Sunflower

Sunflower
Orang Mabuk gila


__ADS_3

“Dan karena rasa khawatir dan terlalu gegabahnya itu akhirnya dia mengalami kecelakaan”


Rea termangu atas kalimat yang baru saja dia dengar dari Andi, matanya memanas menahan dorongan air yang ingin memuntahkan diri untuk keluar.


Ditelannya salivahnya susah seraya menutup matanya rapat sebelum kembali membukanya dan menatap pada Andi.


"Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Rea


Andi tersenyum simpul, "Kamu tahu, seorang anak tidak hanya akan memiliki ikatan batin dengan kedua orang tuanya, tapi merekapun juga bisa merasai untuk seseorang yang sangat dekat dengannya, batin mereka sensitif dan terikat untuk orang yang sangat mencintai mereka"


"Kecelakaan yang menimpa Varest membuat ku sadar mengenai hal itu, bagaimana Zee menjadi kekuatan Varest dalam masa kritisnya begitupun Varest yang menjadi obat bagi Zee walau hanya sebatas melihat dan mendengar suara Papanya dalam rekaman Video" terang Andi.


Mama Jenny terlihat meneteskan air mata dan dirangkul oleh Papa Abhi, keduanya sudah bisa melihat rasa cinta Varest untuk cucunya. Namun, karena mengetahui penderitaan Rea semenjak kehilangan keluar kecilnya maka mereka tak ingin terlalu memaksakan diri untuk menolak keinginan Rea yang ingin menenangkan diri.


Mereka hanya membantu sesuai batas yang mereka bisa lakukan sebagai orang tua dengan menasehati yang hampir setiap malam Rea dengar dari keduanya. Mereka menyangkan untuk sikap Varest yang menyembunyikan kebenaran mengenai Zee. Tapi, juga paham bagaimana posisi menantunya itu.


"Nak, Om ingin mendengar bagaimana kejadiaan kecelakaan tiga tahun lalu itu terjadi." Pinta Papa Abhi, "Setidaknya kami bisa mengetahui tindakan apa yang bisa kami lakukan selanjutnya." Sambungnya sembari menggenggam tangan Rea memberi kekuatan.


Rea mengangguk setuju, "Ceritakan saja, Ndi!"


-


-


Matahari baru saja meninggalkan singgah sananya satu jam lalu. Tetapi, seorang lelaki yang memakai kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai siku itu sudah terlihat tak berdaya dengan menempelkan wajahnya pada meja keramik.


Tangannya memainkan botol minuman berwarna bening diselingi dengan racauan yang sesekali keluar dari mulutnya. Ditengah tingkahnya tiba tiba dia mendongak mendapati seseorang yang telah berdiri dengan bersidekap dada di depannya.


Orang itu terlihat marah dan merampas botol yang berada di tangan Varest.


"Sudah berapa botol yang kamu habiskan?" Tanya orang itu


"Sudah banyak" jawab Varest dengan mata sayup, "Itu buktinya" tunjuknya pada botol yang baru berkurang setengah di tangan Andi.

__ADS_1


Yah, Andi segera datang menemui Varest saat mendapat kabar dari salah satu bartender yang pernah dia mintai tolong untuk mengabarinya jika sahabatnya datang ke bar itu.


Andi berdecak, "Segini?" Andi mengangkat botol itu dan dijawab oleh Varest dan anggukan beberapa kali.


"Ayo kita pulang!" Ditariknya Varest untuk berdiri, kepalanya menggeleng tak habis fikir dengan apa yang dia lihat.


Bagaimana bisa seorang lelaki dewasa mabuk parah sampai tak berdaya hanya karena minum setengah botol bir yang bahkan bisa dibilang hanya kurang dari 250 ml. Fikirnya.


"Lain kali jangan pernah kesini lagi!" titahnya sembari membopong Varest keluar dari bar.


"Kamu telah mempermalukan kakak mu ini, Dek." katanya dramatis


Varest tak menimpali, jangankan untuk menjawab bahkan untuk mendengar jelas setiap ocehan Andi pun masih diragukan.


Dengan susah payah Andi memasukkan Varest kedalam mobil, dia mendudukkan Varest di kursi samping kemudi setelahnya dia ikut masuk ke dalamnya.


