Sunflower

Sunflower
Dulu


__ADS_3

"Ayah kok gak bilang mau ke Indonesia." Haris menyambut ayahnya dengan hangat. Mencium tangannya dan memeluknya. Hal yang sama pada ibunya.


"Apa ayah harus laporan dulu kalo mau kesini?"


Haris tersenyum. "Bukan gitu maksud Haris. Kan kalo ayah bilang Haris bisa menjemput ayah."


Kakek Sitas duduk diikuti istrinya. Nenek Sitas tidak banyak bicara sejak tadi karena fokusnya terletak pada Agatha. Entah kenapa suami nya mengajaknya berkunjung ke rumah anaknya terlebih dahulu.


"Istrimu kemana?" Tanya Kakek Sitas yang baru sadar hanya ada Haris di rumah ini.


"Ari lagi jemput Hana di sekolah."Jawab Haris.


Kakek Sitas mengangguk tidak lama kemudian pintu utama terbuka. Hana dan Ari datang.


"Kakek?" Pekik Hana senang langsung menghampiri Kakek dan Neneknya. "Udah lama Kakek dateng?"


"Enggak kok baru aja kita dateng."


"Kabar ibu gimana?" Tanya Ari sambil menyalimi Nenek Sitas.


"Nenek baik kamu sendiri?" Balas Nenek dengan senyuman.


"Baik bu." Kata Ari. "Ari buatin minum dulu ya."


"Hana kangen banget sama kakek." Kata Hana memeluk kakeknya.


"Sama nenek engga?" Goda Nenek Sitas merajuk.


"Sama nenek juga." Hana berganti memeluk neneknya.


"Gimana sekolah kamu? Lancar?"


"Lancar nek, aku rencana mau lanjut kuliah di Korea." Kata Hana.


"Kalau begitu kamu harus rajin belajar masuk perguruan tinggi di Korea sangat susah." Sahut kakek.


"Pasti dong." Seru Hana. "Aku ganti baju dulu ya." Ujar Hana lalu berlari menuju kamarnya.


Ari datang dengan empat cangkir teh. Mertuanya sangat suka dengan teh daripada kopi.


"Di minum Yah ini teh kesukaan ayah sama ibu." Kata Ari meletakan cangkir itu didepan mertuanya. "Ayah mau nginep?"


"Tadi ayah sudah pesan hotel." Kata kakek Sitas.


"Kenapa gak nginep disini saja Yah." Sahut Haris.


"Ibu mu ingin merasakan tidur di hotel." Balas kakek Sitas melirik istrinya.


"Itu karna kau tidak pernah mengajakku berlibur." Sinis nenek Sitas.


Kakek Sitas terkekeh. "Ngomong-ngomong sejak tadi hanya Hana yang ada dimana Agatha?"


"Ibu liat cuma Hana yang kamu jemput." Lanjut nenek Sitas.

__ADS_1


Sontak Haris dan Ari menengang. Tidak terbayang akan mendapat pertanyaan itu. Mereka lupa jika Agatha berada di Indonesia.


Haris berdehem. "Agatha lagi nginep di rumah temannya."


"Kalau begitu telpon suruh pulang." Pintah kakek. "Dia akan langsung pulang jika tau aku ada disini."


Haris tampak diam. "Agatha lagi persiapan Olimpiade Yah biarkan dia fokus pada bimbingannya."


Kakek Sitas meletakkan cangkir tehnya. "Bukan karena kamu tidak tau dimana dia berada?"


Haris gelagapan tapi sebisa mungkin dia menyembunyikannnya. "Ayah bisa aja."


"Kalau begitu telpon Agatha sekarang."


Haris dan Ari saling pandang. sejujurnya mereka juga tidak tau dimana Agatha berada.


"Kamu masih memperlakukan Agatha dengan buruk Haris?" Tanya kakek sedikit tegas. "Dia juga anakmu."


"Sekarang dimana cucu ku?" Tanya nenek. "Kalian tidak tau rupanya."


"Sudah berapa lama Agatha tidak pulang?"


Lagi-lagi Haris dan Ari terdiam. Keringat dingin sudah mencucuran.


"Gak ada yang mau kamu ceritakan ke ayah?" Pancing kakek Sitas. "Sebelum ayah tau dengan sendirinya."


"Agatha udah gak pulang 5 hari dan kami tidak tau dimana dia sekarang. tidak ada kabar sama sekali dan kami telpon pun tidak menjawab." Jelas Haris menunduk. "Dia semakin lama semakin ngelunjak Yah."


