
Varest meremas tangannya gugup disertai mata yang tak hentinya melirik setiap pasangan yang duduk mengantri di depan pintu ruangan yang bertuliskan POLI KANDUNGAN dengan nama Dokter yang tak asing lagi bagi Varest, dr. Fani Naraya,Sp. O. G. Dia adalah Doktes spesialis Obstetri dan Ginekologi yang juga adalah sepupunya.
Sudah sekitar satu jam Varest dan Rea berada di Rumah sakit setelah tadi di rumah mereka setengah mati membujuk Zee untuk tidak ikut, butuh waktu lumayan lama mereka harus menenangkan Zee yang menangis kejer meminta untuk ikut kedua orang tuanya. Namun, Rea tidak mengizinkan karena dia tahu antrian pemeriksaan kandungan akan memakan waktu lama dan dia tidak mau jika sang putra harus berada di Rumah sakit terlalu lama.
Setelah dibujuk oleh nenek dan omanya dengan imingan akan membawa bocah itu ke Timezone akhirnya Zee menyerah, dia tak lagi merengek ingin ikut kedua orang tuanya melainkan semangat untuk segera pergi ke tempat permainan tersebut, alhasil kedua orang tua Varest dan Rea berangkat terlebih dahulu sebelum Varest melajukan mobilnya takut-takut jika si bocah berubah fikiran.
"Mas, anak pertama yah?" Salah satu suami dari ibu-ibu yang mengantri menyapa Varest.
"Hah?"
"Anak pertama yah?" Ulang lelaki itu dengan menunjuk perut rata Rea, "Gugup banget, Mas." Katanya sok akrab.
Varest tersenyum canggung, dia memang merasa gugup bagaimanapun ini adalah pengalaman pertama baginya membawa sang istri untuk memeriksakan kandungan dan itu menjadi hal yang mendebarkan menunggu untuk melihat bagaimana bentuk bayinya di dalam perut Rea.
"Anak kedua" Jawab Varest tak sepenuhnya jujur namun tak juga berbohong, karena nyatanya ini adalah anak pertama baginya tapi berbeda bagi Rea ini adalah anak yang kedua.
Rea yang mendengar suaminya bersuarapun menoleh, awalnya dia tak mendengar jika ada seseorang yang mengajak sang suami berbicara tapi setelah melihat lelaki di samping Varest yang melihat sambil tersenyum mau tidak mau Rea pun membalas dengan senyuman.
Rea menipiskan bibirnya menahan tawa melihat Varest yang begitu kentara jika lelaki tersebut benar-benar gugup, terlihat keringat yang menetes di dahi serta lehernya, tangannya pun tak hentinya dia remas sedari tadi.
"Sayang!" Varest berdiri dan seketika menjadi bahan perhatian pasutri lain karena suaranya yang keras.
"Ada apa?" Rea mendongak bingung menarik pelan tangan dingin Varest.
__ADS_1
Dia berdehem sekilas melihat pandangan bingung dari 12 pasang suami istri disana, digaruknya tengkuknya yang tak gatal sembari membunguk pelan, "Hehe, maaf" Katanya yang membuat mereka menggeleng maklum.
Varest membungkuk mensejajarkan dengan wajah sang istri, "Sayang, aku ke toilet bentar yah" Izinnya berbisik, "Masih lama kan nomor antriannya?" Tanyanya sambil mengusap keringat yang kian bercucuran.
Rea mengangguk sambil mengangkat kartu nomor antrian bertuliskan antrian 26 masih tersisa 5 ibu hamil sebelum namanya dipanggil.
Varest bergegas melangkah menuju toilet, perutnya terasa seperti terlilit nafasnyapun terengah, keringat dingin sebesar biji jagung menetes tak hentinya dari dahi dan leher hingga membasahi kerah baju sampai dadanya. Dada Varest terekspos karena kemejanya yang basah hari ini dia hanya memakai kemeja berwarna putih dan membuat tembus pandang saat terkena air.
Braakk
Pintu toilet dibuka dengan kasar beruntung tak ada seorangpun yang berada di dalam sana, dia berjongkok di depan closet dan mengarahkan wajahnya diatasnya.
