Sunflower

Sunflower
Kakek Tercinta


__ADS_3

"Aduhh kakek aku gak mau."


Untuk kesekian kalinya aku merengek, aku sedang berjuang membujuk kakek tercintaku agar tidak membawaku kembali ke Korea.


Sungguh aku tidak mau!!


Satu jam yang lalu kakek dan nenek tiba-tiba masuk keruanganku. Tentu saja aku yang sedang makan langsung tersedak.


Bagaimana bisa tidak ada angin, tidak akan hujan badai tiba-tiba mereka berdua muncul dibalik pintu putih itu.


Aku menatap James meminta bantuan, namun pria kaku itu mengalihkan pandangannya. Tidak mau menatapku.


"Lihat lah belum satu tahun kamu sudah hampir sekarat di rumah sakit." Cetus kakek di sofa, meminum teh buatan James. "Besok kamu kembali ke Korea."


Aku hampir menangis. "E gak mau." Aku menoleh pada Nenek. Hanya nenek harapanku. Kakek sangat mematuhi ucapan nenek. "Nenek."


Nenek tersenyum. "Yang dikatakan kakek mu benar. Sudah turunin saja."


Aku mengangkat tangan di udara. "Janji. Aku gak bakal bikin ulah lagi."


"Kamu dulu juga bilang kayak gitu ke kakek." Celetuk kakek.


"Makanya ini aku janji lagi." Ujar ku. "Ayolah Kek."


Kakek menggeleng. "Kakek tidak bisa membiarkan ini terjadi lagi." katanya. "Lagian apa yang kamu cari disini."


"Sekolah disini itu enak gak kayak di Korea yang gila belajar." Cetus ku.


"Itu karena masuk universitas susah." Sahut kakek.


"Makanya aku pilih sekolah dan kuliah disini." Balas ku cepat. Aku harus bisa membujuk kakek tersayang ku.


Kakek tetap menggeleng.


Bagaimana ini? Kakek tercinta kolot itu tidak akan mendengarkan ku sekarang. Bukan hal gampang aku bisa pindah ke Indonesia tapi sekarang aku sudah hampir dibawa kembali ke Korea.


Aku tidak mau.


"Kamu mau tinggal sama orang tua kamu kan?" Tanya nenek sambil mengelus kepalaku.


"Iya, Nek."


"Apa mereka sekarang tau kamu disini?"


Aku menggeleng lemah. Orang tua ku memang tidak tau aku dimana dan dengan siapa. Bagaimana keadaanku. Bahkan sepertinya mereka tidak mencariku.


"Tapikan mereka tetap Orangtua Agatha." Ujarku sambil memainkan selimut tidak berani menatap kakek maupun nenek. "Aku sudah lama tidak bersama mereka."


Nenek menghembuskan nafas perlahan. "Kamu baik-baik saja disini?"


"Aku baik-baik saja, Nek." Balas ku.


"Tapi kenapa Nenek mendapat laporan kepala kamu berdarah. Kamu tidak mau diobati dokter." Kata nenek. "Dan sekarang kamu tidak sadarkan diri selama dua hari."


Aku terdiam memang seperti itu kenyataannya. Tidak perlu mencari tau nenek tau darimana. Tentu saja James. Pria itu akan selalu membuat laporan pada kakek.


James memang di tugas kan seperti itu.


"Kamu juga tau seberapa tidak ikhlas nya kakek mengijinkan kamu bergabung di agency?"

__ADS_1


Aku kembali terdiam mengingat perdebatan ku dulu dengan kakek. Aku yang memang sejak awal mempunyai minat di bidang musik memberi usulan untuk masuk di agency.


Cukup sulit waktu itu. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Kakek yang menolak mentah-mentah keinginanku. Aku tau alasan kakek tidak membiarkan aku menjadi trainee.


Karena penyakitku.


Aku tau itu. Tapi jika aku tidak mencoba, keinginanku tidak akan terwujud kan? Aku akan hidup dengan banyak penyesalan tanpa mencoba.


Setidaknya aku sudah menggapai satu impian ku sebelum aku pergi. Lagi pula itu juga agency milik kakek.


Kim Entertaiment. Agency yang menaungi arti terkenal di Korea.


Itulah salah satu alasan kenapa Hana membenciku. Karena aku berhasil debut sedangkan dia tidak. Papa tidak pernah mengijinkan Hana menjadi Idol. Hana sudah di setting menjadi dokter.


Namun, tidak ada yang mengetahui identitasku sebagai cucu pemilik perusahaan. Mereka hanya sekedar tau jika aku solois terkenal.


Aku memang solois. Namun, aku jarang sekali comeback karena fokus ku pada akting.


