Sunflower

Sunflower
Karyawan kocak


__ADS_3

Dekorasi berwarna biru dan putih menghiasi ruang keluarga di rumah Varest, balon gas helium nampak membentuk sebuah bingkai pintu melengkung dengan tirai berwarna putih menghiasi sisi kiri dan kanan. Baby crib berwarna putih berhias renda putih-biru pun juga sudah di letakkan di tengah antara dua foto berbingkai.


Tepat tujuh hari usia baby Zayn. Baby mungil itu sudah berpakaian layaknya seorang ustaz dengan koko Turki berwarna putih dan peci berwarna senada sesuai dengan apa yang dipakai oleh Papa dan juga Abangnya Zee.


Hari ini adalah aqiqahan untuk baby Zayn, Rea nampak begitu cantik dengan kerudung berwarna biru pastel dan juga gamis berwarna putih  dipadukan dengan make up flawless yang menghiasi wajah ayunya.


“Mama”


“Hmm?”


“Adik Ji tidul, yah?” tanya Zee yang mengintip adiknya dari gendongan sang Mama.


“Iya, sayang, adik lagi tidur jangan diganggu, yah.” Jawab Rea seraya memperbaiki peci Zee yang miring.


“Adik kok bisa tidul nyenyak padahal lumah lagi lame?” Zee bertanya kembali merasa penasaran dengan kebiasaan adiknya yang terlalu banyak tidur apa lagi dalam keadaan rame seperti saat ini.


Rea tertawa tipis lantas berdiri hendak memindahkan sang putra ke baby crib yang berada di belakangnya, baby Zayn terlihat tenang dalam tidurnya bibir kecilnya kadang mengulum senyum seakan ikut merasakan kebahagiaan sekarang.


“Adik Zayn masih harus menyesuaikan diri, sayang. Dia masih terbiasa di dalam perut Mama, jadi masih merasa nyaman dengan keadaan tidur yang lebih banyak,” jelas Rea diam-diam berharap jika putra sulungnya itu tidak akan menanyakan lebih.


Beruntung Zee seakan mengerti, bocah itu langsung pergi saat kakak sepupunya datang dan memanggilnya untuk bermain.


Rea membelalakkan matanya kala melihat segerombolan manusia datang dan mendekatinya dengan sebuah kotak besar berpitakan warna pink yang di dorong oleh tiga orang laki-laki.


"Mbak Rea, selamat yah untuk kelahiran anak keduanya," ucap mereka bersamaan


Ada sekitar dua puluh orang datang yang tak lain adalah karyawan di cafe Sunflower, hari ini mereka sudah mengatur janji untuk datang bersama meski cafe diliburkan.


Rea manggut-manggut menerima ucapan selamat dari keluarga keduanya, tak bisa dipungkiri meski baru setahun Rea menjadi bagian dari cafe tapi rasa solidaritas dari semua karyawan membuatnya seakan berkumpul dengan keluarga sendiri jika sudah berada dalam lingkup kerja.


Menukikkan alisnya bingung, Rea dibuat penasaran oleh kotak besar yang sedari tadi didorong ketiga karyawannya itu.


"Jon, itu kalian bawa apa?" tanyanya pada karyawan yang bernama Joni sambil menunjuk kotak tersebut


"Ini hadiah buat bos kecil," kompak ketiganya menjawab

__ADS_1


Entah mengapa Rea malah sedikit tak yakin dengan hadiah yang dimaksud oleh ketiga orang itu, pasalnya orang yang tengah memeluk kotak besar tersebut adalah kumpulan orang yang terkenal kocak di cafe, mereka adalah orang yang menghidupkan suasana karena tingkah abstraknya.


"Kita yakin Mbak Rea pasti senang dengan hadiah kita,"


Rea menelan ludahnya susah saat melihat beberapa karyawannya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menepuk jidat. Ah, sudah bisa dipastikan bahwa hadiah yang katanya bisa membuat Rea senang tidak akan sesuai dengan ekspektasi.


"Kita buka yah Mbak?" tanya salah satunya


Rea mengangguk mengiyakan, harap-harap cemas wanita itu menunggu saat pita besar yang mengikat kotak itu ditarik.


Bahunya merosot dengan mulut yang terbuka, Wanita yang sedang berbahagia karena kelahiran anak keduanya itu dibuat terperangah oleh kado yang dibawa oleh ketiga karyawan kocaknya.


Sebuah boneka beruang dengan ukuran dua kali orang dewasa itu sedang terduduk sebagai ibu yang tengah memantau anak-anaknya bermain yaitu boneka barbie beserta prince dan juga rumah-rumahnya, tak lupa juga beberapa boneka kecil lainnya dan semuanya itu berwarna pink.


