
"Tumben kamu kesini?"
Varest baru saja mendudukkan diri di kursi depan meja kerja Andi saat lelaki yang tengah memakai kacamata itu memberi pertanyaan yang bisa dibilang menyindir.
"Apa aku tidak boleh kesini?" Varest kembali bertanya dengan wajah datarnya.
Andi menggeser laptopnya agar bisa melihat langsung wajah sahabatnya itu dengan jelas, takut-takut jika kedatangan Varest ke kantornya yang jarang terjadi itu adalah untuk menyampaikan kabar tak enak lagi. Tapi, sepertinya Andi harus membuang fikiran negatif yang sempat terlintas di otaknya saat melihat senyuman lebar yang tercetak di wajah manis Varest.
"Kurangi senyuman mu itu, kamu menakutiku" Tukas Andi
"Apa yang salah dengan senyuman ku?, bukankah ini terlihat manis?" Puji Varest pada dirinya sendiri dengan matanya berkedip cepat.
Andi bergidik menjingkatkan kedua bahunya, "Berhentilah bersikap begitu, Rest!" Titahnya seraya berdiri menuju rak kayu yang berada di belakangnya.
Sedangkan Varest hanya tertawa melihat Andi yang merasa geli dengan tingkahnya.
"Katakan, apa lagi yang ingin kamu ceritakan?" Tanya Andi mengerti jika kedatangan Papa Zee itu bukanlah tanpa alasan. dia berjalan ke sofa dengan membawa beberapa map setelah itu meletakkan di atas meja.
Belakangan kedua sahabat itu jarang berkomunikasi dikarenakan kesibukan masing-masing, Varest dengan pembangunan kafe yang tinggal pengerjaan interior yang sebentar lagi rangkum serta mulai belajar sedikit demi sedikit membantu Papa Bayu di kantor, sedangkan Andi dengan kesibukan dengan segala proyek yang dia kerjakan di kantornya.
"Tadi aku ke sekolahan Zee, apa kamu tahu di...?"
"Tidak" Andi berkata cepat untuk menjahili Varest, "Jelas aku tidak tahu, Rest. Aku bukan cenayang." Lanjutnya yang membuat sebuah pulpen terbang ke arahnya.
"Aku belum selesai ngomong." Bentak Varest
"Yah sudah, katakan cepat!" Titah Andi, menahan senyum melihat wajah Varest yang mulai di tekuk.
"Sepertinya Rea mulai bisa memperlihatkan perasaannya" Ujar Varest menerawang pada kejadian tadi pagi.
Nampak Andi mengerutkan keningnya tak mengerti maksud dari Varest, lelaki yang terlihat lebih berwibawa dalam balutan jas itu merasa bahwa selama ini hubungan Varest dan Rea tak perlu ada yang dikhawatirkan lagi. Keduanya bertindak sewajarnya sebagai seorang suami istri bahkan kadang sampai membuat Andi merasa iri dan ingin cepat menikah.
Namun sebenarnya tanpa Andi sadari bahwa hubungan kedua orang itu hanya Varestlah yang paling bertindak sebagai orang yang mencintai, sedangkan Rea masih bertindak meng-atas namakan tanggung jawab dan memberi sesuai hak.
"Apa dia tidak memperlakukan mu seperti yang kamu lakukan?" Tanya Andi mulai tertarik
Varest menghela nafasnya kasar, "Dia membalas perlakuanku dengan baik, tapi bukan perasaan ku." Jawab Varest
"Sejauh ini kami bertindak layaknya suami istri pada umumnya, kami saling melengkapi, saling mendengar, bahkan saling memberi. Hanya saja aku merasa disini aku yang paling dominan memperlihatkan perasaan ku sedangkan Rea hanya menerima." Ujarnya panjang.
"Sebenarnya apa yang kamu khawatirkan, Rest? bukannya dari awal kamu yang selalu bilang kalau kamu akan menerima dan menunggu sampai Rea benar-benar memberikan hatinya padamu?"
Mendengar pertanyaan demikian entah mengapa Varest sedikit ragu pada dirinya sendiri. Ragu jika suatu saat dia lelah untuk menunggu dan akhirnya juga menyerah akan perasaannya dan memilih jalan yang sama dengan Rea, hanya untuk kepentingan Zee anak mereka.
"Aku bingung usaha apa lagi yang bisa aku lakukan, sebenarnya tadi aku merasa Rea mulai ada perasaan padaku"
"Maksud mu?"
__ADS_1
"Dia bersikap seperti istri yang posesif, selama acara pertemuan orang tua di sekolahan Zee dia tak hentinya merangkul ku dan memperkenalkan aku sebagai suaminya saat ibu-ibu disana mencoba untuk mendekat" terang Varest dengan senyuman yang malah membuat lawan bicaranya mengangkat ujung bibirnya mencibir.
"Sok ganteng" sarkas Andi
"Aku memang ganteng, buktinya aku sudah menikah" ujar Varest pongah
"Yahh, aku yang jelek karena belum menikah" Andi menyilangkan kedua pahanya dan bersedekap, lelaki itu paling tak bisa berkutik jika sudah membahas masalah menikah, karena memang dia sudah kalah telak jika sudah menyangkut urusan itu.
