
Gundukan tanah yang terselimuti oleh rumput hijau berderet rapi diatas permukaan tanah seluas 13,5 hektar dengan beberapa senti meter celah dari setiap pusara, bersih dan asri dengan warna hijau yang mencolok. Meski demikian keasrian menyegarkan mata nyatanya tempat itu adalah tempat yang menyimpan duka mendalam bagi orang yang ditinggal.
Tempat sebagai pertemuan terakhir sebelum yang pergi terkubur di dalam gelapnya sebuah liang yang menjadi tempat peristirahatan terakhir, dan pada akhirnya mereka yang ditinggalkan hanya bisa menyapa lewat doa berharap dipertemukan di tempat yang lebih layak disisi-Nya.
Sekitar 5 menit sudah ketiga orang itu berdiri tepat di samping salah satu gundukan yang bertuliskan nama Keenan Afriyan lahir 12 Agustus 1993 Wafat 05 Oktober 2017 pada nisan batu granit diatasnya. Untuk pertama kalinya Rea datang ke tempat ini membawa serta sang anak bersamanya, sebelumnya Varest sudah pernah datang ke makam Keenan sesaat sebelum dia menikah dengan Rea dan itupun berdua dengan Rea.
Kelopak kembang pihong yang dicampur kelopak mawarpun sudah habis ditaburkan diatas makam, setitik air mata menetes tanpa hambatan pada pipi Rea yang membuat Varest yang berada di sampingnya langsung menoleh dan langsung merangkul bahunya seakan memberi kekuatan lewat sentuhan.
"Hai, kak. Aku datang." Ucap Rea tersenyum lirih, "Maaf yah aku baru bisa kesini setelah sekian lama."
Rea menghela nafasnya pelan kemudian menoleh pada Varest dan Zee di sampingya. "Kak, hari ini aku tidak datang sendiri seperti sebelumnya, ada Varest dan Zee juga bersama ku." Jedanya sembari mengelus pucuk kepala Zee yang dari tadi diam diantara kedua orang tuanya sambil membawa seikat bunga matahari ditangannya.
"Kak Keenan sudah kenal Varest, kan? Dia adalah lelaki yang berhasil membuat ku kembali pada kebahagiaan, lelaki baik yang menjadi suami dan papa yang baik untuk Zee." Melow menguasai suasana, Rea menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami yang dibalas pelukan hangat oleh Varest.
Tak seperi dulu saat Rea yang menangis ketika mengingat Keenan - Varest biasanya akan merasa bersalah dan menganggap Rea masih sangat mencintai mantan suaminya itu. Namun, berbeda dengan sekarang mendengar Rea yang memperkenalkan dirinya sebagai suami dan papa Zee hatinya terasa menghangat meski mendengar isakan sang istri di dalam dekapannya.
"KE-ENAM AP-LI-YAN." Suara ejaan itu terdengar jelas yang membuat Rea dan Varest langsung menunduk pada sumber suara, nampakĀ Zee yang berjongkok manjadikan lutut dan tangan sebagai tumpuan tubuh kecilnya untuk mendekatkan dirinya pada nisan yang dia baca.
Rea dan Varest ikut berjongkok memperbaiki posisi Zee yang hampir jatuh karena tubuhnya yang condong ke depan. "Sayang, itu bacanya bukan Ke Enam tapi KEENAN dibaca Kinan." Jelas Varest sambil membersihkan tangan Zee yang sudah kotor karna tanah.
"Kinan ini apa, Pa?" Tanya Zee yang mulai penasaran atas tulisan yang tertera diatas batu tersebut.
"Dia sama kayak kita, sayang. Dia laki-laki sama kayak papa dan Zee, tapi dia sudah tidak ada bersama kita. Dia sudah bersama Tuhan yang lebih sayang sama dia." Jelas Rea pelan meski tahu jika sang putra pasti belum mengerti apa arti yang dia katakan.
__ADS_1
Benar saja bocah itu tak mengerti, kepalanya dia telengkan kesamping kiri sambil berkedip 3 kali dengan cepat tanda dia masih bingung dengan apa yang dijelaskan oleh sang mama.
