
"Mamaaa.. Papaaa" Teriakan itu menggema sampai ke dalam kamar Varest yang masih bersembunyi dibawah selimut, dikuceknya matanya kala suara gedoran pada pintu semakin keras dan semakin mengganggu.
Lelaki itu meregangkan ototnya keatas berusaha untuk melepaskan penat yang dirasanya, Varest terkejut saat akan membuka selimut yang menutupi tubuhnya kala seseorang menggeliat disampingnya dan merapatkan tubuhnya padanya dengan tangan yang melingkar diatas perutnya.
Varest tersenyum, sekelebat bayangan akan malam tadi tiba-tiba muncul dari kepalanya hingga lagi-lagi dia dikagetkan oleh suara melengking dari depan pintu yang tak hentinya meneriakinya.
"Astaga.." Varest menggigit bibirnya gemas namun tak ayal tetap turun dari ranjang untuk menemui pengacau pagi itu.
Diangkatnya tangan Rea yang melingkar pada perutnya dengan pelan berusaha agar tak membangunkan sang istri yang masih tertidur dengan damainya, Rea sedikit bergumam saat merasakan pergerakan dari Varest tapi setelahnya kembali pada posisi nyamannya.
Lelaki itu mengambil boxer yang yang tergeletak asal disebelah ranjang setelahnya berlari pelan membuka pintu yang dengan kasihannya menjadi imbas amukan Zee pagi-pagi buta.
Yah, Zee pelaku utama yang tanpa rasa kasihan terus menumbuk papan kayu yang adalah pintu kamar orang tuanya, Bocah yang saat ini menggunakan piama tidur berwarna kuning dengan motif bulan bintang itu telihat marah, air matanya menggenang serta garis bibir yang sudah melingkar ke atas.
"Mana Mama?" tanya Zee, pintu baru saja terbuka dan memperlihatkan sang Papa yang keluar dengan hanya menggunakan boxer.
"Mama di dalam" jawab Varest menengok ke dalam kamar
"Kenapa Ji bisa tidul di kamal Ji sendili?" Zee bertanya dengan bertolak pinggang.
Varest gelagapan, Ah, dia melupakan sang anak tadi malam seharusnya dia sudah bisa mencari alasan yang tepat jika Zee tiba-tiba bangun dan menanyakan kenapa tidak tidur di kamar mereka. Namun karena kejadian itu akhirnya dia terlupa dan tertidur dalam keadaan kelelahan.
Lama terdiam dan tak mendapat jawaban akhirnya Zee menyadari sesuatu, bocah itu memindai tubuh sang Papa dari ujung kepala hingga kaki, nampak dia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Papa tidak pake baju?" tanyanya lagi "Tidak sopan"
Varest mendesah pasrah, yah, satu lagi dia melupakan jika dia pernah mengajari sang anak untuk tidak berkeliaran meski di dalam rumah dalam keadaan tidak memakai pakaian atau hanya menggunakan pakaian dalam dan menanamkan pada Zee untuk memiliki rasa malu meski masih usia dini.
Varest menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dengan gagap dia menjawab, "I-itu Zee, ta-ta-tadi malam, Papa kena alergi, I-iya alergi jadi gatal banget, terus Papa minta tolong sama Mama buat taburin bedak"
Zee diam masih mengamati wajah sang Papa.
__ADS_1
"Makanya itu Zee tidur di kamar sendiri soalnya takut nanti Zee ketularan" alasannya
"Ooohh" Zee ber-oh ria mengerti jika alergi yang dikatakan sang Papa memang sangat menyiksa karena dia pernah merasakannya dan harus diolesi salep hingga bedak anti gatal untuk meredakannya.
Varest menghembuskan nafasnya lega saat Zee mau menerima alasannya, namun itu hanya bertahan sebentar tatkala Zee memaksa untuk masuk ke dalam kamar untuk menemui Mamanya yang katanya masih tidur.
Varest segera menghadang Zee dengan berjongkok dan merentangkan kedua tangannya di depan pintu, terlihat Zee tidak suka, dia memaksa masuk dan mendorong tubuh Papanya berkali-kali.
"Papa apa sih?, Ji mau masuk lihat Mama" katanya
Rengekan Zee ternyata cukup mengusik tidur Rea, wanita itu menggeliat dan menyadari keributan antara dua orang yang saling mendorong di depan pintu.
"Ada apa Rest?" teriaknya
Varest menoleh, "Tidak apa-apa sayang, mandilah dulu!, Zee ingin main" jawabnya
Deg
"Re, mandilah dulu, aku akan membawa Zee untuk mandi di kamarnya" kembali Varest berteriak
Seketika Rea tersadar, diintipnya tubuhnya di bawah selimut dan menyadari bahwa dia tidak menggunakan sehelai benang pun, segera dia bangun dan melilitkan selimut itu ketubuhnya sambil berlari menuju kamar mandi.
"Ah, I-iya, Ma-mama mandi dulu yah Zee" kepalanya menyembul dari balik pintu kamar mandi untuk memberi tahu Varest jika dia sudah selamat.
Varest bernafas lega, setelahnya menggendong Zee untuk kembali ke kamarnya sendiri.
"Ayo kita mandi, Mama juga harus keramas"
-
-
__ADS_1
-
Waktu sarapan adalah waktu tepat memulai perbincangan hangat bersama keluarga, membicarakan rencana untuk aktifitas seharian hingga kembali berkumpul pada malam hari.
Pukul 8 kurang 15 menit sarapan sudah tertata diatas meja makan, nampak Zee memperhatikan menu sarapan yang tak biasanya itu. Tiga porsi bubur dengan suiran ayam serta potongan telur dan sayuran ditambah tiga gelas susu vanila, itu adalah menu sarapan pertama kali yang terhidang saat anggota keluarga dalam keadaan sehat.
"Kenapa salapannya bubul?, siapa yang sakit?" tanya Zee sambil bergantian melihat Mama dan Papanya yang duduk di depannya
"Mama tidak sempat masak Zee, nanti tidak keburu Papa kan mau pergi kerja" jawab Rea
Sebenarnya itu hanyalah alasan, karena waktu untuk memasak masih bisa dibilang cukup hanya untuk menu nasi goreng andalan Zee, tapi karena Varest yang menolak untuk Rea membuat sarapan dengan alasan sang istri sudah kelelahan akhirnya Varest memesan sarapan dari layanan pesan antar yang menyediakan menu sarapan, dan tak berfikir panjang untuk menentukan menunya dan memilih bubur.
"Zee bisa makan kan?, Mama lagi sakit jadi harus makan bubur, keluarga itu harus bisa menemani saat susah dan senang, sekarang kan Mama lagi susah buat makan yang keras-keras jadi biar Mama tidak sedih kita harus dukung Mama buat makan ini dengan cara makan bubur juga" Varest memberi alasan yang sepenuhnya karangan belaka
"Bisa-bisa, Ji mau Mama tidak sedih, tapi---" kalimat Zee terhenti, dia beralih memperhatikan Mama Rea yang juga sedang menunggu kelanjutan ucapannya.
"Mama ketulalan Papa yah?"
"Hahh?" Rea dan Zee menyahut bersamaan
"Kok Zee nanya begitu?" tanya Varest
"Itu lehelnya Mama melah-melah" tunjuknya pada Leher sang Mama
Sontak Rea mengambil ponselnya dan membuka kamera untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Zee, matanya melotot pada Varest yang malah menyengir dengan wajah tanpa dosa.
"Pisss"
__ADS_1