
Semenjak kajadian itu aku selalu menghindari Mark. Dia tetap menjemputku setiap pagi walau aku sudah berangkat. Aku berusaha berangkat sepagi mungkin agar tidak bertemu dengan Mark.
Baru jam tiga pagi lalu mandi dan bersiap sebelum itu aku memasak dulu untuk sarapan, jadi ketika semuanya bangun sudah ada makanan di meja makan.
Sepulang sekolah aku langsung mencuci baju yang sudah menumpuk dikeranjang cucian. Sambil menunggu mesin cuci aku menyetrika agar menghemat waktu.
Itu ku lakukan beberapa hari ini setiap pulang sekolah, bahkan aku jarang bertemu Mama dan Papa. Tidak apa, toh aku juga jarang bertemu mereka.
Aku melakukan itu semua agar Mama sedikit melirikku. Jangan berharap Agatha!
Dan untuk malam ini aku kembali kerutinitas mencuci baju dan menyetrika. Hana tampak bersender pada pintu sambil menatapku.
Aku menatapnya balik sepertinya ada yang ingin dia sampaikan. Wajahnya terlihat kesal.
"Sebenarnya lo ada hubungan apa dengan Mark?" katanya tanpa basa-basi.
Aku terdiam, maklum dia tau soalnya Mark beberapa kali datang kerumah ini mencariku. Tentu saja yang membukakan pintu jika bukan Hana ya bi Imah.
"Gak ada hubungan apa-apa."
"Bohong." Jawabnya cepat sedikit membentak.
"Kau sudah membaik?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Gak usah sok peduli. Gue bakal cari tahu sendiri ada hubungan apa lo sama Mark." Katanya lalu berbalik pergi.
Aku mendesah sepertinya hari-hariku akan sedikit sulit.
Mencuci sudah, menyetrika sudah, sekarang tinggal makan. Aku berjalan menuju dapur mengambil beberapa lembar roti. Aku tidak terbiasa makan malam setelah jam 6 malam, tidak nyaman untuk tidur.
"Mau bibi buatkan makanan Non?" aku menoleh mendapati bibi berdiri disampingku.
Aku menggeleng, "Enggak usah bi. Makasih. Ngomong-ngomong Kak Asep gimana? Mau?"
Bi Imah tersenyum, "Mau non, katanya besok berangkat kesini."
"Syukurlah kalo mau." Kataku lalu menengok jam didinding. Pantas saja aku mengantuk sudah jam sebelas malam. "Bibi istirahat ya sudah malam. Agatha ke kamar dulu."
Bi Imah mengangguk dan aku langsung naik keatas.
Cklek!!
Aku membuka pintu kamar lalu mengarahkan rambutku kebelakang. Badanku sakit semua aku ingin segera tidur. Beruntungnya besok tidak ada tugas yang harus dikumpulkan.
"Hah?!"
Aku terkejut, terkejut yang benar-benar terkejut ketika melihat orang lain ada dikamarku. Saking terkejutnya punggungku sampai menabrak pintu yang sudah tertutup.
Bagaimana bisa Mark ada dikamarku? Dia berdiri dengan ekspresi kacau sambil berjalan kearahku. Dengan gerakan cepat dia menarikku dan langsung memelukku.
Kepalaku terpatok dada Mark, tapi cowok itu tidak keberatan dia malah memelukku semakin erat. Aku dapat merasakan Mark menghirup wangi rambutku.
Saking terkejutnya aku tidak sadar apa yang Mark lakukan. Aku memberontak ingin melepaskan diri darinya tapi nihil dia malah memelukku semakin erat.
Aku kembali memberontak tapi sia-sia aku menyerah.
Sebenarnya kenapa anak ini? datang tanpa permisi dan memeluk seenak jidat.
Mark berjalan membawaku ke ranjang masih dengan memelukku. Dia mendudukanku dibibir kasur dan dia berjongkok didepanku. Wajahnya sangat suram seperti tidak di beri makan setaun.
"Ngapain kesini? Lewat mana?" jujur aku sangat penasaran bagaimana bisa dia masuk kamarku. Lalu aku menoleh pada jendela. Ah sepertinya dia lewat sana terbukti jendela itu terbuka lewat aku masih ingat tadi jendela itu tertutup. "Lewat jendela?"
Cowok itu mengangguk. Dia masih diam sambil memainkan jariku. Aku sempat menepisnya tapi dia meraihnya kembali inginku terpis lagi dia menggenggamnya tambah erat.
__ADS_1
"Kak Mark kenapa sih? Kalo mama papa tahu bisa gawat."
"Pulang gih." Lanjutku.
"Gue seperti ini karena lo."
Aku melotot, heh! Yang benar saja. Aku bahkan tidak melakukan apa-apa. Jangan asal menuduh.
Belum sempat aku memprotes Mark lebih dulu membuka suara, "Karena lo ngehindari gue."
Aku diam benar juga apa yang diucapkan Mark. Tapi aku melakukan itu ada alasannya. Mana ada sih orang berbuat tanpa alasan. Kalo ada sini antarkan kehadapanku.
"Kak."
"Iya?"
"Bisakah kakak menjauhi aku?" kataku hati-hati, aku sudah memikirkan ini setiap malam, bodoamat jika disangka tidak tau diri. Aku hanya ingin hidup normal tidak dihantuin fans cowok itu.
Mata Mark menatapku tajam, rahangnya mengeras, wajahnya terlihat sekali jika dia sedang marah. Kok aku mendadak takut ya, aku tidak menyangka Mark akan semarah ini.
