Sunflower

Sunflower
Cowok misterius


__ADS_3

"Namanya juga hidup:))"


***


"Agatha cepet dikit bisa gak sih? Perempuan kok lemot."


Aku hanya tersenyum tipis mendengar kalimat sinis dadi Mama. Bukannya lemot atau kurang cepat salahkan saja jarak antara ruang makan dan dapur itu jauh. Sejak subuh tadi aku sudah dibangunkan oleh Mama dengan cara tidak manusiawi. Menyiramkan air es ketubuhku yang masih terlelap menyebabkan kasur dan sprai tempat tidurku basah kuyup. Padahal hanya dengan memanggil dengan namaku pun aku akan bangun.


Aku harus jadi pembantu jika ingin tetap tinggal disini. Astaga aturan macam apa ini.


Aku membawa pancake yang kubuat  kuletakan didepan Hana. Cewek itu hanya menatapku datar. Cewek itu sudah rapi dengan seragamnya sedangkan aku hanya memakai rok abu abu dengan atasan kaos oblong rambutku pun masih berantakan.


"Mulai sekarang kamu harus bersih bersih rumah, memasak, mencuci, menyapu, mengepel dari lantai satu sampai lantai dua. Membersihkan kamar Hana." Kata Mama tanpa menoleh padaku.


"Iya." Hanya itu yang mampu aku katakan ingin menolak pun tidak bisa. Setidaknya aku masih bisa tinggal bersama mereka.


"Trus tugas sama apa Nyonya?" Tanya Bibi yang bingung.


"Tugas Bibi menggantikan jika dia tidak ada dirumah." Bukan Mama yang menjawab melainkan Papa.


Aku mengganguk menatap Bibi. Menurut adalah jalan terbaik untuk saat ini.


"Ma, Pa aku berangkat ya." Kata Hana berdiri menghampiri Papa Mama dan mencium pipi mereka secara bergantian. Aku dapat melihat Papa mengusap kepala Hana dengan hangat. Aku merindukan itu. Aku juga mau.


Pukul setengah 7 bel masuk akan berbunyi 30 menit lagi. Mungkin cukup untuk bersiap. Aku hendak melangkah menaiki tangga tapi ucapan Mama membuatku urung.


"Kamu mau kemana?"


"Siap siap Ma untuk sekolah."


"Cuci piring dulu ingat kamu cuma babu disini."


"Tapi aku harus sekolah Ma."


"Memang saya perduli. Cepat cuci piring setelah itu kamu boleh berangkat sekolah." Setelah mengatakan itu Mama berdiri mengantarkan Papa kedepan.


"Udah Non biar Bibi aja yang cuci piring. Non Agatha siap siap aja." Kata Bibi.


"Biar aku aja Bi kata Mama harus aku. Lagian cuciannya juga gak banyak paling lima menit selesai."


"Tapi jarak sekolah dan rumah jauh Non. Nanti Non telat." Aku bisa mendengar nada khawatir dari ucapan bibi. Setidaknya masih ada yang mengkhawatirkanku.


"Gapapa bi telat gak bakal buat Agatha bodoh kok." Aku terkekeh pelan.


"Sifat Non Agatha yang masih mendarah daging. Keras kepala." Bibi tertawa mendengar ucapannya sendiri.


"Oh iya Bi gimana kabar Kak Asep?"


"Baik Non sekarang alhamdulilah udah lulus kuliah. Bibi bangga dengernya." Mata Bibi berbinar aku dapat melihat kebanggan dari dalamnya.


Namanya kak Septian tapi aku sering memanggilkan kak Asep. Dia anak Bibi Imah satu satunya menjadi orangtua tunggal tidak mematahkan semangat Bi Imah untuk memberi pendidikan tinggi kepada Kak Asep. Kata Bi Imah hanya pendidikan yang bisa Bi Imah kasih. Dan tahun ini kak Asep sudah lulus dari fakultas kedokteran disalah satu Universitas ternama di Bandung. Dan yang menjadi kebanggaan tersendiri itu kak Asep kuliah dengan jalur beasiswa. Dia tidak mengeluarkan seperser pun biaya untuk kuliah. Walau begitu bi Imah masih dengan rutin mengirim uang setiap satu bulan sekali untuk keperluan yang lain.


Aku dan kak Asep itu dekat. Sebelum pindah ke Korea aku suka main dengan kak Asep jika dia mengunjungi Jakarta. Kak Asep sudah seperti kakak bagiku dia akan maju paling depan jika aku digoda anak anak ditaman komplek. Mengingatnya aku jadi rindu dia.

