Sunflower

Sunflower
Zee cuma mirip Papa


__ADS_3

"Ma, ini siapa?


Tangan mungil Zee mengangkat selembar foto yang dia dapatkan dari laci nakas, matanya fokus memperhatikan profil dua orang yang berada dalam gambar seorang lelaki dewasa yang menggendong anak laki-laki usia sekitar 6 bulan, kebahagiaan jelas terlihat dari wajah lelaki itu dengan senyum yang mengembang sempurna memperlihatkan mata sabit horisontal yang sangat indah.


Rea menghentikan aktifitasnya yang sedang membersihkan mainan Zee yang berserakan di lantai kamarnya, wanita itu menoleh dan merangkak untuk mengambil foto yang sedari tadi di bolak-balikkan oleh Zee.


"Menurut Zee ini siapa?" Tanya Rea balik


Zee mengedikkan bahunya, "Entah" katanya sembari berusaha untuk naik ke atas ranjang, "Ji kan tidak pelnah lihat, makanya Ji tanya Mama"


Mengikuti Zee untuk naik ke atas ranjang Rea mengelus foto itu dengan ibu jarinya bergantian melihat kearah Zee yang nampak penasaran.


"Menurut Zee, yang di foto ini tampan tidak?" tunjuknya pada lelaki dewasa pada foto


"Tidak" ucap Zee cepat, bibirnya mengerucut tanda dia tidak suka


"Kalau dia tidak tampan berarti Zee juga tidak tampan, Zee kan mirip sama dia"


Bocah itu tiba-tiba berdiri berniat untuk turun dari ranjang, dia tidak menyukai ucapan Mamanya, yang dia ingin adalah mirip dengan sang Papa yang tampan dan baik, dia sudah biasa mendengar bahwa orang menyebutnya tak memiliki kemiripan dengan Papanya. Dulu dia akan langsung menangis jika mendengar kalimat itu tapi semakin dia diberikan pengertian yang mudah dipahami dari Papanya dia mulai bisa menahan hanya sebatas mengerucutkan bibirnya tanda tak suka.


Jika biasanya dia hanya akan mendengar omongan kalau dia tidak mirip dengan sang Papa tanpa menyebut nama orang lain untuk menyamakannya maka berbeda dengan sekarang sang Mama menyebutnya mirip dengan orang lain bahkan orang yang tidak dia kenal.


Bocah yang selalu ceria itu terlihat murung, langkah kakinya berhenti pada sudut kamar dan mengahadap ke tembok sambil menunduk.


Menyadari tingkah Zee yang demikian, Rea berdiri dan mendekati sang Anak setelahnya duduk di samping Zee berdiri, "Ada apa sayang?" tanyanya seraya mengintip wajah Zee


Zee tidak menjawab bahunya bergetar tanda dia sedang menangis sekarang, Rea yang melihatnya pun langsung merengkuh tubuh Zee, "Ssst, jangan nangis sayang, maafin Mama yah"


Suara tangis Zee semakin menjadi, bocah itu terisak menyembunyikan wajahnya pada dada Mamanya.


"Hiikss, hiikss, hikss, Ji ti-tidak milip om i-itu, Ji milip-nya sama Pa-pa. Ji tampannya kayak Papa" ucap bocah itu putus-putus


Protes yang diutarakan oleh Zee sontak menyadarkan Rea akan sikapnya tadi, dia secara tidak langsung ingin memperkenalkan orang asing bagi anaknya itu untuk dianggap sebagai Papanya yang malah akan membuat mental Zee terganggu, secara tidak langsung memaksa bocah lucunya itu untuk mengakui bahwa dia bukanlah anak dari orang yang selama ini merawat dan menyayangi dia sepenuh hati.

__ADS_1


Apakah Rea saat ini terlalu egois, menjauhkan seorang anak dari orang yang begitu dikasihinya?, salah kah jika Rea mengikuti fikirannya untuk menolak mengakui jika sang Anak mengenal orang lain sebagai Papanya?. Dan segala pertanyaan itu terjawab saat suara lirih Zee terdengar.


"Ji sayang Papa, Ji lindu Papa"


Yah, anak usia tiga tahun lebih itu hanya mengenal satu orang sebagai Papanya dan dia adalah orang yang sama yang telah menjadi penyebab terpisahnya dia dengan Kenan Ayah kandungnya, orang yang nyatanya adalah suami dan orang yang paling disayangi oleh anaknya.


Rea menghela napasnya panjang seraya menutup matanya, dia menyayangi Zee maka membuat Zee merasa nyaman dan tetap bahagia adalah kewajibannya.


"Iya, Zee mirip sama Papa, karena Zee adalah anaknya Papa" putusnya akhirnya mengakui sampai usia Zee cukup siap untuk mengetahuinya.