"Siapa yang nyuruh lo ngomong kayak gitu?"
Aku menunduk Mark memang tidak membentak atau semacamnya tapi masalahnya dia ngomong tegas banget.
Aku bisa mendengar Mark mengembuskan nafas kasar. Sepertinya dia frustasi.
"Jangan harap gue bakal jauh dari lo."
Aku mendongak menatap pria berkaca mata ini, aku baru sadar jika dia menggunakan kaca mata.
"Ini kenapa?" tanyanya sebelum aku membuka suara. Menyentuh luka dilututku.
"Jatuh."
"Bohong."
"Bener bohong."
"Bukan gitu."
Mark menarik tanganku, melihatnya dengan wajah mengeras. Ini sebenarnya dia kenapa sih?! Beralih pada tangan kanan, dan terakhir pada kaki, dia juga menyibak rambutku dan mengikatnya.
"Jatuh ya sampai kayak gini lukanya." Sindir Mark.
Cowok itu mengeluarkan salep lalu mengoleskan pada luka-lukaku. Aku hanya diam.
"Maka—"
"Tidur." Mark memotong kalimatku membuat aku menghembuskan nafas panjang.
Ya sudahlah.
"Yaudah kakak pulang."
Mark menggeleng. "Gue bakal nunggu lo sampai tidur."
"Hah?"
Mark langsung menarikku dan membenarkan letak selimut. Aku cengo melihatnya, ini benar-benar Mark diceritakan Lia? Beda sekali.
"Tidur!"
"Jangan macem-macem."
__ADS_1
Mark mengangguk lalu mengelus kepalaku pelan, aku sudah mengantuk tidak peduli lagi. tapi samar-samar aku merasakan benda kenyal menyentuh keningku.
Aku tidak tau itu apa.
Mark tersenyum melihat Agatha yang sudah tertidur pulas, diciumnya kening gadis itu. Mark kembali menenggakkan badanya hendak keluar lewat jendela. Tapi pandangannya teralih pada sesuatu yang menarik.
Ada sebotol obat diatas meja yang bertuliskan vitamin. Ada sesuatu yang menjadi perhatiannya dibukannya laci dibawah meja itu. Digoxin, Ivabradine, Candesartan, Valsartan, Telmisartan dan masih banyak lagi.
Itu semua obat untuk gagal jantung.
***
“Lo ngapain?”
Sata datang dari arah dapur dengan secangkir teh di tangannya. Meskipun sudah diejek karena tidak suka kopi, Sata tetap bersiteguh dengan minuman favoritnya. Teh.
Mark hanya menatap sekilas Sata dan kembali ke aktivitas menonton tv nya.
“Cowo ganteng kek gini dianggurin.” Cibir Sata meraih pisang goreng diatas meja depan Mark. “Siapa nih yang goreng?”
“Coba lo tanya ke pisang gorengnya.” Sahut Jeno yang sejak tadi duduk diam dengan ponsel di tangannya, cowok itu duduk beralasan karpet berbulu tebal di depan Mark.
“Heh, pisang siapa yang goreng lu?” Tanya Sata pada pisang goreng di tangannya, “Kalo ditanya itu jawab.”
Jeno mendengus sebal, “Susah emang punya temen tolol nya sampe ubun-ubun.”
“Maksud lu apaan hah? Tadi suruh tanya sendiri ke pisang goreng pas udah ditanya gue di tolol in.” Protes Sata tidak terima setelah menyesap teh kesukaannya.
“Emang tolol lu udah sampe akar, bisa say hai ke cacing tanah.” Ujar Jeno kembali fokus pada game di ponselnya.
“Dasar tutup rantang!”
“SATA BANGSAT?!” Teriak Jeno hampir membanting ponselnya ke lantai. Sata menelponnya ketika sudah hampir memenangkan game. “Gue hampir menang, babi!”
Sementara Sata sudah terbahak di samping Mark. Cowo itu sedikit memberi jarak agar Jeno tidak bisa meraihnya.
“Sori bro kepencet.” Beo Sata masih dengan tawa khasnya.
“Gue tanyain lo!” Sewot Jeno melayangkan bantal ke arah Sata.
Sata yang tidak mengetahui bantai mengarah padanya sontak terkejut, aktivitas meminum teh nya berantakan membasahi kaos putihnya.
“Jeno sialan!” Geram Sata menatap Jeno tajam. “Baju mahal ini woi.”
“Sori bantal nya terbang sendiri,” ucap Jeno santai.
Sata hanya mendengus kesal, mengelap kaos putihnya dengan tisu basah. Meskipun sedikit urakan dan berantakan, Sata termasuk tipe orang yang tidak suka kotor.
Catat. Sata tidak suka kotor.
Tapi, dia berantakan.
Gimana maksudnya?
Tanya saja pada Sata.
“Btw, lo daritadi mikirin apa sih Mark?” Jeno menatap Mark di belakangnya, “Matanya ke tv sih tapi pikirannya udah keliling dunia.”
Sata yang tertarik dengan pembahasan Jeno ikut menoleh. Memang sejak tadi Mark hanya diam menatap tv dengan kosong.
Sejak pulang dari nongkrong Sata dan Jeno setuju untuk menginap di rumah Mark karena rumah cowok itu tengah sepi. Kedua orang tua Mark ada urusan di luar negeri. Selain itu fasilitas di rumah Mark sangat membuat Sata kegirangan.
“Gue punya misi buat kalian.”
__ADS_1
***