Kakek lebih suka jika aku akting daripada bernyanyi.


"Sayang, kakek melakukan ini bukan tanpa alasan." Nenek mengelus rambut coklat ku. Aku belum menggantinya.


Aku mengangguk membenarkan ucapan kakek.


Tapi bukan aku jika tidak membantah. "Tolong bujuk kakek, Nek. aku masih mau disini." Rengekku pada nenek.


Nenek terkekeh pelan. "Kenapa harus nenek. Kenapa tidak kamu sendiri?"


"Telinga kakek sudah memblokir suaraku. Hanya perintah nenek yang tidak bisa dibantah kakek."


Kakek melotot. "Kata siapa, heh?" Berjalan menghampiri aku.


Aku bersorak. "Tuh kan tuh. Kakek langsung nurut padahal cuma lambaian tangan."


Kakek mendengus melipat tangannya di dada.


Aku kembali beralih pada nenek. "Janji Agatha bakal lebih hati-hati lagi. Lagian kan ada James."


"Tetep aja kamu masuk rumah sakit." Cetus kakek.


"Takdir Kek." Balas ku.


"Berarti kamu kembali ke Korea juga takdir." Ketus kakek.


"Itu beda konsep." Jawabku cepat. "Ayolah Nek." Rengekku.


Demi apa aku sudah tantrum didepan nenek.


Ruangan ini hanya terisi suara ku dan kakek yang terus berdebat. James hanya diam berdiri disamping kakek. Dan kakek duduk di sofa. Nenek duduk di sebelah ranjang kananku sedangkan Mark duduk disamping kiri.


Eh?


Mark?


Aku melupakan cowok itu. Sejak tadi cowok itu hanya diam menyimak perdebatan ku dengan kakek. Sesekali tertawa pelan.


"Kan ada kak Mark." Pekik ku.


Mark melotot. "Ngapain bawa-bawa nama gue."

__ADS_1


"Kak Mark bakalan jagain aku. Iyakan kak?" Aku menatap harap Mark.


Ayolah Mark kau pasti mengerti maksudku.


"Engga tuh." Balas Mark enteng.


"Aaahhhh kaaakkk" rengekku menggoyangkan tangan Mark. aku benar-benar tantrum. "Kak Mark bakalan jagain aku kan?"


Mark melirik sekilas. "Lo aja gak dengerin apa kata gue."


"Dengerin kok dengerin." Balasku cepat. "Bakal dengerin kak Mark."


Kakek mendengus. Tidak ada pilihan. Berdebat dengan Agatha tidak akan bisa menang.


"Oke kalau begitu" kata kakek.


"Hah? Oke apaan?" Bingungku. Kakek itu tiba-tiba berujar tidak jelas.


"Kamu pengen tetap disini kan?" Tanya kakek.


Aku mengangguk antusias. "Iya."


"Ada syaratnya."


"Apa-apa?" Mataku langsung berbinar.


"Harus selalu jaga kesehatan." Ujar kakek.


"Oke siap."


"Harus selalu minum obat. kamu sudah dua bulan tidak minum obat." Kakek melotot padaku. Aku nyengir.


Obat itu pahit. Tapi okelah.


"Berhenti jadi idol dan aktris."


Aku terdiam mencernah ucapan kakek.


Kakek berdehem. "Kamu bisa melanjutkan bakat akting kamu tapi kamu harus berhenti jadi idol. Ini memang sedikit egois tapi ini juga menyangkut masalah kesehatan kamu."


Aku berfikir sejenak. Sejak awal kakek memang tidak pernah merestui ku menjadi idol. Oleh karena itu aku jarang sekali comeback karena sekali comeback aku akan super sibuk dengan promosi album.


Sepertinya berhenti jadi idol itu tidak masalah. Aku memang sudah berencana berhenti. Jadi idol tidak muda, banyak sekali larangan yang harus dipatuhi.


Menjaga berat badan, menjaga kulit, harus selalu terlihat bahagia, tidak boleh berkencan, dan masih banyak lagi.


"Okee aku akan berhenti jadi idol. Toh, aku memang berencana berhenti." Balas ku.


Kakek tersenyum. "Bagus." Katanya. "Dan kamu harus mengikuti apa kata Mark."


"Hah?"


"Bukannya kamu sendiri yang bilang bakal patuh pada Mark?" Kata kakek.


"Iya sih." Kataku. "Tapi apa hubungan kakek sama Mark."


"Mau engga?" Bukannya menjawab kakek malah kembali bertanya.


Aku mengangguk. Tidak ada salahnya menurut pada Mark. sejauh ini Mark selalu menjaga ku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2