__ADS_1


"Sekarang kak Asep kerja dimana Bi?"


"Dia keterima di Rumah Sakit Kimberly Non. Rencananya minggu depan dia bakal cari kos kosan dengat sana."


Tunggu? Rumah sakit Kimberly kayaknya gak asing. Aku berfikir sejenak nama rumah sakit itu sangat familiar diotakku. Aku ingat itu rumah sakit kakek salah satu anak cabang.


Aku tersenyum sebuah lampu muncul dikepalaku.


"Bi." Kataku tiba tiba membuat bibi terkejut.


"Astaga Non ada apa atuh bibi kan jadi kaget." Bibi mengelus dadanya pelan.


"Kak Asep gausah cari kos kosan."


***


Sesuai dugaan aku terlambat karena keasikan ngobrol dengan Bibi aku jadi lupa waktu. Pukul 7 lebih 20 menit aku baru sampai disekolah dan langsung menghadap guru BK. Aku masih baru disini dan sudah terlambat. Kemarin salah seragam sekarang terlambat Sungguh menyedihkan. Masih untung tadi James tepat waktu menjemputku bukan menjemput didepan rumah tapi 200 meter dari rumah. Kalau tidak mungkin jam 8 aku baru sampai disekolah.


Kurang tujuh putaran lagi. Iya tujuh itu bukan dikatakan kurang tapi sangat kurang. Aku harus keliling lapangan sepuluh kali putaran sebagai hukuman. Aku mengehembuskan nafas lapangan sekolah ini sangat luas butuh 3 menit untukku mendapat satu putaran.


Belum lagi lapangan ini tengah dipakai kelas sebelah untuk olahraga. Bayangkan aku tengah menjadi pusat perhatian sejak muncul tadi. Belum lagi sang guru BK yang berteriak karena aku sangat lamban. Oke dalam kurung waktu dua jam aku sudah dikatain lamban oleh dua orang. Perutku lapar aku belum sarapan tadi pagi terakhir makan kayaknya kemarin dikantin bersama Lia tadi malam pun aku hanya memakai selembar roti. Aku harap tidak ada yang mendengar suara perutku berbunyi.


Tiga putaran lagi. Sebentar lagi selesai. Aku sudah risih berada disini guru BK itu juga masih disana mengawasi. Apa dia tidak ada kerjaan lain selain mengawasi aku. Aku kan tidak bisa beristirahat. Guru itu juga berulang kali berteriak ingin rasanya aku berteriak balik dan mengatakan jika kau capek. Tapi aku tidak seberani itu mengingat aku masih baru disini.


"Hei diakan yang kemarin buat sekolah hebohkan?"


"Iya dia yang katanya pindahan dari SOPA."


"Kalo gue jadi dia gue gak bakal ninggalin tuh sekolah."


"Cantik juga dia. Lihat kulitnya seputih susu."


"Gue yakin dia bakal jadi target Sarah dan antek anteknya. Kalah saing bro."


"Tapi wajahnya kayak gak asing ya."


Ini yang membuat telingaku panas sejak tadi. Apa mereka tidak pernah melihat cewek cantik. Sabar Agatha sabar. Kesabaranmu diuji disini. Tapi masih ada satu yang menganggu pikiranku cowok disebelah sana berdiri dengan memasukan tangannya disaku training seragam olahraganya mengawasiku sejak tadi. Mengabaikan teman temannya yang asik bercanda. Bukannya aku kepedean tapi daritadi matanya tidak lepas dari aku. Dari ekor mataku aku dapat melihatnya tanpa harus menatapnya. Sebenarnya dia siapa sih. Dia kayaknya sama dengan cowok yang mengawasiku dikelas dan waktu pulang sekolah.


Oke abaikan sekarang fokus pada lari dan segera ke kelas. Satu putaran lagi. Bersyukur aku tidak pingsan karena belum sarapan belum lagi matahari yang terik.


"Aahhkk.." aku reflek memegang dada sebelah kiriku. Astaga jangan sekarang ku mohon. Bertahan satu putaran lagi. Kenapa sakit sekali rasanya seperti ditusuk ribuan jarum.


Oke Agatha berhenti dulu tarik nafas hembuskan perlahan ulangi beberpa kali berharap rasa sakitnya berkurang itu yang diajarkan dokter.


Aku mencoba berdiri tapi rasanya kakiku lemas. Sakit didadaku juga belum mereda. Aku harus apa tidak mungkinkan aku akan pingsan disini. Jangan sampai.


