
Kabar bahagia tentang kehamilan Rea sudah diketahui oleh kedua orang tua Varest dan Rea, meski awalnya Varest berniat membawa sang istri ke Dokter Obgyn untuk memastikan kehamilan Rea sebelum memberi tahukan kabar tersebut kepada keluarga. Namun, berbeda dengan Zee yang tak bisa diajak bekerja sama, bocah itu malah dengan hebohnya mengabari kedua nenek dan kakeknya.
Flashback On
Varest masih dengan jahilnya mengganggu tidur Zee yang tengah memeluk Rea di sampingnya, jika dengan meniup telinga tidak mempan, maka dengan memaksa melepaskan pelukan putranya pada sang mama itu pasti akan berhasil,
Varest menyamping kekiri menghadap Rea dan Zee kemudian mengangkat tangan Zee hingga terlepas dari perut mamanya dan benar saja saat tangan mungil itu menggantung dia langsung merengek dan bangun dengan bibir yang sudah melengkung ingin menangis.
"Huaaaaaaaa.. hikss.. hikss" Suara tangis Zee menggema hingga kedua orang tuanya menutup telinganya seraya meringis,
Sigap Rea bangun dengan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan untuk mengangkat tubuh bagian atasnya yang tanpa wanita itu sadari jika suaminya melihat gerakannya itu.
"Sayang, jangan gitu bangunnya" Cegah Varest menahan pundak Rea dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dia letakkan di punggung sang istri.
"Baring lagi!" Titah lelaki itu yang membuat Rea menautkan alisnya bingung.
"Tapi sayang, aku ingin nenangin Zee." Jawab Rea namun tetap mematuhi titah sang suami.
Varest menoleh kepada Zee yang masih sesenggukan dengan mata yang ternyata belum sepenuhnya terbuka kemudian bangun untuk duduk dan meraih putranya untuk diangkat ke pangkuannya. Bocah yang belum sadar sepenuhnya itu terus saja menangis karena telah diganggu tidurnya padahal dia masih terhanyut dalam mimpi indah.
Rea memukul lengan Varest gemas dengan tingkah jahil suaminya itu, sudah tahu kebiasaan sang putra yang akan menangis jika dibangunkan dengan cara diganggu tidurnya malah dengan sengaja melakukan demikian.
"Kamu sih" dengus Rea
Varest terkekeh kemudia beralih pada bocah yang duduk dipangkuannya, diusapnya air mata yang merembes pada pipi Zee dan mengecup singkat pemilik pipi penuh itu. "Udahan nangisnya yah." Bujuk Varest
"Pa-papa na na-kal, gang-ggu Ji bo-bo." Ucap Zee tergagap karena tangisnya
"Ya udah, papa minta maaf yah"
"Ji ti-ti-dak te-man papa." Agaknya bocah pintar itu masih tak terima dengan kelakuan sang papa, dia turun dari pangkuan papanya hendak naik ke atas perut sang mama yang masih berbaring sambil mengelus tangan mungilnya.
__ADS_1
Baru saja Zee ingin duduk tapi dia kembali menjerit tatkala sang papa melarangnya dengan menarik tangannya hingga dia kembali duduk ke pangkuan lelaki yang menjadi papa sambungnya itu.
"Huuuuaaaaaaahhhhh,, Papa jahat mau peluk mama sendili"
"Bu-bukan gitu Zee" Varest mulai gelagapan melihat Zee semakin tak bisa ditenangin.
Tadi dia reflek berteriak dan menarik tangan anaknya itu, mungkin tarikannya tidak membuat Zee sakit tapi teriakan dari Varest lah yang membuat bocah yang selalu ingin terlihat tampan itu kaget dan akhirnya tambah menangis.
Matanya tertuju pada sang istri yang malah tertawa melihatnya kesusahan, wajah Varest memelas meminta pertolongan karena biar bagaimanapun peran Varest saat awal merawat Zee yang akan selalu tenang saat bersamanya itu telah terganti oleh sang istri yang memang adalah ibu kandung anaknya.
Rea yang mengerti pun segera bangun dengan posisi yang benar berbeda saat tadi Varest melarangnya. Wanita itu sebenarnya bukan tidak tahu tapi memang karena lupa jika sekarang kemungkinan besar ada janin yang tumbuh dalam perutnya.
Mama Zee itu mengambil alih putranya dari pangkuan sang suami dan mendudukkan di pahanya, Rea tersenyum tipis dan membelai pipi basah Zee. "Udahan nangis nya yah!, papa kan sudah minta maaf, sayang." Bujuknya yang diamini oleh Varest dengan anggukan cepat.
"Anak tampannya papa kan anak pintar, jadi tidak boleh cengeng. Zee mau maafin papa, kan?" Timpal Varest
"Tapi papa tadi teliak-teliak, Ji takut nanti Ji telkejut telus pingsan telus tidak bisa bangun" Balas Zee dengan ingus yang ditarik.
