Sunflower

Sunflower
Kompor


__ADS_3

Perbedaan pendapat antara papa dan anak masih berlanjut di dalam ruangan kotak berwarna gelap khas laki-laki itu, Varest yang masih dengan keinginannya yang belum berniat menyutujui sang Papa untuk menanggung tanggung jawab besar akan perusahaan sedangkan Papa Bayu yang masih pun memaksa dan tak ingin ada bantahan.


Keduanya diam saling memandang dengan aura tak ingin terkalahkan, meski Papa Bayu dikenal dengan sikap lembut dan penyayangnya tetapi jika menyangkut masa depan keluarga dia akan pantang untuk menyerah terlebih ini adalah pesan orang tuanya, kakek Varest sendiri.


"Pa, bisa kah Papa mengalah untuk saat ini?" pinta Varest dengan memelas


Papa Bayu menggeleng pelan, "Tidak" katanya


Varest menghembuskan nafasnya kasar, sudah keputusan final jika diakhir omongan sang Papa akan mengutarakan satu kata dan itu adalah tanda tak ada kelanjutan.


Papa bayu berkeliling di dalam ruangan Varest hingga dia berhenti pada rak kayu susun yang berada di pojok belakang meja Varest, nampak beberapa foto tersusun rapi di setiap rak, foto Varest dari masa sekolah yang didominasi foto kebersamaan dengan Andi sahabatnya.


Papa Varest terpaku melihat salah satu foto Varest dan Andi saat merayakan kelulusan Strata 2 tiga tahun lalu. Garis bibirnya tertarik tipis seraya beralih memandangi Varest yang masih diam di sofa.


"Ternyata Papa memang sudah tua, yah?"


Varest nampat mengerutkan keningnya, "Memang sudah tua, Pa" ucapnya


Papa Bayu mendelik, "Kamu tahu Papa sudah tua tapi masih mau menyerahkan kerjaan berat itu sama Papa, hah? ujarnya sambil bergantian melihat foto yang lain.


"Varest hanya minta Papa untuk sabar?" Varest berujar dengan santainya yang malah membuat Papa Bayu mendesah lelah.


"Sampai kapan, Nak? Andi saja sudah lama meneruskan usaha keluarganya"

__ADS_1


"Ada yang menyebut nama ku?"


Pintu terbuka memperlihatkan Andi yang datang dengan tampang tengilnya, lelaki berperawakan tinggi itu masuk dengan membawa paper bag yang berisi kopi yang sempat dia beli saat di perjalan tadi.


"Eh, ada Papa juga toh, Maaf Pa aku bawa kopinya cuma dua, Varest tadi tidak ngomong kalau ada Papa juga disini" katanya seraya mengeluarkan kopi dari paper bag dan meletakkan di meja dekat sofa.


Varest mencibir, "Heh, emang kamu ada kasih kabar mau kesini?"


Papa Bayu tersenyum maklum, sudah menjadi hal biasa melihat kedua anak muda di depannya ini bertingkah seakan tak akur, namun, meski begitu baik Varest atau Andi mereka adalah kedua sahabat yang saling menyayangi.


"Beruntung kamu sekarang ada disini Ndi, Papa ingin minta tolong pada mu" kata Papa Bayu melerai Andi dan Varest yang sempat saling mengejek.


Andi mengalihkan pandangannya pada Papa Bayu yang sudah berdiri di depan mereka dengan bersedekap dada, lelaki paruh baya itu tersenyum miring mengangkat alisnya memberi isyarat kepada Andi setelahnya melirik Varest yang tengah menenggak kopi yang tadi dibawa Andi.


"Bagaimana kabar Papa belakangan ini?" tanya Andi memulai


"Ah, seperti yang kamu lihat Nak, Papa sekarang tambah tua tidak sanggup lagi untuk memikirkan sesuatu yang berat"


Varest merotasikan bola matanya malas, sudah mengerti kemana arah omongan kedua orang berbeda usia di depannya.


"Papa tahu tidak?, Papa ku sekarang tidak lagi mengurusi kantor, kesehatannya juga semakin membaik, mungkin karena dia sudah lebih santai tak memikirkan yang berat-berat" ujar Andi "Mungkin Papa juga bisa mencobanya, Papa memang terlihat lebih tua dari terakhir kita bertemu" ucapnya mengambil kopi yang berada di atas meja.


"Jangan berlebihan Ndi, kalian baru saja bertemu kemarin, lagi pula keriput Papa memang sesuai umurnya" sarkas Varest yang membuat Andi tertawa terbahak-bahak sedangankan Papa bayu terlihat mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Papa Bayu melotot ke arah Andi seraya menggigit bibirnya gemas, dipelototin demikian, segera dia melipat bibirnya dalam berusaha menahan tawa tak ingin mendapat jeweran akhirnya.


"Jangan begitu Rest, tidak kah kamu kasihan dengan Papa?, seandainya kamu punya saudara lain kamu bisa saja menolak usaha Kakek" ucapnya


"Jangan jadi kompor Andi" kata Varest mulai jengkel


"Aku tidak jadi kompor Rest, aku mengatakan sesuai fakta" elak Varest, "Aku punya saran untuk mu" jedanya


Nampak Varest dan Papa Bayu kelanjutan kalimat Andi yang terdengar serius.


"Kamu terima saja permintaan Papa, masalah kafe kamu bisa mengajari Rea untuk mengurusnya, setelah Zee besar dia bisa mengambil alih usaha mu ini"


"Papa tidak setuju" tolak Papa Bayu cepat seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali


"Kalau Zee mengambil alih usaha kafe Varest, terus siapa lagi yang bisa meneruskan perusahaan setelah Varest pensiun?"


"Kita suruh Varest dan Rea segera membuat adik untuk Zee" Andi memberi saran


"Ok, Fix, Papa setuju"


Varest terpaku, saran yang diutaran Andi tiba-tiba membuatnya semakin pusing, dihempaskannya punggungnya pada sandaran sofa seraya menghembuskan nafaskan kasar.


"Yah, aku akan membuatnya dari adonan tepung, Papa mau berapa?" ucapnya lirih

__ADS_1


__ADS_2