Sunflower

Sunflower
Yang harus dihindari


__ADS_3

...“Jangan macam macam sama dia kalo lo mau aman sekolah disini."'...


***


"Oh ya Kim karena status lo an--"


Bukkk.


"Panggil gue Agatha! Nama gue Agatha disini." Bisikku tajam kepada Lia. Sementara Lia nyengir sambil mengelus lengannya yang ku tabok. Rasain.


"Lagian tadikan lo manggil gue Tha." Dengusku sebal. Kalau sampai ada yang dengar dan mengetahui nama Koreaku itu sangat berbahaya.


"Sori belum terbiasa."katanya. "Tadi tuh gue sengaja biar gak ada yang curiga."


"Tadi lo mau ngomong apa?"


Aku dapat melihat gairah di mata Lia. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan anak ini.


"Gue kasih tau selama lo pengen hidup tenang  sekolah disini lo harus jauhin tiga cowok." Lia mengankat jari telunjuk, tengah dan manisnya didepanku. Dasar tidak ada sopan sopannya.


Aku memutar bola mata malas. Lia kembali melanjutkan ucapannya.


"Mereka tuh yang wajib kudu harus lo jauhin! Satu namanya Mark Alexander dia yang paling harus lo jauhin." Katanya mengangkat jari telunjuknya kedepan dengan semangat. Untung kelas sedang sepi jadi aku tidak malu malu amat.


"Kedua." Dia menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya. "Namanya Jeno Wardana dia itu playboy cap kakap. Hampir semua cewek disini pernah dideketin sama dia."


"Yang terakhir. Namanya Satanio Saputra, iya namanya gak asing dia satu kelas sama kita."


Aku berfikir mengingat ngingat nama itu. Ah! Iya dia yang sering dipanggil setan sama teman teman yang lain. Panggilan aslinya Sata tapi anak anak memplesetinya jadi Setan. Teman sekelasku emang debes.


"Emang kenapa kalo deket deket mereka?" Bukannya penasaran tapi pengen tau aja hehe.


Lia menatapku serius. "Mereka sangat berpengaruh disekolah ini, Tha." Kata Lia serius. "Mereka itu kayak geng anak orang kaya. Semua pada segan sama mereka. Apalagi Mark aduhh Tha siapa yang gak kenal sama Mark sih. Bahkan sekolah ini yang punya keluarga dia."


Aku hanya menganguk mengerti. Siapa juga yang mau berurusan dengan mereka. Aku ingin sekolah sampai lulus disini dengan tenang.


Disepanjang jalan menuju kelas Lia tidak ada hentinya menceritakan tiga serangkai tadi. Sekarang aku mengerti ternyata Mark dan Jeno kelas dua belas hanya si Sata yang kelas sebelas. Aku jadi penasaran bagaimana rupa si Mark dan Jeno sampai Lia menceritakannya dengan antusias begini. Kalo Sata aku bisa melihatnya nanti dikelas.


Bel masuk sudah berbunyi 5 menit yang lalu tapi guru yang terjadwal belum juga datang. Suasana kelas sangat ramai. Tidak heran jam kosong samadengan pesta.


Aku menyengit heran siapa lelaki yang tengah duduk didepanku dengan senyum manis. Lia sedang bergosip dengan teman yang lain. Aku awalnya ikut tapi setelah mendapat pesan dari James aku langsung pergi menjauh tidak ingin mereka mengetahui identitasku.


Laki laki itu masih tersenyum manis tapi menurutku jatuhnya tambah konyol. Matanya sipit, wajahnya tampan, hidungnya mancung, kulitnya kuning langsat. Rambutnya hitam legam, seragamnya berantakan.


"Kenapa?" Tanyaku karena risih dilihat seperti itu.

__ADS_1


Dia tambah tersenyum lebar membuat matanya hilang. "Lo Agatha kan?"


Aku mengangguk.


"Oh jadi ini orangnya. Oke wajah lo udah gue scen bakal gue inget." Katanya lalu beranjak pergi.


Aku tambah bingung ini maksudnya apa?


Tapi sebelum dia benar benar pergi. Dia menatapku lalu menunjuk keluar kelas dengan dagunya. Karena tempat dudukku tidak terlalu belakang dan tidak terlalu depan jadi aku masih bisa melihat keluar kelas dari tempat dudukku. Aku mengikuti arah dagunya, terlihat dua cowok tengah menatapku, entahlah menatapku atau apa yang penting pandangannya mengarah padaku. Mereka tinggi dengan memasukan tangannya disaku celana.


Aku tambah menyengit heran.


***


Aku diam didepan gerbang sekolah yang sudah sepi. Bel pulang sudah berbunyi 30 menit yang lalu. Hanya ada anak ekstrakulikuler disekolahan. Bukan tanpa alasan aku berdiri sendiri disini. Itu karena aku tidak tau jalan pulang. Lia sudah menawariku pulang bersama tadi tapi aku menolak aku tau cewek itu harus segera pulang karena sepupu jauhnya tengah berkunjung jadi aku tidak ingin merepotkan. Lagipula aku tidak perlu menunggu lama karena James selalu mengawasiku dia akan segera datang.


Ini entah perasaanku atau apa yang jelas aku merasakan sedang diawasi. Aku menengok kanan kiri depan belakang. Lagi lagi aku melihat seorang cowok tengah menatapku datar. Dari seragamnya itu seperti seragam disekolahku. Ah aku ingat dia salah satu cowok yang menatapku dikelas tadi.


