
"Kalian sudah pulang?" Varest baru saja membuka pintu rumah dan mendapati Rea dan Zee sudah berada di teras rumah.
Tadinya Varest berniat untuk menjemput Rea dan Zee dari rumah mertuanya setelah membersihkan diri sepulang kerja, tapi ternyata Rea sudah pulang sebelum lelaki itu sempat memberi kabar jika akan menjemput, Rea pulang dengan Zee yang sudah tertidur digendongannya.
Diambilnya Zee dari gendongan Rea dan kembali masuk kedalam rumah dengan diikuti oleh Rea yang sebelumnya menutup pintu, mereka berjalan beriringan menaiki tangga untuk membawa Zee ke dalam kamar.
"Kenapa tidak memberi kabar kalau sudah mau pulang" Tanya Varest sambil memperbaiki gendongannya
"Aku baru saja ingin menjemput mu" lanjutnya
"Aku fikir kamu masih sibuk di Kafe, lagi pula tadi aku diantar sama Toni" jawab Rea
Varest reflek berhenti mendengar nama asing yang disebut oleh sang istri tiba-tiba dia menjadi penasaran, lelaki itu mengangkat satu alisnya mengalihkankan pandangannya pada Rea yang juga ikut berhenti.
"Toni siapa?"
Rea menoleh, "Toni itu su--"
Belum selesai Rea berucap Varest sudah memotongnya, "Lain kali biar aku menjemput mu, kamu tidak perlu minta tolong sama orang lain apa lagi laki-laki"
Alis Rea mengernyit, nada kalimat dari Varest terdengar memerintah tidak seperti biasanya dia dengar "Aku hanya tidak ingin mengganggu mu Rest, dan juga dia pasti akan mengantar kami dengan selamat sampai rumah" ujarnya
"Dia orang baru bukan?, Zee tidak gampang dekat dengan orang lain, dia pasti tidak nyaman" ucap Varest kembali menaiki tangga yang tinggal tiga anak tangga.
"Iya, dia supir baru di rumah Mama, Zee cukup nyaman kok sama dia, katanya Zee mengingatkan dia pada cucunya di kampung"
Varest kembali berhenti, secepat dia membalikkan tubuhnya menghadap Rea yang berada di belakangnya.
"Su-supir?, cucu?" Varest tergagap,
Rea mengangguk, berusaha menahan tawa tahu jika saat ini Varest merasa salah tingkah.
"Iya dia supir baru di rumah Mama, sebenarnya namanya Pak Tono, tapi Zee memanggilnya Pak Toni katanya namanya tidak keren" ujarnya sambil melewati Zee yang masih diam di tempat, wanita itu sedikit berlari menuju kamar untuk membuka pintunya.
__ADS_1
Nampak Varest menggelengkan kepalanya berkali-kali, merutuki kebodohannya karena tiba-tiba terbawa dengan perasaan yang dia sendiri tak tau itu apa hingga membuat dia bersikap seperti seorang suami posesif. Segera dia mendekati Rea tatkala wanita itu sudah memanggilnya, namun saat dia sudah berada di depan kamar dia melewati Rea yang sudah berdiri di depannya dan membuat wanita itu mengernyit bingung.
"Rest?" Panggil Rea
"Sudah saatnya Zee tidur di kamarnya sendiri Re" ucap Varest "Tidak masalah kan?" Varest membuka knop pintu kamar Zee dan membawa anaknya untuk dibaringkan di ranjang tanpa melihat ekspresi Rea yang tiba-tiba menegang.
"Re?" Varest menoleh kepada Rea yang masih berdiri di pintu, lelaki itu masih belum menyadari jika wajah dari wanita yang sedang termenung itu dalam keadaan merona.
"Kamu melamun?"
"Ah, ti-tidak" Rea menggeleng seraya melambaikan tangannya di depan dada "Aku gerah, sepertinya aku harus segera mandi" ucapnya, Rea segera membalikkan tubuhnya kearah kamarnya yang berada di samping kamar Zee.
Dengan cepat wanita itu meninggalkan kamar Zee dan masuk ke dalam kamarnya, mengambil baju tidur di dalam lemari dan setelahnya berlari menuju kamar mandi. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat dari biasanya. Sedangkan Varest yang masih berada di kamar sang anak terlihat bingung dengan sikap Rea.
