Sunflower

Sunflower
Papa jadi jombi


__ADS_3

"Pa, Adiknya Ji yang mana?" Zee mendekatkan hasil foto USG berwarna hitam putih itu di depan matanya.


"Tidak kelihatan, adiknya sembunyi, yah?" Rasa penasaran kian menghinggap di benaknya, tadi dia dijanjikan oleh kedua orang tuanya untuk dibawakan foto adik yang dia tunggu. Tapi, nyatanya yang sekarang dia pegang hanya foto bergambarkan hitam putih tanpa visual sang adik.


Saat ini Zee sedang berada di atas ranjang kedua orang tuanya dengan sang papa yang menemani sedangkan mamanya sedang berada di kamar mandi. Bocah berambut model mangkok itu hanya memanyunkan bibirnya mengetahui jika rencananya untuk pamer ria kepada teman-temannya akan gagal lagi.


Yah, bukan tanpa alasan dia sangat menginginkan adik diusianya yang masih butuh banyak perhatian tanpa terbagi. Jika, kebanyakan anak diusia segitu akan tambah rewel saat tahu jika sebentar lagi akan memiliki adik, maka berbeda dengan Zee -  bocah berkulit putih malah mendambakannya karena tidak ingin kalah dengan teman-teman sekolahnya.


Perkenalan dan mengarang adalah kegiatan rutinitas yang melatih seorang anak untuk dapat berbaur serta memiliki rasa percaya diri diusia dini dan itulah yang menjadi alasan besar Zee menginginkan seorang adik. Sebagian besar di kelasnya memiliki saudara entah itu kakak atau adik dan mereka akan dengan bangganya menceritakan bagaimana mereka menjadi kesayangan dari kakak dan menjadi pahlawan bagi adiknya.


Zee juga menginginkannya.


"Lihat deh, ini kan adiknya Zee" Varest menunjuk pada titik di dalam gambar.


Bocah itu kembali beralih pada gambar dengan cermat. "Tidak ada pa, tidak ada mukanya. adik Ji itam tidak kayak abang!" Zee bersungut memanggil dirinya sendiri dengan sebutan 'Abang'.


Varest yang mendengarnya hanya bisa terkekeh gemas, darimana sang putra belajar penggilan itu untuk dirinya sendiri? padahal dia memanggil kakak sepupunya saja kakak. Batinnya.


"Bukan kakak, Yah? Kok abang?" Zee menggeleng yang membuat poninya mengayun kiri dan kanan.


"Adik halus manggil Ji 'abang'!" Katanya menekan kata 'abang', Varest manggut-manggut disertai senyum tipis.


Rea yang baru keluar kamar mandi langsung duduk di tepi ranjang ikut bergabung dengan kedua orang yang dikasihinya, rambutnya dia ikat tinggi-tinggi setelahnya berbaring tepat disebelah Varest.


"Sayang, jelasin ke abang kenapa gambar adiknya hitam?!" Ucap Varest menyerahkan foto USG yang membuat Rea mengerutkan keningnya bingung.


"Abang? Hitam?"


"Abang Ji, mama!" Timpal Zee yang berdiri ingin melihat wajah mamanya yang tertutup oleh badan sang papa.


Wanita itu mengerti dan kembali bangun dibantu oleh Varest, "Adiknya bukan hitam, sayang. Tapi, memang belum kelihatan soalnya adiknya masih kecil" Jelasnya dengan menyatukan jali telunjuk dan jempolnya.

__ADS_1


"Kapan besalnya?"


"Zee anak yang sabar, kan?" Zee mengangguk, "Kita harus tunggu beberapa bulan lagi baru bisa lihat muka adik, pasti dia tampan kayak Zee"


"Tapi Ji mau adik pelempuan jadi cantik kayak mama." Pinta anak pintar itu.


Rea tersenyum dan meraih Zee untuk duduk dipangkuannya, "Sayang.." Tegur Varest, khawatir jika perut sang istri di duduki oleh Zee.


Menggeleng pertanda akan hati-hati, maka Zee tetap duduk dipangkuannya, "Zee berdoa yang banyak. yah!" Katanya.


