
Sudah lama rasanya aku tidak tidur di kasur empuk ini. Sudah berapa lama aku tidak pulang ke masion.
Aku menatap langit-langit kamar dengan hiasan bintang kelap-kelip itu. Ternyata James benar-benar memasangnya, padahal waktu itu aku hanya bergurau.
Mulai sekarang aku tidak akan bergurau dengan James. Pria itu pasti akan segera mengabulkan nya, padahal aku hanya bercanda.
Hari ini setelah pulang sekolah aku langsung ke masion tidak pulang ke rumah Papa. Hanya ingin mampir sebentar setelah itu aku akan kembali ke rumah Papa.
Istirahat sebentar di masion tidak apa-apa kan?m
"Agatha?”
Spontan aku bangun dari tidur ku. Itu suara kak Asep.
"Agatha?” Panggil kak Asep sekali lagi bersama dengan ketukan pintu. "Kamu didalam kamar kan?"
"Iya kak bentar." Teriakku.
"Tumben kak Asep di rumah?" Tanya ku sambil membuka pintu dan hanya mengeluarkan kepalaku saja.
Kak Asep tersenyum tipis. Dimata ku itu sebuah senyuman kematian.
"Ayok ke ruang tengah ada yang mau kakak omongin." Ujar kak Asep.
Aku menggeleng. "Nanti aja ya kak, Agatha mau Bobo bentar."
Kak Asep menahan pintu yang ingin aku tutup. Ternyata cowok ini menyeramkan.
"Sekarang ya nona Agatha." Kalimat yang terdengar sangar di telinga ku. "Ayok."
Aku mengangguk lebih baik menurut daripada James yang mendobrak pintu kamarku.
Disini lah aku berada. Di ruang tengah duduk dengan tidak nyaman. Barusan kak Asep memeriksa tensi ku dan entahlah apa aja yang dicek dokter muda itu.
Banyak sekali yang dia tulis dikertas yang berada du atas meja. Ada keknya enam lembar.
James berdiri tidak jauh dari kami duduk. Aku heran kenapa dia betah sekali berdiri, sudah terlatih keknya.
"Berapa hari gak minum obat?"
Aku memantung. Pura-pura tidak mendengar pertanyaan kak Asep.
"Jangan pura-pura gak dengar."
Bagaimana kak Asep tidak mengetahui gerak-gerikku. Aku dan dia sudah akrab sejak masih kecil. Dulu bibi sering membawa kak Asep ke rumah dan kami bermain bersama.
"Lupa." Jawabku pelan.
"Lupa? Berarti udah lama gak diminum?"
Aku menyengir lebar. Menghempaskan tubuh ke sofa dengan kasar. "Cape kak minum obat terus."
Kak Asep terlihat menghembuskan nafas pelan. "Kalau kamu jarang minum obat kapan kamu mau sembuh? Kamu gak pengen sembuh?"
Aku diam menunduk sambil memainkan resleting jaket. Sudut mata ku melirik James, pria itu masih saja berdiri disana tidak ada niatan membantuku.
"Nanti kakak siapin resep yang baru. Harus kamu minum." Kata kak Asep menulis sesuatu di kertasnya. Tulisannya sangat tidak bisa dibaca.
"Pak James minta tolong tebus resep ini di rumah sakit ya." Kata kak Asep menyerahkan kertas itu pada James.
__ADS_1
James mengangguk lalu berbicara pada alat yang ada ditelinganya. Tidak lama kemudian salah satu anak buahnya datang menerima kertas itu dan pergi.
Sebenarnya berapa banyak anak buah James? Dan berapa orang yang mengawasi ku?
"Kakak bakal pantau kamu terus." Kata kak Asep.
"Gausah deh kak. Kakak fokus di rumah sakit aja. Fokus sama pasien kakak."
"Kamu pasien kakak." Datar kak Asep. "Ibu tau?”
Aku menggeleng. Bibi memang tidak tau. Yang tau hanya aku, kakek, nenek, James dan kak Asep.
Mungkin hanya itu?
"Sebenarnya kakak kaget waktu denger penjelasan kakek." Ujar kak Asep. "Kenapa kamu ngerahasiin ini semua?"
"Ini bukan hal yang harus diumbar kak."