Air matanya luruh meyadari kecerobohan akan sikapnya, Rea semakin mengeratkan pelukannya diselingi ciuman pada kepala Zee, "Maafkan Mama sayang" ucapnya lirih


-


-


-


Untuk kesekian kalinya Varest terlihat melamun di balik meja kerjanya, lelaki yang tengah memakai kaca mata itu seakan menulikan telinganya saat teriakan karyawannya memasuki ruangan untuk memberikan laporan keuangan kafe.


"Jadi, berapa lama kamu akan mengabaikan gadis cantik ini?" Andi datang secara tiba-tiba dan mengagetkan Varest dan Andin dengan suara baritonnya.


"Astaga Pak Andi" gadis yang memakai kaos berwarna putih longgar dengan celana jeans itu memegang dadanya karena terlalu kaget.


Andi menaikkan sebelah alisnya memandang gadis disampingnya sambil bersedekap dada, "Kenapa? kamu tidak suka aku datang?" ucapnya sinis, dia masih jengkel pada Andin yang enggan untuk mengganti nama panggilannya.


Andin yang merasa tak enak langsung menunduk, matanya sesekali mencuri pandang pada lelaki jangkung itu,


"Bu-bukan begitu pak, saya hanya kaget karena bapak tiba-tiba nongol" katanya pelan


"Kamu saja yang tidak menyadari kedatangan ku" balas Andi, "Segitu tidak pentingnya yah?" Wajahnya mendekat untuk melihat lebih dekat ekspresi Andin.


Gadis itu mundur satu langkah merasa tak nyaman dengan wajah Andi yang terlalu dekat pada wajahnya, tapi tingkahnya yang demikian malah membuat Andi semakin ingin menggoda, lelaki itu suka melihat perona alami yang muncul dari kedua pipi putih Andin.

__ADS_1


"Ma-maaf Pak, lebih baik saya keluar, mungkin kalian butuh kopi" ujar Andin sambil berlari pelan setelahnya menutup pintu ruangan bosnya.


Andi tersenyum simpul melihat tingkah Andin yang nampak malu jika dia mendekatinya.


"Kenapa kamu tidak langsung menyatakan perasaan mu padanya?" suara Varest menginterupsi, ternyata sedari tadi dia memperhatikan interaksi keduanya.


Andi tertawa sumbang, dialihkannya pandangannya pada Varest sambil melangkah pada sahabatnya itu,


"Katakan, seperti apa aku harus mengatakannya?" tanyanya memainkan sebelah alisnya sambil tersenyum meremehkan.


Varest membuang nafasnya kasar sambil menutup laptopnya, "Kamu tinggal bilang kalau kamu menyukainya"


Andi merotasikan bola matanya seraya bertolak pinggang, "Apa seperti itu caramu mengatakannya pada Rea?, kalau iya aku bisa mencobanya"


Nampak Varest tertegun setelah itu memalingkan wajahnya ke arah lain tak ingin melihat tatapan kepo dari Andi sahabatnya, "Apa maksud mu?"


"Tadi aku dapat kabar dari Mama, katanya hampir setiap malam kamu pulang dengan keadaan mabuk. Ada apa?, apa kamu mulai terbiasa dengan minuman itu?, sejak kapan?" tanya Andi beruntun, dia terlihat jengah dengan sikap Varest beberapa hari ini.


Segala aktifitas yang dilakukan selama hampir dua minggu ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang biasa dia lakukan sebelumnya. yang biasanya dia akan pulang sebelum petang sekarang lebih sering menghabiskan waktu di kafe dan di club malam setelahnya pulang saat jam sudah menunjukkan tengah malam.


Sudah tiga hari semenjak Mama Nimas memutuskan untuk tinggal di rumahnya setelah Papa Bayu berangkat keluar kota untuk perjalanan bisnis dan selama itupun wanita yang dipanggil Mama oleh Varest itu dibuat kewalahan oleh tingkah Varest saat pulang dalam keadaan mabuk.


Semenjak kepergian Rea, hampir setiap malam Varest selalu pulang dalam keadaan tak terkendali karena pengaruh alkohol dari yang menangis tengah malam hingga merutuki dirinya sendiri, meski pintu kamar akan selalu di kunci agar sang Mama tidak terganggu dan khawatir nyatanya Mama Nimas selalu bisa membukanya dengan kunci cadangan dan selalu mendapati Varest selalu dalam keadaan tak berdaya.


Varest tak lagi menampakkan diri di depan Rea, hanya sesekali melakukan video call dengan Zee lewat ponsel Mama Jenny, kadang Zee akan bertanya kapan dia akan pulang namun akan selalu di jawab jika dia sedang berada diluar mencarikan mainan yang paling bagus untuk Zee.


"Sampai kapan kamu akan menyalahkan dirimu sendiri?"


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2