"Tadaaaaaa!!, ini buat bos kecil." seru ketiganya bersemangat


Rea menutup matanya sekilas sembari memegang pelipisnya, pusing. Yah, sebenarnya ini adalah salah Rea karena merahasiakan jenis kelamin sang bayi pada karyawannya selain pada Andin, bahkan untuk undangan aqiqah pun tak diberi hanya lewat panggilan langsung, tapi dia berniat demikian agar mereka tidak perlu repot mencari hadiah untuk bayinya, Rea merasa kehadiran dan doa mereka dalam acara syukuran sudahlah cukup sebagai hadiah.


Nampak orang-orang yang menjadi tamu turut tertawa akan tingkah karyawan Rea begitu juga dengan Varest yang tengah mengobrol dengan salah satu kolega bisnisnya yang menjadi tamu, dari jauh lelaki itu menggelengkan kepalanya seraya terkekeh geli dengan hadiah tersebut.


"Awww.. so sweet"


"Suiit,,suiiit.."


"Ahhhh, mengbaper aku tuhhh"


"Jadi kangen do'i nih."


Meski ini bukan pertama kalinya mereka melihat keromantisan kedua bosnya tapi setiap kali melihat langsung itu akan membuat semuanya heboh, apalagi Varest yang mereka kenal dulu adalah sosok lelaki yang terkesan cuek.


"Sayang" Rea menegur Varest sambil mencubit pinggang lelaki tersebut merasa malu karena tingkah dadakan yang dibuatnya.


"Aww, sakit, sayang" keluh Varest memgelus pinggangnya


"Aduuh, Mbak Rea tidak usah malu atuh, anggap kita sebagai rumput saja," ucap salah satu karyawan wanita Rea.

__ADS_1


"Enak saja rumput, sudah ganteng gini juga, masa iya disamain makanannya mbek" Elak Bagus salah satu karyawan kocak yang tadi mendorong kado, dirinya tak terima jika harus dianggap sebagai rumput, menurutnya dia sudah berdandan setampan mungkin.


"Ya elah, kan khiasan saja, Gus, biar Mbak Rea tidak malu sama kita."


"Tapi kan bisa milih perumpamaan lain,"


"Ribet banget dah, mendingan rumput lah dari pada dianggap mbek, gimana? mau dijadiin kurban?"


Bagus menggeleng, laki-laki yang baru setahun lulus sekolah SMA itu hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah. Varest melihatnya dan langsung mengelus kepala karyawan paling mudanya tersebut.


"Mbak Rea, Mas Varest. Hadiah ini sengaja kita kasih banyak biar bos kecil tidak bosan mainannya itu-itu saja," ucap Joni seraya mengangkat salah satu boneka kelinci kecil. "Iya kan?" lanjutnya menyikut lengan Bagus meminta persetujuan.


Bagus manggut-manggut sambil tersenyum lebar. Tapi, sedetik kemudian senyum itu menghilang kala mendengar Varest menyahut.


"Iya, anak ku juga pasti senang mendapatkan hadiah dari om-omnya, tapi aku rasa itu akan di simpan dalam lemari sampai dia punya adik perempuan, soalnya bos kecil kalian ini adalah laki-laki." ucap Varest yang membuat mata ketiga lelaki itu membola dengan mulut yang terbuka, sedangkan yang lainnya langsung tertawa antara kasihan dan lucu karena mengingat semangatnya mereka menyediakan kado istimewa untuk anak sang bos.


"Oeeek, oeeekk" Rea langsung memutar tubuhnya mendengar bayinya menangis karena keributan yang mereka lakukan, dengan sigap wanita itu menggendong sang putra untuk menenangkannya.


"Cup, cup, cup, sayang. Kamu terganggu yah gara-gara om dan tante ribut." Rea menimang baby Zayn berharap bayinya itu kembali tidur.


"Kalian sih." tegur Varest menggigit bibirnya gemas


"Hehe, maaf pak bos." Mereka hanya menyengir merasa bersalah.


"Yah, sudah. Kalian duduk dulu dan makan, nanti kalian jangan langsung pulang, yah!" titah Varest


"Mau ngapain bos?"


"Kalian cuci piring dulu"


Ok, itu hanya candaan Varest untuk para karyawannya yah..


Sekedar info buat reader ku sayang, ini udah mau masuk detik-detik tamat yah. Aku agak bingung soalnya kalau ceritanya terlalu panjang takut kalau makin banyak ceritanya malah bikin bosan.


Stay happy reading.. 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2