"Apa dia marah karena melarangnya diantar oleh Pak Tono?" gumamnya tapi setelahnya memukul kepalanya sendiri karena berfikir yang tidak masuk akal.
-
-
-
Sama halnya dengan kebiasaan Zee yang selalu melihat bintang sebelum tidur begitupun dengan Rea, jadi saat Varest masuk ke dalam kamar dan tak mendapati sang istri maka dia akan pergi ke balkon untuk mencarinya, kebiasaan yang pun sudah dipahami oleh Varest.
Rea berdiri sambil menengadahkan wajahnya ke atas, nampak dia tersenyum tipis, dan saat dia menyadari seseorang berada di sampingnya dia menoleh memperlihatkan Varest yang juga tersenyum padanya.
"Tadi Papa ke Kafe" Varest memulai obrolan
"Papa yang mana?"
Varest terkekeh, sudah biasa jika membahas masalah kedua orang tua mereka, maka mereka akan kebingungan sendiri karena nama panggilan keduanya tidak memiliki perbedaan jadi harus menyebutkan nama dari orang tua masing-masing.
"Ok, sepertinya kita harus memanggil orang tua kita sama dengan Zee memanggil mereka" usul Varest
__ADS_1
"Maksudnya?" Rea menelengkan kepalanya bingung
"Ehmm, begini, kita panggil orang tua ku Kakek dan Nenek sedangkan untuk orang tua mu panggil Opa dan Oma, aku rasa itu lebih memudahkan kita untuk menyebut mereka jika berbicara berdua."
"Ah, iya aku paham, itu cukup bagus" Kata Rea sambil menganggukkan kepalanya setuju
"Jadi, tadi Kakek yang ke Kafe?" tanya Rea "Ada masalah?"
"Sebenarnya bukan masalah, hanya membahas sebuah tanggung jawab yang belum direalisasikan" jawab Varest berbalik untuk duduk di kursi kayu yang tersedia di balkon.
Mata Rea lekat mengikuti pergerakan Varest, wanita itu berdiri dihadapan Varest yang sudah duduk dengan bertumpu dagu, "Tanggung jawab apa?" katanya
"Kakek menyuruh ku untuk segera memegang alih perusahaan keluarga"
"Terus, kenapa kamu tidak menerimanya? bukan kah itu memang sudah menjadi pesan dari Kakek Adelard?"
Varest mendongak dan berucap "Aku hanya belum siap Re, aku memikirkan Kafe, tidak ada yang bisa mengurusnya"
"Bukan tidak ada yang mengurus, kamu hanya belum memiliki kepercayaan dengan karyawan mu" Ujar Rea sambari duduk disebelah Varest.
"Aku perhatikan Andin dan Roni cukup kompeten dalam bekerja, aku memang baru beberapa kali ke Kafe tapi aku cukup bisa melihat kinerja mereka, bukannya mereka berdua karyawan lama mu?.
"Kamu benar, aku memang sadar mereka berdua cukup bisa ku andalkan mengurus Cafe. Yah, mungkin aku bisa mencoba saran mu"
"Kamu harus belajar mempercayai seseorang Rest, dalam lingkungan kerja, kepercayaan itu diperlukan entah sesama pekerja atau bos dan karyawan itu adalah hal yang penting, pekerjaan ringan maupun berat akan lebih baik dikerjakan saat kita saling mempercayai"
Varest tersenyum tipis "Yah, aku akan mencobanya" katanya, "Ah, aku tidak bisa membayangkan jika posisi ku sekarang akan dialami oleh Zee nantinya" desahnya seraya bersandar pada sandaran kursi.
"Maksud mu?"
"Aku adalah anak tunggal, saat aku memiliki keinginan sendiri untuk masa depan ku namun harus dituntut untuk mengurus aset keluarga itu sangat menganggu fikiran, akan lebih baik jika Zee memiliki adik satu atau dua"
"Apa?" Reflek Rea dengan mata membulat, salivahnya tertelan susah kala Varest kembali bersuara sembari melihatnya
__ADS_1
"Iya, aku ingin satu atau dua" Kata Varest dengan senyum antusias.