
Semuanya berjalan baik dengan keseharian tanpa tekanan, keluarga kecil Varest hanya memfokuskan diri pada kehamilan Rea yang sudah diakhir trimester, dengan keluhan punggung yang semakin sering sakit, kaki bengkak, sampai kontraksi palsu yang dirasakan oleh Rea.
Semakin dekat hari perkiraan lahiran Rea maka yang semakin dilanda khawatir adalah Varest selaku suaminya, segala kebutuhan untuk kelahiran anak keduanya sudah lelaki itu siapkan jauh-jauh hari hingga diapun ikut melakukan kursus mengurus bayi baru lahir bersama dengan sang istri, itu dia lakukan agar bisa membantu Rea yang bersikukuh untuk mengurus calon anak keduanya tanpa bantuan pengasuh.
Semenjak memutuskan untuk saling percaya dan berfokus pada kebahagian keluarganya sepasang suami istri tak pernah lagi mendengar kabar mengenai Rani. terakhir dua bulan lalu saat Andi memintanya untuk menemui Rani untuk terakhir kalinya. Varest menyetujui tapi dengan satu syarat harus ada Rea yang ikut bersamanya.
"Aku akan berankat ke Sidney besok lusa." Kalimat to the point yang diucapkan oleh Rani sesaat setelah orang yang dia tunggu mendudukkan diri di kursi tepat di depannya.
Tak ada kata pembuka sekedar basa-basi seakan untuk alasan suatu masalah yang membuat Varest sempat marah setengah mati tak pernah dia lakukan sebelumnya, pandangan wanita itu lurus mengarah pada Varest meski ada wanita yang menjadi istri lelaki itu di sampingnya.
"Bagus!" Satu kata yang mampu membuat wanita bergincu nude itu tersenyum miris, satu kata yang diucapkan Varest yang sontak membuat suasana menjadi tegang seketika.
Dari bawah meja Rea meremas tangan Varest uang sedari tadi menggenggamnya seakan memberi isyarat jika lelaki itu tak boleh lepas kendali. Varesy menoleh ke samping dimana Rea berada memberikan seutas senyum saat menyadari kekhawatiran sang istri.
"Cabang perusahaan keluarga mu sedang ada masalah, mungkin memang lebih baik kamu kesana untuk mengurusnya, aku tahu kamu bisa diandalkan untuk hal itu." Ujar Varest mencairkan suasana.
Rea yang mendengar penuturan sang suami langsung menghembuskan nafasnya lega, dia tahu watak suaminya yang pintar mengontrol diri, tapi bagaimana pun tadi dia sempat khawatir. Sama halnya dengan Rea, wanita yang duduk di depan pasangan suami istri itu juga akhirnya mengulum senyum tipisnya, lega.
Meski awal kedatangan Varest tadi sempat membuat Rani tercenung di tempat karena lelaki itu datang tidak sendiri, tapi dia harus bersikap santai, bagaimana pun dia memang hanya berniat untuk pamit dengan lelaki itu.
"Aku harap kamu bahagia. Rest."
"Tentu, Ran." Varest menjawab cepat sambil mengangkat tangannya yang terpaut dengan tangan Rea ke atas meja. "Aku bahagia dengan istri dan juga anak-anak ku. Kamu tidak perlu khawatir." Lanjutnya
Rea memutar bola matanya malas, ternyata sang suami masih saja bersikap dingin. Sedangkan Rani hanya bisa terpaku susah untuk menelan salivahya, wanita itu mengangguk lirih seraya tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, aku hanya ingin pamit padamu." Pada akhirnya Rani harus mengakhiri niatannya bertemu dengan lelaki yang sangat dicintai. Rani menggeser kursinya dengan kedua tangannya memberi celah untuk dia berdiri kemudian meraih tasnya dan mengulurkan tangannya di depan Varest.
"Aku pergi duluan." Varest menyambut tangan Rani dan bergantian dengan Rea.
Itu adalah kali terakhir keduanya bertemu dengan Rani dan entah kapan wanita itu akan kembali.
-
"Masih sakit?"
"Yang kuat, Sayang!" Titah Rea pada Varest.
Saat ini keduanya sedang berada di atas ranjang dengan Rea yang berbaring dengan posisi menyamping sedangkan Varest yang duduk sambil memijat punggung Rea yang mengeluh sakit. Belakangan Varest dibuat kesusahan ketika menjelang waktu tidur karena Rea yang akan selalu gelisah untuk memposisikan tidurnya.
Gerah dan tak nyaman, itu adalah kata yang selalu Rea keluhkan, dia bisa menggunakan waktu setengah sampai satu jam di atas ranjang untuk.mengatur posisi tidurnya sampai dia merasa nyaman, terkadang harus menggunakan beberapa bantal untuk dia letakkan di belakang tubuhnya.
