
Begitu sempurna, sepertinya dua kata itu cocok untuk menggambarkan isi fikiran Varest saat ini, suasana yang mendukung serta kesempatan yang sudah berada di depan mata.
Motivasi dari Papa dan Andi kemarin cukup membuat dia berani untuk memberi umpan kepada Rea, sifat Rea yang lembut dan mudah tersentuh itu menjadi senjata paling besar bagi Varest.
"Iya, aku ingin satu atau dua"
Rea termenung, kalimat singkat yang diucapkan oleh Varest berdengung ditelinganya, kepalanya tiba-tiba terasa pening hingga membuat Varest memegang pundaknya karena melihat dia memegang pelipisnya.
"Ada apa Re?" tanya Varest
Rea tersadar, "ehm, ti-tidak apa-apa Rest" jawabnya sambil menggeleng
"Rest, maafkan aku" lirih Rea
Varest tersenyum kecut, "Tidak perlu minta maaf, lagi pula itu tidak penting" Varest berusaha berdiri tapi terhenti saat lengannya di tarik oleh Rea
"Ini penting Rest" Kata Rea
"Seharusnya aku tidak menyiksa mu seperti ini, seharusnya aku bisa melakukan tanggung jawab ku dengan baik, aku sudah mengabaikan kebutuhan mu, Rest. Aku minta maaf"
Varest tersenyum, kembali dia duduk seperti semula, di pegangnya kedua pundak Rea dan menatapnya intens.
"Jangan dipaksakan, kalau kamu belum siap itu tidak masalah, aku tidak akan memaksa mu" ujar Varest "Kamu berdoa saja semoga yang di bawah bisa bersabar" lanjutnya seraya menunduk yang sontak mata Rea juga ikut melihat kebawah.
Varest terkekeh melihat ekspresi Rea yang tiba-tiba mematung dengan mata yang berkedip berkali-kali.
__ADS_1
"Reeeesstt" Rengek Rea menyadari jika sedang digoda oleh lelaki yang belum seutuhnya menjadi suaminya itu
Varest tertawa keras, "Apa?" katanya menahan tawa saat Rea sudah memukulnya.
"Aku serius, istri sholeha harus mendoakan suaminya agar bersabar dan tak tergoda dilu--"
"Ayo kita mencobanya" Ucap Rea reflek dengan tangan yang masih membekap mulut Varest
Varest berhasil, senyumnya mengembang sempurna dari balik tangan dingin Rea.
Semesta sedang berada dipihaknya malam ini setelah satu bulan lamanya akhirnya malam itu datang, sang anak yang biasanya akan selalu menempel pada sang istri seperti lintah sekarang sedang berpetualang dalam mimpi di kamarnya sendiri. Zee yang kelelahan bermain di rumah Oma dan Opanya pulang dalam keadaan tidur dan itu adalah kesempatan Varest untuk membawa anaknya itu untuk tidur di kamarnya sendiri.
Diputarnya kunci yang menggantung pada pintu untuk memastikan jika aktifitasnya kelak tak akan terganggu, dan mengenai alasan kepada Zee yang bisa jadi akan menanyakan mengenai tempatnya tidur bisa dia fikirnya nanti, yang penting sekarang adalah misinya adalah mengadon untuk membuatkan Zee teman.
Varest melangkah mendekati ranjang yang nampak Rea sedang berada di depan meja rias sambil menyemprotkan parfum favoritnya ke pergelangan tangannya dan mengusapkan ke leher jenjangnya.
Lelaki itu tersenyum, "Masih lama yah?" tanyanya
Rea terkekeh, "Kamu benar-benar tidak sabar yah" dikibaskannya rambutnya ke arah kiri
"Jangan menggoda ku Re" hilang sudah malunya Varest, dengan cepat diletakkannya satu lengannya pada punggung Rea dan lengan satunya terulur di belakang lutut sang istri setelahnya mengangkatnya pelan.
Rea dibaringkan di atas ranjang yang selimut dan spreinya sudah diganti terlebih dahulu oleh Varest sendiri, lelaki itu menyusul naik dan berbaring disamping Rea dengan mata yang sudah sendu.
"Re, kamu benar-benar siap kan?" tanyanya memastikan, tak ingin jika dipertengahan dia harus merelakan tubuhnya ditendang jika sampai Rea berubah fikiran
__ADS_1
Tiba-tiba senyum terbit dengan lebarnya saat anggukan terlihat naik turun dari kepala wanita yang sedang berbaring menyamping ke arahnya.
"Ambil hak mu, dan aku akan melakukan tanggung jawabku"
"Aku akan melakukannya pelan"
Rea tak menjawab tapi senyumnya sudah menjawab jika dia sudah siap lahir dan batin.
Dikungkungnya tubuh Rea, matanya lekat memperhatikan profil wajah sang istri, tangannya terulur menyentuh wajah Rea dari mata, hidung, pipi dan bibir. wajahnya mendekat menyatukan dahinya dengan dahi Rea setelah itu menciumnya, seperti mengabsen tak ada yang terlewat dari bibir Varest ciumannya turun dari dahi ke mata lalu hidung dan pipi dan berhenti saat melihat bibir pink merona Rea.
Kepalanya terangkat tapi matanya masih lekat menatap Rea yang berada di bawah kungkungannya, dengan mata sendunya dia seakan meminta izin untuk kesekian kalinya.
Rea mengerti jika masih ada keraguan dari Varest, ragu karena takut jika Rea akan menolak terlebih mereka melakukannya saat ini karena tanggung jawab dan hak masing-masing sesuai dengan apa yang selalu Rea katakan sebelumnya.
Tangan Rea terulur, sama halnya dengan Varest tadi Rea pun juga melakukan yang sama menyentuh mata hingga ke bibir, dengan keberanian yang sudah dia simpan kepalanya terangkat pelan mendekatkan wajahnya pada Varest.
Cup
Satu kecupan mendarat pada bibir Varest dari Rea, wanita itu berinisiatif untuk memulai duluan agar Varest bisa lebih santai dan tak merasa terbebani dengan haknya.
Rea tersenyum sendu,"Aku istri mu, Lakukanlah dan jangan berhenti jika kamu belum mendapatkan kepuasan, aku akan mengimbanginya" bisiknya tepat di samping telinga Varest.
Sungguh sebuah charge pengisi daya semangat bagi Varest setiap kata yang keluar dari mulut Rea saat ini adalah pembangkit semangatnya yang sangat ampuh. kembali dia mencium bibir Rea, perlakuan Varest membuat Rea terbuai hingga tak sadar jika Varest telah menanggalkan pakaiannya.
Lampu utama kamar dimatikan namun cahaya bulan yang menelusup masuk dari pintu balkon kamar yang hanya tertutup oleh titrai putih terkesan lebih romantis.
__ADS_1