Sunflower

Sunflower
Melani


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Mark tadi malam. Sekarang aku berada dimobil bersamanya, aku tidak tahu jalan pikiran Mark seperti apa. Rencanaku menghindari Mark dan berangkat lebih dulu gagal, pasalnya cowok itu sudah ada dirumah pagi sekali bahkan orang rumah belum ada yang bangun kecuali aku yang harus menyiapkan sarapan.


Setelah menyiapkan sarapan aku langsung menyeret Mark untuk segera pergi dari rumah. Bukan apa-apa hanya saja aku tidak mau Hana tahu jika Mark datang, bisa-bisa aku marahi Mama.


Tidak ada yang bersuara sejak tadi. Aku maupun Mark sama-sama diam. Wajarkan, toh aku juga baru mengenal Mark beberapa hari yang lalu.


"Pakai." Mark melempar jaketnya padaku. Jangan harap cowok itu akan memberikannya secara lembut.


Aku hanya diam membiarkan jaket Mark dipangkuanku. Mark berdecih lalu meminggirkan mobilnya. Tentu saja aku bingung apa Mark akan menurunkanku disini? Yang benar saja sekolah masih jauh.


Seketika imajinasi jelekku bubar. Mark mengambil jaket eh bukan lebih tepatnya hodie hitam. Lagi-lagi mataku melotot kaget Mark memakaikan hodie itu padaku. Dengan hati-hati pula.


Jangan tanya aku deg-degan apa tidak. Tentu saja iya. Selain karena gerakannya yang tiba-tiba, tapi juga jarak wajah Mark denganku cukup dekat.


Mark menatapku diam. Wajahnya datar, sejujurnya aku takut ditatap seperti ini. tapi dengan lancangnya aku membalas tatapan Mark.


Cowok itu memasang tudung hodie dikepalaku lalu menalinya tidak terlalu kencang. Jadilah aku terbungkus hodie yang lumayan besar ini. Ya bagaimana tidak terbungkus Mark saja segitu besar dan tingginya sedangkan aku kecil seperti ini.


Setelah memastikan aku hangat Mark mengecilkan AC mobil dan kembali menjalankan mobilnya.


"Itu jangan dilepas diluar dingin." Katanya tanpa menoleh padaku.


"Kan disekolah gak boleh pakek jaket." Setahuku memang seperti itu.


"Gak apa-apa kalau musim hujan dan dingin seperti ini." jawabnya menoleh sebentar padaku.


Aku hanya mengangguk. Tidak tau harus bereaksi seperti apa.


"Udah sarapan?"


"Aku gak pernah sarapan."


Aku mendengar Mark berdecih pelan. Raut wajahnya terlihat marah aku jadi takut sendiri. sebenarnya dia kenapa sih.


Suasana hening sampai disekolah. Hari masih pagi belum banyak murid yang datang. Aku turun dari mobil Mark setelah mengucapkan terimakasih.


Melangkah meninggalkan Mark yang masih mengunci mobilnya. Bukannya tidak tau diri atau apa karena sudah dijemput malah meninggalkan pasalnya aku tidak mau menjadi trending topic sekolah.


Ayolah siapa yang tidak mengenal Mark. Fans lelaki itu hampir seluruh siswi sekolah ini. Aku hanya ingin mencari aman.


Tapi tiba-tiba ada yang menarik tasku. Aku menengok ke belakang siapa yang berani-beraninya menarik ransel kesayanganku. Akan ku maki-maki. Tapi detik berikutnya aku menarik semua kata-kata.


Mark yang menariknya. Mana berani aku memakinya yang ada kepalu yang dipenggal.


"Eh eh mau dibawa kemana ini kan?" kataku heboh. Dengan seenak jidat Mark menarikku entak kemana. Mana nariknya tidak manusiawi lagi.


Ternyata Mark membawaku ke kantin. Mendudukan aku dikursi kosong dekat stan bubur.


Aku hanya diam menengok kanan kiri ternyata kantin ini cukup luas aku baru menyadarinya. Tapi kenapa jika sudah istirahat terlihat penuh dan sesak. Dalam kategori kantin, ini termasuk kantin yang nyaman ada wifi dan AC disetiap sudut dinding. Penjualnya juga banyak.


Aku terlonjak kaget ketika Mark dengan tidak santainya meletakkan mangkuk bubur didepanku. Lah dia mau ngapain?


"Makan."


Aku menyengit tidak mengerti.


Mark berdecih pelan, "Makan atau gue suapin."


Aku kaget segera mengambil bubur itu dan memakannya. Mark juga sama memakan buburnya dengan diam.


Mark menatap mangkukku ketika aku menyisihkan seledri. Jujur aku tidak suka dengan sayur itu apapun jika ada seledrinya akan aku sisihkan.


"Kenapa gak dimakan." Heran Mark menyengit bingung.


"Gak suka."


