lancang


__ADS_3

Rani duduk dengan gelisah di salah satu kursi dengan meja bundar di depannya, matanya kian menyapu pada parkiran di luar ruangan, tangannya dia remas diatas pangkuannya serta bibir bawah yang dia digigit perlahan. Sudah sekitar setengah jam dia menunggu. Namun, orang yang dinanti tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.


Kakinya bergerak dibawah kolong meja antara ingin berdiri dan tetap duduk, tapi nyatanya kepercayaan pada lelaki yang dia tunggu meruntuhkan niat untuk pergi dari sana, dia memutuskan untuk menunggu setidaknya setelah jam sudah menunjuk tepat pada angka 3.


Menghela napasnya pelan kembali dia memanggil pelayan untuk sekedar memesan segelas minuman, ini adalah minuman ke tiga semenjak dia mendudukkan dirinya di kursi, berselang beberapa menit minuman yang dia pesan datang dia aduk sekilas setelahnya dia sedot cairan kental berwarna pink itu tersebut.


Tangan kirinya terangkat melihat jam yang terpasang disana sampai suara bariton sedikit mengagetkannya. "Maaf saya telat"


Rani sempat terpaku melihat lelaki yang ditunggu akhirnya datang meski hanya ekspresi datar yang terlukis di bingkai wajah lelaki tersebut. "Tidak masalah, Rest." Katanya sembari menggeleng singkat.


Varest tak menimpali, alisnya menukik melihat 2 gelas kosong bekas jus strawberry di atas meja, dia bisa meyakini jika wanita yang duduk di depannya ini pasti sudah lumayan lama menunggu disana.


"Aku pesankan kamu makan yah?" Tawar Rani


"Tidak perlu, saya sudah makan siang di kantor tadi." Tolak Varest.


"Di kantor?"


"Iya, Rea membawakan saya makan siang." Rani tersenyum miris.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan, saya rasa ini bukan masalah pekerjaan, kalau iya kamu bisa menghubungi asisten saya."


Sedikit mendengus, "Rest, bisakah kamu untuk tidak bersikap formal?, aku memang bukan mau membahas pekerjaan, jadi bersikaplah santai!" Ujar Rani menjeda kalimatnya, "Aku mau memastikan sesuatu."


Varest bergeming menunggu kalimat apa yang akan diucapkan oleh teman kuliahnya itu.


"Apa benar Rea sebelumnya sudah pernah menikah?" Rani berucap tegang.

__ADS_1


Dimainkannya lidahnya di dalam mulut mendorong pipi bagian dalamnya, matanya menatap tajam pada Rani. "Kamu terlalu banyak mencari tahu, Ran. Dan aku tidak menyukai itu." Ujarnya penuh penekanan.


Tak gentar, Rani sudah kepalang basah. Maka, dengan menarik nafasnya kasar dia kembali ingin melanjutkan pembahasannya, apa yang dia lihat beberapa hari yang lalu membuatnya kefikiran sepanjang malam. Melihat Varest dan Rea berada di taman hiburan dengan Varest yang menggendong bocah laki-laki dan memanggil Varest dengan sebutan papa.


Dia cukup tahu jika pernikahan Rea dan Varest baru berjalan setahun kurang lebih, lalu siapa anak itu?. Rasa penasaran yang membuncah di benaknya mau tidak mau memaksanya untuk mencari tahu, dan betapa terkejutnya dia mendapati informasi jika anak itu adalah anak Rea dari suami pertamanya yang meninggal beberapa tahun lalu akibat sebuah kecelakaan.


"Maaf Rest, tapi aku cuma mau memastikan kalau apa yang aku katakan ini salah, Aku tid-"


"Apa yang kamu katakan itu benar, istri ku pernah menikah sebelumnya, lalu apa yang menjadi masalahnya?" Ucapan Rani menggantung kala Varest memotong kalimatnya.


"Jadi benar kamu menikah dengan istri dari korban kecalakaan itu?"


Varest mendengus, "Yah, aku tak perlu heran jika kamu mengetahui semuanya, koneksi mu cukup kuat untuk mencari informasi pribadi seseorang."


"Rest, aku hanya tidak mau kamu menikahi dia karena rasa bersalah mu." Kata Rani meraih tangan Varest yang hendak berdiri.