Tidak lama kemudian James datang sengaja aku menyuruhnya untuk berhenti jarak 100 meter dari sekolah. Tidak ingin ada yang tau. Awalnya James menolak tapi karena aku yang keras kepala akhirnya dia menyetujui.


"Maaf Nona saya sedikit terlambat." Kata James sopan. Jujur aku agak cangguh sebenarnya.


Aku mengangguk. "James kamu liat cowok itu gak kok aku ngerasa dia ngawasi aku ya." Kataku menunjuk cowok yang masih menatap ke mobilku.


James melirik dari spion mobil lalu tersenyum tipis sangat tipis bahkan. "Mungkin perasaan Nona."


"Buat apa Nona?"


"Aku ingin pulang sendiri." Aku bisa melihat keterkejutan James tapi buru buru aku kembali berucap. "Agar tidak ada yang curiga."


Akhirnya James mengangguk.


"Nona tidak lupa minum obatkan?"


Aku diam mengingat ngingat lalu menyengir lebar. "Kayaknya terakhir minum kemarin deh."


Aku mengelus dada pelan kaget. Iya James mengerem mendadak masih untung kepalaku gak kejedot kursi.


"Maaf Nona." James langsung mengambil obat didasboard mobil. Aku melotot sejak kapan obatku disana. James menyerahkan obat itu beserta air mineral botolan.


"Nona jangan sampai lupa minum obat." Kata James. "Jika obat Nona ketinggalan hubungin saya biar saya antar."


"Aku lupa." Kataku setelah menelan beberapa butil pil. Aku benar benar lupa pantas dadaku tadi sedikit sesak.


"Kayaknya berhenti disini aja deh James. Biar aku naik ojol."

__ADS_1


"Tapi ini masih 2 km lagi Nona."


"Gapapa nanti kamu ikuti aja dari belakang. Cepet pesenin."


Tidak perlu memerintah dua kali James langsung memesankanku ojol. Sengaja milih ojol daripada taksi hemat dikit. Lagipula jika pulang pakai taksi nanti orang rumah curiga lagi.


"Hati hati Nona saya mengikuti Nona dari belakang."


Aku mengangguk lalu menghampiri ojol yang dipesan James.


***


Masih untung mentalku kuat. Kalo gak mungkin aku sudah bunuh diri. Setelah pulang sekolah tadi aku disembur mati matian oleh Hana dan Mama. Alasannya sangat klasik karena aku memakai seragam sekolah lamaku. Hana iri karena daridulu Hana sangat ingin bersekolah di sekolah lamaku di Korea tapi Papa gak ngijini gak tega katanya.


Padahal pagi tadi Hana juga yang menyiram seragamku dengan susu. Tapi aku memilih diam berdebat pun hanya memperkeruh suasana.


Disinilah aku sekarang didepan mesin cuci. Mencuci semua pakaian orang rumah. Kata Mama itu sebagai hukuman karena membuat Hana iri dan membuat heboh sekolahan dan juga pulang terlambat. Aku sudah bilang jika aku tidak tau jalan pulang. Mau gimana lagi kalu tidak suka tetap aja gak suka.


"Mau bibi bantu Neng?" Tanya Bibi menghampiriku dengan serbet dibahu kanannya.


"Enggak Bi kan cuma nyunyi baju Bi lagian juga pakek mesin cuci." Kataku menuangkan sabun kedalam mesin cuci.


"Seharusnya ini tugas bibi Neng." Kata Bibi.


"Gapapa kali Bi sekalian Agatha olahraga bosen juga dikamar." Kataku tertawa. "Yaudah Bi Agatha mau nyetrika baju dulu."


"Udah gausah Neng biar Bibi aja nanti." Kata Bibi mencegah tanganku.


"Nanti Bibi dimarahin Mama." Kataku tersenyum lalu berjalan menuju kamar setrikaan.


Sebenarnya aku agak cangguh dengan pekerjaan ini. Karena selama di Korea aku hanya terima jadi kak Sonya selaku manajerku yang selalu menyiapkan kebutuhanku belum lagi pelayan dirumah Kakek.


Tapi gapapalah sekali kali belajar kayak gini. Itung itung latihan buat jadi ibu rumah tangga.


"Heh Agatha nih setrika yang licin mau gue pakek ke pesta." Hana melempar dress berwana biru tanpa lengan kearahku. Aku kaget tapi dengan cepat aku menangkapnya.


"Gimana rasanya setelah buat satu sekolah heboh? Lo sengajakan biar satu sekolah tau kalo lo pindahan dari sekolah elit di Korea." Sindir Hana melihat tangannya dibawah dada sambil bersandar di dinding.


"Enggak ngapain juga. Itu karena lo numpahin susu diseragam gue kalo gak gue gak bakal pakai seragam itu." Kataku masih sibuk menyetrika dress Hana.


"Lo mau nyalahin gue? Iya?" Sentak Hana tidak terima. "Inget lo disini bukan siapa siapa. Bahkan Mama Papa berharap lo gak balik ke Indonesia tapi karena Kakek dengan terpaksa Papa nampung lo disini." Sengit Hana tajam tentu melukai hatiku.


"Nih selesai." Aku menyerahkan dress yang sudah licin itu. Hana berlalu begitu saja.


Sabar Agatha sabar.

__ADS_1


***


__ADS_2