Cowok itu mengangguk, detik selanjutnya dia memindahkan seledri yang aku sisikan tadi ke mangkuknya. Entah kenapa aku tersenyum tipis.


"Kakak jemput aku Cuma hari ini doang kan?" tanyaku hati-hati.


"Kata siapa?" jawabnya sambil meminum teh anget. "Gue bakal anter jemput lo mulai sekarang."


"Uhuk." Aku tersedak teh anget. Aku tidak salah dengarkan. Apa tadi? Anter jemput mulai sekarang? GILA YA.


Mark menepuk punggungku pelan. Aku masih terbatuk karena tersedak. Wajahnya begitu cemas.


"Gapapakan. Ada yang sakit." Tanyanya khawatir meneliti setiap inci wajahku.


Wajahku merah bukan karena salting ditatap Mark tapi karena tersedak. Mataku juga mengeluarkan air mata.


Mark tertawa kecil. "Lucu." Katanya mencubit pipiku pelan.


"Apasih kak."


"Apanya?"

__ADS_1


"Kakak bercanda kan kalo mau jemput aku setiap hari? Hayo ngaku?!"


"Enggak."


"Aduh gak usah deh kak nanti ngerepotin."


"Kata siapa?"


"Kataku tadi."


"Pokoknya lo gue antar jemput setiap hari titik." Katanya tegas lalu berdiri. "Ayo gue antar ke kelas."


"Enggak usah aku bisa pergi sendiri." kataku lalu pergi meninggalkan Mark yang terkekeh geli.


Aku berdiri diambang pintu kelas. Ternyata Mark mengikutiku sampai kelas.


"Kak kan aku udah bilang jangan nganterin." Kataku berkacak pinggang menatap Mark. Bodo amat jika dikata tidak sopan.


"Emangnya gue setuju." Katanya berdiri didepanku dengan tangan yang dimasukkan kesaku celana. "Inget jangan dilepas jaketnya. Dingin." Katanya lalu mengusap lembut kepalaku yang berlapis tudung hodie lalu pergi begitu saja.


Satu hal yang bisa aku simpulkan dari seorang Mark.


KERAS KEPALA.


Sekali dia bilang A ya A tidak bisa diganggu gugat.


Mana sekarang banyak yang mengelihat aku lagi. Aku denger dari Lia, Mark itu susah disentuh oleh lawan jenis. Bahkan dekat dengan perempuan pun jarang dilihat malah hampir tidak pernah. Garis bawahi tidak pernah.


Dan sekarang apa? Dia malah deket-deket aku terus. Bukannya aku geer tapi apa dong kali tidak deket-deket mana katanya mulai sekarang bakal diantar jemput.


Kalo Hana dan Mama tau gimana?


Tau ah. Aku meletakkan kepalaku diatas meja menunggu Lia datang.


***


Brak!!


Gila ini gila!!


Kepalaku rasanya mau pecah. Kedua kalinya kepalaku dibenturkan ke dinding. Sebenarnya kepalaku ini apa sih. Tempat pelampiaskan amarah?


Cewek disampingku menyeringai menatapku hina. Aku baru ingat dia adalah Melani cewek yang hampir membunuhku dikantin waktu itu. Apa sekarang dia akan benar-benar membunuhku.


Ayolah luka dipelipisku karena Mama belum sembuh.


Sudah ku duga pasti karena itu.


"Siapa sih yang deketin kak Mark." Kau memang bodoh Agatha, dengan kau menjawab dia pasti akan lebih murka.


Melani kembali membenturkan kepalaku didinding toilet. Darah segar keluar dari pelipisku.


Sementara teman-teman Melani menjaga pintu toilet agar tidak ada yang masuk. Seharusnya sekarang aku ada dikantin bersama Lia tapi karena aku kebelet jadi aku mampir ke toilet.


Belum selesai mencuci tangan Melani sudah masuk dan membantingku ke lantai.


"Memangnya kalo kakak kayak gini kak Mark bakal ngelirik kakak?"


Aku lihat Melani melotot kesal. "Berani-beraninya lo bilang kayak gitu!!"


Aku menghindar sedikit saja terlambat mungkin pel-pelan ditangan Melani sudah mengenai kepalaku. Cewek ini benar-benar gila. Karena teropsesi dengan Mark bisa semengerikan ini.


"Lo pacaran sama Mark?" katanya menatapku nyalang seakan-akan api bisa keluar dari matanya dan membakarku. "Gue tadi lihat lo berangkat bareng dia."


"Emang kalo berangkat bareng harus pacaran."


Sudah aku tidak peduli jika dia berubah menjadi siluman karena kesal dengan jawabanku.


Melani mengambil ancang-ancang ingin menamparku. Sebelum mengenai pipiku aku sudah lebih dulu mencengkalnya. Aku tidak akan pasrah untuk kali ini.


Aku mencekeram pergelangan tangan Melani kencang, cewek itu meringis kesakitan. Lalu aku mendorongnya ke arah wastafel.