"Hueekkk,, Hueekkk"
Semenjak dia menginjakkan kakinya di Rumah sakit entah mengapa dia merasa tiba-tiba tidak menyukai aroma yang menyebar di rumah orang sakit itu, semakin dia melangkah masuk maka semakin dia merasa jika perutnya tengah diaduk-aduk.
"Hueekk,, hueeeekkk"
Lelaki itu lemas tak berdaya, dia terduduk di lantai seraya membersihkan mulutnya dengan tissu yang tersedia di dalam toilet tak perduli jika tissu itu adalah tissu khusus toilet. Setelah merasa enakan dia berdiri pelan dengan tangannya yang berpegangan pada dinding kemudian membuka pintu dan berjalan ke arah washtafel.
Matanya lekat memperhatikan penampilan berantakannya dari pantulan cermin, wajah pucat serta keringat yang masih sesekali menetes meski tak sama dari sebelumnya, ini adalah pertama kalinya dia muntah tanpa sebab karena dia hanya muntuh jika dia minum minuman beralkohol dan itu pertama dan terakhir dia lakukan saat Rea meninggalkannya dulu.
"Rea tidak boleh melihatku seperti ini" Cepat dia membasuh wajahnya dan merapikan penampilannya, menyisir rambutnya dengan jari-jari panjangangnya, tak butuh waktu lama setelah dirasa cukup rapi dia keluar hendak kembali ke istrinya yang mungkin sedang khawatir menunggunya.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Rea berdiri meraih tanga Varest yang baru sampai di depannya.
"Kenapa baju mu basah?" Tanya Rea ketika melihat kemeja Varest yang tembus pandang dan membuat ibu-ibu disana melihatnya tanpa berkedip.
Rea tak suka moment seperti ini, sangat tidak suka, dasar ibu-ibu genit sudah ada suami masih saja berani melirik suami orang. Batin Rea.
"Aku tidak apa-apa kok." Jawab Varest menenangkan Rea, "Tadi aku cuci muka tidak sengaja kecipratan air" Jelasnya sedikit berbohong. Dia tidak mau Rea khawatir jika tahu kemejanya basah karena keringat dan muntah tadi.
Rea percaya, dia mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya dan mengelap dada Varest meski dia tahu jika itu tidak akan membantu banyak, sapu tangan itu tidak akan membuat kemeja suaminya cepat kering tapi setidaknya dia berusa agar mata-mata genit ibu-ibu disana tak terpuaskan.
"Sudah antrian keberapa?" Tanya Varest.
"24" Jawab Rea singkat, tangannya masih cekatan mengelap sampai menekan-nekan dada sang suami entah untuk apa.
Varest manggut-manggut, dia melirik ibu-ibu yang berada di depannya dan tersenyum canggung menyadari tatapan mereka yang tak biasa dan dia pun sadar jika tindakan istrinya sekarang adalah tanda jika wanita yang dia cintai itu sedang cemburu.
Rea terkesiap kala kepalanya ditarik oleh Varest dan menempel di dada bidang lelaki tersebut, "Sayang, aku tidak sabar untuk lihat calon anak kedua kita, aku harap dia sehat." Tukas Varest sedikit mengeraskan suaranya berharap jika ibu-ibu tadi sadar jika mereka juga bersama suami masing-masing.
Dan benar saja tindakan spontan Varest itu sontak membuat ibu-ibu tersebut mengalihkan pandangannya. Rea terkekeh pelan dalam dekapan Varest, dia mendongak melihat wajah suaminya dari bawah, rahang yang tegas, hidung mancung, sungguh pemandangan yang indah.
"Antrian 26, Ibu Edrea Leteshia!" Panggilan dari seorang perawat.
"Silahkan masuk, Bu, Pak!" Ucap perawat itu seraya membuka lebar pintu.
__ADS_1
Rea dan Varest berdiri dan memasuki ruangan yang sudah hampir 4 tahun Rea tak pernah menginjakkan kakinya disana. Dulu, saat hamil Zee dia juga memeriksakan kandungannya disana tapi dengan Dokter yang berbeda mungkin yang dulu sudah pindah tugas.