Zee mengangguk antusias dengan senyum yang mengembang sempurnya memperlihatkan gigi kecilnya, "Ji, mau doa banyak-banyak"


-


-


-


Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi tapi Zee sudah terbangun karena terusik dengan suara yang begitu mengganggu yang berasal dari dalam kamar mandi. Dengan mata yang masih berat terbuka Zee bangun dari pembaringannya seraya menggaruk kepalanya.


Zee tersentak kaget dan tiba-tiba menghentikan langkahnya kala mendengar suara barang jatuh dari kamar mandi, dengan nafas yang memburu dia mencoba mencari tahu siapa yang berada di dalam sana, itu  tak mungkin hantu, bukan? dia sudah tinggal disana semenjak dia kecil. Fikir bocah berani sok dewasa itu.


Zee hendak memutar knop pintu, namun pintunya sudah terbuka terlebih dulu memperlihatkan seseorang yang menjulang tinggi berdiri di depannya. Matanya berkedip beberapa kali melihat orang tersebut dan dia adalah Varest papanya.


"Papa?"


Varest keluar dari kamar mandi dengan keringat yang kian bercucuran, wajahnya pucat dengan langkah kaki tak bertenaga. Tubuhnya terasa lemas bahkan untuk berdiri tegak saja lelaki itu tak sanggup, tangannya berpegangan pada pintu dan menyandarkan tubuhnya disana seraya membungkuk, matanya merah berair.


"Zeee" Lirih Varest hendak meraih sang putra, tapi bocah itu malah mundur satu langkah mimik wajahnya nampak takut melihat bentukan papanya yang berantakan tak seperti biasa.


Zee semakin melangkah mundur saat Varest mendekatinya dengan tertatih, rasa takut kian menghinggapinya mendengar suara berat sang papa yang malah membuat seperti bisikan hantu. Perlahan Zee berbalik arah membelakangi Varest hendak berlari keluar kamar.

__ADS_1


"Mamaaaa!" Teriak Zee sang sudah mengambil jurus seribu kaki ketika mendengar suara yang cukup keras.


Bruukkk


Varest jatuh pingsan tepat di depan kamar mandi dan ditinggalkan oleh anaknya, sungguh miris pagi-pagi begini bagi Varest.


"Mama.. mama.. mama!" Zee ngos-ngosan mendekati mamanya yang sementara membuat sarapan, bocah itu melompat-lompat kecil seraya menggerakkan kedua tangannya seakan ingin menjelaskan sesuatu yang heboh.


"Iya, Iya .. ada apa, sayang?" Tanya Rea yang ikut heboh


"Papa,, papa"


"Kenapa sama papa?"


"Papa jadi jombi, matanya melah" Jelas bocah itu heboh


"Zombie apa, Zee?" Rea menautkan alisnya bingung, anaknya ini mimpi buruk atau apa? bagaimana bisa dia bilang kalau papanya menjadi zombi.


Seakan mengerti kebingungan mamanya, Zee kembali mengangkat tangan kirinya dan mengajungkan jari teluncuk dan tengah membentuk huruf V seraya berucap, "Ji, selius mama, Ji tidak bohong, papa belubah sepelti jombi. Kalau mama tidak pelcaya mama bisa lihat papa sendiri" Mencoba meyakinkan jika dia berkata benar.


Rea tiba-tiba merasa khawatir disertai dadanya yang berdegup kencang memikirkan perkataan sang putra, kakinya dengan cepat melangkah namun tetap hati-hati dan diikuti oleh Zee yang berlari di belakangnya seraya menarik rok mamanya.


Wanita itu membelalakkan matanya sesaat setelah dia sampai di depan kamar dan melihat orang yang dibilang zombie itu terkapar tak berdaya di depan kamar mandi.


Rea hendak berlari kearah Varest, namun tangannya ditarik oleh Zee. "Jangan kesana mama, nanti jombinya malah"


"Zee, tidak ada zombie, Nak" Rea geleng-geleng kepala, "Itu papanya lagi sakit, harus ditolong!" Ucapnya melanjutkan langkahnya menuju suaminya yang terlihat sangat mengenaskan disana.


"Zee, telpon om Andi!" Titah Rea yang merasa kesusahan mengangkat  suaminya.


"OH, Oke, oke"

__ADS_1


 


 


__ADS_2