"Dia ini orang terdekatnya Zee sama kayak papa." Varest ikut menjawab.
"Sama kayak om Andi tidak, Pa? Ji dekat sama om Andi seling main sama-sama, telus seling belikan Ji kue banyak-banyak"
"Iya, sama kayak om Andi. Tapi, Zee sudah tidak bisa lagi ketemu sama dia, Zee cuma bisa berdoa agar dia selalu bahagia bersama Allah disana." Varest menimpali.
"Om Kinan" Zee manggut-manggut, "Om Kinan itu siapa?"
Rea yang mendengar pertanyaan sang putra langsung menoleh pada Varest, sedikit khawatir jika suaminya tersebut merasa sedih dengan keingin tahuan Zee sekarang. Dia memang ingin memperkenalkan Zee kepada Keenan tapi hanya sebatas mengetahui jika ada orang yang patut bocah itu kenal namanya.
Namun, tiba-tiba Rea terpaku dengan kalimat yang keluar dari mulut Varest sebagai jawaban, kalimat yang mampu membuat dia meneteskan air matanya untuk kesekian kalinya selama berada di makam itu.
"Dia adalah papanya Zee. Papa yang sudah membawa Zee ketemu dengan papa, papa yang sangat berjasa karena membuat Zee dan mama ada di hidup papa sekarang, papa yang akan selalu ada di hati Zee yang paling dalam." Ujar Varest menunjuk dada kiri bocah yang masih memakai seragam sekolahnya tersebut.
-
-
-
"Zee..!" Panggil Rea pada Zee yang langsung naik ke atas ranjang setelah bermain dengan papanya.
__ADS_1
"Sayang, cuci kaki dulu baru tidur." Tegurnya pada sang putra.
"Tapi, Ji sudah ngantuk, Mama." Jawab Zee yang malas untuk kembali turun dari ranjangnya.
"Zee harus cuci kaki dulu sebelum tidur, tidak bagus tidur kalau kakinya masih kotor, sayang"
"Besok Ji cuci kaki kalau sudah bangun." Tawar Zee masih enggan untuk keluar dari selimut yang sudah menutupi tubuhnya sampai dada.
Rea hanya bisa menggelengkan kepalanya kala melihat sang putra yang menutup matanya pura-pura tidur, wanita itu melirik pada suaminya yang malah duduk diam di samping ranjang disertai kekehan kecil melihat Zee yang menawar untuk kegiatan sebelum tidurnya.
Varest yang mengertipun langsung mengangguk, dia mengulurkan kedua tangannya dan memasukkan disela kedua ketiak Zee kemudian mengangkat bocah itu sampai suara pekikan terdengar menggema, Zee meledakkan tawanya merasa geli dengan apa yang dilakukan oleh sang papa.
Varest membawa Zee ke dalam kamar mandi yang berada di kamar bocah itu sendiri berniat untuk membantunya mencuci kaki. Selang beberapa menit kedua lelaki berbeda usia itu keluar dari kamar mandi dengan Zee yang masih berada dalam gendongan Varest.
"Nah, sekarang Zee sudah boleh bobo!" Kata Varest mendudukkan Zee di ranjang sambil menarik selmut hingga menutupi kaki sang putra.
"Tapi, sebelumnya harus berdoa dulu."
Zee mengangguk, ditatapnya kedua orang tuanya yang duduk di sampingnya setelah itu menengadahkan tangannya di depan dada. Dia tersenyum kemudia menutup matanya pelan.
"Bismillahillahmanillahim. Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut." Doanya, setelah itu dia membuka matanya.
"Ya Allah, hali ini Ji ketemu sama papa Kinan, Ji beldoa bial papa Kinan senang telus disana sama Allah, telus papa sama mama Ji juga senang telus disini sama-sama Ji dan juga adik."
__ADS_1
"Amiin.." Kedua orang tua itu mengamini setelahnya mencium kedua pipi sang putra.
"Good night, Dear. Sweet *****"