"Jadi, apa lagi yang bisa aku bantu?" akhirnya Andi menyerah, mungkin lebih baik dia menawarkan diri untuk membantu, siapa tau ditengah aksinya dia juga bisa mengambil pelajaran untuk hubungannya nanti. Iya nanti.
"Aku ingin kam-"
"Tunggu, ada telpon" Andi memotong kalimat Varest karena suara deringan ponselnya, bibirnya seketika tertarik tipis saat melihat nama pemanggil.
Ibu jari kanannya dengan cepat menggeser icon panggilan berwarna hijau dan menempelkan ponselnya di telinga.
"Halo"
"........."
"Iya, dia ada disini"
"........."
"Ponselnya kehabisan baterai, katakan saja padanya Varest sedang ada meeting dengan Natali seorang designer interior untuk kafe barunya" Andi mengakhiri panggilan diselingi dengan senyuman jahilnya.
"Siapa?" tanya Varest
"Itu Andin" jawab Andi dengan alis yang terangkat sebelah.
"Ngapain kamu bohong sama dia?,"
"Disana ada Rea."
Mata Varest membulat, segera dia berdiri hendak keluar dari ruangan Andi
"Mau kemana kamu?, Jangan ke kafe dulu." Cegah Andi
Varest menautkan alisnya bingung, "Kenapa?, disana ada Rea, bagaimana kalau dia berfikir aku bohong?, tadi sebelum mengantarnya pulang aku sudah bilang kalau aku tidak ada kegiatan diluar, dan kamu malah bilang aku sedang meeting dengan seorang wanita diluar kafe" Varest terlihat jengkel dengan tindakan Andi.
"Tenanglah, Rest!, ini salah satu cara untuk membuktikan apakah Rea sudah membalas perasaan mu atau belum" Terang Andi
"Maksud mu?"
"Buat dia cemburu" kata Andi tersenyum smirk
"Bagaimana caranya?" Varest kembali duduk tenang tertarik mendengar kalimat sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aktifkan dulu ponsel mu" Titah Andi yang tahu jika kemungkinan ponsel Varest memang sengaja dimatikan saat ke sekolah Zee tadi dan lupa untuk mengaktifkan kembali.
"Ah iya, aku lupa" Segera Varest merogoh saku dalam jasnya dan mengaktifkan ponselnya.
"Kita lihat dalam hitungan kelima, jika Rea menghubungi mu sampai 3 kali dalam kurung waktu yang dekat berarti dia dalam keadaan cemas"
Diletakkannya ponsel itu di tengah meja seraya menghitung lambat.
"Satu" kata Andi
"Dua" Varest melanjutkan
"Tig-"
Belum selesai hitungan ketiga ponsel Varest sudah berbunyi sebuah panggilan dari Rea. Verest tersenyum sumringah, tangannya baru saja akan meraih ponselnya namun dicegah oleh Andi dengan memukulnya dengan pulpen yang dia pakai melempar Andi tadi.
"Woi.. Mau ngapain?" tanya Andi
"Angkat telpon" jawab Varest polos
"Sabar, ini belum menjadi bukti yang akurat"
Varest pasrah, dia menarik kembali tangannya dan bertopang dagu.
Panggilan Rea berhenti yang membuat Varest menurunkan bahunya. Tetapi, itu tak bertahan lama karena dalam hitungan detik ponsel Varest kembali berbunyi dengan si pemanggil yang sama dan itu berlangsung sampai tiga kali.
"Angkat cepat" Titah Andi saat panggilan ke empat berbunyi. Dengan cepat Varest mengangkat panggilannya.
"Halo Re" Sapa Varest seraya menekan tombol loudspeaker
"Rest, kamu dimana?"
"Aku lagi meeting"
"Bukannya tadi kamu bilang tidak ada urusan diluar?"
"Iya, seharusnya memang meetingnya dilakukan di kafe, tapi karena ini sudah masuk waktu makan siang jadi Natali mengajakku meeting diluar sekaligus makan siang"
"Apa aku boleh kesana?"
"Kesini?, Ah, tidak perlu Re, sebentar lagi kami akan selesai. Tunggu saka di rumah"
"Aku akan menunggu mu di kafe"
Panggilang diakhiri Rea secara sepihak yang jelas itu bukanlah sikap Rea seperti biasanya, istri Varest itu tak pernah mengakhiri panggilan sepihak tanpa persetujuan laean bicaranya.
"Apa menurut mu Rea sedang marah" Tanya Varest
__ADS_1
"Dia bukan marah tapi lagi nahan cemburu" jawab Andi sembari meletakkan pulpen dan kertas keatas meja. Yah, selama panggilan Rea tadi berlangsung Andi berperan menulis naskah untuk dialog yang harus diucapkan Varest, beruntung Varest masih bisa mambaca dan menganalisi dengan cepat apa yang akan di tulis oleh Andi walah kadang Andi belum selesai menulis kalimatnya.