"Dia sudah sering tidak pulang dan pulang bersama cowok." Sahut Ari.


"Kalian sebagai Orangtua nya gimana?" Dingin kakek. "Sejak kecil Agatha kalian kirim ke Korea dengan alasan ingin fokus merawat Hana yang sakit. Kini Hana sudah sembuh dan kalian memperlakukan Agatha seperti ini?"


"Jika tau seperti ini aku tidak akan mengijinkan Agatha kembali ke Indonesia." Lanjut Nenek.


"Kenapa hanya Agatha? Kenapa hanya Agatha yang jadi prioritas kakek sama nenek." Kata Hana matanya sudah berkaca-kaca. "Aku kan juga cucu kalian."


"Kakek dan nenek tidak pilih kasih sama kalian berdua. Kalian cucu kita." Kata nenek.


"Bohong. Buktinya cuma Agatha yang sekolah di Korea, sekolah impian Hana." Teriak Hana menangis.


"Kenapa kamu gak tanya Papa mu." Kata kakek. "Bukannya Papa mu yang tidak mengijinkan kamu bersekolah di Korea?"


Hana mengusap air matanya kasar. "Agatha juga yang berhasil debut jadi idol. Itu juga impian aku."


"Hana." Panggil Haris. "Papa tidak mengijinkan kamu ke Korea karena khawatir sama kamu."


Hana tertawa sumbang. "Karena aku lemah! Iya? Aku sudah sembuh pa."


"Hana!" Pekik Ari ketika Hana kembali ke kamarnya dan membanting pintu.


"Bagaimana kamu mengatasi ini?" Tanya kakek pada Haris.


Haris memijit pangkal hidungnya. "Aku punya alasan gak ngijinin Hana ke Korea."

__ADS_1


"Terus kenapa kamu membenci Agatha?" Tanya nenek.


"Karna Agatha, Hana hampir mati." Balas Haris.


"Itu bukan salah Agatha. Disana dia juga korban." Sahut kakek.


"Karna itu Hana tidak boleh kecapean. Itu alasan kenapa aku tidak mengijinkan Hana pelatihan di Korea." Ujar Haris. "Aku khawatir dengan pernafasannya."


"Kamu tidak khawatir dengan Agatha?" Kata Nenek. "Dia juga anakmu."


"Agatha cukup sehat untuk melakukan itu semua."


"Ternyata kamu belum mengenal putri mu lebih dalam." Kata kakek. "Sekarang cari dimana putrimu atau perusahaan di Indonesia ayah cabut dari kamu Haris."


Haris melotot ingin protes.


"Mau protes? Bukanya ini sudah tugasmu mencari putrimu yang hilang?" Datar kakek.


"Bisa-bisanya kalian tidak mencari Agatha yang tidak pulang selama lima hari." Lanjut nenek.


"Aku tidak mengharapkan anak itu." Ujar Haris. "Bawa dia kembali ke Korea Yah."


Kakek Sitas tidak menyangka dengan ucapan anaknya. "Kamu tau sebahagia apa Agatha ketika aku mengijinkan dia pindah ke Indonesia dengan keadaannya yang seperti itu?"


"Keadaan?" Cetus Ari.


"Kalian bahkan tidak mengetahui kondisi Agatha kan?" Kata nenek. "Dia sangat merindukan Orangtua dan kakaknya. Dia berharap kalian bisa menerimanya dengan hangat."


"Aku tidak akan bisa menerimanya disini." Dingin Haris. "Dia hampir membunuh Hana."


"Haris." Bentak kakek. "Aku tidak pernah mengajarimu seperti itu."


"Jika aku datang terlambat mungkin Hana sudah pergi."


"Terserahlah apa katamu." Kakek Sitas berdiri. "Jangan pernah menyesali perkataan mu ini."


"Aku tidak akan menyesalinya." Balas Haris.


Kakek dan nenek Sitas saling pandang. "Ibu kecewa sama kamu, nak."


Haris menatap ibunya. "Ibu tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini." Sedih nenek. "Sekarang cari putrimu bisa jadi dia tidak aman di luar sana."


"Dia akan pulang dengan sendirinya."


"Karena dia sudah menganggap mu rumahnya." Kata kakek. "Maka dia akan selalu pulang ke rumahnya."


Haris dan Ari tampak diam.


"Aku harap kalian bisa menyayangi Agatha seperti kalian menyayangi Hana." Kakek berjalan keluar di ikuti nenek dari belakang.


"Ibu menunggu kabar baik darimu."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2