"Aku tidak sepicik itu,Ran.! kamu tahu betul bagaimana aku menjaga perasaan orang, apa kamu fikir aku bisa menjaga perasaan orang lain tapi mengabaikan perasaan wanita yang akan aku nikahi?. Bodoh, kamu terlalu bodoh berfikiran seperti itu."


Rani terhenyak, kali pertama dia melihat tatapan marah dari Varest bahkan untuk sekedar berkata kasarpun tak pernah, tapi sekarang lelaki yang lemah lembut itu sedang menatapnya dengan mata yang menyala marah. Apa memang dia sudah terlalu jauh bertindak? apa dia sudah salah mengambil keputusan untuk membantu Varest yang bahkan dia sendiri tidak tahu awal perjalanan hubungan lelaki itu dengan istrinya?.


"Rest?" Lirih Rani.


"Kamu tidak tahu sepenuhnya tentang aku, jadi kamu tidak perlu mencoba melakukan sesuatu yang jelas itu adalah kesalahan." Jeda Varest. "Aku tekankan pada mu, berhentilah mencari tahu sesuatu yang kelak bisa sesali."


"Sial..!" Geram Varest. "Tidak seharusnya aku menuruti keinginan Rea untuk menemui mu hari ini"


Yah, Varest tidak berbohong, lelaki itu memang meminta izin kepada Rea untuk menemui Rani setelah dia mendapatkan chat dari Rani yang mengatakan akan membahas sesuatu, dan tanpa rasa penasaran dan khawatir Rea mengizinkan saat mereka sedang makan siang di kantor. Namun, siapa sangka jika pertemuan Varest dan Rani hari ini adalah membahas sesuatu yang menurut Varest terlalu privasi untuknya, bahkan membuat dia emosi bukan main.

__ADS_1


Varest masih berdiri disamping meja karena ditahan oleh Rani, wanita itu berdiri tepat di depan Varest dan membuat Varest menggeram, tangannya mengepal disisi tubuhnya rasa ingin mengamuk namun dia tahan bagaimanapun saat ini mereka berada diantara orang-orang yang sedang menikmati makan siang menjelan sore mereka, meski tak bisa dipungkiri jika mereka sudah menjadi bahan perhatian.


Lelaki yang marah kepada wanita cantik di depannya, mereka akan berfikiran jika mereka adalah sepasang kekasih yang sedang mengalami masalah pada hubunggannya dengan lelaki yang ingin pergi tapi wanita yang bertahan.


"Jangan menghalangi jalan ku." Ucap Varest setelaah dia merapatkan sekilas matanya dan menghela napas kasar.


"Rest..?"


"Kamu tidak dengar?, aku bilang jangan menghalangi jalan ku" Ulang Varest


"Aku tidak akan pergi dari hadapan mu sebelum kamu menjawab pertanyaan ku, satu lagi. Ku mohon!" Melas Rani dengan wajah sendu.


Tak terpancing Varest malah kembali menatap iris mata Rani muak, "Apa lagi yang ingin kamu tanyakan, apa tidak jelas buat mu meilhat sikap ku sekarang?, aku sangat tidak suka apapun yang akan kamu bahas sekarang, jadi dari pada kamu membuang suara untuk berbicara lebih baik kamu tahan dan diam tanpa harus berusaha."


"Aku cukup tahu seperti apa kamu mencari tahu bagaimana sifat ku selama kuliah dulu, apa yang aku suka dan tak suka. Dan itu tidak ada yang berubah banyak. Jadi, kamu pasti tahu kalau aku sangat tidak suka sama orang yang terlalu lancang mencampuri urusan ku." Sarkas Varest kemudian melangkah melewati Rani yang stagnan di tempatnya berdiri.


Wanita bernama Rani itu terduduk lemas kembali ke kursinya setelah kepergian Varest, sedikit menoleh pada area parkiran yang terhalang dinding kaca namun masih memperlihatkan suasana luar. Air matanya menetes tatkala melihat Varest memasuki mobilnya namun sebelumnya sempat meninju pintu mobil. Lelaki itu benar-benar marah sekarang.


Tersedu Rani menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ah, dia benar-benar salah langkah sekarang, dia sudah membuat keputusan yang malah membuat dia kehilangan harapan untuk tetap dianggap ada oleh Varest.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2