
Aku menatap jalanan dengan kosong. Kini aku sudah berada didalam mobil menuju masionku. Sebenarnya aku belum diperbolehkan untuk pulang. Namun, aku merengek pada Mark dan James agar aku dipulangkan.
Apa daya kedua laki-laki itu, mereka tidak akan bisa mengabaikan ku. Untungnya kakek dan nenek sudah balik ke Korea tadi pagi, makanya Mark dan James tidak bisa berkutik.
Dengan syarat aku harus pulang ke masion, tidak ke rumah Papa. Aku sejak tadi menebak-nebak bagaimana reaksi Papa dan mama ketika aku pulang.
Pasalnya sudah seminggu aku tidak pulang dan tidak ada kabar. Mark bilang aku sudah diijinkan ke pihak sekolah karena sakit.
James melirik ku dari spion. "Nona, ada yang sakit?" semenjak kejadian itu James lebih memperhatikan aku. Sepertinya dia trauma dipanggil kakek ke Korea.
Aku tersenyum. "Aku baik-baik saja."
James mengangguk. pria itu tetap saja kaku.
Tidak perlu waktu lama aku sudah sampai di masion ku. Rumah besar yang hanya aku yang tinggal disana.
Aku akan menyebut bangunan besar itu dengan rumah.
"Nona sudah pulang?" Sapa kepala pelayan. Bibi Tin. Wanita itu membantuku keluar dari mobil.
"Sudah Bi." Jawabku singkat.
Bi Tin dengan baju serba hitam putih itu menatapku dengan lega. "Syukurlah Nona sudah sehat." Ujarnya. "Nona mau makan apa nanti saya buatkan apapun yang Nona mau."
Aku terkekeh. "Sepertinya nasi goreng enak."
Bi Tin mengacungkan jempolnya. "Nasi goreng spesial kan segera siap."
Aku duduk di ruang tengah. Rebahan di sofa besar itu. Rumah ini sangat nyaman, selama aku di Indonesia aku jarang sekali bermalam di rumah ini. Aku lebih memilih tidur di rumah Papa.
Jika dibandingkan rumah Papa tentu lebih nyaman di sini. Tapi di sini aku sendiri.
Agatha apa kau tidak sadar? Di rumah Papa pun kau juga sendiri.
Aku tersenyum getir. Benar, aku selalu sendiri.
Genre hidupku sangat menarik.
"Lo ngapain?"
Aku mendongak, Mark sudah berdiri dengan seragam sekolah. Sepertinya cowok itu baru pulang sekolah.
"Kakak baru pulang ya?" Tanya ku masih dengan rebahan.
Mark mengangguk lalu duduk disamping kepalaku. Tangan besarnya mengangkat kepala ku dan meletakkan di pahanya.
Cowok ini memang benar-benar menyebalkan.
"Kenapa kepala ku dipindah? Kak Mark saja sana duduk di sofa lain." Protes ku hendak berdiri. Namun tangan kak Mark lebih dulu menekan dahiku agar tidak terangkat.
"Diem aja. Ribet lo."
Aku mencibir mengabaikan kak Mark yang asik dengan ponselnya.
__ADS_1
Memejamkan mata sepertinya tenang. Aku jika tidak ada kegiatan maka akan cepat mengantuk. Ponsel ku masih ada pada James. Pria itu pergi ke belakang setelah Mark datang.
"Adoh!!" Pekikku keras ketika benda persegi panjang itu menabrak dahiku dengan kencang.
Mark terkekeh, mengambil ponselnya dari kepalaku. "Maaf, tanganku terpeleset."
"Halah kak Mark sengaja kan?" Tuduh ku. "Iya kan?!"
Aku menggosok dahi ku pelan. Cenut-cenut. Ponsel Mark sangat berat. "Kalo aku amnesia gimana, hah?"
"Bagus. Gue lebih suka kalo lo amnesia." Cetus Mark enteng.
"Enteng bener tuh mulut." Cibir ku.
Mark meniup dahi ku. "Kata orang habis di tiup langsung sembuh." Katanya. "Apalagi yang niup cogan kek gue."
"Narsisnya." Cibir ku. "Minimal pulang dulu baru kesini."
"Lo ngusir?"
"Enggak."
"Gue bebas keluar masuk sini." Ujar Mark.
Dan itu benar. Kakek tercinta ku itu memberikan akses Mark untuk keluar masuk rumah ku. Kapan pun dia bisa masuk ke rumah ini.