"Aku gerah sayang, aku tidak bisa tidur." Jawab Rea menjadikan tangannya sebagai kipas. "Suhu AC nya diturunin lagi dong!" Pintnya.
"Tidak!, nanti kamu masuk angin." Tolak Varest
"Sayang, kamu tega lihat aku mandi keringat begini? Aku tidak bisa tidur kalau kayak gini, aku akan kurang istirahat, kasihan loh ibu hamil kalau kurang istirahat nanti kasihan juga bayinya, aku tid-"
"Ok." Varest mendesah pelan, pada akhirnya dia hanya bisa menuruti keinginan Rea kalau sudah membuat alasan dengan wajah memelas seperti itu.
Rea tersenyum sumringah, sangat senang karena keinginannya dipenuhi. Dia tidaj berbohong jika dia tak bisa tidur akibat kegerahan karena buktinya sudah nyata dengan piyama tidurnyabyang sudah basah oleh keringat. Varest turun dari ranjang dan berjalan menuju lemari mengeluarkan daster bermotif kembang janda bolong berwarna hijau yang pernah dia belikan untuk Rea kemudian kembali ke arah sang istri menyerahkan baju itu padanya.
__ADS_1
"Ganti dulu baju mu, aku tidak akan menurunkan suhu AC kalau kamu masih memakai baju mu yang basah itu." Titah Varest mendudukkan diri di samping Rea sembari membantu sang istri untuk bangun dari baringnya.
Rea mengangguk patug setelahnya membuka piyama tidurnya dibantu oleh Varest, setelah selesai wanita yang tinggal menghitung hari kelahiran anaknya itu kembali membaringkan tubuhnya, sedangkan Varest membuka laci nakas mengambil remote AC untuk mengatur suhu sesuainkeinginan sang istri.
"Sekarang tidurlah! Aku akan memijat punggung mu lagi."
"Tidak, aku mau kamu juga ikut tidur, ini sudah larut besok kamu ada meeting pagi , bukan?" Rea berujar, meski dia masih ingin mendapat lkan pijatan di punggungnya, tapi dia tidak mau egois kalau suaminya juga butuh istirahat mengingat dia harus bekerja besoknya.
Rea sendiri juga sudah mengurangi pekerjaanya di cafe atas perintah sang suami, dia akan sesekali datang saat ada yang mendesak dan selebihnya pemantauan dilakukan melalui virtual dan juga laporan dari Andin sebagai asistennya.
Varest menarik selimut hingga ke atas perut Rea kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri, tangan kirinya terulur ke bawah selimut mengelus perut yang sudah besar itu sedangkan tangan satunya dia gunakan untuk membelai puncak kepala Rea berharap itu akan membuat istrinya cepat tidur.
"Sayang, kira-kira Zee sudah tidur atau belum yah?" Tanya Rea sambil tangannya yang bermain di atas dada Varest yang terutup kaos tipis tanpa lengan.
"Sayang, ini sudah jam sebelas malam, anak kita itu bukan anak yang terbiasa tidur telat, kepalanya baru nempel bantal saja sudah bisa membuatnya menciptakan pulau kecil." Jawab Varest dengam mata uang sudah tertutup.
Rea terkekeh mengingay kelakuan putrana yang beberapa hari ini tidur di rumah omanya. Entah mengikuti sifat siapa anak itu. Zee tidak bisa menahan godaan bantal jika sudah memasuki kamar, baik Rea Varest bahkan ayah kandung Zee sendiri adalah orang yang bisa beraktifitas hingga larut. Tapi, anak itu malah kadang tak bisa menahan kantuk jika sudah lewat pukul 8 malam dan melihat bantal.
Beruntung Zee tidak pernah ketiduran saat di sekolah dan belajar, mungkin itu yang membuatnya tak bisa menahan kantuk karena terlalu aktif disiang hari hingga membuatnya lelah.
"Sayang?"
"Hmm"
Rea mendongak berusaha melihat wajah sang suami yang ternyata sudah menutup matanya, tangan yang tadi mengelus kepala Rea juga sudah berhenti bergerak, sepertinya suaminya itu sudah sangat kelelahan. Rea mendekatkan wajahnya pada dada Varest bahkan bisa dibilang lebih dekat dengan ketiak suaminya itu, tapi Rea menyukainya. Tangannya terangkat mengelus pipi Varest terdengar dengkuran halus dari lelaki itu yang membuat Rea tersenyum.
__ADS_1
"Tidur yang nyenyak, sayang. Mimpi yang indah."