Kak Asep tersenyum menggenggam tanganku erat. "Kamu harus semangat Agatha banyak yang sayang kamu. Harus berjuang ya."
Aku tersenyum tipis. "Aku usahain kak."
"Ini kenapa?" Tanya kak Asep ketika melihat pelipisku luka.
"Kejedot lemari kak."
Kak Asep terlihat memicing tidak percaya. "Emang kejedot pintu bisa kek gini."
"Bisa ini buktinya." Kekeh ku.
Sepertinya kak Asep tau kalau aku sedang berbohong. Tapi tidak mungkin bukan aku bilang ini karena mama?
"Yaudah kalau gitu. Udah diobati?" Sepertinya kak Asep memilih percaya.
"Yaudah kakak pergi ke rumah sakit dulu. Kamu jangan lupa minum obat." Titah kak Asep.
"Siap bos."
"Pak James saya minta tolong awasi dia kalau minum obat ya. Pastikan obatnya benar-benar diminum."
Mendengar itu aku melotot. "Kakak kira aku anak kecil apa?" Aku mengerucutkan bibirku.
"Iya anak kecil sampai gak minum obat berhari-hari." Sindir kak Asep.
Aku mencibir pelan. Memangnya minum obat seenak itu. Sekali-kali kek beri obat yang rasa enak bukannya pahit aja.
Ini hidupku udah pait.
"James aku mau pulang."
"Maaf. Nona bisa meninggalkan masion ketika sudah meminum obat."
Aku mendengus kesal. Memejamkan mataku perlahan, tidur sebentar sepertinya tidak apa-apa.
...****************...
“Selamat pagi Agatha!"
"Pagi Sata." Balasku pada Sata di sampingku. Dia datang dengan wajah cerah secerah matahari.
__ADS_1
"Seneng banget keknya itu muka."
Sata membenarkan kera seragamnya. "Iya dong pagi-pagi harus ceria."
"Pasti juga ada maunya." Sahut Lia bergabung.
"Lo jadi manusia kenapa curiga mulu sih sama gue." Serga Sata pada Lia. Mereka jika dipertemukan memang seperti ini.
"Gatau bawaannya emosi aja gitu ketemu sama lo." Balas Lia. "Rasa pengen ngehujat datang dengan sendirinya."
"Manusia kadal! Gelut aja kita ayok." Tantang Sata.
"Sori kuku gue baru gue gamau sampai kuku gue patah." Lia memamerkan kuku barunya yang berwarna merah maroon. Sangat indah di kuku Lia.
Sata hanya mencibir pelan.
"Halo Agatha."
Aku menoleh ternyata Jeno sudah berdiri di sampingku.
"Halo Jen." Balasku.
"Suara lo kemaren bagus banget." Puji Jeno padaku. Siapun yang mendapat pujian itu pasti akan meleyot.
"Makasi."
"Gak kayak suara Sata. Kayak kucing nabrak kaleng kosong." Lirik Jeno pada Sata.
"Lo emang ngajak ribut ya Jen."
"Engga kok gue cuma ngomong fakta."
Sata mengelus dadanya pelan. "Sabar Sata manusia sabar rejekinya banyak."
"Banyak dosa lo mah." Sahut Lia.
Sata menarik nafas dan menghembuskan pelan. "Sabar-sabar."
Aku terkekeh melihatnya. Kesabaran Sata benar-benar di uji disini.
"Mark!" Teriak Sata membuat kamu bertiga terlonjak kaget.
"Santai aja bangsat!" Sewot Jeno hampir menjitak Sata.
"Kalo jantung gue copot gimana?!" Sambung Lia.
"Masih kalo kan? Belum copot." Jawab enteng Sata.
"Benar-benar nih bocah."
"Sabar Li anak setengah siluman emang gitu." Ucap Jeno.
Mark datang mendekat. Aku sadar jika tatapannya tidak lepas dari aku. Aku hanya pura-pura tidak tau.
Jujur saja sudah tiga hari aku tidak bertegur sapa dengan Mark. Entah karena apa. Aku lupa telah melakukan kesalahan apa.
Tapi bukanya itu bagus.
Aku jadi tidak perlu berurusan dengan fans fanatik Mark.
__ADS_1
Aku berharap setelah ini Mark tidak menghubungiku lagi.
...****************...