Sebenarnya aku masih penasaran dengan hubungan Mark dan kakek. Sepertinya kakek sangat percaya pada Mark. melebihi percayanya pada James.
"Badannya udah enakan?"
Aku mengangguk. "Sudah sepenuhnya sehat."
"Yakin?"
"YAKIN. DEMI APA UDAH SEHAT INI." Ujarku semangat. Aku ingin kembali bersekolah. "Nanti malem aku pulang ya."
Dahi Mark berkerut. "Ini kan udah pulang."
"Pulang ke rumah Papa."
"Enggak."
"Loh kok engga." Pekikku langsung bangkit. "Bolehlah."
"Beri gue alasan kenapa gue harus ngebolehin lo pergi kesana?"
"Karna aku cantik." Aku berkedip-kedip genit pada Mark. sejujurnya aku jijik melakukan ini.
Mark berdehem pelan. Wajahnya sedikit memerah? Apa aku salah lihat?
"Kalo gue larang lo balik kesana gimana?" Mark mendekatkan wajahnya padaku.
"Kenapa?" Ujarku lemah.
__ADS_1
"Gue gak bisa jamin lo bakal aman disana." Ujar Mark rendah.
Aku menunduk memainkan jariku. "Aku aman kok."
Mark mendengus meraih tangannya. "Gue gak rela mereka ngelukain lo."
"Mereka gak melukai aku kak." Aku tersenyum pada Mark. "Tidak ada orang tua yang menyakiti anaknya."
Mark mendengus kesal. Mengacak rambutnya frustasi. "Terus waktu itu siapa yang buat dahi lo ini luka?"
"Kecebur got." Jawabku cepat. Dari sekian banyak alasan entah kenapa kecebur got yang terlintas dalam benak ku.
"Lo pikir gue Sata yang gampang di kibulin." Kata Mark.
Aku tertawa kembali mengingat ketika Sata dan Lia percaya jika luka itu akibat kecebur got. Sebenarnya hanya Sata yang percaya, Lia masih curiga tidak percaya.
"Bagaimana pun mereka tetap orang tua ku kak." Jelas ku mencoba menenangkan Mark. Aku masih belum mengerti dengan situasi ini. Kenapa Mark selalu ada disisiku.
Aku meraih tangan Mark, memainkan jarinya pelan. Entah dapat keberanian darimana aku melakukan itu. Semenjak keluar dari rumah sakit memang aku sedikit kurang ajar pada Mark. Namun, cowok itu diam saja aku perlakukan seperti apa.
Kadang mengomel tapi tetap melakukannya.
"Kakak kan tau aku pindah kesini karena ingin tinggal bareng mereka. Aku yakin suatu saat Papa sama mama pasti bisa menerimaku." Aku tersenyum tipis menatap Mark. Aku juga berharap seperti itu. "Aku juga gak tau apa alasan Papa dan mama membenciku."
Mark menghembuskan nafas pelan. Mengelus kepalaku. "Besok kesana sekarang tidur dulu disini."
"Itu akal-akalan kakak aja kan? Sebenarnya kakak mau nemenin aku tidur." Aku memicingkan kepala.
"Itu juga salah satunya." Kekehnya pelan.
Dilihat-lihat Mark ini tampan. Dengan kulit putih, rahang tegas, dingin tapi receh, tinggi dan badannya bagus. Beruntung sekali nanti yang menjadi istri Mark.
Cowok itu juga jago bahasa Inggris. Kata kakek dulu Mark pernah tinggal di Canada waktu kecil dan kembali ke Indonesia waktu memasuki SMP.
"Maaf Nona, ini nasi gorengnya sudah siap." Bi Tin datang dengan nampan nasi goreng. "Bibi juga membuatkan jus apukat kesukaan Nona."
Mataku berbinar. "Makasi Bi."
Bi Tin mengangguk lalu pamit kembali ke belakang. Aku bertepuk tangan girang. Sudah lama aku tidak makan nasi goreng. Seminggu ke belakang aku selalu makan bubur.
Aku hendak menyuapkan nasi goreng itu, namun ada tangan yang menahannya. Mengambil sendok ditanganku.
"Gue suapin." Ujar Mark. Aku masih menganga. Cowok itu langsung menyuapiku dalam diam.
Lah?
Aku menurut, toh enak juga makan disuapin. Lagi pula itu kemauan Mark sendiri.
"Makan yang banyak biar cepet tinggi."
"Heh?!"
...****************...
__ADS_1