"Eh dia kenapa mau pingsan ya?"


"Akting pasti dia secarakan anak cowok kelas kita bening bening semua."


"Kayaknya enggak deh."


"AGATHA SIAPA YANG MENYURUH KAMU BERHENTI?!!"

__ADS_1


Suara itu lagi udah 20 kali aku mendengar kalimat itu menggema dilapangan ini. Sekarang coba berdiri pelan pelan dan atur nafas. Beruntung rasa sakitnya sedikit berkurang dengan pelan aku kembali berlari setengah putaran lagi. Ketika melewati segerombolan kelas yang sedang berolaraga tadi mataku tak sengaja menatap cowok yang mengawasiku sejak tadi. Di matanya aku dapat melihat secuil kekhawatiran walau wajahnya datar. Aku tidak mau ambil pusing aku harus segera menyelesaikan hukuman ini dan pergi dari sini sebelum rasa sakit ini kembali lagi. Aku bertaruh pasti mukaku sudah merah keringat berkucuran dimana mana.


Aku mengutuk diriku sendiri tadi lupa minum obat kalau James tau mungkin dia langsung kesini. Kenapa aku tidak menelpon James setelah ini untuk memberiku obat? Tapi gak aku tidak mau merepotkan orang lain mungkin aku membawa barang itu ditas.


Selesai sudah penderitaan ini. Aku langsung menghampiri guru BK yang sejak tadi berteriak dan mengatakan jika sudah selesai dan guru itu segera menyuruhku kembali ke kelas.


"Akkhhh" astaga sakit lagi tadi kupikir sudah selesai. Aku menengok kanan kiri koridor sepi karena semuanya mengikuti pelajaran.


Aku menggeledah tasku mencari sesuatu tapi kenapa tidak ada. Aku ingat tadi pagi aku memasukannya kedalam tas apa bukan tas ini. Kenapa aku bodoh sekali. Pandanganku memburam tapi aku masih bisa melihat seorang cowok berlari menghampiriku aku tidak tau jelas bagaimana wajahnya karena setelah itu kesadaranku hilang.


***


Aku perlahan membuka mata hal pertama yang ku lihat adalah ruangan yang semua serba putih bau obat obatan juga tercium oleh hidungku. Ini bukan rumah sakit ini uks. Siapa yang membawaku kesini.


Aku mencoba untuk bangun tapi rasanya tubuhku lemas dan sakit didadaku hilang. Aku berharap tidak ada yang mengetahui kejadian dikoridor tadi.


"Nona sudah sadar."


Aku menoleh. Itu James orang suruhan Kakek itu sangat kompeten dia selalu ada jika aku seperti ini. Dia menjaga aku seperti anaknya sendiri. Kakek tidak salah memilih orang.


"Tadi Nona dibawah oleh salah satu murid kesini. Dia melihat Nona pingsan di koridor."


Tanpa tanya pun James mengetahui isi kepalaku.


"Kenapa bisa Nona selalu lupa minum obat kalau Tuan Besar tau saya bisa dimarahin habis habisan." Kata James. "Nona juga tidak sarapan tadi pagi belum lagi dihukum keliling lapangan nanti saya akan bilang ke kepala sekolah untuk memberi teguran pada guru yang menghukum Nona."


Aku tersenyum. "Gak usah James itukan juga aku yang salah kenapa terlambat."


"Tapi dia selalu berteriak kepada Nona padahal dia tau Nona sedang menahan sakit dilapangan tadi."


"Kok kamu tau." Aku terkejut darimana James tau semua itu.


"Saya tau semuanya Nona mata mata saya ada dimana mana untuk mengawasi Nona."


Aku lupa fakta itu.


"Nona mau kemana?" Tanya James mengetahui jika aku ingin beranjak dari kasur.


"Ke kelas."


"Nona harus makan dulu la--"


"Iya nanti aku makan dikantin bareng Lia setelah itu minum obat. Kamu membawakan aku  obatkan?"


James mengangguk lalu menyerahkan kantong yang sejak tadi dimeja sampingku.


"Kalo gitu aku pergi dulu. Makasih udah dibawain." Kataku beranjak pergi tapi setelah dua langkah aku kembali berbalik menatap James yang masih menahan pintu yang membukakan aku pintu lebih tepatnya.


"Jangan macam macam sama guru tadi ya. Dia hanya menjalankan tugas sebagai guru."


"Baik kalau itu kehendak Nona. Tapi mungkin bukan saya yang akan melakukan itu."


***

__ADS_1


__ADS_2