Melani tampak melotot tidak percaya apa yang aku lakukan. Di kira aku tidak bisa melawan apa.


"Gue pastiin lo bakal keluar dari sekolahi ini." katanya sebelum pergi meninggalkan toilet dan menguncinya dari luar.


Kakiku lemas, aku terjatuh dilantai. Mengatur nafas yang memburuh.


Aku memperhatikan tampilanku dicermin. Sungguh mengenaskan, darah masih mengalir dipelipisku. Kepalaku pusing.


Aku tidak akan mati kehabisan darah disinikan? Itu tidak akan lucu. Aku tidak mau besok beritaku akan masuk Koran.


'Seorang siswi ditemukan meninggal di toilet diduga kehabisan darah'


Pasti sekarang Lia tengah bingung karena aku belum kembali. Aku mendongakkan kepala agar air mataku tidak jatuh. Aku tidak boleh lemah, tapi kenapa sesakit ini.

__ADS_1


Aku mencuci mukaku, menghilangkan darah yang masih mengalir. Air wastafel tampak merah, aku sudah seperti penunggu toilet ini.


Tarik nafas hembuskan aku bisa bertahan, jangan sampai hanya seperti ini aku menyerah.


Tapi AKU HANYA INGIN HIDUP TENANG.


Aku tidak bisa untuk tidak menangis. Kenapa ini terjadi padaku.


Mark brengsek! Kenapa sih aku harus kenal dia.


Aku mencoba membuka pintu walau hasilnya tidak akan bisa. Aku tau Melani mengunci dari luar.


Berteriak pun kayaknya tidak akan berguna. Bel masuk sudah berbunyi, sudah berapa lama aku disini.


Dingin. Diluar hujan, bahkan bumi pun juga merasakan kesedihanku.


Jaket yang dipakaikan Mark sudah tergeletak mengenaskan dilantai. Melani sudah memotongnya menjadi beberapa bagian. Mark maafkan aku jaketmu rusak. Aku tau bertapa mahalnya jaket itu.


Aku memeluk diriku sendiri. toilet sangat dingin. Jika seperti ini aku ingat kakek akan selalu memelukku jika hujan. Dan nenek yang selalu membuatkan coklat panas.


Aku merindukan mereka.


***


Pak boss.


Agatha sama lo?


^^^Ya enggaklah. Kan lo yang sekelas.^^^


Dia daritadi gak ada dikelas bangsul. Gue kira sama lo.


^^^Gue kan dari tadi sama lo.^^^


Terus kemana dong dia. Lia udah kebakaran jenggot nih gue dianiaya mulu.


read.


Bangsat di read doang.


read.


Mark memasukan ponselnya kesaku celana. Meminta ijin pada guru untuk ke toilet. Pantas saja sejak tadi perasaannya tidak enak. Melihat hanya ada Lia dikantin tadi mempuat hatinya tidak tenang. Biasanya cewek itu bersama Agatha.


Sata baru saja memberi laporan jika Agatha tidak ada dikelas. Sudah menjadi keharusan bagi Sata untuk melaporkan apa yang dilakukan gadis itu.


Sejak pagi tadi dia juga belum ketemu dengan gadis itu.


Mark mempercepat langkahnya menuju toilet. Terakhir kali dia bertanya pada Lia kata gadis itu Agatha mampir ke toilet sebentar.


Tangannya kembali mengepal kuat. Pintu toilet terkunci dari luar dan didepan pintu tertulis 'Toilet rusak'


"Agatha." Panggilnya sambil mengetuk pintu dan mencoba membukanya.


Tidak ada sahutan. Kunci toilet juga hilang.


Hati Mark tambah tak tenang.


Brakk!!


Brakk!!


Brakk!!


Tiga kali tendangan pintu itu terbuka, dengan cepat Mark masuk dan menyusuri setiap sudut toilet.


Hatinya seakan hancur ketika melihat seorang gadis duduk dengan memeluk kedua lututnya. Bahunya bergetar.


"Agatha." Panggilnya lembut. Gadis itu mendongak, matanya sembab. Bekas darah kering masih menempel disedikit mukanya padahal tadi sudah gadis itu bersihkan.


Mark melotot kaget, siapa yang berani seperti ini pada Agatha.


"Siapa yang kelakuin ini ke lo?" tanya menghapus jejak air mata di pipi Agatha.


Gadis itu diam masih dengan tangisnya. Melihat Mark didepan matanya membuatnya tambah menangis. Mark membawa Agatha kepelukannya.


"Tenang ya," walaupun mengatakan seperti itu tetap saja Mark naik pitam.


Akan dia cari tau siapa yang beraninya berbuat seperti ini.


"Mana yang sakit? Kita kerumah sakit ya." Tidak ada jawaban. Mark merasakan pelukan Agatha merenggang.


"Agatha?"


Mark menarik Agatha dari pelukannya. Mata gadis itu terpejam. Pingsan.

__ADS_1


***


__ADS_2