"Kamu menyusahkan sekali, Rest" Keluhnya, "Sadar dirilah kamu itu berat bahkan lebih berat dari ku setengah kilo"


Andi terus saja mengoceh sampai Varest meracau yang sontak membuat dia diam mendengarkan.


Ah, sepertinya kesempatan baik sedang berada di depannya, Andi merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel, tangannya mencari aplikasi kamera untuk merekam aksi Varest.


"Oke, lanjut Rest!" Seru Andi tersenyum jahil


Varest patuh, lelaki yang sedang mabuk itu mengangguk lucu setelahnya kembali meracau.


"Tadi siang aku lihat Rea, Zee dan mertuaku datang ke restoran, mereka memesan ruangan untuk makan siang dan saat aku bertanya pada waiternya mereka hanya menjawab seadanya kalau ruangan itu sudah dipesan oleh lelaki muda tampan dan kaya"


"Benarkah?, kurang aj.." Andi tak melanjutkan umpatannya saat menyadari cerita Varest


Lelaki bergingsul itu menutup bibirnya rapat menahan tawa, "Yah, lanjutkan lagi"


"Aku tidak tahu mereka sedang makan siang atau main ular tangga di dalam sana, mereka terlalu lama keluarnya, Aku menunggu di dalam mobil selama dua jam sampai aku melihat mereka keluar dari restoran, laki-laki itu menggendong Zee yang tidur dan di belakangnya ada mertuaku yang merangkul Rea, sepertinya mereka bahagia." ujarnya dengan bibir yang mengerucut

__ADS_1


"Kamu tidak tahu lelaki itu siapa?"


Varest menggeleng kuat,"Tidak, karena dia membelakangi ku dan juga orang-orang yang ada di jalan selalu menghalangi pandanganku"


"Menurut mu dia tampan, tidak?" Andi semakin bersemangat untuk menjahili Varest.


"Hmm, badannya tinggi, bodinya bagus, kulitnya putih. Tapi, aku rasa dia jelek karena setelah orang itu pergi Rea menangis dan memeluk Mama mertuaku" jelasnya tersenyum miring


Andi mencibir ingin memukul kepala Varest. Namun, segera dia urungkan. "Dasar orang mabuk gila" gumamnya


"Jadi apa yang akan kamu lakukan?, kalau Rea sudah menemukan Papa baru untuk Zee kamu bisa mencari istri baru juga" ujarnya


"Kamu gila?!, Rea itu istri ku dan akan selalu jadi istri ku, Zee juga sama dia itu anak pertama ku dan sebentar lagi akan ada adiknya" timpal Varest


Andi yang mendengar jawaban Varest hanya bisa menggeleng prihatin, sahabatnya telah berubah menjadi lelaki yang berbeda dari yang dia kenal hanya karena minuman 250ml.


"Lanjut, Rest!" Titah Andi sesekali menutup mulutnya karena menguap, dia mulai bosan dengan ocehan Varest


"Aku tidak akan membiarkan lelaki itu mengambil Zee ataupun Rea, mereka milik ku"


"Kenapa?, apa yang salah jika lelaki itu bisa membahagiakan mereka?"


"Kamu ingin ku pecat jadi saudara ku, hah?" Bentak Varest tak terima dengan ucapan Andi


Andi memutar bola matanya malas, "Yah, pecatlah aku" Batinnya


"Aku mencintai Zee dan juga Mamanya, Ndi" lirihnya, "Aku sangat mencintai mereka" lanjutnya seraya menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.


Andi tersenyum tipis, akhirnya sahabatnya itu mengakui perasaannya meski dalam keadaan setengah sadar, Lelaki itu baru saja ingin mematikan rekaman saat Varest kembali bersuara.


"Ayo kita pulang, aku ingin minum susu vanila rasa coklat jadi aku harus mandi dan tidur di atas tivi" ucapnya tak jelas.


Andi mengusap wajahnya kasar, menyimpan rekaman dan beralih pada aplikasi chat mencari kontak seseorang setelah itu mengirimkan aib sahabatnya.

__ADS_1


-To : Rea-


Lihat lah lelaki yang biasanya hanya minum susu dan kopi menjadi gila karena mabuk hanya dengan meminum kurang dari 250ml minuman keras. 🤦‍♂️🤦‍♂️


__ADS_2