"Zee sehat kok, kan mau jagain adik di perutnya mama"
Rea dan Varest mengangguk bersamaan, seketika Zee turun dari pangkuan Rea sambil menghapus sisa air mata yang masih menetes dipipi penuhnya, nampak bocah itu sangat bahagia dilihat senyumnya yang kian mengembang dan berdiri sembari melompat-lompat kegirangan.
"Zee mau apa, sayang?" Tanya Varest yang melihat sang putra mengangkat piyama istrinya
"Ji mau lihat adik"
*Flashback**Off*
Dan disinilah Rea sekarang diantara kedua orang tua dan mertuanya, sesaat setelah Zee mengabari kedua nenek dan kakeknya, mereka langsung bergegas mengunjungi rumah Varest dan memastikan langsung jika cucunya bukan hanya mengerjai mereka sama seperti biasanya.
"Ma, belum ada gejala lain kok" Rea memberi pengertian kepada mama Jenny dan mama Nimas yang begitu khawatir.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan kedua wanita paruhbaya itu khawatir, pasalnya dari mama Jenny sendiri sudah pernah menemani selama masa kehamilan Rea mengandung Zee yang setiap hari merasakan morning sickness. Jadi, dia takut jika kehamilan kedua ini juga akan sama dengan yang pertama, tak berbeda jauh dengan ketakutan mama Jenny- mama Nimas pun khawatir jika apa yang pernah dialaminya selama mengandung Varest akan diarasakan oleh menantunya bagaimana dia dulu harus berjuang selama hampir 3 bulan dengan morning sickness parah hingga beberapa kali harus dilarikan ke Rumah sakit.
"Ma, hari ini aku akan membawa Rea untuk memeriksakan kandungannya." Ucap Varest sambil mendekati Rea yang tengah diapit oleh mama dan mertuanya.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku akan menanyakan apa-apa saja yang bisa dilakukan untuk kesehatannya"
Kedua paruh baya itu mengangguk patuh.
"Rest, apa kamu sakit. Nak?" Tanya mama Nimas kepada Varest yang sontak membuat Rea dan mama Jenny menoleh pada lelaki yang tengah melipat lengan kemejanya itu.
Varest menggeleng, "Tidak." Katanya, "Aku hanya sedikit mual, mungkin pengaruh telat sarapan." Lanjutnya sembari berdiri.
"Sayang, aku tunggu di luar yah, tas mu sudah ku ambilkan tadi" Ucapnya kemudian berlalu menuju ruang keluarga dimana ada papa dan papa mertuanya bersama dengan sang putra.
Sebelum Rea keluar kamar dia menyempatkan untuk bercermin kembali memastikan jika penampilannya sudah rapi, sedangkan kedua mama tersebut hanya melihat pergerakan Rea yang terlihat bukan seperti wanita yang sedang hamil muda, bahkan wajahnya pun telihat bertambah segar dari sebelumnya.
"Ma, Rea pamit yah, nitip Zee sebentar" Pamit wanita berbaju model sabrina itu
"Kalian hati-hati, kasih tahu Varest untuk jangan laju-laju bawa mobilnya." Pesan mama Nimas yang diamini oleh mama Jenny.
Rea mengangguk, setelahnya dia melangkah keluar kamar meninggalkan kedua mamanya menemui Varest yang katanya menunggu di ruang keluarga.
"Besan, aku rasa bukan Rea yang harus kita khawatirkan" Kata mama Nimas.
Mama Jenny mengangkat sebelas alisnya bingung, "Maksudnya gimana?, dulu saat Rea hamil Zee dia merasakan morning sickness, kemungkinan kehamilan kedua juga sama"
"Kamu dengar kata Varest tadi?, dia mual dan menurutnya karena telat sarapan." Ujar mama Nimas sambil mendekatkan wajahnya kepada sang besan seperti ibu-ibu yang tengah berghibah.
"Iya"
"Aku tahu betul kebiasaan anak ku itu, dia tidak punya riwayat asam lambung, dan mengenai telat sarapan itu bukan alasan yang tepat, ini baru jam 9 pagi lagipun tadi aku lihat dia sudah makan sepotong roti, jadi tidak mungkin dia mual karena itu"
__ADS_1
"Jadi menurut mu Varest yang mengalami morning sickness?"
"Kita doakan saja, semoga memang Varest yang mengalimanya, aku tidak mau jika menantu ku harus merasakan itu untuk kehamilan keduanya" Harap mama Nimas yang malah membuat mama Jenny terkekeh tak habis fikir dengan besannya yang malah mendoakan sang anak mengalami kesulitan yang seharusnya dialami oleh seorang wanita.